Putri Kembar Sang Psychopath

Putri Kembar Sang Psychopath
62-Awal Dendam


__ADS_3

Flashback on


"Rifa..... " panggil pemuda kecil berwajah tampan dengan lesung di pipinya.


"Iya.... " sautnya dengan melihat ke arah yang memanggilnya.


"Ada apa? Tidak usah berteriak keras." tambahnya dengan wajah kesal, membuatnya terkekeh. Dia mendekati Rifa dengan senyum manisnya, bahkan sangat manis, karena dia memiliki lesung di pipinya, membuat siapa saja yang melihat akan terpesona.


"Iya iyaaa kau ini terlalu kaku Fa."


"Berisik... "Decihnya, Rifa memang pendiam, meski kadang terlihat cuek tapi ketika dia sedang cerewet dia tidak akan berhenti berbicara.


"Oh ya dimana Arsya? Tumben dia tidak ikut kemari." tanyanya, karena tidak melihat Arsya.


"Oh dia, katanya pulang awal soalnya ada yang harus dia urus." Arsya sudah memberitahu Rifa, karena Arsya harus membantu ayahnya mengurus perusahaan. Sudah dari menginjak sekolah menengah atas, Arsya membantu ayahnya dalam hal berbisnis, jadi sepulang sekolah terkadang dia sibuk, seperti halnya orang dewasa, padahal dia masih berumur enam belas tahun.


"Begitu ya, ya sudah ayo pulang."ajaknya pada Rifa, mereka memang sering bersama, dan biasanya bersama Arsya. Mereka bedua pun pulang menggunakan motor, berboncengan seperti biasanya.


"Kita akan kemana?." tanya nya yang menyetir motornya.


"Kerumahmu saja, aku ingin kesana bermain gitar dan bersantai." ucap Rifa, karena bersantai di rumah sahabat nya lebih enak, daripada di rumah besarnya yang membuat sesak.


"Beres, ok kita kesana sekarang." dia melajukan motor nya menuju rumahnya, memang dia hanya orang sederhana saja dan tidak hidup dalam kemewahan, tapi dia begitu menikmatinya.


Beberapa menit kemudian.....


Sampailah mereka berdua di rumah, Rifa turun dari motor begitu juga dengan sahabat nya. Mereka memasuki rumah sederhana tapi begitu nyaman, banyak tanaman hias di depan rumah tersebut, menambah keteduhan.

__ADS_1


"Eh nak Rifa... " sambut ibu sahabatnya, Rifa segera menghampiri ibu sahabat nya.


"Iya bu..." ucapnya sambil tersenyum manis.


"Loh nak Arsya mana? kenapa gak dateng?."tanya ibu tersebut.


"Oh Itu bu Arsya harus pulang lebih awal, katanya ada urusan keluarga." jelas Rifa, dia juga tidak tahu jika mendadak Arsya pulang lebih awal.


"Ohh begitu ya... " Rifa dan juga sahabat nya pun memasuki rumah, mereka bercengkrama dan mengobrol bersama, sudah biasa Rifa lakukan sejak mereka menjadi teman karib dan kini mereka sudah menjadi sahabat dekat.


Hingga tak terasa waktu sudah menjelang sore, mereka masih asyik bermain gitar, Rifa sudah biasa pulang malam, terkadang sampai pagi, karena orang tua nya terlalu sibuk memikirkan dunia kerja mereka.


Sementara di tempat lain.....


"Tapi ayah aku tidak bisa membunuh dia, karena dia...."


"Sudah jangan banyak berkomentar, kita dari keluarga mafia, dan tugas kita memberantas mereka yang berkhianat pada keluarga kita." tegas Devan, seseorang telah berkhianat di mafianya, bahkan rahasia mereka sudah di jual oleh pengkhianat tersebut.


"Baiklah... aku hanya menjalankan tugas yang ayah beri, tapi berjanjilah padaku, jangan jadikan aku penggantimu di saat ayah akan pensiun, karena aku tidak menyukai jalan ini, biarkan aku memilih jalanku sendiri." Arsya memang tidak menginginkan menjadi pengganti ayahnya menjadi ketua mafia, dia tidak tertarik dengan hal semacam ini.


"Ok deal.... ayah setuju." mereka pun berjabat tangan, setuju dengan syarat yang di ajukan Arsya.


Arsya pergi dari markas menuju jalan yang di lalui oleh pengkhianat keluarga nya, Arsya sudah mencaritahu semua tentang siapa sebenarnya pengkhianat itu, memang Arsya menolak keras, karena ini adalah pembunuhan pertama yang dia lakukan, tapi demi keamanan keluarga besarnya, dan juga desakan dari sang ayah, dia tidak bisa menolak.


"Ayah aku berangkat sekarang.... " ucapnya melalui earphone yang di pasang di telinganya, Devan tersenyum, itu akibat dari mengusik ketenangan singa. Dan ini adalah pembunuhan pertama yang di lakukan, dan hal ini adalah awal dari sang psychopath.


Karena Arsya memiliki kecerdasan di atas rata-rata, dia sudah mengatur serapih mungkin agar target tidak sadar bahwa dia sedang di intai, Rifa sudah mengetahui seluk beluk keluarga Azhar, sedangkan sahabat satunya belum tahu, karena dia belum lama dekat dengan Rifa dan Arsya.

__ADS_1


Dia pergi seorang diri tanpa pengawal, karena itu hanya akan mempersulit Arsya bergerak, Arsya masih di jalan dengan menggunakan mobil sedan biasa, agar tak ada yang curiga dengan dia. Setelah sekitar lima belas menit, Arsya memarkirkan mobilnya tepat di samping kendaraan sang pengkhianat, sebenarnya Arsya sudah lama mengintai dia, jadi di sangat hafal plat mobilnya.


Karena dia tahu bahwa bawahan ayahnya itu berkhianat, namun dia tidak berniat memberitahu sang ayah, tapi karena kata-kata milik ayahnya sangatlah banyak, akhirnya di ketahui juga oleh Devan, dan baru sekarang Devan memerintah kan Arsya untuk membunuh nya.


"Sial kenapa harus aku yang membunuh dia..... " gumam Arsya, sembari memasukkan pistolnya di balik jas. Arsya turun dari mobil dan berdirilah dia di depan pintu masuk sebuah diskotik. Petugas memeriksa Arsya, dirasa aman akhirnya dia di perbolehkan masuk. Tak lupa dia juga memperlihatkan kartu Identitas palsunya, agar tak di curigai.


Dia melihat lelaki dengan umur menginjak empat puluh tahun, namun wajahnya masih terlihat segar, tak terlihat kerutan akibat usianya yang menua, dia sedang di kerumuni beberapa wanita sexy.


"Cih bedebah brengsek...... " decih Arsya, dia muak melihat adegan kotor tersebut. Dia mulai mencari posisi aman agar tidak di curigai oleh para tamu dan juga para petugas. Arsya masih bersikap layaknya tamu, agar bisa memperhatikan gerak-gerik lelaki itu.


Arsya melirik jam tangannya, dia masih berada di pukul tujuh malam, diskotik sudah mulai berdatangan mencari kenyamanan di tempat terkutuk itu.


Hingga satu jam kemudian......


"Kita akan mulai sekarang pengkhianat, dia hanya mementingkan kenikmatan dari pada memikirkan rahasia yang dia beberkan, yang malah akan membawa dia pada kematian." batinnya dengan senyum pembunuh nya. Dia juga tidak terima melihat dia dengan mudahnya membeberkan rahasia keluarga besarnya pada musuh ayahnya, yang sudah di jaga mati-matian oleh semua keluarga nya.


"Tertawalah sebelum ajal menjemput mu." gumannya sembari menodongkan pistolnya, tapi tiba-tiba saja dia teringat wajah sahabat nya, Arsya tahu jika yang di bunuh adalah ayah dari sahabat nya, dia kasihan jika suatu saat kebanaran ini akan di ketahui oleh sahabat nya. Kebenaran bahwa sang ayah adalah penggila wanita, dan dia sangat terpukul jika sahabat nya tahu sang pembunuh adalah sahabat nya sendiri.


Dengan tersenyum Arsya mulai membidik arah pelurunya agar tidak meleset, dan di saat yang sama wajah tersenyum dari sahabatnya kian berputar hebat di kepalanya.


"Maafkan aku Alan..... jika suatu saat ini menjadi dendam mu aku akan menerimanya, dengan begitu aku akan mengatakan yang sejujurnya tentang kebenaran dari semua ini, aku hanya tidak mau kamu yang melihat ini langsung dengan mata mu."ucapnya sebelum peluru itu benar-benar melesat menuju incarannya.


Dor....


Suara tembakan pertanda jika peluru sudah keluar dari sarangnya, semua menoleh karena tiba-tiba ada yang menembakan senjata api. Peluru itu tepat mengenai jantung lelaki pengkhianatan keluarga nya, dia mengerang kesakitan memegangi dadanya yang sudah penuh dengan darah, semua menjadi panik terlebih wanita yang tadi mengerumuninya menjerit histeris.


"Ada pembunuhan..... cepat lapor kepada ketua." teriak salah satu waiters, karena ini bisa menjadi kekacauan.

__ADS_1


Arsya berjalan santai dengan wajah dinginnya, agar tidak ada yang curiga, dia bersikap biasa saja dan tidak peduli, seakan semuanya baik-baik saja.


"Setelah ini hanya akan ada dendam diantara kita, mungkin ini lah akhirnya dari pertemanan kita, selamat tinggal diriku yang ramah dan ceria, begitu juga dengan kebersamaan hangat yang sudah kita bangun. " batinnya dengan membenarkan jas nya, Arsya menaiki mobilnya dan melesat mengarungi malam pilu itu.


__ADS_2