
Karla masih sangat kesal dengan yang telah adiknya katakan padanya, dia tidak akan menampakkan wajahnya sekarang, dan ya dia akan diam tanpa bertemu dengan Katrin. Sepulang sekolah Karla tidak langsung ke mansion, dia mampir ke markas pribadinya, karena ada hal yang harus diperiksa.
Sudah berjalan dua bulan Karla mengerjakan alat untuk pelacakan yang lebih efisien dibandingkan dengan robot capungnya, yaitu dia membuat alat pelacak khusus untuk dirinya yang sebagai detektif handal, dan juga bawahannya, sekarang yang bekerja dengannya sudah ada sekitar lima orang, yang benar-benar Karla percaya mereka bisa berguna untuknya sebagai detektif rahasia, sudah banyak dari perusahaan mana pun yang mengandalkan kejeniusannya, tinggal perusahaan keluarganya yang belum mengetahui kebenaran ini.
"Wih tumben ketua udah dateng? biasanya telat." ucap Rivan yang kini menjadi wakilnya.
Karla hanya melirik kilas mereka, suasana hatinya kini sedang tidak baik, Rivan langsung terdiam ketika melihat ekspresi Karla yang acuh tanpa memperdulikan mereka yang ada disana.
Tapi tidak hanya menangani kasus rahasia, Karla juga menangani keamanan yang sangat sulit di tembus, itu tergantung klien mengajukan permintaan kepada marakas rahasianya, dan hak itu memang sudah terbukti akurat, dan tidak menipu.
"Serem banget ketua? kenapa ya gak biasanya dia kaya gitu?." Kira bertanya-tanya, sebenarnya apa yang telah terjadi pada ketuanya, padahal dia pasti akan mengecek laporan, ataupun melihat keadaan markas.
Karla menatap mahakarya nya yang indah, ini adalah alat pelacak baru yang telah dia sempurnakan, bahkan lebih hebat dari robot capung miliknya, ini lebih mudah tanpa harus menggunakan remot ataupun drone, dan ini bisa mengetahui jarak sampai beberapa kilometer, ya ini buatan yang sungguh menakjubkan. Sebenarnya ada alasan dibalik kesempurnaan alat pelacak nya, Karla sengaja membuatnya untuk berjaga-jaga untuk hal tak terduga, karena keluarga Azhar banyak sekali yang mengincar, jadi untuk antisipasi Karla berusaha yang terbaik.
"Akhirnya gue berhasil, sekarang tinggal percobaan." Karla memakai alat tersebut dimata bagian kanan, tak lupa Karla menyalakan sistem agar alat tersebut transparan dan tidak terlihat, inilah yang istimewa dari alat pelacak ini, musuh tidak akan tahu jika pengguna telah menggunakan alat tersebut, dan yang lebih hebat adalah jarak pandangnya yang tadi sudah dijelaskan, sekitar beberapa kilometer dari jarak pengguna.
"Sistem telah disiapkan.... memeriksa identitas pengguna." suara dari robot menjelaskan aktifnya sistem, dan harus memeriksa pengguna, karena jika pengguna tidak terdaftar, maka tidak akan ada yang bisa menggunakan alat pelacak tersebut.
"Identitas terverifikasi.... memulai pelacakan." terlihatlah warna biru muncul, menandakan pelacakan sedang di mulai. Karla mengamati berbagai sudut arah, dan terlihatlah dengan jelas jarak pandang tersebut, ya jarak pandang yang begitu jauh dari markasnya, dia bisa melihat luar markas, tidak hanya itu, jika ada deteksi yang mencurigakan alat tersebut akan langsung memberitahu pengguna untuk waspada.
Karla melepaskan alat pelacak tersebut, percobaan pertamanya berhasil, kini tinggal memberi nama alat tersebut, Karla memberi nama dengan karakteristiknya yang sedikit mendekati yaitu Tracker Seirei, yang berarti pelacak roh, karena alat tersebut bisa mendeteksi lokasi yang jauh, dan jarak pandang yang tidak terbatas, selagi dayanya mencukupi. Karla meletakan alat tersebut, setelah selesai menuliskan nama beserta logonya, dan dia memberitahukan pada bawahan yang lain.
"Ini..... pasangkan pada alat barunya." Karla memberikan gambar logo tersebut untuk segera di pasang pada alat, agar terlihat lebih elegan.
"Tracker Seirei...?." mereka masih bingung.
__ADS_1
"Itu nama dan logo untuk di pasang pada alat pendeteksi baru, itu telah lolos percobaan, dan kita bisa mengunakannya." Rivan dan yang lainnya pun memahami penjelasan dari Karla, karena jika bertanya kembali pasti Karla tidak akan mau melakukannya, jadi mereka harus benar-benar paham.
Setelah menjelaskan cara kerja dan sistem dari alat barunya, dia beranjak pergi karena masih ada urusan yang harus dia kerjakan, Karla juga akan memulai pelacakan dengan cepat agar masalah misterius ini segera terselesaikan.
💕💖💕💖💕💖💕
"Saya sudah menemukan informasi tentang nona Karla tuan... " lapor Wira pada Isya, dia telah menemukan identitas asli Karla.
"Jelaskan... " singkatnya, dia sudah tidak sabar mendengar siapa gadis itu sebenarnya.
"Nama lengkap nya adalah nona Karla Louisa Azhar, putri pertama dari Arsya Destriana Azhar dan Dinar Syakilla sebagai ibunya, dia adalah putri dari keluarga Azhar." Jelasnya, Isya tahu keluarga Azhar tersebut, karena dia baru saja bekerjasama dengan perusahaan besar tersebut, dan ini adalah kebetulan yang sungguh mengejutkan.
"Keluarga Azhar rupanya, terus awasi dia jangan sampai ada yang terlewat, jika ada hal buruk terjadi padanya segera hubungi aku......ya sudah kau boleh pergi." Wira pamit keluar ruangan. Bibir Isya tertarik keatas, ini kesempatan bagus untuknya, dia bisa pendekatan dengan orang yang membuatnya merasakan cinta pandangan pertama.
"Aku pasti bisa mendapat mu Karla..... aku akan terus membujuk dan meluluhkan hatimu, agar mau menerimaku." Isya bertekad untuk bisa mendekati Karla, karena perusahaan Azhar dan perusahaan milik Isya sedang dalam kerjasama proyek, dan akan memudahkannya untuk lebih dekat dengan Karla, dia bisa bertanya langsung pada ayahnya, yaitu Arsya.
💕💖💕💖💕💖💕
Katrin pulang dan langsung masuk kedalam kamar, dia tidak menyangka akan berseteru dengan kakaknya, tapi tetap saja dia masih kesal dengan kakaknya yang melarang dia dekat dengan orang lain, tanpa sepengetahuan nya.
"Sayang mana kakakmu? kok gak pulang bareng?. " tanya Dinar yang melihat Katrin pulang tanpa Karla, dan itu tidak seperti biasanya.
"Mungkin kakak pergi bund... soalnya gak bilang ke Katrin." jawabnya dengan nada jutek, Dinar hanya menghela, mungkin ada masalah sama mereka berdua, biasa namanya juga adik kakak, kadang aku ada aja masalahnya. Dinar akan berbicara nanti kepada si kembar, terlebih dengan Katrin yang sudah dekat dengan lawan jenis, dia akan bertanya jika Karla sudah kembali.
"Oh ya sudah, ganti baju lalu makan siang ok, bunda mau pergi dulu ke toko buket, soalnya banyak pesenan." semenjak masalah keluarga dua tahun lalu, Dinar meminta izin pada Arsya untuk membuka toko buket yang menyediakan berbagai macam karangan buket dari bunga, coklat, dan masih banyak lagi, dan Dinar mulai menekuni nya.
__ADS_1
Karena dia bosan jika harus terus berada di rumah, jadi dia memutuskan membuka toko, dan juga memulai berkebun bunga untuk nantinya dia bisa memanen bungannya sendiri.
"Iya bunda.... Hati-hati di jalan."
Katrin mengganti pakaiannya, lalu beralih rebahan di kasur miliknya, sebenarnya dia penasaran kemana perginya Karla, begini-begini juga Katrin kesepian, mungkin dia akan meminta maaf atas omongannya siang tadi, itu sudah terlalu kasar.
Suara notifikasi ponselnya berbunyi ada pesan chat masuk, ya itu dari Gala, sekarang dia sudah bertukar nomor dengan Gala, dan itu akan memudahkannya berkomunikasi.
"Besok tetep berangkat bereng kan?." ucap Gala dari sebuah pesan.
"Iya dong... kan sekarang kita udah deket.... hehehe.... " Katrin sudah terlanjur nyaman dengan Gala.
"Ok besok aku jemput lagi, oh ya besok mau mampir ke cafe gak...? sesekali kita nyantai bareng disana, sambil ngobrol." ajak Gala, karena ini sudah masuk tahap pendekatan yang lebih dekat lagi, agar Katrin percaya padanya.
"Emm boleh tuhh.... aku juga pengin ngobrol sambil bersantai, tapi aku izin dulu sama orang tuaku."
"Ok gak masalah kok, aku tunggu kabarnya besok ya disekolah." Gala mengakhiri chat mereka, Katrin masih senyum-senyum sendiri, berarti ini adalah kencan pertamanya.
Karena lapar Katrin pun memutuskan untuk makan terlebih dahulu, Karla belum juga pulang, mungkin masih banyak urusan pikir Katrin, nanti juga pasti dia akan pulang. Katrin juga mengecek perusaannya yang mulai berkembang sangat pesat dari tahun sebelumnya, sekarang Katrin sudah mulai bekerjasama dengan perusahaan lain, dan mulai membangun cabang, tapi dia belum berani untuk mengajukan kerjasama dengan perusahaan daddynya, ya karena dia masih ingin merahasiakan hal tersebut.
"Kapan ya bisa kerjasama dengan perusahaan daddy? ahh tapi nanti saja kalau aku udah kuliah, agar daddy dan keluarga yang lain tidak syok karena aku sudah membangun perusahaan sendiri, bahkan sekarang sudah sangat maju." pikir Katrin, dia akan memberitahu keluarga yang lain jika dia sudah berkuliah, karena untuk menghindari syok orang tuanya.
"Besok adalah penandatanganan kerjasama dengan perusahaan Athfal, aku akan menghubungi wakil ku untuk menggantikanku." Katrin menghubungi wakilnya untuk segera mengirimkan surel, tentang kerjasama dengan perusahaan Athfal.
"Ok beres.... "
__ADS_1
Katrin tetap tidak enak dengan perkataannya pada kakaknya, tapi mereka saling peduli meski dalam keadaan membenci, mereka tetap memikirkan perseteruan mereka, dan berharap bisa normal kembali. Sebenarnya Katrin tidak mau melakukan itu, tapi karena emosi jadi ya dia mengeluarkan kata-kata sampahnya.
"Maaf ya kak..... "