
Lena keluar dari restoran dengan sangat marah, karena baru saja Arsya menolaknya, wajahnya merah padam menahan amarah terlihatlah jelas dia terus saja menghentakkan kedua kakinya.
"Sial....brengsek..... bajingan kau Arsya...... berani sekali dia menolakku dengan terang-terangan. " umpat nya mengeluarkan sumpah serapah nya, Lena tak terima ini adalah pertama kalinya dia di tolak seorang lelaki.
Lena pun pulang dengan segala kekesalannya, dia bahkan tak akan tinggal diam jika belum mendapatkan Arsya, Lena mengendarai mobilnya dengan ugal-ugalan tak peduli dengan umpatan para pengendara lainnya. Bermimpi akan menjadi nyonya besar ternyata hanyalah bohong belaka, namun bukan Lena jika langsung menyerah, dia akan mencari cara agar Arsya mau menikah dengannya.
"Akan aku buat kau menikahimu Arsya, aku tak akan melepaskan dirimu begitu saja, kita lihat saja siapa yang menang." seringai nya Lena akan melakukan segala cara untuk bisa mendapatkan Arsya.
Lena melakujukan mobilnya menuju tempat karaoke untuk menghilangkan penatnya, dia pun kesana dengan perasaan kesal bercampur marah. Sesampainya di sana Lena beryanui sepuasnya mengeluarkan segala isi hatinya, yang sangat marah pada Arsya. Hingga menjelang malam dia masih belum puas, dan sebelum pulang dia mampir ke bar untuk minum.
Rasanya semua akan hilang jika dia sedikit menikmati alkohol untuk menghilangkan penat, dan juga sakit hatinya, karena gagal mendapatkan mangsa. Lena sudah memesan minum dan meminta di layani.
Dari kejauhan nampak seorang lelaki yang sedang memperhatikannya secara intens, seakan ingin mengajaknya berbincang. Lelaki itu pun bangkit dari duduk nya dan mendekati tempat duduk Lena.
"Hai nona manis.... bolehkah aku ikut duduk bersamamu?." ucap lelaki itu bertanya agar bisa duduk di dekat Lena. Lena mendongak melihat siapa yang berbicara padanya.
"Duduklah... aku sedang membutuhkan teman." jawab Lena, sambil meneguk wine nya, namun dia masih dalam kesadaran karena Lena belum terlalu banyak minum.
"Siapa namamu? kita berkenalan dulu."
"Lena." singkatnya dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Ferdi... " dia pun mengulurkan tangan untuk membalas uluran tangan Lena.
"Sepertinya kau sedang ada banyak masalah?." tanya Ferdi, dia ingin tahu apa yang terjadi pada Lena, karena wajahnya sedang marah dan kesal.
"Iya aku habis bertemu lelaki brengsek... dia menolakku secara terang-terangan, bahkan dia menghinaku." ucapnya mengeluarkan isi hatinya.
"Wah... benarkah? lelaki siapa yang berani menolak gadis secantik dirimu." puji Ferdi karena memang Lena cantik, Lena tersenyum tipis mendengar pujian Ferdi, yang lumayan ganteng dan terlihat kaya.
"Hanya dia saja yang buta, tak bisa melihat wanita secantik diriku.... aku akan membalaskan semua yang dia lakukan." ucapnya berapi-api yang masih mengingat jelas hinaan Arsya.
"Siapa nama lelaki yang menolakmu nona? siapa tahu aku bisa membantumu." Ferdi penasaran lelaki macam apa yang menolak Lena.
"Dia Arsya pengusaha terkaya nomor satu, dia yang telah menolakku." ucapnya dengan nada geramnya.
Ferdi yang mendengar nama musuh dari atasannya dia pun terkejut, namun berusaha menutupinya, mereka belum bertemu kembali dengan Arsya musuh besar dari Alan, setelah kejadian delapan tahun silam Alan pergi menyembunyikan identitas nya untuk sementara waktu.
"Oh... lelaki itu yang menolakmu.... dia memang pria aneh.... " Ferdi berpura-pura tak mengenal Arsya, karena tiba-tiba saja terbesit rencana untuk memperalat Lena.
__ADS_1
"Benar, bukan hanya aneh tapi dia sangat menyebalkan, tapi aku tidak bisa melepaskannya, dia akan tahu akibatnya karena telah menghina ku."
"Huh mata duitan.... ternyata dia uring-uringan hanya karena di tolak lelaki tajir.... ini bisa menjadi peluang untuk tuan Alan." batin Ferdi yang menyadari jika Lena adalah wanita yang penyuka dengan uang. Seringai misterius tergambar di wajahnya.
"Aku bisa membantumu membalaskan dendam pada Arsya... apa kau berminat?." tanya Ferdi yang memulai menghasut Lena.
"Benarkah? kau mau membantuku?... "Tanya nya lagi memastikan jika Ferdi benar-benar akan membantunya.
"Apa aku terlihat berbohong nona? dengan senang hati aku akan membantumu." Ferdi meyakinkan lagi agar Lena benar-benar percaya.
"Baiklah aku mau.... terima kasih mau membantuku." senang Lena, akhirnya dia bisa membalaskan kekesalannya pada Arsya.
"Datanglah satu minggu lagi ke alamat ini." Ferdi memberikan kartu nama Alan, agar Lena bisa datang kesana.
"Ok aku pasti datang." ucapnya dan menerima kartu nama tersebut.
" Ok sepakat...ku tunggu nona manis... " meraka pun minum bersama hingga tengah malam.
πππππππ
Satu minggu kemudian.....
Dengan ragu namun harus dia lakukan, karena ini adalah kesempatan agar tuan mudanya bahagia, dan berharap Dinar beserta kedua putrinya akan merubah Arsya. Aryan mengendarai mobilnya, karena jarak apartemen ke tempat kerja membutuhkan waktu lima belas menit.
Sesampainya di tempat kerja Aryan memarkirkan mobilnya di tempat biasanya, karena rumah Dinar masuk ke dalam gang, dan mobil tidak akan cukup untuk memasuki jalan tersebut. Aryan berjalan kaki karena jaraknya tak terlalu jauh, Aryan yakin jika dia bisa meyakinkan Dinar.
"Huft.... semoga berhasil meyakinkan nona muda dan juga kedua nona kecil, dan pencaria mereka selama delapan tahun akan terselesaikan dengan cepat." ucapnya penuh harap.
Selang beberapa menit sampailah dia di depan rumah Dinar, yang ukurannya sedang dan sangat sederhana. Aryan terharu melihat keadaan tempat tinggal dari wanita tuannya, entah kesulitan saja yang telah dia alami selama delapan tahun, mengurus kedua anak kembarnya.
"Ini rumah mereka.... selama delapan tahun nona muda merawat si kembar sendiri, aku tak percaya jika dia wanita hebat. Mungkin jika wanita di luaran sana akan langsung meminta pertanggung jawaban kepada tuan Arsya, sedangakan dia malah menjauh dan pergi." Aryan di buat takjub dengan Dinar yang mampu merawat kedua anaknya tanpa suami di sisinya.
Aryan menekan bel rumah Dinar, dia sudah berdiri di depan pintu rumah Dinar. Sudah kedua kalinya dia membunyikan, namun pemilik rumah tak kunjung membukukan pintunya. Dia pun menekannya lagi untuk yang ketiga kalinya.
Pintu pun terbuka terlihatlah wanita cantik berdiri di depan Aryan. Dia terlihat bingung dengan kedatangan Aryan
"Anu... maaf mencari siapa?." tanya Dania, karena dia tak mengenal Aryan.
"Oh iya maafkan saya karena telah mengganggu waktu libur anda, saya ke sini karena Karla dan Katrin mengundang saya untuk datang ke rumahnya." jelas Aryan dia berusaha mencari alasan.
__ADS_1
Dania mengernyitkan dahinya, lelaki di depannya mencari si kembar imut, dia juga tak tahu jika mereka kenal dengan lelaki yang bukan asli Jepang. Namun sebelum Dania berbicara, Katrin sudah lebih dulu melihat kedatangan Aryan.
"Wah paman Aryan sudah datang, ayo masuk... aunty ini paman yang aku ceritakan, yang telah menyelamatkan kakak pada saat kecelakaan."oceh Katrin, ini adalah kesempatan emas untuk bisa memperlihatkan bundanya pada bawahan dari lelaki yang mereka anggap daddy nya.
"Oh jadi dia paman itu, baiklah silahkan masuk maaf karena saya tidak tahu jika anda orangnya."ucap Dania mempersilahkan masuk, Katrin segera menggandeng tangan Aryan dan mengajaknya ke ruang tamu.
Aryan hanya menurut dengan ajakan Katrin tanpa menolaknya, dia pun duduk di sofa di temani Karla yang sedang sibuk dengan tab nya, sedangkan Katrin memanggil ibunya, ternyata mereka berdua sedang bersandiwara.
Ruang tamu tersebut berisi banyak sekali penghargaan seperti mendali dan juga piala yang tertata rapih di dalam lemari kaca yang ukurannya sedang. Aryan takjub dengan semua penghargaan tersebut, namun dia berfikir siapa pemilik semua penghargaan tersebut.
Karla menaruh tab nya di meja, bersamaan dengan itu Dania membawa nampan untuk menjamu Aryan. Karla pun mendekat dan duduk di samping Aryan.
"Ternyata paman benar-benar datang, sebentar lagi pasti paman akan bertemu bunda." ucap Karla dengan nada dinginnya seperti biasa.
"Iya... karena itu adalah janji." singkatnya, dia benar-benar merasa di dekat tuannya, akibat dari sifat Arsya yang menurun pada Karla. Setelah sedikit berbincang suasana kembali hening, Dania juga kembali ke dapur untuk mengambil beberapa cemilan.
Katrin pun sudah menggandeng tangan bundanya, Dinar hanya mengikuti langkah putrinya dia berkali-kali bertanya, namun Katrin hanya diam tak menjawab. Sampailah keduanya dia ruang tamu, Dinar melihat sekeliling siapa sebenarnya yang bertamu di rumahnya di hari santainya.
Irish matanya menangkap seorang lelaki yang duduk membelakangi nya, Dinar penasaran siapa lelaki itu, karena postur tubuhnya bukanlah bosnya Kenzo.
"Paman ini bunda kami." teriak Katrin membuat Aryan menoleh ke sumber suara.
Tubuh Dinar menegang ketika melihat Aryan menoleh, begitu juga dengan Aryan yang terkejut melihat bahwa wanita itu adalah Dinar, yang hilang delapan tahun silam dan kini dia ada di hadapannya. Memang benar pada saat di kantor Dinar sangatlah berbeda, tapi kini Aryan dapat mengingat dengan jelas jika dia adalah wanita yang Arsya cari.
"K-kau..... " ucap Dinar terbata, wajah yang berusaha dia lupakan bersama dengan lelaki yang pernah menolongnya akibat obat perangsang.
"Kau wanita itu.... kenapa anda menghilang begitu saja?." Ujarnya kini sudah jelas jika Dinar adalah yang mereka cari.
Dania yang baru saja datang juga terkejut dengan apa yang di ucapkan Aryan, yang berarti dia adalah bawahan dari lelaki yang pernah tidur dengan Dinar.
Tiba-tiba saja keringat dingin membasahi dahinya, wajah Dinar berubah pucat pegangan tangannya pada Katrin pun mendadak lepas, tubuhnya menjadi lemah. Hatinya merasakan takut yang luar biasa, karena identitas mereka sudah diketahui sampai sejauh ini.
Ketakutan dalam hatinya kini benar-benar terjadi, bahwa ayah dari kedua anaknya sudah berhasil menemukannya, dan pasti sebentar lagi kedua putrinya akan di bawa pergi.
"M-mau apa kau kemari..... " lirihnya tubuh Dinar sudah bergetar hebat.
**Jangan tinggalkan jejak setelah membaca karyaku, dengan memberi dukungan like, vote dan comment πβΊπππ
Don't forget guys ππππ
__ADS_1
Ikutin terus kelanjutannya, da jangan lupa tambahkan dalam rak buku favorit kalian, semoga terhibur dan terima kasihπβΊππ**