
Arsya masih belum sadarkan diri, Devan juga telah selesai mendapat perawatan, dan keadaan nya sudah membaik, dan sekarang Haya sedang mengobrol dengan Devan, Haya meluapkan semuanya pada Devan.
"Sudah cukup kau siksa keluargaku dengan penderitaan, aku sudah lelah yah.... aku sudah tidak sanggup lagi, aku mohon sudahi semuanya, perbaiki semuanya." suaranya sudah bergetar, Haya tidak sanggup untuk berbicara lagi.
"Aku tahu... tapi tetap saja, dendam ini masih ada di dalam hatiku, tidak cukup hanya dengan membuat keluarga mu tersiksa." Devan masih belum bisa berubah.
"Jika hatimu ingin lega, maka maafkanlah dengan kelapangan hati, itu adalah masa lalu, masalah antara keluargaku dan keluargamu, mereka sekarang sudah tiada, jadi kumohon ikhlaskanlah masa lalu, kita buat keluarga kita harmoni tanpa kepalsuan." Haya tetap membujuk agar Devan mau memperbaiki dan memaafkan masa lalu, jika tidak maka tidak akan pernah ada yang berubah.
Devan diam, dia berusaha mencerna semua yang di katakan istrinya, sangat sulit melepas dendam yang sudah ada di dalam hati, tapi ketika kita ikhlas maka semuanya akan membaik.
"Ya sudah kamu pikirkan saja dulu, kalau begitu aku pergi, Dinar masih belum sadar, jenguklah dia doakan agar keadaannya membaik." Devan juga kepikiran, menantunya koma akibat dari ulah anak buahnya, dan tentu saja dia yang memerintahkan untuk mencelakai Dinar.
Devan melihat kepergian Haya yang semakin menjauh dari pandangan nya. Dia memikirkan semuanya, memikirkan semua yang telah dia lakukan, Devan telah membuat banyak penderitaan, senyum dan kebahagiaan nya palsu dan tidak ada yang indah. Mungkin kini saatnya dia melupakan semua masa lalu, masa dimana orangtua mereka berselisih, hingga mengakibatkan dendam berkelanjutan.
💕💖💕💖💕💖💕
Arsya mengerjap kepalanya masih berdenyut nyeri, dia ingat terakhir kali adalah membunuh ayahnya, Arsya bangkit dari tidurnya, dia turun dari ranjang. Berjalan dengan sempoyongan, akibat rasa nyeri di sekujur tubuhnya, Arsya berjalan menuju keluar, hatinya masih di selimuti amarah, dia belum tenang sepenuhnya.
"Tuan... tunggu anda mau kemana?." Aryan yang tahu jika tuannya kabur dari kamarnya, dia segera mencarinya, dan benar saja dia sedang berjalan dengan tubuh lemas nya, Aryan mencoba menghentikan Arsya.
"Tenanglah tuan, tenang.... jangan memaksakan diri."
"Diam kau, aku masih belum membunuh keparat itu.... jangan halangi aku." Arsya memberontak, dia tidak peduli dengan Aryan. Tapi disaat yang sama Haya berpapasan dengan Arsya, dia segera menenangkan Arsya.
"Nak tenanglah... ayo kembali ke kamarmu kamu harus istirahat." ucapnya lembut, Arsya menghentikan langkahnya. Dia memandang begitu lama wajah dari wanita yang telah melahirkan dan merawatnya, meski Arsya tahu semua itu hanyalah kedok.
"Aku muak mah..... aku benci dengan semuanya." Arsya terduduk dengan kepala tertunduk, dia mulai menangis, semua salahnya, Arsya tidak menyadari jika ayahnya hanyalah luka bagi keluarganya. Haya mendekat, dia membungkuk dan mengelus punggung Arsya lembut, tubuhnya bergetar jika saja dia tahu Devan sebejat itu, Arsya lah yang akan melindungi keluarganya.
Haya memeluk tubuh Arsya erat, anak lelakinya hanyalah anak yang baik, yang tidak tahu apapun, dia hanya menurut dengan semua yang di perintah Devan, hingga membuatnya menjadi pembunuh, dan itu pasti berat baginya.
__ADS_1
"Tenangkan dirimu dulu nak, anak dan istrimu pasti khawatir, mereka membutuhkan mu, jangan terbawa amarah, karena hal itu akan menjadi bencana." Arsya sadar, dia mulai tenang, memadamkan secara perlahan api amarahnya, dia melepas pelukan Haya, dan menatap wajah ibunya dengan tersenyum, Arsya mengusap air mata Haya lembut.
"Terima kasih mah... terima kasih, aku akan berubah mulai saat ini, dan ini adalah janjiku sebagai putramu, aku tidak akan mengotori tanganku dengan darah lagi, tidak akan, sekarang aku hanya akan membahagiakan keluargaku." tekad nya sudah bulat, Arsya akan berubah dia akan berusaha menjadi yang terbaik untuk keluarganya.
"Sudah sekarang temuilah istri dan anak-anak mu, mereka menunggumu, besok baru kita selesaikan semuanya, tenangkan hati dan pikiranmu." Arsya mengangguk.
"Aryan bantu Arsya." mereka berjalan menuju kamar Dinar dirawat.
Sesampainya di sana, Karla dan Katrin serta Andra masih menunggu Dinar, mereka begitu setia dan sabar. Arsya duduk di samping ranjang Dinar, sudah hampir satu minggu dia belum membuka matanya, dengan alat medis yang masih menempel di tubuhnya. Sakit rasanya melihat istrinya masih belum sadarkan diri, hancur hatinya melihat keadaan nya saat ini, tak terasa air matanya luruh, Arsya menggenggam erat tangan Dinar memberikan kehangatan, sudah lama dia tidak menyentuh Dinar, Arsya sangat merindukan nya.
Semuanya meninggalkan kamar Dinar, memberikan ruang untuk Arsya berkeluh kesah dengan Dinar, mengajaknya berbicara agar keadaan Dinar membaik.
"Maafkan aku sayang..... maafkan aku, aku sudah membuatmu kecewa, kamu boleh menghukum ku, hukum aku sayang, tapi aku mohon sadarlah jangan membuat kami semua khawatir, aku sangat rindu padamu, aku rindu semua tentangmu, cepatlah kembali aku sangat tersiksa melihatmu seperti ini." keluh nya dia sangat menyesal, karena kecerobohan nya membuat istrinya salah faham, Arsya lalai karena membuat rencana bodoh.
"Sadarlah sayang.. aku sangat merindukan mu, ketiga anak kota juga pasti merindui bundanya... aku mohon cepatlah sadar dan kembali, kami semua menunggu mu." Arsya semakin menggenggam erat tangan Dinar, tak hentinya dia memohon agar istrinya bisa segera bangun.
💕💖💕💖💕💖💕
"Heh tidak semudah itu, kau sendiri yang telah menggali lubang dosa mu sendiri, karma akan datang padamu, hukum tabur tuaiasih berlaku."
Ferdian hanya diam membisu, dia sudah tidak bisa berbuat apapun, hanya menunggu hukuman yang akan di berikan oleh keluarga Azhar, mungkin bisa saja kematian yang dia dapatkan.
"Nikmati saja akhir sebelum kak Arsya menghukum kalian, itu karena kau sudah mengusik kakak ipar, kau tahu akinatnya akan fatal, kak Arsya sudah sangat marah pada kalian semua. " Dafa beranjak pergi, tinggal hukuman saja yang mereka dapat.
Wajah Hayfa pucat, dia tidak bisa membayangkan tubuhnya akan disika oleh Arsya, membayangkannya saja sudah membuat tubuhnya merinding, ingin rasanya Hayfa mati saat ini juga, daripada harus mendapatkan siksaan dari Arsya.
"Jangan.... jangan lakukan apapun padaku aku mohon... aku mohon." tiba-tiba saja Hayfa menjadi histeris, dia berteriak dan memohon.
Arsya sudah berada di ambang pintu dimana Devan di kurung, tidak ada kata maaf untuk ayahnya, terlebih semuanya sudah terbukti, Arsya akan menghukum mereka semua, meski Haya sudah berusaha mencegahnya.
__ADS_1
"Kau datang rupanya..... "
"Diamlah tidak usah banyak bicara, aku muak mendengar nya."
"Bersiaplah hukuman akan di lakukan besok, akan aku perlihatkan neraka untuk mu dan juga bawahanmu." Arsya tidak akan segan.
Keesokan harinya......
Semua sudah Dafa siapakan, dia juga sudah membereskan semua mafia milik Devan, dengan masih mencari sisa bawahan yang kabur, tapi mereka tidak akan lolos semudah itu, mereka akan di bantai habis-habisan.
Ternyata tanpa disangka Hayfa menjadi gila akibat ucapan Dafa kemarin, dia depresi berat, Hayfa masih berteriak memohon da meminta maaf, kadang tertawa sendiri lalu menangis, karena ini sudah menjadi hal merepotkan, maka Aryan di perintah untuk membawanya ke rumah sakit jiwa untuk di periksa lebih lanjut.
Akhirnya Ferdian dan Devan yang akan di eksekusi, pertama Ferdian, Arsya mengambil pisau kecil untuk sedikit bermain, kulit Ferdian mulai di kuliti oleh Arsya, rintihan dan jeritan memenuhi ruangan tersebut, matanya sengaja Dafa tutup atas perintah Arsya, melihat wajah putus asa Ferdian membuat Arsya bersemangat.
Jiwa psychopath nya yang sudah lama tertidur akhirnya bangkit kembali, di lanjutkan dengan mencukil satu per satu kuku kaki dan tangan, hingga Ferdian mulai kehabisan darah, dia mulai pusing. Tapi Arsya tidak pedulikan hal itu, meski rintihan itu semakin meredup, Arsya tetap melanjutkan aksi nya, terbayang wajah sahabatnya yang telah di tipu oleh lelaki di hadapan nya, membuat Arsya semakin liar.
"Ini karena kau telah membuat api kebohongan di kehidupan Alan, kau pengkhianat sesungguhnya, tak bisa di maafkan, nyawa harus di balas nyawa, kau telah menipu sahabatku, nikmatilah neraka yang ku buat ini." Arsya melakukannya hingga dua jam, dan Ferdian meminta untuk Arsya membunuhnya, dia sudah sangat tersiksa.
"Bunuh.... bunuh.... bunuh aku, jangan siksa terus aku. " pintanya semakin melemah, Arsya menyeringai, lantainya sudah berlumuran darah, aroma amis sudah mulai menyeruak.
"Ohh kau sudah menyerah rupanya... "
Srakkkk........
Arsya membelah dada milik Ferdian, nafasnya langsung terhenti seketika, keluarlah cairan merah yang begitu banyak membanjiri bawah kursi yang Ferdian duduki, seringainya semakin menyeramkan, wajah Arsya sudah terkena cipratan darah, begitu juga pakaian nya.
Dafa begidik ngeri melihat pemandangan di hadapannya, tapi apakah Arsya akan sanggup menghukum ayahnya dengan tangannya sendiri, itulah yang kini dipikirkan oleh Dafa, meski begitu Devan adalah ayah mereka.
"Bawa jasad nya, kuburkan dengan layak." Arsya masih memberikan peristirahatan yang sopan untuk Ferdian. Kini giliran Devan yang akan mendapatkan hukuman.
__ADS_1
Haya terus memikirkan apa yang akan putranya lakukan pada ayah mereka, dia begitu cemas, Arsya sangatlah keras kepala, dan sangat sulit untuk di bujuk, Asfi sekalipun tidak akan pernah bisa membuat Arsya patuh. Dafa mendudukkan Devan yang sudah tertutup matanya oleh kain hitam sejak tadi, agar dia tahu akan di hukum seperti apa.
"Ayah kau sudah berakhir..... keluarga ku sudah mendapatkan banyak penderitaan darimu, maka dari itu aku tidak bisa memaafkan mu semudah itu."