
Beberapa bulan berlalu.....
Setelah beberapa bulan, tebakan Karla benar adanya, adiknya semakin akrab dengan Gala, pada saat terakhir bertemu di kantin, Gala selalu saja mendekati Katrin bagaimanapun keadaannya, bahkan terlihat seperti penguntit.
"Kak hari ini aku gak bareng kakak lagi ok, Gala soalnya mau jemput aku." ucap Katrin sambil merapihkan seragamnya, ya setiap hari Katrin diantar jemput oleh Gala, dan bahkan ketika weekend, waktu beberapa bulan terakhir ini Katrin lebih dekat dengan Gala.
"Hmmm." hanya deheman yang Karla berikan, dia sebenarnya sudah muak dengan hal tersebut, muak karena Katrin tidak pernah membawa jam digital miliknya, Karla sangat kesal.
"Bund Karla berangkat...... " ucapnya dengan membawa bekal sandwichnya, dua bulan lalu Karla lebih suka dibawakan bekal kesukaannya, yaitu sandwich dengan potongan buah, tidak lupa yogurtnya sebagai minuman pendamping.
"Hati-hati sayang, jangan lupa bekal nya." Dinar juga merasa aneh, tentang kedekatan si kembar yang mulai agak jauh dari sebelumnya, mungkin karena faktor usia, mereka sudah memasuki umur tujuh belas, jadi sekarang mereka sudah punya kesibukan masing-masing.
"Aku lihat Katrin selalu dijemput oleh teman laki-laki nya, apakah hal tersebut kamu bolehkan dad?." tanya Dinar pada Arsya, mereka sedang ngobrol santai, karena Arsya sedang cuti.
"Sebaiknya jangan terlalu dekat dengan laki-laki bunda, coba bicarakan ini dengannya, aku khawatir jika terjadi sesuatu padanya, harus ada batasan untuk Katrin." Arsya juga merasakan hal tersebut, lebih baik untuk tidak terlalu dekat dengan lawan jenis, karena Katrin masih dalam pertumbuhan.
"Iya nanti bunda akan menasehatinya."
"Oh ya sayang aku ingin... " bisiknya tepat di telinga Dinar, Dinar tersenyum malu, memang sudah lama mereka tidak menjalin kasih, karena Arsya sekarang sedang sibuk sekali, jika ada waktu luang, Arsya selalu pulang malam dan sangat larut, dan terkadang dia langsung beristirahat.
Arsya mengecup bibir istrinya lembut, menggodanya agar mau melakukan hal itu sekarang, mumpung anak-anak sedang sekolah. Dinar mengangguk mau, mereka pun masuk kedalam kamar, memang pasangan romantis, padahal sedang serius membicarakan gadisnya. Dinar dan Arsya pun meluangkan waktu untuk bercumbu indah, dan membiarkan kenikmatannya menyatu dalam cinta, memagut kasih yang sudah lama belum mereka lakukan.
💕💖💕💖💕💖💕
Sesampainya disekolah Karla turun dari mobilnya, setelah beberapa menit Katrin dan Gala memasuki sekolah, banyak yang mengira Gala dan Katrin berpacaran, tapi ada juga yang menentangnya, karena itu hanyalah kabar burung.
"Karla..... " panggil Zea, dia berlari menuju Karla yang sudah bersiap menuju kelas. Karla menghentikan jalannya, menunggu Zea sampai padanya.
"Gimana bajunya lo suka kan?." tanya Zea, dua minggu lalu mereka membuat baju couple berempat, dan ya itu baru saja jadi.
"Suka kok... " singkatnya, mereka berjalan menuju kelas.
"Oh ya kok lo nggak berangkat sama adek lo sihh, udah beberapa bulan kayaknya." Zea juga tidak suka dengan kedekatan antara Gala dan Katrin, itu membuat Karla selalu sendirian.
__ADS_1
"Biasa gue udah males ngomongin itu." ucapnya dengan nada datarnya, Zea tahu apa maksud dari ucapan Karla, Katrin jadi jarang menghabiskan waktu dengan mereka berempat, terlebih dengan kembarannya. Tapi rasanya emang gak enak banget, gak bisa deket sama saudara, padahal hidup satu atap.
"Ok ok..... tapi gue khawatir bakal terjadi hal gak baik sama dia, gue takut Kar." Perasaan Zea mengatakan, jika kedekatan Katrin bukanlah kebetulan, mungkin saja memang sudah direncanakan.
"Udah lo gak usah khawatir, gue selalu awasi dia kok." Karla mencoba menenangkan kegundahan hati Zea, memang Karla juga takut dengan hal buruk yang akan terjadi, tapi Karla juga lebih waspada lagi.
"Oh Kar.... gimana lo udah nemu kabar tentang siswi terakhir yang hilang itu?." tanya Zea, untuk mengalihkan membicarakan yang kurang enak.
"Udah gue udah nemuin, tapi belum tahu siapa pelaku sebenarnya, tapi gue udah nemuin markasnya, ini sangat berbahaya Zea..... " jelas Karla, selama beberapa bulan ini, Karla sudah menyelidiki tentang siswi terakhir yang hilang, yaitu sebelum Katrin akrab dengan Gala, dan ya Karla sudah menemukan markas yang menurut nya itu bukan markas utama.
"Lo udah tahu markasnya? lalu apa yang sangat berbahaya Kar, coba jelasin lebih detail lagi?." padahal Zea ingin sekali bisa ikut dalam penyelidikan, tapi Karla melarang keras, karena itu menyangkut keselamatan, dan Karla juga pergi bersama Dhafi pada waktu itu, karena Dhafi dan juga uncle Dafa juga sedang mencari tahu masalah serius tersebut.
"Gue gak yakin Zea....karena itu bukan markas utamanya, dan ternyata mereka adalah mafia kejam, bersama Red Heart, gue nyelidiki masalah ini sama uncle gue." jelasnya, mereka memang menyelidiki mafia tersebut, karena memang mafia Red Heart adalah pusat dari masalah misterius ini, dan harus segera dituntaskan.
"Hah mafia? ya ampun ternyata seseram itu Kar, tapi boleh ga sih gue tahu uncle lo, ajak gue kesana yaa... please, gue penasaran banget." pintanya, entah kenapa jika ini menyangkut dengan hal yang berbau perkelahian, Zea sangat tertarik, dan ingin ikut.
"Hufttt...... ok nanti sepulang sekolah kita kesana, karena gue mau bahas penyelidikan lanjutan lagi."mau tidak mau, jika Zea sudah memohon Karla tidak bisa menolaknya, mau setegas apapun dirinya, Zea pasti akan tetap memaksa.
"Yeayyy..... maacihhh..... " girangnya, Karla ingin ini cepat selesai, jangan ada hal buruk lagi.
"Ehh mereka couple goals banget ihh..... gemes dehh sam mereka berdua." bisik-bisik teman sekelas mereka, melihat betapa cocoknya Gala dan juga Katrin.
"Udah cowoknya ganteng, ceweknya cantik, beuhh best pokoknya." puji mereka, kedekatan Katrin membuat gempar seluruh sekolah, bahkan heboh seketika. Bahkan diantara mereka mengatakan jika Karla kalah saing dengan kembarannya, tapi Karla tidak pernah mendengarkan, bahkan tidak peduli dengan ocehan dari mulut kotor mereka.
Bel masuk berbunyi, Gala pergi dari kelas Katrin, dan memberikan kesan manis bagi Katrin, itu adalah hal yang selalu Gala lakukan sebelum bel masuk. Dan akan datang kembali pada jam istirahat, itu adalah rutinitas baru Gala, dan Katrin menerimanya tanpa rasa curiga sedikitpun.
Karla memikirkan bagaimana cara untuk memisahkan keduanya, meski Karla yakin butitan cinta diantara keduanya mulai tumbuh, Karla muak dengan sandiwara ini, Karla muak dengan Gala, dan sikap ketidak curigaan Katrin. Katrin seperti menjadi budaknya, Karla tidak suka dengan hal tersebut. Dia harus bicara empat mata dengan adiknya, dia harus mengatakan hal ini pada Katrin.
"Gue mau pergi dulu.... kalian duluan aja ke kantinnya." ucap Karla, ini harus dibicarakan.
"Ok gue pesenin sekalian ya... " teriak Zea, dia dan Irma pun beranjak pergi.
"Kenapa sihh Katrin jadi gak mau bareng sama kita? gue kesel tahu liat mereka deket... tapi bukan berarti gue suka atau tertarik sama tuh cowok, tapi yang jadi masalah tuh Katrin jadi jauh dari kita, dan gue akui, gue benci itu." kesal Irma, semenjak mereka dekat, Katrin jadi sibuk sama dunianya, dan lupa sama sahabatnya.
__ADS_1
"Bener gue juga gedeg banget sama tuh laki..... pengin gue tonjok muka sok gantengnya itu." Zea ikut emosi, apalagi Katrin kaya udah gak peduli sama persahabatan mereka, seakan-akan dia dicuci otaknya.
Mereka sama-sama emosi tidak suka Katrin dekat dengan Gala, padahal kan masih ada cowok yang suka ngejar Katrin, tapi kenapa harus Gala..... kenapa Gala coba.
Karla menarik tangan Katrin dan membawanya pergi dari keramaian, dia menuju taman yang biasanya mereka berempet ngobrol, Katrin dipaksa ikut dengan oleh Karla, tanpa berbicara pada Gala.
"Kak lepas kak..... sakit..... lepasin tangan aku... " Karla tidak mendengarkan permintaan Katrin, ini untuk pelajaran. Karla melepas tangannya dengan kasar, dan memandang tajam adiknya, Katrin hanya menunduk dengan memegangi pergelangan tangannya yang merah akibat dari genggaman erat Karla.
"Belum puas lo?...... udah gue bilang berkali-kali pake jam itu, tapi lo gak pake.... " ucapnya dengan wajahnya yang tenang, tapi menyeramkan.
"Aku lupa kak... udah lahh kenapa harus dipermasalahin sihhh.....? kenapa sihh kakak selalu seenaknya sendiri sama aku? kenapa kak?. " Tanya Katrin dengan nada yang sedikit meninggi, sebenarnya dia lelah mengikuti semua aturan yang Karla berikan, dia juga ingin bebas.
"Aku udah dewasa kak, aku bukan anak kecil lagi kaya dulu..... aku bebas atur hidup aku..... " matanya semakin berkaca-kaca, sudah cukup dengan kekantan Karla, meski itu demi kebaikan adiknya, tidak menjamin dia akan menerima dengan baik perlakuan kakaknya.
"Dan kakak nggak berhak buat atur aku seenaknya." Karla mendengarkan dengan tatapan datarnya.
"Gue gak suka lo deket sama Gala, gue mau lo jangan bareng dia lagi." ungkap nya, perasaan yang mengganjal dalam hatinya sudah tersampaikan, tapi respon Katrin membuat Karla sakit hati.
"Aku udah bilang.....nggak usah ikut campur sama urusanku, aku mau deket sama siapapun itu bukan urusan kakak, inget kita itu cuma kembar, dan sekarang lebih baik pikirin hidup kita masing-masing, aku dengan kesibukanku dan kakak dengan kesibukan kakak."
"Dan aku muak saat kakak memandang datar kearahku, itu membuatku jijik, sudah lama aku memendam ini, pandangan dingin dan datar kakak terhadapku, membuat aku semakin membencimu." kejujuran memang hal baik, tapi apakah tidak bisa dia mengatakannya dengan kata yang baik?.
Bersamaan dengan kata menyakitkan itu, Rayhan datang dan terlanjur mendengar omongan menyakitkan tersebut. Karla diam membisu, ini kali pertama kembarannya mengatakan hal semenyakitkan ini.
"Katrin tarik kembali ucapanmu itu..... " teriak Rayhan, yang membuat Katrin terkejut.
"Kak Ray..... " Katrin menatap kecewa Rayhan. Harusnya Rayhan yang melakukan hal tersebut, tapi dia pasti mengira kami tidak mengerti akan apa yang dirasakannya.
"Hahaha...... jadi selama ini lo mendem hal itu sama gue.... bagus Katrin... bagus....... gue gak akan nampakin muka gue lagi di hadapan lo inget itu..... " tawa pilu Karla, yang baru mereka dengar, membuat hati Rayhan berdenyut nyeri mendengarnya, dengan cepat Karla pergi dari hadapan Katrin.
Katrin hanya diam memandang kepergian Karla, Rayhan sudah tidak bisa menghentikan ucapan yang terlontar dari bibir indah sepupunya, itu begitu menyakiti kembarannya, ini kali pertama Rayhan melihat perseteruan keduanya, tapi kenapa Katrin harus mengatakannya dengan amat menyakitkan?.
"Aku udah bilang tarik kembali ucapanmu...... aku kecewa padamu Katrin." setelah mengucapkan hal tersebut Rayhan pergi. Tubuh Katrin luruh, dia terduduk dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya.
__ADS_1
"Kenapa aku selalu salah......? kenapa mereka tidak bisa mengerti perasaan ku...? kenapa?.... Aaaaa aku benci kalian...... " bisiknya penuh kepiluan, dia menangis dalam diam.