
Mobil penculik itu berhenti di bangunan yang lusuh dan tidak terawat, Dinar terus menggenggam erat tangan putrinya dan berdoa agar tidak terjadi hal buruk. Tak lama sang penculik menyuruh Dinar dan Katrin keluar dari mobil, dia mengikat tangan keduanya secara terpisah dan itu membuat Dinar khawatir akan keselamatan Katrin.
"Lepaskan putriku.....kau menyakitinya." teriak Dinar tidak terima karena Katrin diikat. Namun dia tidak menghiraukan nya.
"Bunda tidak apa .....aku akan baik-baik saja." Katrin mencoba menenangkan sang bunda, karena dia takut jika ibunya terus berontak penculik bisa saja melukai mereka.
Jika masalah penyelamatan atau bertarung Katrin tidak bisa melakukannya, karena dia memang tidak menyukai hal yang berbau baku hantam. Mendengar Katrin berbicara untuk menenangkannya, Dinar menjadi sedikit lega, setidaknya putrinya tidak katakutan dengan kejadian ini.
Tanpa berbicara penculik tersebut membawa keduanya ke dalam bangunan yang gelap dengan cahaya temaram. Terdengar samar- samar suara riuh di dalam bangunan tersebut, membuat Katrin semakin mendekatkan tubuhnya pada ibunya. Dinar merasakan akan ada hal buruk yang akan terjadi, ingin rasanya dia berteriak meminta tolong, tapi sepertinya tidak akan ada yang mendengar dia berteriak.
"Bagaimana ini....? aku merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi, aku berharap dia datang menyelamatkan kami berdua." Batin Dinar, dia hanya bisa pasrah, dan berharap Arsya menyelamatkan mereka.
💕💖💕💖💕💖💕
Sementara Arsya dan Karla sudah turun dari mobil dan mengawasi keadaan sekitar, mereka akan menyusup masuk. Karla memperhatikan keadaan sekitar dengan jeli, begitu juga Arsya, keduanya sudah handal dalam hal seperti ini, hanya saja Arsya belum tahu jika Karla handal dalam hal ini.
"Dad keadaan aman, di sekitar sudah tidak ada penjaga yang berpatroli. " Karla yakin jika kawasan ini di pakai pasti akan ada yang berpatroli dan berjaga di sekitar. Arsya heran sejak kapan Karla memperhatikan keadaan sekitar, karena Arsya percaya kepada putrinya, dia pun juga merasa para penjaga sudah tidak ada di sekitar.
"Ok sekarang kita akan lanjut ke ruang bunda dan Katrin di bawa." Karla mengangguk mengerti, penyusupan kali ini harus berhasil dan tidak boleh ada yang terluka sedikit pun.
Mereka berdua melanjutkan misi memasuki ruang penyekapan, Karla sangat lincah dalam berkolaborasi dengan ayahnya. Arsya juga harus tetap waspada, karena dia juga tidak tahu ada sebanyak apa musuh yang berjaga disini.
Hingga sampailah mereka di sebuah lorong gelap yang penerangan nya kurang, dan itu adalah jalan terakhir yang harus mereka lalui untuk bisa sampai di ruang penyekapan. Arsya menambah kewaspadaan nya, begitu juga dengan Karla.
"Berhati-hati sayang..... tetap berada di dekat daddy." bisik Arsya pelan. Karla mengiyakan dengan pelan, mereka berjalan pelan agar tidak menimbulkan suara derap kaki. Hingga di ujung lorong Karla melihat ada yang keluar dari ruang penyekapan bunda dan juga Katrin. Namun tidak terlihat jelas, karena orang tersebut menggunakan topeng.
"Siapa dia....? mencurigakan sekali, apa dia ketuanya?." batun Karla, dia ingin tahu sebenarnya siapa yang baru saja keluar, namun dia tidak memberitahukan itu pada Arsya. Mereka keluar dari lorong tersebut, dan sampailah di ruang penyekapan, tapi ternyata tempat penyekapannya berjumlah sangat banyak dan ruangannya pun sangat luas, sehingga Arsya dan Karla sempat di buat bingung, ini adalah lorong lanjutan yang tadi, tapi lorong ini lebih banyak ruangannya.
Keduanya memeriksa satu per satu ruangan yang berada di lorong itu, suasana yang hening dan sepi seakan tidak ada penghuni ataupun penjaga yang berjaga di sini. Karla memeriksa ruangan yang baru beberapa saat di tinggalkan.
"Kita harus memeriksa setiap ruangan di sini, jadi tetap berhati-hati dan waspada." Arsya dan Karla mereka mulai beraksi.
"Baik Dad...... " jawabnya dengan serius.
Hingga tanpa mereka sadari ada beberapa penjaga yang sudah berada di lorong pertama, Arsya merasakan ada yang datang dia langsung bersembunyi di ruangan yang gelap, bersamaan dengan hal itu Karla juga ikut bersembunyi.
"Sial..... jika seperti ini terus aku tidak akan bisa menemukan Dinar dan juga Katrin secepatnya." batin Arsya, dia sudah tidak bisa melakukannya dengan sembuyi-sembunyi.
Arsya memang tidak suka berlama-lama dalam melakukan hal semacam ini, namun dia harus bisa lebih berfikir, karena saat ini dia tidak sedang sendiri melainkan ada Karla yang ikut dalam penyelamatan ini, dia tidak mau jika nanti Karla menjadi korban atau sandra bagi musuh.
__ADS_1
Namun tanpa di sangka Arsya, Karla melakukan hal bahaya itu, dia mengendap di belakang para penjahat dan melumpuhkan sekitar empat orang, Arsya membelakakan matanya, dia pun langsung membantu putrinya karena masih ada sekitar enam orang lagi.
Arsya takjub dengan apa yang baru saja putrinya lakukan, dia tidak percaya Karla akan senekad itu. Karena lengah Karla tidak sadar bahwa ada penjahat yang masih berada di belakangnya, Arsya pun sama dia masih fokus menghajar sisa penjahat.
"Dad..... " panggil Karla dengan suara yang tercekat, karena pisau tajam sudah berada di bagian lehernya. Arsya membulatkan matanya, ternyata benar apa yang dia pikirkan, Karla dalam bahaya saat ini.
Bugh......
Pukulan terakhir Arsya pada penjahat dan berbunyi sangat keras, dia menahannya dan kali ini tidak ada ampun untuk semua ini. Dengan wajah tenang dia mendekat ke arah Karla, Arsya melihat wajah Karla yang juga tenang tanpa ada rasa takut.
"Apa yang membuat mental putriku seperti baja ini? ini kesempatan ku untuk bisa menyenangkan putriku." Arsya bertanya-tanya dalam hati tentang keberanian putrinya.
"Jangan mendekat....!! atau aku akan membunuh dia." ancam sang penjahat, dia lebih menekankan pisaunya di leher Karla, hingga membuatnya mengeluarkan sedikit darah.
"Heh.... kau yang akan mati karena telah mengganggu keluarga ku." ucapnya dengan nada mengejek, membuat dia menggeram kesal.
Karla masih dalam mode tenangnya, Arsya juga sudah berhasil mengambil pistol nya yang tadi ada di dalam jas nya. Arsya sengaja membuka jasanya agar dia bisa leluasa bergerak, dia mengendurkan dasinya dan menggulung lengan kemejanya.
"Aku sudah bosan dengan permainan ini, aku ingin yang lebih ekstrim. " ucap Arsya remeh dengen senyuman iblisnya.
Penjahat itu sudah siap dengan pisaunya untuk menyayat leher Karla, Arsya yang menyadari akan hal itu dengan cepat dia mengincar tangan yang akan melukai Karla dan....
Suara tembakan menembus kesunyian bangunan tersebut. Semua yang berada di situ mendengar nya, tanpa terkecuali. Alan yang mendengar segera menyuruh Ferdi untuk mencari ke sumber suara.
Karla terlepas dari encaman, dia berlari menuju daddynya. Arsya bernafas lega Karla bisa terselamatkan. Arsya menembaknya dia kali, setelah tangannya terlepas dari leher putrinya, dia menembakkan pistolnya yang kedua kali.
"Kamu baik-baik saja kan sayang?." tanya Arsya dengan khawatir, dia tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada keluarganya. Apalagi mereka belum lama bertemu.
"Tenang lah Dad, i'm ok." singkat nya dengan tersenyum agar Arsya tidak khawatir.
"Sudah ayo dad.... kita bersiap lagi, pasti setelah ini akan ada lebih banyak musuh datang, karena tadi daddy menembakkan pistol."celoteh Karla, Arsya hanya terkekeh, ini kali pertama dia mendengar Karla mengoceh.
"Iya... iya manis ayo kita bersiap." Arsya gemas dengan kelakuan putri dinginnya.
"Diamana Dafa?.... lama sekali mereka datang?." batin Arsya kesal karena Dafa dan juga mafiosonya belum juga tiba di sana. Dia hanya khawatir kejadian seperti Karla akan terulang.
Mereka pun segera melanjutkan misi mereka, Arsya dan Karla menjalankan misi dengan baik, meski tadi hampir saja mereka lengah. Arsya dan putrinya kini saling memunggungi untuk memastikan sekarang aman. Hingga sampailah mereka di depan pintu dimana Dinar dan Katrin di sekap.
"Ini dia dad..... akhirnya kita menemukan mereka." Karla dan Arsya bernafas lega, mereka berhasil menemukan ruang sekapnya. Namun tanpa di sadari mereka, Ferdi sedang mengawasi mereka dia tidak percaya semua penjaga disini telah di habisi, padahal dia sudah mencari bawahan yang sangat handal dalam bertarung, tapi Ferdi juga merasakan bahwa akan berbahaya jika dia mendekat sekarang.
__ADS_1
"Sial... mereka berhasil menemukan." umpat Ferdi dalam hati. Samar-samar dia mendengar ada suara gemuruh angin besar di luar ruangan, dia pun mencari celah untuk mengintip. Dia terkejut karena Dafa telah datang dengan para bawahannya.
"Aku harus segera beritahu tuan Alan sekarang juga." Ferdi pun segara pergi untuk memberitahukan Alan.
Alan tersenyum licik, rencana dia telah berhasil, dia memberitahukan kepada seluruh bawahannya yang bersembunyi untuk segera menampakkan diri dan mengepung Dafa dan juga pasukannya, dan dia akan menyerang Arsya.
"Heh.....jangan harap kalian bisa lolos dariku, apalagi kau Arsya, aku akan balaskan dendam ini, ini baru awal dan masih akan ada pembalasan yang lain." ucapnya dengan tersenyum miring, dia pun segera mengepung Dafa dan juga pasukannya di halaman luas.
"Tuan kita harus segera pergi mereka telah......."
"Permainan baru saja akan di mulai, ini baru start. Sekarang ikut aku untuk bertemu dengannya." potong Alan, membuat Ferdi berfikir maksud dari ucaon tuannya.
"Rencana ketiga ku berhasil, lihatlah mereka sudah terkepung." tambahnya lagi, karena Ferdi tidak mengerti, dia pun memperlihatkan tab nya kepada Ferdi agar doa melihatnya langsung.
"Wah tuan anda memang hebat, rencana ini pasti akan berhasil sempurna." ucap Ferdi dengan takjub, ternyata tuannya sudah menyiapkan semuanya.
"Ini karena kau tidak bekerja dengan benar, bahkan kau hanya bermain-main saja dengan para ******." Alan kesal karena Ferdi tidak bekerja dengan benar, dan itu membuatnya muak.
Ferdi hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal, dengan senyuman di bibirnya. Alan masih menjalankan rencananya, bahkan dia hampir membalikkan keadaan.
Benar saja Dafa dan juga pasukannya sekarang sudah terkepung, akhirnya mau tidak mau mereka melakukan perlawanan.
"Sial...... kita telah terkepung, awas kau brengsek aku tidak akan melepaskanmu." umpat Dafa, dia tidak waspada dengan keadaan sekitar dan dia juga kurang konsisten dalam menanggapi hal ini, dia baru ingat jika lawan mereka adalah kadal licik dan cerdik.
Dafa harus segara membasmi musuh yang disini, dan segera mencari keberadaan kakaknya, sementara Alan dan Ferdi mereka sedang menuju ruang sekap, dimana Arsya sudah berada di sana bahkan tidak hanya dia, Dinar dan kedua putrinya juga ada di sana.
Setelah menemukan ruangan itu, Alan menendang pintu tersebut hingga hancur, Dinar terkejut, dia mulai takut dan berusaha untuk tetap tenang. Sementara Alan dan Ferdi mencari-cari keberadaan Arsya dan putri satunya yang ternyata sudah tidak ada di sana.
Dan tanpa Alan sadari Arsya langsung kenyerang tanpa peringatan dan dengan keras melumpuhkan kakinya, namun dengan cepat Alan bisa menghindarinya dan dia tersenyum smirk. Akhirnya terjadilah baku hantam antara Alan dan Arsya, sementara Karla sedang memikirkan sesuatu agar bisa dengan cepat menyelesaikan masalah ini.
Ferdi hanya memperhatikan keduanya, dia lengah dengan Karla. Namun ternyata Ferdi sedang merencanakan hal lainnya. Karla mendekat ke arah Dinar dan Katrin, tidak ada yang menyadari hal itu.
Dinar juga sedang fokus pada pertarungan sengit antara Arsya dan Alan, tapi Katrin malah sedang sibuk mencari kembarannya yang dia yakini pasti sedang berada di sini. Dan benar saja Karla sedang menuju kearahnya, Katrin tersenyum akhirnya dia bisa bertemu lagi dengan kakaknya.
Karla melihat kearahnya dia juga tersenyum tipis, dan menaruh jari telunjuknya di bibir sebagai isyarat agar Katrin tidak memanggilnya, Katrin mengerti akan maksud dari isyrat itu.
Ferdi bersiap untuk melakukan rencananya, dia tahu jika hal ini pasti akan berhasil. Dia mengambil pistol dari balik pakaian nya, dan mengarahkan ke arah yang tidak di sadari mereka, dan dia melepaskan peluru dari sarangnya.
Dor..........
__ADS_1
Suara itu menggema di ruangan dan bersamaan dengan itu bantuan datang, namun Ferdi dan Alan sudah tidak ada di tempat.