Putri Kembar Sang Psychopath

Putri Kembar Sang Psychopath
33 Rencana Alan


__ADS_3

Sesuai yang di katakan Ferdi seminggu lalu, Lena menemuinya di tempat yang telah di beritahukan oleh Ferdi padanya, Lena merasa di rendahkan oleh Arsya hingga membuatnya sakit hati dan ingin membalasnya, apalagi Arsya mengatakan jika sudah ada wanita yang dia impikan membuat Lena semakin geram.


Lena datang ke sebuah paviliun yang terbilang ukurannya sedang, dan ada beberapa penjaga yang menjaga tempat tersebut. Dia pun berjalan mendekat paviliun itu, hingga di depan gerbang kedua penjaga menanyakan kedatangannya.


"Selamat siang nona ada keperluan apa anda datang kemari?." tanya salah satu penjaga, karena paviliun milik tuannya adalah tempat rahasia.


"Saya sudah mendapatkan izin dari atasan kalian yang bernama Ferdi. " jawab Lena, mereka semua yang mendengar nama Ferdi pun akhirnya paham, jika Lena adalah tamu yang sengaja di undang kemari.


"Oh baiklah nona, silahkan masuk." ucapnya dan mempersilahkan masuk, tak lupa menyuruh salah satu penjaga untuk mengantarkan nya ke ruangan tuannya.


Lena terpukau dengan paviliun tesebut, padahal yang dia lihat depannya hanyalah bentuk arsitek sederhana, tapi dalamnya sungguh berbanding terbaik, banyak perabot mahal dan mewah, dan beberapa pajangan yang Lena tak tahu milik siapa. Sesampainya di depan pintu ruangan Alan penjaga meminta izin terlebih dahulu pada tuannya.


"Sebentar nona saya akan memberitahu tuan saya." ucapnya, Lena hanya mengangguk mengerti. Setekah meminta izin Lena di persilahkan masuk, terlihatlah wajah tampan yang baru Lena lihat, dan itu berbeda dari yang memberinya alamat.


"Rupanya kamu datang juga... aku kira kamu tak akan datang kemari." Ferdi tersenyum puas rencananya berhasil yang akan memperalat Lena.


"Selamat datang di paviliun ini.... silahkan duduk." Ferdi pun mempersilahkan Lena duduk, sementara Alan masih memerhatikan Lena tanpa berpaling.


"Apa benar kamu akan membantu ku? dan siapa lelaki itu?." sebenarnya Lena masih ragu atas tawaran Ferdi padanya, bagaimana mungkin orang yang baru dia temui dengan suka rela mau membantunya, namun karena rasa sakit hatinya dia pun membuang keraguan tersebut.


"Hei nona aku tak akan berbohong... dan lelaki itu adalah atasan ku, dia juga akan ikut membantumu membalasnya." jelas Ferdi, ini sudah terencana oleh mereka berdua, mereka memanfaatkan sakit hati Lena untuk membalas musuh bebuyutan Alan.


Alan bangkit dari duduknya dan mendekat kepada Lena dan juga Ferdi, wajahnya datar dan bahkan tak ada yang tahu yang sedang di pikirkan oleh pria tampan tersebut. Langkahnya santai dan terlihat sangat cool membuat mata Lena terpesona akan ketampanan wajahnya. Tanpa sadar Alan sudah berada di hadapannya.


"Ekhemm." dehemnya dia memang menyukai wanita sexy seperti Lena, bahkan mungkin jika mereka sudah lama bekerja sama Alan ingin sedikit mencoba tubuhnya.


"Eee.... maafkan saya. " secara reflek Lena meminta maaf membuat wajah datar Alan sedikit mengukir senyum, akibat melihat wajah lucu Lena yang seperti orang linglung. Alan mendudukkan dirinya tanpa peduli jika Lena sedikit salting akibat deheman Alan, begitu juga Ferdi yang duduk berdiri tepat di samping Alan.

__ADS_1


"Dia adalah wanita gila meterial... dengan ini dia bisa menjadi pion terbaikku, karena dengan memanfaatkan sakit hatinya dia bisa berbuat nekat tanpa takut." batin Alan yang meneliti iris mata Lena yang menyimpan sakit hati terhadap seseorang.


"Apa dia orangnya?." tanya Alan pada Ferdi hanya untuk sekedar berbasa-basi, agar Lena tak curiga.


"Iya tuan... dia adalah wanita yang saya ceritakan pada anda satu minggu lalu." jelas Ferdi. Alan mengukir senyum iblis namun tak terlihat oleh Lena.


"Baiklah aku akan membantumu.... siapakan dirimu karena ini akan menjadi rencana yang sedikit ekstrim." ucap Alan.


"Baik akan aku lakukan apapun itu.... yang terpenting aku ingin dia bertekuk lutut padaku." Lena tak akan menolak apapun rencana yang di buat Alan, yang terpenting dia bisa membalas perbuatan Arsya.


"Jadi itu keputusanmu? apa kau tak ingin berfikir lagi tentang resikonya?." tanya Alan untuk membuat Lena bimbang.


"Keputusanku sudah bulat, dan tentang resiko biarlah aku yang tanggung. " Dengan penuh percaya diri, dia yakin keputusannya sudah benar.


"Heh.... baiklah dengarkan rencanaku... " Alan mulai membicarakan rencananya, dengan mudahnya Lena sangat percaya bahkan dia tak curiga sedikitpun. Setelah selesai merencanakan Alan beranjak pergi meninggalkan Lena dan Ferdi.


"Jadi itu rencananya.... kapan aku harus memulainya?." tanya Lena untuk memastikan kapan dia akan bisa beraksi.


"Kau tidak perlu khawatir.... aku bisa membuat Arsya benar-benar kalah, dan akan kubawa dia kemari." ucapnya membanggakan diri, dia yakin jika rencana yang Alan buat akan berhasil secepatnya.


"Cihh sombong sekali.... padahal kau hanyalah alat..... " batin Ferdi melihat kesombongan Lena, yang bahkan tak tahu akan berhasil atau tidak.


"Bagus kalau begitu.... rencana ini pasti akan berhasil.... karena kau sepertinya sudah ahlinya." puji Ferdi, padahal dia juga tak sudi untuk sekedar memuji, tapi mau bagaimana lagi demi rencana berjalan mulus.


"Aku akan pergi." pamit Lena, dia pun nernajka dan kuar dari paviliun tersebut. Setelah Lena pergi Ferdi pun juga pergi untuk menemui Alan. Ferdi sudah berada di ruangan Alan, ada hal penting yang ingin Alan bicarakan padanya.


💕💖💕💖💕💖💕

__ADS_1


"Ini keputusan ku dan demi kedua putriku, aku akan ikut denganmu kembali ke Indonesia." ucap Dinar dengan keyakinan dan berharap apa yang Arsya katakan benar dan bukan hanya sekedar bualan, jika hal itu hanya sebuah bualan maka Dinar akan pergi dan tak akan izinkan Arsya menemui kedua putrinya meski dia adalah ayah kandung mereka.


Arsya bernafas lega, akhirnya Dinar bisa di bujuk untuk ikut kembali, Karla dan Katrin juga berbahagia karena sekarang mereka memiliki keutuhan dalam keluarga. Mereka yang dulu mendambakan bisa mendapat kasih sayang ayahnya, kini telah terwujud. Dania juga ikut bahagia, keputusan Dinar adalah keputusan bijak meski Dania tahu ini bisa saja menyakiti hatinya.


"Benarkah...? kamu akan ikut bersamaku?." tanya Arsya untuk memastikan nya kembali.


"Iya itu adalah keputusan yang ku ambil, dan demi kedua putriku agar mereka bisa merasakan kasih sayang seorang ayah." jelasnya, tak menyangka dengan yang terjadi, meski Dinar tak tahu siapa sebenarnya Arsya itu, tapi dia yakin bahwa Arsya adalah lelaki baik yang akan mengakui dan menjaga putri kembarnya.


"Tapi ingat satu hal.... bahwa jika kamu menyakiti kedua putriku maka aku tak segan membawa mereka pergi jauh dari kehidupanmu." Dinar menegaskan satu hal pada Arsya, agar Arsya benar-benar bisa menjaga dan membesarkannya dengan baik tanpa harus menyakiti.


"Apa kamu meragukan aku? aku adalah ayah mereka dan tak akan aku biarkan siapa pun menyakiti mereka, aku akan menjaga dengan sebaik-baiknya, dan jangankan mereka kamu pun akan aku jaga." ucap Arsya dengan mengedipkan satu matanya membuat Dinar geli akan kelakuan Arsya.


Setelah membicarakan dengan baik-baik, akhirnya masalah mereka sudah teratasi, Dania bahgia dan berharap ini adalah awal kebahagiaan sahabatnya, karena sejak dulu dia tahu kehidupan Dinar yang penuh kepiluan dan kesedihan. Karla dan Katrin sudah tak bisa menahan keri duan mereka, mereka berlari dan langsung memeluk erat tubuhku ayah mereka.


Arsya menangkap tubuh kecil kedua putrinya, hari ini dia sangat senang, penantian selama delapan tahun akhirnya terbayar sekarang, meski dia tadinya hanya mencari Dinar, tapi tanpa di sangka ternyata dia sudah memiliki putri kembar. Arsya mengusap punggung kedua putrinya, sementara Karla dan Katrin merasakan kehangatan dan kenyamanan dalam pelukan sang ayah.


"Daddy kami merindukanmu.... jangan pernah meninggalkan kami ... kami sungguh menyayangimu." ucap mereka serentak dan sedikit menahan suaranya agar tak tahu jika mereka sedang terisak dalam pelukan ayahnya.


Hati Dinar merasakan sakit mendengar keluhan keduanya, selama ini dia terlalu egois kepada Karla dan Katrin, sehingga kerinduan menumpuk tinggi dalam hati mereka, mereka harus akan kasih sayang ayah, Dinar tak tahan air matanya sudah mengalir Dania yang tahu jika Dinar butuh pelukan, dia pun memeluk Dinar menguatkan nya.


"Dinar sudahlah.... keputusanmu adalah yang terbaik untuk semuanya, kau tahu ini berat tapi aku yakin semua akan ada hikmahnya." ucap Dania sambil berbisik agar tidak terdengar oleh semua orang, Dania mengelus punggung Dinar sebagai tanda penguatan.


Karla dan Katrin melepas pelukannya, Arsya juga sudah menangis dalam diam. Tangan mungil Katrin mengusap air mata ayahnya, lalu tersenyum manis pada sang ayah.


"Dad... jangan menangis lagi ok kita akan berbahagia bersama." ucap Katrin, Arsya pu tersenyum, ini adalah awal kebahagiaan keluarga kecil mereka.


"Iya sayang.... daddy tak akan menangis lagi... " Karla juga ikut tersenyum akhirnya mereka masih di beri kesempatan bertemu ayah mereka, meski dalam kurun waktu yang lama.

__ADS_1


Sekarang yang di pikirkan Arsya adalah membujuk Dinar agar mau menikah dengannya, dan memulai semuanya dari awal membangun keluarga kecil yang penuh dengan kebahagiaan di dalamnya. Karena dalam hatinya hanya satu nama yang sudah terpatri yaitu Dinar, bahkan Arsya juga sudah menyiapkan mansion untuk mereka tinggali bersama.


Ya dua tahun lalu Arsya membangun mansion untuk Dinar, sebagai tanda maaf dan juga terima kasih, berkat dia kini Arsya menjadi lelaki yang bisa merasakan arti sebuah kehidupan.


__ADS_2