Putri Kembar Sang Psychopath

Putri Kembar Sang Psychopath
22 Kisah masa lalu(Sebuah kepiluan) bag 02


__ADS_3

Hari demi hari kelakuan mereka semakin tidak senonoh kepada Dinar, bahkan sekarang lebih parah hingga dia lulus dari sekolah SMA. Dinar tetap melanjutkan pendidikannya meski ayahnya tak mau membiayainya, Dinar bekerja paruh waktu apapun akan dia lakukan demi bisa menggapai impiannya.


Karena Dinar muak dengan perlakuan ayah dan juga ketiga wanita itu, Dinar kini akan melawan apapun yang menghalanginya termasuk keluarganya. Malam sudah menyelimuti langit, terlihatlah Dinar baru saja pulang. Keadaan rumah juga sudah gelap.


Dinar memasuki mansion dengan perlahan agar tak membangunkan yang lainnya, karena dia tak mau berdebat. Namun ternyata Abbas menunggunya, dia sudah menunggu di ruang tamu. Matanya menatap tajam kepada Dinar, dia tak peduli akan tatapan itu, baginya sudah terbiasa melihat hal itu.


"Hebat..... larut mam kau masih berani menginjakan kakimu di mansion ini." ucapnya dengan ketus, sambil berdecak pinggang. Dinar hanya acuh membuat Abbas emosi.


"Dasar anak tak tahu di untung, aku sudah membesarkanmu, dan sekarang kau sudah berani tak mendengarkan perintah ku hah?!." suaranya meninggi dia berjalan mendekati Dinar.


"Heh.... apa pedulimu? aku selalu mencari uang sendiri, jadi tak usah mengatakan seakan-akan anda yang membiayai hidupku." jawabnya dengan tersenyum getir, kini kebencian dalam hatinya sudah sulit untuk di obati.


Plakkk......


Suara tamparan menggema di ruangan itu, dan membuat semua orang terbangun, mereka pun turun untuk melihat apa yang terjadi. Mereka hanya memperhatikan apa yang di lakukan ayah dan anak, tanpa mau melerai nya, selama keduanya adalah sebuah tontonan.


Dinar terduduk akibat tamparan yang di berikan oleh ayahnya, dia memegangi pipinya yang terasa panas. Dinar berdiri dari duduknya, dan menatap mereka dengan penuh kebencian.


"Aku tak sudi menganggap mu sebagai anakku, sekarang pergilah dari sini, dan ingat jangan pernah bawa apapun dari rumah ini." usir Abbas dengan penuh kemarahan.


"Itu yang sudah lama aku ingin lakukan, aku juga tak sudi tinggal di mansion ini yang sudah seperti neraka, karena penghuninya adalah orang-orang tidak berguna. " Ucapnya dengan tegas, Dinar sudah tak ingin selalu di rendahkan dan selalu di hina. Kini dia akan menjalani dan memilih jalan hidupnya sendiri.


"Dan jangan pernah mencariku.... ingat suatu saat nanti aku akan kembali dengan sebuah kemenagan besar, dan akan aku sadarkan dirimu tuan Abbas, agar kau mengerti bahwa selama ini kau hanya sebatas alat yang di manfaatkan oleh mereka." ucapnya dan menatao ketiganya dengan penuh amarah.


"Tak usah besar kepala.... seharusnya kau yang sadar... dasar anak durhaka aku juga tak akan pernah mencarimu." tambahnya dengan menatap remeh Dinar.


"Sepertinya tak ada gunanya berbicara dengan anda, baiklah saatnya aku terbebas dari ini semua selamat tinggal, semoga anda tak akan menyesal di kemudian hari." Dinar pun beranjak pergi, dadanya sudah sesak namun kini dia aja terbebas.


"Kau yang akan menyesal." teriaknya, mereka bertiga tertawa penuh kemengan akhirnya hama sudah di basmi.


"Pergilah sejauh mungkin..... akhirnya akulah yang menjadi nyonya.... " batinnya dengan bangga.


"Huh..... gadis lusuh itu sudah pergi.... semoga dia tak aja pernah kembali ke sini." batin saudara tirinya.

__ADS_1


"Pergi..... pergi...hus.... hus...... "


Dinar pun pergi, namun dia lupa jika tabungannya berada di kamarnya dia hanya berharap tak ada yang mengambilnya. Dan mulai saat itu Dinar sudah benar-benar tak ingin bertemu mereka lagi, dia mulai menjalani kehidupannya sendiri meski hanya menyewa rumah kecil itu tak masalah baginya.


Dia berusaha mencari pekerjaan untuk bisa berkuliah, dan dia berhasil hingga dia menjadi sarjana dan bekerja di kantor, namun takdir berkata lain akibat dari dia dijebak dan berakhir di ranjang, dan kini tak terasa dia sudah menjadi ibu dari dua anak.


Flashback Off


Mengingat semua itu tanpa terasa air matanya sudah banjir di pipinya, skenario kehidupannya penuh kepiluan, dan ditambah lagi sudah ada kedua putrinya yang harus dia rawat dan didik dengan baik, agar suatu saat tak ada yang merendahkan dia dan juga keluarga kecilnya, dia mengusap air matanya dan menatap kedua putrinya.


Dinar menyelimuti keduanya, Katrin tidur dengan memeluk kakaknya karena lama tak bersama jadi Katrin ingin tidur dekat dengan Karla. Dinar mengecup kening keduanya dia berharap kedua anaknya akan menjadi penerang bagi kehidupannya dan bisa menjadi obat bagi luka hatinya.


Namun tak mudah untuk bisa Dinar memaafkan apa yang dilakuan oleh mereka. Dinar bisa saja melaporkannya ke pihak berwajib atas kekerasan yang di lakukan sang ayah, namun dia belum punya bukti kuat, tapi kini dia tak terlalu memikirkan mereka.


Dia sudah hidup tenang meski di negara orang, dan dia juga tek pernah memikirkan untuk mencari ayah dari Karla dan Katrin. Dia juga tak ingin mencari tahu siapa lelaki itu, dan dia yakin jika lelaki yang pernah tidur dengannya bukanlah lelaki biasa, apalagi kamar hotel yang di sewanya adalah VVIP.


"Sayang tetaplah bersama dengan bunda, bagaimanapun keadaannya, hanya kalian yang membuat bunda terus tersenyum dan bersemangat menjalani semuanya. Tapi maafkan bunda yang tak memberitahu siapa ayah kalian, karena bunda takut kalian akan pergi meninggalkan bunda..... " gumamnya dia tak mau jika harus berpisah dengan keduanya cahayanya, berkat mereka Dinar bisa bertahan dan berjuang.


"Aduhh.... pekerjaan numpuk banget, aku akan selesaikan secepatnya." gumamnya.


Dinar mengambil laptop dan mulai menyelesaikan pekerjaannya, sambil menunggu waktu sore dan setelah itu akan menyiapkan makan malam. Kini dia sudah hidup Damai di Jepang, bahkan tak sekalipun terbesit dalam pikirannya untuk kembali ke Indonesia. Namun tanpa di sadarinya ada banyak hal akan terjadi, yang nantinya akan membawa dirinya kembali kesana.


πŸ’•πŸ’–πŸ’•πŸ’–πŸ’•πŸ’–πŸ’•


Sementara Arsya masih menunggu informasi tentang Lena, dan benar kecurigaannya terbukti. Dua hari lalu Dhafi berhasil mendapatkan semuanya bahwa Lena hanyalah perempuan yang manja dan hanya suka menghamburkan uang, dia adalah anak tiri dari Abbas Mahfudz Pratama, rekan bisnis ayahnya, yang berarti Lena adalah saudara tiri Dinar.


"Bagaimana?." tanya Arsya, kini dia ingin segera memutus hubungan perjodohan nya dengan wanita itu.


"Dia adalah saudara tiri Dinar." ungkap nya.


"Lalu, apalagi yang kau dapatkan?." Arsya masih kurang dengan jawaban Dhafi.


"Sebenarnya masih banyak info tentang mereka, namun pasti nantinya kau akan marah ketika mendengarnya." ucapnya, dia tahu lelaki seperti apa Arsya itu, dia pasti akan menghancurkan mereka yang berani mengusik orang yang di sayanginya.

__ADS_1


"Katakan saja.... setelah kau mengatakannya dan bukti sudah akurat maka semuanya akan selesai, karena aku akan membawa dia kemari untuk aku nikahi secepatnya."


"Baiklah....... " Dhafi pun menceritakan semuanya tanpa ragu, Arsya mengepalkan tangannya karena perlakuan tak beradab Abbas dan juga yang lainnya, yang telah menjadikan wanitanya pembantu serta penyiksaan yang mereka lakukan kepada Dinar.


"Brengsek..... berani sekali mereka." sekarang mana bukti akurat nya. Dhafi memberikan sebuah flashdisk yang menjadi bukti akurat untuk di buktikan pada orangtuanya bahwa Lena bukanlah gadis baik.


"Lalu apa yang akan kau lakukan pada mereka?." tanya Dhafi, sudah lama mereka tak mendapat mainan. Dhafi memang sering membantu Arsya untuk membantai musuhnya, namun dia tak terlalu brutal, tidak seperti Arsya yang sangat menakutkan.


Arsya menyeringai ada sebuah ide gila terbesit dalam pikirannya, dia pasti akan membalas perlakuan keluarga dari wanitanya yang telah berani menyakiti dia.


"Biarkan saja mereka, aku akan membatalkan perjodohan ini, dan kita biarkan mereka berbahagia dahulu setelah itu baru kita akan memulai penyiksaannya." ucapnya dengar tersenyum smirk. Di pikirannya membayangkan wajah mereka yang nantinya akan berlumuran darah, dan teriakan kesakitan mereka.


"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?."


"Aku akan fokus untuk rencana membawa Dinar, dan menjadikan dia istriku." kini Arsya akan fokus pada Dinar, dan aka secepatnya membawanya kemari, karena dia sudah tak ingin menundanya.


"Baiklah besok aku akan pulang, jika kau membutuhkan aku hubungi aku saja."


"Ok pulanglah, nikmati istirahat mu karena nantinya akan ada banyak pekerjaan untukmu sahabatku."


"Iya aku tahu, ya sudah lebih baik kau segera menyelesaikan masalah perjodohan mu dengannya." ucapnya yang secara tak langsung mengusir Arsya.


"Tanpa kau suruh pun aku aja melakukannya." ketusnya dengan menatap tajam Dhafi, lalu pergi dari apartemennya.


"Dasar sahabat menyebalkan tak tahu cara berterima kasih..... huh untuk sabar gue ngadepinnya." keluh nya dengan kesal, karena Arsya tak pernah mengucapkan terima kasih padanya.


**Jangan lupa untuk tinggalkan jejak dengan memberi dukungan pada karyaku dengan memberi like, vote dan comment β˜ΊπŸ˜ŠπŸ™πŸ™


Don't forget guys☺☺☺


Sebentar lagi Arsya bakal ketemu Dinar sama anaknya kok.... jadi mohon bersabar ya πŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ‘πŸ‘


Terima kasih telah meluangkan waktu mampir di karyaku semoga terhibur πŸ˜Šβ˜ΊπŸ™πŸ™ jika ada masukkan untuk karya novel ini tolong beritahu saja di commentπŸ™πŸ™β˜Ί**

__ADS_1


__ADS_2