
Aryan sudah berada di dalam club, dia meneliti setiap sudut ruangan ternyata benar Arsya sedang duduk di pojokan seorang diri. Aryan pun masuk dan mendekat ke tempat di mana Arsya sedang duduk.
"Tuan.... " panggil Aryan dengan suara lirih. Arsya menoleh ke sumber suara.
"Mau apa kemari hah?." tanya Arsya dengan menatap tajam Aryan. Aryan pun gelagapan tatapan Arsya begitu menusuk.
"Maaf tuan saya kemari mau menjemput anda, di mansion nona Dinar dan juga nona kecil sedang menunggu kepulangan anda." jelas Aryan, Arsya baru ingat sekarang dia tidak tinggal sendiri, dia lupa jika keluarga kecilnya sekarang tinggal bersamanya.
"Sebentar lagi aku akan kembali... katakan pada Dinar aku pulang terlambat karena banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan." titahnya, Arsya masih punya urusan di club tersebut.
"Tapi tuan sedang apa anda di sini?." tanya Aryan yang masih penasaran kenapa tuannya ada di club.
"Nanti akan aku bicarakan denganmu, sekarang pergilah." usir Arsya dengan tegas membuat Aryan tidak bisa bertanya lebih jauh.
"Baik tuan kalau begitu saya pamit." Aryan pun segera pergi dari tempat tersebut dan menuju mansion pribadi tuannya.
"Maafkan aku Dinar, anak-anak.... sebentar lagi daddy akan pulang, masih ada hal penting yang harus aku lakukan." gumamnya, dia tidak enak hati pasti wanita dan kedua putrinya menunggu dia kembali.
Sesampainya Aryan di mansion, segera dia beritahukan kepada Dinar agar tidak mengkhawatirkan Arsya. Aryan memasuki mansion terlihatlah Dinar sedang terduduk di sofa ruang tamu, terlihat wajahnya yang sedang termenung.
"Nona.... " panggil Aryan, membuat Dinar tersadar.
"Aryan.... bagaiamana?." tanya Dinar langsung.
"Tuan Arsya akan pulang terlambat nona karena tuan masih banyak pekerjaan." jelas Aryan.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu." Namun karena penasaran dengan keadaan nona nya Aryan pun berinisiatif bertanya.
"Nona maaf jika saya lancang... apa nona sedang tidak enak badan?." tanya Aryan karena melihat wajah gusar Dinar.
"Tidak... aku baik-baik saja." ucap Dinar dengan tersenyum, membuat Aryan bernafas lega.
"Lalu kenapa tadi saya melihat anda termenung? apa nona sedang banyak pikiran?." tanya Aryan lagi, dia takut jika nona nya terbebani banyak pikiran.
"Itu pasti Aryan.... bagaimana tidak, tapi jangan katakan ini padanya." pinta Dinar, karena dia tahu jika Aryan pasti akan melaporkan nya pada Arsya. Aryan paham dengan apa yang di katakan Dinar.
"Apa yang menganggu pikiran anda? katakan saja saya tidak akan mengadu pada tuan." Aryan tahu jika Dinar terbebani karena Arsya, karena keinginannya membawa mereka kembali ke Indonesia. Itu pasti berat untuk Dinar lakukan. Apalagi hati Dinar masih ragu dengan yang Arsya lakukan.
"Huft.... " Dinar bernafas sejenak untuk bisa mengatakan apa yang terpendam dalam hatinya, namun dia tidak begitu yakin dengan Aryan.
"Apakah dia serius denganku? tapi aku ragu dengan kedua orang tua Arsya, apakah mereka akan menerima ku atau malah akan menuntut hak asuh kedua putriku? aku tidak ingin berpisah dengan kedua putriku." Pertanyaan Dinar yang sudah ingin dia utarakan, namun belum ada waktu yang tepat.
Dinar paham apa yang di katakan Aryan, lebih baik menanyakan langsung pada Arsya agar semuanya terjawab dengan benar, dan tidak membuat dia ragu.
"Huh.... terima kasih sudah memberiku saran, akan ku tanyakan langsung padanya." Dinar berterima kasih padanya setidaknya dia sedikit tenang di banding sebelumnya.
"Tidak usah sungkan nona.... jika anda membutuhkan sesuatu, baiklah jika sudah saya permisi." pamit Aryan, karena pekerjaan nya sangat menumpuk, belum lagi dia masih memikirkan apa yang di lakukan Arsya di club.
"Iya silahkan." Setelah kepergian Aryan, Dinar menuju kamar kedua putrinya untuk melihat apakah mereka sudah tidur atau belum. Di depan pintu kamar kedua putrinya dia melihat keduanya sudah berada di ranjang dan tidur dengan lelap.
Setelah memeriksa kedua putrinya, Dinar pun menunggu kepulangan Arsya karena dia ingin mencurahkan uneg-unegnya, dia sudah tidak bisa menahannya karena dia butuh keputusan yang kuat agar dia tidak di ambang kebimbangan hatinya.
__ADS_1
Waktu sudah menunjukkan pukul tengah malam, Arsya belum juga kembali Dinar masih setia menunggu demi bisa menyelesaikan segalanya, karena ini sudah satu minggu dia tinggal bersama dengan Arsya tapi Dinar masih belum yakin, meski dia tahu jika Arsya sedang berusaha membujuknya.
Hingga terdengarlah suara mobil dari luar mansion, dia tahu jika itu adalah Arsya. Dinar bangkit dari duduknya dan membukakan pintu, terlihatlah wajah tampan Arsya membuat Dinar sedikit gugup.
"Dinar kenapa kamu belum tidur? ini sudah tengah malam." tanya Arsya dengan mengeryitkan keningnya heran, biasanya Dinar tidak pernah seperti ini.
"Aku menunggumu.... karena ada hal penting yang harus aku bicarakan denganmu." ucapnya dengan serius, Arsya senang karena Dinar rela menunggunya berjam-jam sampai tengah malam, meski lagi-lagi alasan nya adalah hal penting yang mau di bicarakan.
"Baiklah... tunggulah aku di ruang kerja ku." singkat Arsya, dia berjalan menuju kamarnya. Arsya segera membersihkan diri dan mengganti pakaian. Sementara Dinar sudah berada di ruang kerja menunggu kedatangan Arsya.
Arsya masuk ke ruang kerjanya, dan mendudukkan diri di sofa yang ada di sana dan berhadapan langsung dengan Dinar. Suasana tiba-tiba hening, belum ada yang membuka pembicaraan.
"Arsya.... aku harus katakan ini sekarang." ucap Dinar membuka suara, dengan sedikit keraguan dalam hati, tapi semua curahan hatinya harus sekarang dia katakan.
"Apa yang ingin kamu katakan sekarang? katakan saja tidak usah sungkan." Arsya tahu jika Dinar sulit untuk mengungkapkan apa yang di pendam nya, jadi mungkin ini waktu yang tepat untuk mengatakan segalanya.
"Apa kamu membawa ku bersama dengan Karla dan Katrin hanya untuk kepentingan mu sendiri?." Dinar langsung bertanya.
"Kamu bicara apa Dinar? tentu saja bukan, aku membawa kalian semua kesini karena kalian adalah keluargaku." tegas Arsya, dia tidak melakukan hal tersebut untuk kepentingan pribadinya, tapi untuk kebaikan semuanya.
"Sebenarnya apa yang ingin kamu katakan? tidak udah berbelit-belit jujur saja padaku, apa yang kamu sembunyikan di dalam hati keluarkan saja." Arsya tidak suka hal yang rumit, jadi lebih baik untuk bisa mengatakan segalanya.
"Biarkan aku dan kedua putriku keluar dari sini, aku tidak bisa tinggal di tempat seperti ini." Ucap Dinar, dia sudah tidak bisa menetap disana karena dia tidak mau ikut campur urusan pribadi keluarga Arsya.
"Aku akan mencari tempat tinggal sendiri dan juga bekerja sendiri seperti dulu dan menghidupi Karla dan Katrin, jika kamu ingin bertemu dengan mereka datang saja aku tidak akan pernah melarang mu." semua keluh Dinar di keluarkannya, dia tidak mau terikat terlalu jauh dengan Arsya, meski dia tahu jika mereka sudah terikat oleh hubungan yang tanpa di sengaja, yaitu mereka memiliki anak di antara mereka.
__ADS_1
Arsya sudah muak dengan arah pembicaraan Dinar yang selalu ingin seenaknya, sungguh sifat yang masih sama dengan sebelumnya. Arsya hanya ingin Dinar tetap berada di sini bersama dengan kedua putri mereka, Arsya juga sedang memikirkan waktu yang tepat untuk memperkenalkan Dinar dan juga kedua putri mereka kepada keluarga besar Azhar.
Dia bangkit dari duduknya dan mendekati Dinar yang bersebrangan dengannya, kini dia akan mempertegas semuanya, agar Dinar bisa mengerti keadaannya saat ini, dan ini adalah salah satu cara agar Dinar setuju menikah dengannya, masalah hati bisa dilakukan seiring berjalannya waktu, kali ini yang terpenting adalah menikahi Dinar.