Putri Kembar Sang Psychopath

Putri Kembar Sang Psychopath
52-Sambutan keluarga Azhar


__ADS_3

Arsya menatap Dinar dengan penuh harap, berharap jika jawabannya adalah hal yang dia dambakan. Dinar sudah memastikan jika itu adalah keputusan tepat, dia harus menjawabnya saat ini.


Dinar menghela nafas dalam-dalam, mungkin sekarang adalah pilihannya, karena apapun yang menjadi takdirnya pasti akan menghampiri, oleh karenanya bukan karena Arsya lelaki kaya, Dinar tidak mengharapkan harta atau kekayaan, tapi yang dia inginkan adalah pemgakuan Arsya terhadap kedua anaknya, dan juga bukti nyatanya.


"Baiklah.... jika pernikahan antara aku dan kamu menjadi jalan yang baik untuk Karla dan Katrin, maka aku akan setuju menikah denganmu." Akhirnya Dinar menyetujui pernikahannya dengan Arsya, ini adalah pilihan baik meski dengan mengorbankan dirinya yang belum sepenuhnya mencintai Arsya.


Arsya bernafas lega akhirnya jawaban yang dia tunggu telah terlontar, dan jawabannya adalah apa yang dia harapkan. Arsya langsung memegang kedua tangan Dinar, dia bersyukur bisa bersama dengan orang yang di cintainya. Dinar menjadi gugup karena tiba-tiba Arsya memegang kedua tangannya, wajahnya bersemu merah dan membuat dia malu-malu.


"Lepaskan tangan ku dulu Arsya..... " ucapnya dengan gugup, membuat Arsya tersenyum tipis.


"Kenapa? apa kamu malu sayang....? tidak usah malu begitu, sebentar lagi kita akan menikah." Arsya tahu jika Dinar sedang gugup dan malu-malu, Dinar benar-benar di buat jantungan dengan semua perlakuan Arsya padanya.


"Sudahlah sekarang beritahu aku dimana Karla dan Katrin? aku tidak bisa membiarkan mereka jauh dariku." Tanya Dinar mengalihkan pembicaraan, dia tahu jika terus membalas perkataan Arsya, maka akan memanjang.


"Mereka sudah ada di mansion, aku sudah menyuruh Aryan untuk membawa mereka, jadi kamu tidak perlu khawatir."Jelas Arsya, dia tidak mau jika Dinar berfikir yang tidak-tidak padanya, karena tiba-tiba membawa Karla dan Katrin pergi.


"Oh syukurlah, kukira mereka dibawa kemana.... "Dinar lega, tapi sebenarnya itu adalah hal konyol, bukankah jika kedua putrinya di bawa oleh Arsya mereka akan aman.


"Memangnya aku ayah yang bodoh? aku membawa mereka karena aku tidak mau mereka tinggal di tempat seperti ini." Arsya kesal dengan kelakuan Dinar yang seenaknya sendiri.


Dinar hanya bersedih, dia kesal dengan jawaban Arsya yang seakan-akan menyalahkan dirinya karena telah membawa putri kembarnya kemari.


"Itu karena kamu yang keras kepala, di tambah lagi kamu yang selalu berfikir negatif padaku.... bisakah sekarang untuk selalu percaya padaku? aku akan memberimu bukti nyatanya." Ungkap Arsya, yang dia harap akan adalah kepercayaan Dinar terhadapnya, apapun akan Arsya buktikan agar Dinar percaya sepenuhnya.


"Aku akan mencoba percaya padamu, tapi jika kamu tetap tidak memberikan bukti nyata, maka aku tidak akan memberikan mu kesempatan bertemu dengan Karla atau Katrin." Ancam Dinar dengan muka masamnya membuat Arsya gemas dengan kelakuan nya.


"Ancaman murahanmu itu tidak akan pernah terjadi, karena sejauh apapun kamu pergi aku pasti akan menemuianmu." Balas Arsya dengan angkuhnya, dan dengan tatapan mengejek, membuat Dinar semakin kesal.


Arsya tinggal menyiapkan semuanya, setelah ini dia akan memperkenalkan Dinar pada keluarganya, Arsya sudah tahu seluk beluk Dinar, bagaimana keluarga nya dan bagaimana kehidupan nya, dia sudah mencari tahu semuanya, bahkan jika mereka semua menyakiti Dinar, Arsya sendirilah yang akan melindunginya.


"Baiklah kamu sudah setuju menikah denganku, sekarang ikutlah denganku ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan." ajak Arsya untuk pergi ke rumah keluarga besarnya.


"Tapi sebelum itu kamu harus bersiap, lihatlah penampilanmu yang sama sekali tidak menggairahkan." ejek Arsya melihat calon istrinya yang masih memakai pakaian formal. Dinar mendelik mendengar ucapan Arsya.


"Berisik..... itu bukan urusanmu.... "Dinar menyilangkan tangannya dengan tatapan kesal. Arsya tertawa melihat kekesalan Dinar.


"Ayo kamu harus bersiap, ini sudah hampir malam, mereka sudah menunggu kedatanganmu."ucap Arsya, yang masih membuat Dinar tidak mengerti, sebenarnya Arsya akan membawa dia kemana.


Mereka pun pergi ke salon untuk mengganti pakaian Dinar dan juga sedikit memoles wajah cantik Dinar. Sesampainya disana sambutan para karyawan salon yang begitu sopan. Bagaimana tidak karena pemilik dari salon tersebut adalah Haya ibunda Arsya.


Mereka semua menunduk memberi hormat, karena putra dari pemiliknya datang berkunjung. Arsya bersikap hangat saat ini hanya demi membuat Dinar terkesan, sementara Dinar hanya menunduk malu, karena tatapan para karyawan yang terlihat tidak menyukainya.


"Tolong bantu aku untuk merias dan mengganti pakaian Dinar, jangan terlalu lama, karena waktunya tidak banyak." ini kali pertama para karyawan mendengar putra dari pemilik salon meminta tolong, dengan senyum hangat di wajahnya.


Semua karyawan langsung jatuh hati dengan sikap Arsya saat ini, ingin rasanya mereka berteriak karena hal ini sangat langka terjadi, biasanya Arsya akan memasang wajah datar dan tanpa senyum di wajahnya, dan itu yang membuat siapa saja tidak berani mendekat.


"Baik tuan Arsya kami akan segera mendandani dan meriasnya." ucap salah satu dari karyawan tersebut, dan langsung membawa Dinar keruang rias. Arsya menunggu di sofa sambil memainkan ponselnya.


Karyawan di sana memilihkan pakaian untuk Dinar, sementara Dinar tidak enak hati dengan mereka. Ini pertama kali dia menginjakkan diri di salon para sultan, dengan bangunan megah dan fasilitas yang sangat nyaman dan bersih, begitu juga dengan semua perlengkapan yang ada disini.


"Tak apa nona, tidak usah sungkan kami akan membantu anda." ucapnya karena tahu jika Dinar masih terlihat bingung. Dinar hanya tersenyum dan mengangguk.


"Iya terima kasih mau membantu saya mbaa." Dinar masih terlihat gugup.


Karyawan tersebut membantu Dinar memilih gaun dan juga aksesoris nya. Karena Arsya menyuruh karyawan tersebut jangan terlalu lama jadi mereka memilih yang simpel namun elegan. Mereka merias Dinar dengan cekatan, tapi tidak salah sedikitpun.


Selang beberapa menit.....


Dinar keluar dari ruangan rias, dengan pakaian yang sudah berganti menjadi gaun malam yang sederhana tapi elegan. Dinar memakai dress berwarna ungu lavender di bawah lutut dengan rambut rumbai yang di tata dengan rapih lengkap dengan jepit kecil di samping kanan kepalanya, dengan permata berwarna senada.


Begitu juga dengan make up yang natural, karena wajah Dinar memang sudah cantik tanpa polesan make up. Arsya terkagum melihat kecantikan alami calon istrinya, betapa dia ingin langsung menikah dengan Dinar.

__ADS_1


"Kamu sangat cantik malam ini Dinar, aku sampai terpesona oleh kecantikan mu."ungkap Arsya dengan penuh kekaguman. Dinar malu dengan ungkapan Arsya, karena disana masih banyak orang.


"Sudahlah sekarang kamu mau mengajakku kemana?." tanya Dinar untuk mengalihkan pembicaraan.


"Oh rupanya kamu sudah tidak sabar, baiklah ayo kita pergi." Arsya pun menuntun Dinar menuju mobilnya, semua karyawan salon menjadi iri kepada Dinar, karena di perlakuan begitu romantis oleh tuan muda yang terkenal dingin.


Mau tidak mau Dinar menerima tangan Arsya dan berjalan beriringan menuju mobil, sebenarnya dia sudah sangat malu, apalagi seluruh penghuni salon memperhatikan mereka tanpa menoleh sedikitpun.


"Huft..... " helaan nafas Dinar ketika sudah berada di dalam mobil, seakan masalah nya sudah hilang.


"Ada apa sayang....? kenapa menghela nafas?." tanya Arsya.


"Oh tidak apa-apa, sudah lanjutkan saja kemana kita selanjutnya akan pergi?."Dinar berusaha untuk tetap tenang.


Arsya dan Dinar melaju menuju kediaman keluarga Azhar, Karla dan Katrin sudah berada disana, Arsya sudah menjelaskan semuanya pada keluarganya kemarin, pada saat hatinya terbakar api cemburu, karena tidak mau jika ada lelaki lain yang mendahului nya, jadi Arsya memberitahu semuanya tentang kejadian delapan tahun silam, meski Dinar belum diperkenalkan. Dan setelah itu Arsya dan Aryan pergi ke rumah sewa Dinar, dan menyuruh Aryan membawa kedua putri kembarnya.


"Nanti kamu akan mengetahuinya." ucap Arsya dan hanya di angguki oleh Dinar.


Beberapa menit kemudian.....


Sampailah mereka di kediaman utama mansion keluarga Azhar, sangat besar dan mewah bak kerajaan. Mobil mewah Arsya terparkir di halaman luas nan indah yang berhiaskan berbagai macam bunga dengan kolam air mancur yang memanjakan mata. Dinar sampai takjub dengan keindahan nya, dia tidak bisa mengatakan apapun. Tapi Dinar masih tidak tahu mereka ada dimana.


"Kita ada dimana Arsya?."tanya Dinar yang penasaran dengan tempat indah ini.


"Ini adalah mansion utama keluarga besarku, keluarga ku ingin bertemu dengan calon menantunya." jelas Arsya dengan raut wajah bahagia, bahkan raja datar itu kini berubah menjadi ceria.


Dinar melongo dengan apa yang di katakan Arsya, keluarga besarnya, itulah pertanyaan yang ada di kepalanya, dia tidak percaya jika Arsya langsung memperkenalkan dia kepada keluarganya.


"Aku sudah membuktikannya sayang.... lihatlah aku sudah membawamu kemari untuk di perkenalkan pada keluarga besarku." ucap Arsya dengan mantap, padahal lukanya masih belum sembuh total, tapi demi Dinar apapun akan Arsya lakukan. Karena dia tahu jika jawaban Dinar pada Kenzo adalah penolakan, dia tahu karena melihat ada kedua anak kembarnya.


Dan ternyata semuanya sesuai dengan harapannya, hingga akhirnya kini dia bisa memperkenalkan calon istrinya kepada keluarganya. Dinar hanya diam, dia tidak menjawab apapun yang dikatakan Arsya padanya. Dia tahu bahwa ini pasti akan terjadi dan pada akhirnya dia harus tetap menikah dengan Arsya.


"Maaf karena kemarin aku lama membawamu kemari, kamu tahu kan bahwa aku menunggu jawabanmu, oleh karenanya aku menunggu kamu setuju, tapi malah ada kendala." Arsya meminta maaf karena dia baru membawa Dinar dan memperkenalkan Dinar setelah lebih dari seminggu.


"Baiklah selamat datang calon istriku.... " Arsya menggandeng tangan Dinar dan memasuki mansion megah dengan hati yang begitu bahagia, Dinar juga membiarkan Arsya memegang tangannya, entah kenapa dia juga merasakan kebahagiaan.


Mereka berjalan sambil bergandeng tangan, serasa pengantin baru. Sekarang Dinar dan Arsya sudah berada di dalam mansion, semua keluarga Arsya sudah menunggu, mereka menatap keduanya dengan senyum yang berbinar.


"Selamat datang nak Dinar.... " sambut Haya dengan senang, melihat Dinar rasanya seperti sudah pernah bertemu. Haya mendekat dan memeluk Dinar erat, Dinar juga membalas pelukan hangat tersebut, pelukan yang sangat dia rindu dari seorang ibu.


"Terima kasih nyonya untuk semuanya." ucap Dinar sambil melepas pelukannya.


"Eits.... apa yang kamu katakan sayang? jangan panggil aku nyonya, panggil aku mamah, karena aku adalah calon mertuamu."ucap Haya dengan tegas, dia tidak mau jika calon menantu nya menyebutnya sebagai nyonya.


Dinar mengangguk dan tersenyum, rasanya baru pertama kali dia di perlakukan lembut oleh seorang yang di sebut ibu, karena kehidupan dia yang kekurangan kasih sayang membuat Dinar ingin sekali merasakannya.


"Kamu cantik sekali nak malam ini..... mamah sangat senang bisa bertemu kamu sekarang." Haya sangat senang melihat kedatangan calon menantunya, apalagi tanpa mereka tahu ternyata Arsya dan Dinar sudah punya anak kembar.


"Terima kasih nyon.... mamah, aku juga senang bisa bertemu dengan mamah." ucap Dinar yang masih belum terbiasa.


"Arsya sudah menceritakan semuanya Dinar, jadi kamu tidak usah khawatir, mamah sudah menerimamu dan juga kedua cucuku, karena hal itu adalah ketidaksengajaan dan mamah memaklumi nya, jadi jangan sungkan." Haya sudah melapangkan hatinya untuk menerima Dinar sebagai menantunya, bukan karena kasihan atau terpaksa, tapi itu juga kemauan Arsya sendiri yang ingin menikah dengan Dinar, Haya tidak bisa menolak kemauan putranya, apalagi diantara Dinar dan Arsya sudah lahir dua orang anak.


"Mamah tidak terpaksa menerimamu, ini adalah keikhlasan hati seorang ibu, jadi jangan anggap ini sebagai keterpaksaan, mamah sudah benar-benar ridho kamu menikah dengan putra mamah." tambahnya, agar Dinar tidak salah paham.


Dinar mengangguk, perasaannya lega mendengar perkataan Haya calon mertuanya, dia berharap Haya bisa menjadi pengganti ibunya, dan menganggap dia sebagai putrinya.


"Ya sudah ayo berbicara di dalam, mamah sudah menyiapkan banyak makanan dan cemilan."ajak Haya kepada mereka. Arsya menggandeng tangan Dinar erat, dia tidak akan melepaskan tangan ini sampai kapanpun.


"Oh iya mah.... aku tidak melihat Karla dan Katrin dimana mereka?." tanya Dinar karena tidak melihat kedua putri kembarnya.


"Mereka sudah tertidur Dinar, Karla dan Katrin kelelahan karena sedari tadi bermain bersama kakeknya." Jawab Haya, dia senang karena Karla dan Katrin sangat menikmati pertemuan dengan kakek neneknya, sampai-sampai bermain hingga ketiduran.

__ADS_1


"Maafkan mereka mah.... karena sudah merepotkan." Dinar jadi tidak enak hati.


"Sudah Dinar tidak apa, ayah juga senang bisa bermain dengan cucuku."ungkap Devan dengan tersenyum, dia sudah lama belum bertemu dengan cucunya yang di luar negeri.


Dinar hanya tersenyum mendengar kebahagiaan Devan yang bermain dengan Karla dan Katrin. Bahkan Devan memuji betapa mirip nya kedua anak kembar itu, bahkan dia tidak percaya sudah memiliki cucu kembar imut seperti Karla dan Katrin.


Mereka berkumpul di ruang keluarga dan berbicara hangat, semua yang tidak pernah Dinar rasakan, kini sudah terobati dengan pertemuan ini. Hingga tak terasa waktu sudah menjelang tengah malam.


"Begini Dinar.... ayah dan juga mamah ingin berbicara hal penting mengenai sebuah pernikahan. Ayah sebagai wakil dari putra ayah Arsya ingin meminang kamu sebagai istri Arsya." ucap Devan dengan maksud adanya pertemuan ini, yang tak lain adalah untuk pernikahan.


"Hah.... secepat ini aku akan segera menikah dengan tuan muda sombong ini? tapi aku sudah menerima Arsya, tapi seharusnya tidak secepat ini." batin Dinar, dia tidak percaya pernikahannya akan ditentukan malam ini.


"Iya sayang.... mamah sudah setuju kamu menikah dengan Arsya, oleh karenanya malam ini adalah malam penentuan, maukah kamu menjadi menantuku nak....?. " Haya juga sudah tidak sabar mendengar jawaban Dinar.


Dinar masih berfikir, Arsya juga berharap agar Dinar benar-benar mau menikah dengannya, Arsya menggenggam erat tangan Dinar, dia tidak rela jika Dinar dimiliki orang lain.


Dengan perlahan namun pasti, Dinar mengangguk pelan, dia sudah memilih jalan yang dia ingin. Satu yang pasti ada senyuman di balik anggukan tersebut.


"I-iya mah Dinar setuju untuk menikah dengan putramu." jawaban singkat, padat dan jelas yang membuat seisi ruangan itu ikut berbahagia.


"Benarkah sayang....? kamu menerima kau sebagai suamimu?. " tanya Arsya memastikan lagi, dia sangat bersemangat.


"Em.... iya aku menerimamu Arsya." jawabnya lagi dengan sedikit gugup, karena Arsya memegang kedua tangannya.


Semua bernafas lega, kini tinggal tanggal penentuan pernikahan mereka, rasanya sekarang adalah kebahagiaan yang sempurna bagi keluarga besar Azhar.


"Terima kasih telah menerimamu sayang..... aku akan selalu ada dan selalu membahagiakan kamu dan juga kedua anak kita." Arsya sangat bersyukur atas kebahagiaan yang sedang hadir.


Dinar hanya mengangguk, dia sedang malu sampai menjawab juga gugup.


"Baiklah..... hari penentuan pernikahan nya adalah satu minggu dari sekarang." Dinar membelalak tidak percaya dengan hal ini, seminggu bukanlah waktu yang lama.


"Bagaimana Dinar kamu setuju?." tanya Haya, takut Dinar merasa keberatan.


"Tidak mah Dinar setuju..... " Dinar langsung menyetujuinya, namun yang masih menjadi pertanyaannya, kenapa keluarga besar ini tidak mempertanyakan asal-usulnya, bahkan tentang kehidupannya.


Semuanya senang mendengar keputusan Dinar yang tanpa ragu-ragu.


"Tapi mah, yah..... ada yang ingin Dinar tanyakan, apakah mamah atau ayah tidak ingin tahu asal-usulku? aku takut keluarga calon suamiku tidak menerimamu karena tahu masa kelamku dulu." ungkap Dinar, yang di takutkan oleh Dinar adalah hal ini.


"Kamu berbicara apa sayang.... keluarga besar ini telah menerimamu dengan segala kekuranganmu, kami semua sudah mengetahuinya, semua masa lalumu, mamah tidak akan membiarkan hal buruk terjadi lagi padamu, keluarga ini akan selalu melindungimu." jelas Haya, keluarga Azhar sudah menerima semuanya tentang Dinar, Haya sangat terharu pada saat Arsya menceritakan kisah perjuangan kehidupan Dinar.


Seorang anak perempuan yang di paksa berjuang seorang diri, meski Dinar tahu ayahnya adalah orang berasal, namun semenjak ibu Dinar meninggal dan ayahnya menikah dengan wanita lain, ayahnya sudah berubah drastis, dan itu yang membuat Dinar harus berjuang seorang diri.


"Kenapa Arsya bisa tahu tentang kehidupan yang ku alami?." Dinar bertanya-tanya dalam hati, sampai begitu kah Arsya ingin bersamanya, sampai dia tahu masa lalunya.


"Sudahlah nak tidak usah di pikirkan, sekarang lebih fokuslah pada kehidupan mu sekarang, jika keluarga mu tidak datang ke acara pernikahan mu dengan Arsya, tidak apa jangan bersedih, kami akan selalu ada untukmu." Devan juga ikut memberi semangat agar Dinar tidak selalu mengingat hal yang menyakitkan dalam kehidupannya, sekarang lebih baik untuk menjalani kehidupan dan fokus menata masa depan.


"Iya mah.... ayah... terima kasih telah menerima ku, dengan sepenuh hati." Dinar terharu, dia akhirnya bisa merasakan kehangatan keluarga seutuhnya.


"Tidak usah di pikirkan sayang, ya sudah ini hampir tengah malam, kamu istirahat lah disini bersama Arsya, besok tinggal mempersiapkan semuanya untuk acara pernikahan." jelas Haya, karena hari sudah hampir tengah malam, jadi lebih baik jika Dinar menginap disini.


"Iya mah kami menginap saja, karena kasihan jika membangunkan Karla dan juga Katrin." Arsya juga setuju, dia bisa satu kamar dengan Dinar.


"Baiklah mah, Dinar akan menginap, tapi Dinar ingin tidur bersama Karla dan Katrin." pupus sudah kesempatan malam ini, jika Dinar sudah meminta bersama kedua putri kembarnya.


"Ya sudah kalau itu maumu nak, mamah tidak akan melarang." Haya senang jika Dinar mau menginap di mansionnya, sudah lama menantu yang satunya sudah lama belum berkunjung.


Sementara Arsya kesal, karena Haya langsung memperbolehkan Dinar tidur bersama si kembar. Gagal sudah kesempatan ini.


"Hah.... gagal berduaan dengan Dinar, sabarlah Arsya hanya menunggu sampai seminggu kamu bisa bebas bersama dengan pujaan hatinya." batinnya kesal, Haya hanya tersenyum melihat kelakuan Arsya yang benar-benar sudah tidak sabar.

__ADS_1


Dia tidak menyangka jika kehadiran Dinar bisa merubah sangat raja es, Dinar telah mengubah Arsya yang dingin menjadi sosok yang lebih hangat lagi, dan juga yang telah berhasil membuka hatinya yang sudah lama terkunci.


__ADS_2