
"Nona Dinar masih dalam keadaan kritis meski telah mendapatkan transfusi darah, akibat dari benturan, tapi untung saja tidak mengenai otak nya, jadi dia akan sadarkan diri setelah melewati masa kritis nya." jelas dokter, meski Dinar sudah mendapatkan donor darah, itu belum menjamin kesadaran nya, mungkin butuh beberapa hari sampai Dinar bisa melewati masa kritis.
"Terima kasih atas info nya dok." jawab Asfi, karena Arsya saat ini hanya diam membisu, mungkin ini saat nya dia membalas permainan mereka.
"Lebih baik kamu pulang saja, biar aku dan Arsya yang akan menjaga Dinar, aku akan mengabarimu nanti jika ada perubahan pada Dinar." Dania juga tidak bisa berkata apapun lagi, jika kondisi nya seperti ini, hanya doa dan harapan yang bisa memberikan keajaiban nya.
"Baiklah kak kalau begitu aku titip sahabatku." Dania beranjak pergi, karena dia harus berangkat dinas malam.
Beberapa kali Arsya menghela nafas dalam-dalam, ini bukan saat nya diam, dia harus segera mencari dan menghabisi mereka. Akan Arsya tunjukkan kepada mereka bahwa pembunuh sebenarnya akan segera bertindak, mungkin dia akan kembali menjadi ganas lagi.
"Tenangkan dirimu dulu Sya.... kita akan pikirkan dengan kepala dingin bagaimana rencana selanjutnya."
"Kau benar kak... sekarang kita harus lebih waspada di lihat dia bermain dengan sangat rapi." Arsya juga memikirkan hal yang sama, tapi tentang sang dalang adalah ayahnya Arsya harus mencari tahu lebih detail lagi.
"Kemana Karla pergi?."
"Dia menemui Dafa dan pergi ke markas baru nya untuk merencanakan yang selanjutnya akan di lakukan." Arsya seketika terheran ketika Asfi menjelaskan jika Karla andil dalam masalah ini.
"Apa kau gila kak? Karla ikut dalam perencanaan ini? dia masih anak remaja kak.... "
"Gila? hahaha.... tidak Sya, semua sudah di atur putrimu untuk menjebak dan menghancurkan dalang, dan semua berjalan dengan lancar." Asfi juga tidak menyangka, mengikuti arahan dari Karla ternyata tidak buruk, bahkan bisa di katakan ini adalah rencana yang rapi, tapi jika di pikir dengan logika, maka hal itu mustahil di lakukan.
"Putriku melakukan itu semua? apa kau bercanda kak?." Arsya masih belum bisa mempercayai hal itu.
"Kau ini percayalah pada putrimu aku yakin kita akan mudah menangkap nya, kini kita harus bekerjasama menyelesaikan masalah keluarga kita, agar kedamaian segera datang." Arsya tahu itu bisa membahayakan putrinya, tapi melihat Asfi seyakin ini bisa di pastikan semuanya akan berjalan lancar.
"Baiklah kita bekerjasama, aku tidak mau ada korban lagi, sudah cukup masalah Alan, aku sudah muak dengan semuanya."
"Berarti kau percaya jika ayah adalah dalang nya?."
__ADS_1
"Aku akan melihat kebenarannya, semua pasti akan terlihat satu per satu." Arsya belum bisa memastikan jika memang sang dalang adalah ayah mereka.
💕💖💕💖💕💖💕
"Uncle kita akan atur rencana barunya, kakek sudah terlalu jauh dalam mempermainkan keluarga kita." Geram Karla, dia sudah tidak sabar memberi hukuman pada Devan, meski dia tahu jika Devan masih kepala keluarga.
"Tenang dulu Karla... sebenarnya ada apa? bukannya rencana kita berhasil?."
"Belum uncle... bunda menjadi korban, sekarang kondisi nya belum stabil, bisa saja bunda koma." Dafa kaget mendengar hal itu, Devan ternyata menjadikan anggota keluarga yang lain mengalami keburukan.
"Itu tidak bisa di biarkan Karla.... lalu selanjutnya kita akan melakukan apa?." Dafa juga menjadi tidak sabar untuk memberi pelajaran pada Devan, yang notabene adalah ayah nya.
"Kita akan sudahi semuanya, bereskan ini di minggu sekarang." Karla sudah tidak mau lagi berbasa-basi dengan hal memuakkan, ingin rasanya saat ini juga Devan di tangkap. Dafa juga setuju dengan Karla, mungkin kedamaian akan datang jika dalang tertangkap.
Karla mengatur strategi baru nya, dia juga meminta bantuan Katrin untuk keperluan yang di butuhkan, pertama Dinar harus di jaga dengan ketat, atau yang lebih efisien memindahkan Dinar di villa milik Karla agar ada yang mengurusnya, karena Asfi dan juga Arsya sangat di butuhkan saat ini, dan tidak mungkin mereka akan berjaga sepanjang hari di rumah sakit, jadi lebih baik Dinar dirawat di rumah dengan fasilitas lengkap seperti di rumah sakit.
"Besok aku akan meminta bantuan Katrin untuk menyiapkan segalanya." Katrin pasti akan sangat sedih melihat keadaan bunda nya sekarang, tapi hal ini harus segera di lakukan.
Karla langsung menghubungi Katrin, dan benar saja dia langsung menangis seketika mendengar Dinar koma, akibat menjadi korban Devan, hal itu tidak akan bisa mereka maafkan, sekalipun Devan adalah kakek mereka.
"Tenangkan dirimu Katrin, jangan sampai masalah bunda melemahkan kita, kita harus berjuang demi keselamatan semuanya, jangan terlalu di pikirkan bunda pasti baik-baik saja, baiklah sekarang aku minta bantuanmu, siapkan alat medis untuk bunda, karena bunda akan di pindahkan dan di rawat di villa." jelas Karla, dia berusaha menenangkan adiknya, jangan sampai hal ini bisa menguntungkan Devan dan antek-anteknya.
"Emm.... baik kak, aku pasti akan lakukan itu, demi bunda dan yang lainnya, aku akan siapkan sekarang." setelah sambungan telpon di tutup, Katrin segera menyiapkan apa yang Karla perintahkan. Karla dan Katrin sibuk melakukan persiapan itu, dan keyakinan mereka tidak akan lepas, yaitu melindungi keluarga.
"Uncle aku akan menemui daddy dan juga uncle Asfi, uncle siapakan saja pasukan untuk berjaga-jaga, karena kota tidak tahu kakek bisa saja melakukan serangan dadakan." Ini hanya perhitungan Karla, bisa saja Devan menyerang mendadak, ya meskipun bukan langsung di markas baru, karena tidak ada yang tahu lokasinya, tapi bisa saja mereka akan langsung menuju rumah utama Arsya, hal itu yang membahayakan.
"Baiklah aku akan segera siapkan untuk hal ini, dan kamu hati-hati di jalan. " Karla pun segera melesat ke rumah sakit untuk memberitahukan Arsya dan Asfi.
Arsya masih setia menunggu, rasanya amat bersalah membiarkan hal ini terjadi pada istrinya, dia akan membalas perbuatan mereka dengan tanpa aturan.
__ADS_1
"Daddy...... bagaimana keadaan bunda?." Karla sudah sampai di rumah sakit.
"Bunda masih kritis, dan kata dokter beberapa hari bunda tidak akan sadarkan diri sebelum melewati masa kritis.".
Benar dugaan Karla, hal ini sudah menjadi perkiraan nya, dilihat dari kondisi bundanya yang sampai harus mendapatkan donor darah, akibat stok darah di rumah sakit tidak ada.
"Dad bagaimana kita pindahkan bunda, dan biarkan bunda di rawat di villa, aku punya tempat yang aman." Arsya juga berfikir begitu.
"Banar sayang, daddy setuju lebih baik kita pindahkan bunda dengan peralatan medis lengkap, agar semua keselamatan nya terjamin." Asfi juga setuju, akhirnya mereka berbicara pada dokter yang menangani Dinar, dengan sedikit paksaan, hingga akhirnya dia menyetujuinya, tapi dengan syarat dokter dan perawat nya yang akan memantau Dinar.
"Baiklah saya izinkan nyonya Dinar di pindahkan, tapi biar kami tim medis yang akan memastikan jika nyonya Dinar mendapatkan perawatan yang benar."
"Baik dok, itu sudah cukup, kami mohon bantuannya." mereka berencana membawa Dinar besok, karena sekarang dokter sedang sibuk.
💕💖💕💖💕💖💕
Malam harinya.....
Arsya sedang merundingkan bersama dengan Karla, kini mereka berada di markas rahasia milik Arsya dan hanya berdua, karwna Asfi harus kembali untuk menjelaskan semuanya pada Haya dan istri nya, sementara Dinar di jaga oleh Aryan dan Dhafi.
"Kita akan bekerjasama dad, jadi jangan sampai kita kalah." tekad Karla membuat Arsya bangga memiliki putri yang pemberani.
"Tentu saja manis.... kita akan bekerjasama dan hukum siapa saja yang telah mengusik keluarga kita." Arsya juga tidak akan kalah hanya karena dalangnya adalah Devan.
"Dimana Katrin? daddy belum melihatnya." tanya nya.
"Tenang saja dad, Katrin ada bersama Andra dan keluarga lain di tempat yang aman." Karla sudah menyuruh Katrin untuk pulang ke villa dimana semua keluarga berkumpul.
"Syukurlah kalau begitu, baik ayo kita mulai rencananya." seringai di wajah keduanya, membuat siapa saja yang melihat keduanya akan gemetar.
__ADS_1