
"Hayfa Malika? siapa wanita ini? apa hubungan daddy dengan dia?." pertanyaan yang kian muncul, begitu banyak mengelilingi pikirannya. Semenjak melihat perubahan pada daddy mereka, Karla dengan cepat mencaritahu sebenarnya apa yang di lakukan ayahnya selama ini.
Apalagi Arsya yang selalu beralasan sibuk dengan pekerjaan nya pada Dinar. Karla memperhatikan lekat-lekat foto itu, benar beberapa setelah mereka pulang dari mansion, Karla menyuruh seseorang untuk mengawasi daddy mereka, tapi karena ada ujian di sekolah mereka, Karla belum memeriksa nya. Dan baru hari ini dia membuka amplop yang di berikan oleh suruhannya itu, di dalamnya terdapat foto dan juga beberapa kertas, yang memberitahukan identitas asli pemiliknya.
"Ini tidak boleh di biarkan, jika bunda tahu maka semuanya akan berakhir, pasti akan ada kesalahpahaman." Karla yakin jika bunda nya tahu Arsya bersama wanita lain, maka akan ada kesalahpahaman diantara mereka.
"Apa yang kau lakukan dad, kenapa membuat masalah semakin runyam." kesalnya, belum masalah dalang terpecahkan, daddy nya malah menambah masalah baru.
Dengan cepat Karla mulai mencaritahu kebenaran Hayfa, yang ternyata adalah dokter spesialis anak, dia juga cukup mahir dalam bidang pemeriksaan DNA, dan dia juga cukup terkenal di kalangan rumah sakit.
"Oh jadi ini yang buat mereka dekat." akhirnya beberapa saat setelah memeriksa formulir tentang kehidupan Hayfa, Karla juga menemukan sebuah fakta mengejutkan.
Ternyata Hayfa adalah sahabat kecil daddy mereka, tidak hanya itu Hayfa sudah di anggap sebagai keluarga oleh keluarga besar daddy nya, terlihat foto-foto lama yang dia sembunyikan di akun instagram miliknya, yang tidak bisa di buka di publik, jadi banyak orang tidak tahu tentang hal ini termasuk Dinar istrinya.
"Mengejutkan sekali... hal ini akan memperburuk keadaan, aku harus segera bertindak." Karla harus menghentikan rencana bodoh sang daddy, agar keadaan nya tidak semakin buruk.
"Daddy pasti memiliki rencana yang konyol, rencana yang membuat semuanya menjadi berantakan." Karla semakin kesal, ini hanya pemikiran nya saja, daddy nya menggunakan Hayfa untuk kelangsungan rencananya menangkap sang dalang, karena bisa saja Hayfa ada kaitannya dengan dalang tersebut.
Tapi bukanya dia genius, tak bisakah Arsya memikirkan cara yang lebih efektif daripada menggunakan wanita, itu adalah rencana yang amat sangat ceroboh.
"Kenapa daddy bisa seceroboh ini? apa dia kehabisan cara?." Karla masih bergelut dengan pikiran nya, pikiran yang kerap begitu mengkhawatirkan.
"Aku harus berbicara pada uncle Dafa, atau kepada Dhafi sang hacker daddy." Karla juga sudah tahu siapa saja yang membantu daddy, dan siapa saja bawahan Arsya.
Karena hari libur sekolah, Karla segera pergi tanpa sepengetahuan orang mansion, termasuk Katrin, dia pergi seorang diri ke apartemen Dafa atau menemui Dhafi. Karla menaiki sepeda listrik yang pas untuk dia tunggagi, Karla memang sudah belajar menggunakan motor, tapi karena masih di bawah umur dia memutuskan untuk tidak menggunakannya, apalagi jika nanti harus berurusan dengan polisi di jalan, itu sangat merepotkan.
Setelah keluar gerbang mansion, dengan di bantu penjaga untuk mengambilkan sepeda listrik miliknya, Karla bersiap berangkat, dia menggunakan helm nya.
"Terima kasih pak." singkat nya tanpa penjelasan apapun.
"Iya non hati-hati di jalan." penjaga tersebut tahu jika Karla memang punya kebiasaan keluar mansion, jadi dia tidak mempermasalahkan karena tuan nya sudah memberikan izin.
Karla terus menjalankan sepeda listriknya, dia mengambil jalan rute cepat, karena Karla seorang hacker dan detektif genius, dia sudah hafal setiap jalan tikus, ataupun jalan umum yang ada di kota tersebut, jadi itu memudahkan Karla.
Hingga sekitar setengah jam dari kediaman pribadi Arsya, sampailah Karla di gedung apartemen yang di huni oleh uncle nya. Tidak lupa Karla memarkirkan sepedanya, Karla kembali mengirim pesan pada Dafa, agar segera menemuinya.
"Uncle aku sudah sampai." pesan singkat nya, dia menunggu di lobi.
"Ok manis, uncle akan menjemput." tak disangka keponakan dinginnya mengunjungi apartemen nya. Dafa segera turun, karena apartemen miliknya berada di lantai sepuluh.
Namun tanpa sengaja Karla melihat seseorang yang sangat dia kenali, wajahnya sangat tidak asing. Dia berjalan beriringan bersama wanita yang terbilang muda dan feminim.
"Kakek.....?. " batinnya, sosok yang sudah lama belum dia temui lagi, dengan alasan sedang sibuk, padahal Katrin ingin sekali bertemu sang kakek.
"Apa benar dia kakek? tapi dengan siapa dia? sekertaris nya atau siapa?." Karla yakin jika itu adalah Devan kakeknya, tapi siapa wanita yang bersamanya, Karla tidak bisa melihat jelas wajah wanita itu, karena memakai masker.
Karla bangkit dari duduknya untuk mengikuti keduanya, namun belum sempat melangkah Dafa sudah memanggilnya.
__ADS_1
"Karla...... " panggilnya, hingga pandangan Karla teralihkan.
"Ada apa?." Dafa penasaran kenapa tiba-tiba Karla berdiri dengan wajah yang amat serius.
"Tidak ada. Ya sudah ayo." singkatnya wajahnya kembali datar tanpa ekspresi, dan itu membuat Dafa menarik nafas berat.
Di lift mereka hanya saling diam, Dafa sudah tahu jika keponakan nya satu ini memang tidak banyak bicara, padahal kan dia perempuan, biasanya anak perempuan cenderung lebih cerewet, tapi yang satu ini sungguhmbuat siapa saja gemas, karena sangat irit bicara.
Sampailah mereka di apartemen milik Dafa, apartemen yang cukup rapih untuk seorang pria. Suasananya sangat sejuk tidak pengap, dan sangat nyaman untuk bersantai. Karla mendudukkan dirinya di ruang tengah, sementara Dafa mengambil cemilan dan minuman.
"Uncle tinggal sendiri?." tanya nya. Terlihat sekali apartemen ini begitu sepi.
"Memang tinggal dengan siapa manis?." dia tidak menyangka Karla akan bertanya hal itu.
"Ya biasanya pria dewasa akan tinggal dengan wanita untuk kepuasan biologis nya." mata Dafa membelalak sempurna, mendengar hal vulgar yang sedang anak SMP bicarakan.
"Hei dari mana kamu belajar bahasa vulgar seperti itu?."
"Itu hanya persepsi ku saja, apalagi uncle kan masih single." Dafa hanya menggelengkan kepalanya, pemikiran bocah SMP zaman sekarang memang di luar kendali.
"Dasar kamu ini... sudah jangan bicarakan hal kotor itu lagi, uncle tidak mau keponakan kesayangan uncle ternoda dengan hal berbau vulgar." tegas Dafa, dia tidak mau Karla terjerumus dengan hal kotor tersebut.
"Iyaa dasar siscon." bisa jadi Dafa akan menjadi laki-laki yang terlalu protektif pada orang yang amat dia sayangi.
"Jika sekali lagi kamu seperti itu, akan uncle rehabilitasi di markas milik uncle." Dafa tidak segan memberikan hukuman kepada Karla karena membicarakan hal kotor lagi.
"Sudah kan, kini giliran aku bertanya..... " tiba-tiba saja suasana menjadi mencengkam, Karla sudah memasang wajah dingin seperti biasanya.
"Apa yang daddy rencanakan? Dan apa hubungannya dengan wanita bernama Hayfa Malika?." deg....
Dafa kaget bukan kepalang, bagaimana gadis kecil ini mengetahui rencana ayahnya, dan kenapa dia tahu wanita yang bersama daddy nya sekarang. Pembicaraan Karla memang langsung to the point, tanpa basa-basi.
"Kenapa bertanya seperti itu?." Dafa berusaha mengalihkan, namun tatapan Karla semakin tajam, dan amat serius.
"Jawab uncle...... " tekan Karla, membuat Dafa goyah.
"Huft.... baiklah uncle akan beritahu kamu, tapi bertahu pada uncle darimana kamu dapat informasi itu." Dafa ingin tahu kenapa Karla bisa tahu, keponakan satunya ini benar-benar misterius.
"Deal..... " singkat, padat dan jelas. Dafa akhirnya menceritakan semua rencana Arsya, karena dilihat dari mata gadis kecil di hadapannya ini dia sangat amat serius, bahkan mungkin Dafa akan melihat hal tak terduga.
"Kenapa daddy begitu ceroboh? ini bisa jadi masalah besar jika daddy melanjutkan rencana konyolnya." tidak disangka Karla akan sedetail itu, tapi apa yang di katakan Karla memang benar, sebenarnya Dafa juga khawatir jika kakak iparnya tahu, apalagi Arsya bersama wanita, ya meskipun mereka sahabat dari kecil.
"Jadi wanita itu adalah sahabat daddy dari kecil, yang pasti memang ada sangkut pautnya dengan sang dalang."
"Benar... dan daddy mu menggunakannya untuk menangkap dalang itu."
"Tapi itu terlalu ceroboh uncle, kecerobahan daddy bisa membawa bencana jika kita tidak bertindak." Dafa tidak percaya dengan argumen Karla, dia bahkan sangat tahu jika daddy nya sangat ceroboh.
__ADS_1
"Bisa saja daddy yang masuk ke perangkapnya." kenapa Dafa tidak menyadari hal itu, Karla benar, bisa saja Arsya dan yang lainnya yang berhasil masuk perangkap, bukan malah menangkap sang dalang.
"Benar juga bisa saja kakak yang sudah terjebak, kenapa aku tidak curiga akan kedatangan Hayfa yang secara mendadak."
Tak di sangka Karla akan berfikir sejauh ini, ini adalah hak tak terduga untuk pemikiran anak gadis yang masih di bawah umur, bahkan dia tidak berfikir sampai sejauh itu.
"Lalu apa yang kamu rencanakan, paman juga merasa daddy mu terlalu terburu-buru, jadi dia mengambil jalan itu, tapi memang benar rencana begitu ceroboh." setelah di pikir-pikir memang itu sangat lah buruk, Dafa tidak berani untuk sekedar menegur Arsya, karena dia tidak berani mebantah apa yang Arsya titah kan.
"Aku sudah menyelidiki nya dengan teliti, tapi aku dan Katrin baru bisa menemukan orang kepercayaan dalang tersebut."
"Memangnya siapa orang itu?." Dafa semakin penasaran dengan keponakan kembar nya, mereka sangatlah genius, tak disangka mereka berdua sudah menemukan orang kepercayaan dalang tersebut, tinggal satu langkah lagi.
"Ferdian.... yang sekarang sedang di sekap oleh uncle." jawaban tersebut membuat Dafa semakin kaget lagi, pasalnya Ferdi mengatakan dia tidak tahu apapun.
"Ferdian? apa benar dia?."
"Itu benar uncle, aku dan Katrin masih menyelidiki semuanya, butuh waktu untuk bisa menemukan bukti akurat nya." jelasnya.
"Dan rencananya kita akan lakukan bertiga, itu jika uncle setuju." ajak Karla, dia ingin semua selesai tanpa adanya korban lagi.
"Baiklah uncle setuju, tapi apa rencananya." Karla memberitahukan rencana yang sudah dia buat dan atur bersama dengan Katrin.
"Paman tetap awasi wanita itu dan juga Ferdian, kita liat apakah ada interaksi antara keduanya atau tidak."
"Lalu pasangkan kamera pelacak ini di tempat yang aman." Karla memberikan kamera pelacak yang ampuh untuk penyelidikan ini, dia sudah merangkai nya sendiri, dan sudah Karla coba untuk menyelidiki beberapa kasus dan hak itu berhasil melacak nya.
Dafa sudah menyetujui rencana dari si kembar, dia yakin dan percaya jika rencana ini lebih efektif daripada Arsya, akhirnya mereka bertiga berencana menjebak sang dalang.
"Ok kita sepakat."
"Lalu uncle ingin tahu kenapa kamu bisa mengetahui segalanya." tiba-tiba saja Karla menyeringai, dia tahu pasti Dafa akan bertanya tentang hal itu.
"Itu mudah karena aku genius." singkat yang mengandung tanda tanya besar di kepala Dafa.
"Ya sudah aku pamit uncle..... " Karla beranjak, namun tetap saja Dafa masih belum memperbolehkan dia pergi.
"Eits jawab dulu, uncle tidak mengerti Karla.... "
"Kan aku sudah katakan....sudahlah uncle ini sudah waktu nya aku pulang, bunda bisa marah jika aku keluar lama dari mansion." jelasnya panjang kali lebar.
Dafa kaget dengan pemakaian kosa kata yang di gunakan Karla amatlah banyak, biasanya dia akan menjawab dengan singkat. Ini adalah hal langka, biasanya dia hanya akan mendengar celoteh Katrin.
Benar-benar membuat Dafa semakin penasaran dengan kedua keponakan nya. Dia jadi tidak sabar menunggu hal hebat lainnya lagi, Dafa akan menantikan nya terus kehebatan si kembar.
"Ya sudah.... Hati-hati di jalan, jangan sampai terjadi hal buruk."
"Ok uncle... dan makasih buat milkshake nya." Karla pun beranjak pergi, di susul Dafa untuk memastikan keponakan nya aman.
__ADS_1