Putri Kembar Sang Psychopath

Putri Kembar Sang Psychopath
84-Menenangkan Diri


__ADS_3

Bebeberapa hari setelah kejadian itu Dinar belum berbicara pada Arsya, dia masih tidak menyangka Arsya akan melakukan hal itu padanya, semua nya sia-sia dia lakukan, seharusnya dia tidak semudah itu mempercayai.


"Selamat pagi bunda... " sapa Andra yang lebih dulu sampai di meja makan.


"Pagi sayang.... " senyum Dinar tanpa kesedihan di wajahnya, Dinar mencoba untuk bisa menahan diri, agar ketiga anaknya tidak terkena dampaknya.


"Mana kedua kakak mu? mereka belum bangun?." tanya Dinar yang belum melihat kedua putri kembarnya.


"Seperti biasa bunda kedua kakakku pasti sukanya terlambat." Andra sudah hafal kebiasaan kedua nya, jadi tidak aneh jika mereka terlambat untuk sarapan bersama.


"Ya sudah bangunkan mereka sayang."


"Siap bunda. " Andra pun beranjak untuk membangunkan kedua kakaknya.


"Selamat pagi dad.... " sambut Andra ketika berpapasan dengan daddynya.


"Pagi boy.... " singkatnya sambil tersenyum, Andra hanya menghela nafas berat, beberapa hari ini daddynya berwajah murung.


"Kak... bangunn sarapan sudah siap... !!." teriak Andra di depan kamar si kembar sambil menggedor pintunya keras. Kebiasaan keduanya yang harus di bangunkan oleh adik lelaki tercinta nya.


"Duh berisik banget sihh dekk.... masih ngantuk nihhhh...." keluh Katrin dengan wajah lesu nya.


"Udah buruan bangun dan cepat mandi kak, kalian berdua sudah di tunggu di meja makan." Tegas Andra, kini dia terlihat seperti kakak bagi mereka berdua.


"Ishhhh awas yaaa.... " kesal Katrin, karena Andra langsung menutup pintunya dari luar, sebelum Katrin berbicara. Akhirnya mereka bangun dan membersihkan diri.


Sepuluh menit berlalu akhirnya si kembar selesai dan segera turun untuk sarapan. Terlihat begitu hening di meja makan tanpa ada yang berbicara sedikit pun, Dinar terlihat memasang wajah acuh sementara Arsya degan wajah dingin nya. Sudah mirip seperti ketegangan di saat nyawa akan melayang.


"Pagi dad... pagi bunda. " sapa Katrin dengan senyum manisnya, untuk mencairkan suasana. Rasanya menjadi canggung dan gugup.


"Pagi sayang... ayo duduk dan segera sarapan."


"Pagi two girl, kemari kita sarapan bersama." kedua nya nampak tersenyum, tapi dengan keterpaksaan agar terlihat oleh keduanya kalau hubungan mereka baik, tapi ketiga anaknya tidak sebodoh itu, mereka tahu itu hanya untuk membuat ketiganya tidak khawatir.


Suasana sarapan begitu hening, semua menikmati makanannya masing-masing, tak ada obrolan ramah seperti pada saat sebelum kejadian ini. Karla dan Asfi sudah berencana untuk memberitahu kepada daddy mereka tentang dalang, agar semuanya terselesaikan dan Devan harus segera di tangkap.


Selesai sarapan Dinar kembali ke kamarnya, sementara Karla dan Katrin bersiap untuk mencari bukti kuat untuk dia tunjukkan pada daddy nya agar percaya jika memang Devan dalangnya.

__ADS_1


Lalu Andra, dia harus sekolah pagi ini dan di antar oleh supir, Karla dan Katrin masih mengambil cuti sekolah sampai masalah nya terselesaikan.


"Sayang dengarkan dulu penjelasan ku, aku mohon, kita bicarakan baik-baik." Arsya berusaha meminta maaf dan menjelaskan semua nya, dia tidak mau rumah tangganya menjadi kacau hanya karena salah paham. Dinar terus berjalan tanpa memeprdulikan Arsya yang masih terus membujuknya.


"Sayang aku mohon.... demi ketiga anak kita, kita bicarakan ini ok." Dinar memang lebih banyak mengurung diri di kamar, dia hanya disibukkan dengan keperluan ketiga anaknya, setelah beres Dinar pasti akan langsung pergi ke kamarnya.


"Membicarakan apa? semua sudah jelas kan, jadi tolong jangan ganggu aku dad... " Dinar sudah muak apalagi foto itu masih teringiang di kepalanya, pikirannya menjadi benci kepada Arsya.


"Sekali ini saja... aku mohon sayang."


"Tinggalkan aku sendiri... jangan ganggu aku dad, aku butuh menenangkan hati dan pikiranku."


Jebredddd......


Dinar menutup pintu dengan keras tanpa memperdulikan Arsya yang masih terus mencoba membujuk dirinya.


"Kenapa jadi begini... akhhhhhh siall aku harus memperbaiki ini, aku tidak mau berpisah." yang kini dia bisa lakukan hanyalah berusaha mmencari bukti kuat kalau ini adalah jebakan Hayfa, bukan hal yang sengaja Arsya lakukan. Dia harus mengembalikan kepercayaan nya kepada istrinya yang sudah terlanjur salah paham.


"Aku ingin keluar sejenak menenangkan diri... jika terus begini maka ketiga anakku akan jadi korban, aku tidak mau itu terjadi." Dinar sebenarnya tidak mau ketiga anaknya terbebani dengan pertengkaran nya dengan Arsya, dia ingin lebih menenangkan diri.


Karena Arsya tahu jika Dinar perlu waktu untuk menenangkan diri, dia pun keluar dari mansion, karena tiba-tiba saja Asfi menelpon untuk membicarakan hal penting dengannya. Mansion pun sepi seperti biasa, mereka sudah pergi melakukan kegiatannya masing-masing.


"Baik Nyonya hati-hati di jalan, nanti akan saya sampaikan." Dinar pergi menggunakan mobil sendiri, dia sedang tidak mau di temani oleh siapapun, yang sekarang dia butuhkan hanyalah sahabatnya.


Di perjalanannya menuju rumah Dania, Dinar hanya melamun dan diam, banyak yang sekarang dia pikirkan, seolah membawanya pada kecemburuan besar, dia tidak rela jika Arsya bersama orang lain, hatinya tidak selapang itu untuk memberikan suaminya pada wanita lain. Jarak ke rumah Dania tidak begitu jauh, dan dia berencana pulang malam, mungkin dengan berbincang dan bercerita dengan Dania, bisa mengurangi kekesalan nya.


Sampai tak terasa Dinar sudah sampai di alamat yang di tujunya, Dania itu masih single, jadi Dinar bisa leluasa mengobrol dengan Dania, dan itu akan lebih menenangkan dirinya, dan kembali normal lagi.


"Nia aku datang...... " Dania sedang libur dinas, jadi dia ada di rumah saat ini.


"Wah tumben banget kamu dateng, biasanya juga di rumah ajaa, ya udah ayo masuk kita bicara di dalam." Dinar memasuki rumah Dania, dia hanya membawa buah dan sedikit cemilan untuk Dania.


"Bentar ya aku buatin minum dulu." Dania membuat kan minum ke dapur, tak biasanya Dinar akan berkunjung, tapi tak apa lah mungkin dia jenuh di rumah besar itu.


"Ini es kopi kesukaan mu... oh ya gimana kabar si kembar sama anak gantengmu?."


"Mereka sehat dan baik-baik saja."

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu, kangen deh pengin ketemu mereka." Sudah lama Dania tidak berkunjung ke mansion Dinar, dia merindukan si kembar dan juga Andra.


"Ya main saja ke rumah, mereka pasti senang tuh ketemu kamu."


"Terus... ada hal apa yang membawa mu kemari sahabat ku? apa ada masalah?." tanya Dania penasaran dengan kedatangan Dinar.


"Kamu ini kaya detektif aja, ya kan aku rindu sahabat ku masa nggak boleh main." kesal Dinar, Dania banyak sekali bertanya, dasar sahabat tidak pengertian.


"Ya habisnya aku kepo, biasanya kalau kamu keluar kan Arsya selalu melarang kamu, kalau keluar juga harus ada penjaga, dasar super protektif, posesif akut dia." Sungguh keajaiban melihat Dinar keluar sendiri, dan hal ini membuat Dania heran, atau karena memang mereka lagi ada masalah.


"Ok aku akan ceritakan ke kamu, dan intinya gini Arsya bohongin aku Nia... " Dania kaget, benar dugaannya mereka memang sedang bermasalah.


"Membohongi gimana Nar? kok bisa sih dia bohong sama kamu?." Dania mulai penasaran sebenarnya apa yang terjadi di antara mereka.


"Iya Nia... dia bohong, dan aku pergi juga karena aku terus kepikiran, aku tidak mau berlarut-larut dalam. masalah anatara aku dan suamiku, jadi aku ingin bercerita denganmu, agar hati ini tenang." jelas Dinar, dia sudah sesak menahan ini semua, ingin rasanya Dinar menemui wanita itu, dan mengatakan apa yang dia rasakan.


"Lalu... "


"Aku tidak habis pikir dia bersama wanita lain." mata Dania melotot sempurna, seorang Arsya bersama wanita lain, tapi itu bisa saja terjadi, apalagi Arsya adalah seorang pemuda konglomerat dengan wajah tampan.


"Wanita lain? dia selingkuh maksud nya?." Dinar mengangguk dan memperlihatkan foto Arsya yang sedang tidur di pangkuan Hayfa, mereka begitu mesra, sebenarnya ada tiga foto lainnya, tapi dia muak melihat kemesraan mereka meski itu di foto.


"Ini bener Nar....? kok bisa sihh? mungkin ini editan?." Dania masih belum bisa mempercayai hal tersebut, bisa saja itu hasil editan atau settingan yang diuat oleh wanita itu.


"Bener Nia dan ini bukan editan atau settingan."


"Kamu ini harusnya bisa lihat dengan teliti, yang aku tahu Arsya itu orang yang dingin dan cuek, dia tidak akan mau jika ada yang mengambil fotonya, tanpa seizin nya, dan lihat di foto itu Arsya sedang tidur lelap." Dania melihat foto itu dengan seksama, dan sudah pasti ini adalah akal-akalan wanita gila itu, karena dia tahu Dinar akan percaya.


"Tapi tetap saja Nia, aku kecewa karena dia selalu beralasan sibuk tanpa mau memberitahuku, seharusnya dia katakan sejujurnya saja padaku, itu akan lebih baik, tapi jika sudah begini aku juga kesal kepadanya." Dinar memang tidak begitu percaya dengan foto itu, tapi dia kecewa Arsya tidak mau jujur padanya.


"Benar juga, mungkin dia punya alasan tersendiri, lebih baik di bicarakan pelan-pelan dengan kepala dingin, agar masalah ini segera usai. Kamu tahu kesalahpahaman terkadang membuat seseorang kehilangan, jadi sebelum itu terjadi lebih baik di bicarakan baik-baik ok." Dania tahu kekesalan dan kekecewaan Dinar pada Arsya, tapi jika menghindar terus tidak akan menyelesaikan masalah.


Dinar berfikir memang apa yang di ucapkan Dania benar, tapi setidaknya dia ingin suaminya jujur, dan lebih terbuka padanya, karena dengan begitu kepercayaan pasti akan semakin kuat, karena terkadang kebohongan bisa membuat hati seseorang ragu.


"Aku tahu Nia... mungkin aku juga harus berbicara tentang kemauan ku kepadanya, agar kedepannya kita bisa saling percaya." Dinar juga sadar akan hal itu, namun melihat suaminya bersama wanita lain membuat hatinya sakit, ingin rasanya dia melempar wanita itu ke dasar jurang.


"Nah lebih baik seperti itu saling percaya itu penting dalam sebuah hubungan, jadi lebih baik cari tahu dulu kebenaran nya, daripada nanti kamu menyesal." Dania tidak mau hubungan pernikahan Dinar yang sudah sejauh ini, apalagi ada ketiga anaknya.

__ADS_1


"Huft baiklahh...... aku lega jika sudah bercerita padamu Nia... hatiku sudah tidak gundah lagi, aku akan bicarakan ini dengan suamiku... makasih Nia." Dianggap lega sudah mengeluarkan semua isi hatinya, dia akan berbicara pada Arsya.


"Iya sama-sama Nar.... ini baru sahabat ku."


__ADS_2