
"Kita akan mulai pembicaraan ini anak ku yang bodoh.... "
Arsya sudah emosi, tapi dia berusaha mengontrol nya dengan baik, agar setelah ini rasa penasaran nya tidak terus membuncah. Devan menatap Arsya dengan tatapan meremehkan, Arsya tidak peduli dengan hal itu.
"Sudah katakan saja apa yang perlu kau katakan."
"Baiklah kita lihat saja siapa yang akan terpancing." Arsya hanya memasang wajah datarnya. Devan dengan seringai iblisnya memulai pembicaraan, dari mulai rencana awalnya yang ingin lebih dulu membuat Haya mencintai nya, yang ternyata ada niat terselubung di dalamnya.
"Ibumu mudah sekali ku bodohi, wanita memang sangat mudah di bohongi jika masalah perasaan." ucapnya dengan meremehkan, membuat Arsya muak mendengarnya, tapi dia harus tetap berkepala dingin, dan sedikit menahan amarah nya.
"Lalu barulah balas dendam ku di mulai, dan karena kau yang tidak tahu apapun akhirnya ku jadikan alat, ingatlah bahwa ayah Alan tidak pernah mengkhianati keluarga besarmu, dia adalah pelayan yang paling setia, tapi karena dialah orang pertama yang mengetahui kebusukanku." mendengar hal itu Arsya sudah tidak bisa menahan lagi.
"Jadi dia tak bersalah, dan kau menyuruhku membunuhnya? bedabah kau...... " Arsya mengangkat kerah pakaian Devan dengan tatapan membunuhnya, tapi Devan hanya memandang remeh putra bodohnya.
"Itu karena kau bodoh, tak hanya itu saja... saham perusahaan Azhar sudah menjadi milikku setelah ini kalian semua akan aku usir.... permainan ini sudah berakhir, dan akulah pemenangnya." Devan sudah mengganti kepemilikan seluruh saham keluarga Azhar dengan namanya, dan Arsya sudah tercoret dari kepemilikan saham.
"Hmmm ternyata kau meremehkan keluarga ku, kita lihat saja siapa yang akan bertekuk lutut, dan mulai saat ini aku memutuskan hubungan darah denganmu, aku tidak akan mengampunimu atas dosa yang kau perbuat." Ucapnya dengan senyum seringainya, dan berlalu pergi dari sana tanpe memperdulikan ayahnya, kini mereka sudah memutuskan hubungan darah.
"Kita lihat saja..... "
Kebenaran itu membuat Arsya harus menebus segala keburukannya, mungkin berimbas pada keluarganya sekarang, jika waktu bisa di putar, Arsya ingin menebus segalanya. Karla yang melihat dari balik drone, hanya bisa diam, bahkan kakeknya sudah lebih buruk dari sampah. Muak, kesal, benci, dendam berkumpul menjadi satu, mungkin kini saatnya mereka akhiri permainan ini.
"Kita pergi sekarang, malam ini kita akan menyerang." ucap Arsya dengan jelas, dia sudah tidak mau membicarakan dengan pembicaraan omong kosong. Arsya melesat untuk merundingkan penyerangan mendadak malam ini.
__ADS_1
Mereka langsung menuju markas baru milik Dafa, disana sudah bersiap untuk melakukan perintah, Arsya menambahkan untuk menyiapkan peledak dan juga bubuk mesiu. Peledak akan digunakan untuk memancing musuh keluar, sementara bubuk mesiu untuk menghancurkan markas yang sudah Karla tandai, karena sebagian besar markas Devan sudah di temukan, dan Dafa sudah menyebarkan bawahannya untuk memasang bom di setiap markas yang sudah di temukan.
Jiwa psychopath Arsya bangkit kembali, demi keluarga dan keamanan mereka, Arsya akan bantai semuanya. Aryan juga ikut membantu mempimpin pasukan untuk garda keamanan, karena untuk berjaga-jaga karena bisa saja mereka akan menyusup dan membahayakan keluarga Azhar yang lainnya. Sementara Asfi menyiapkan untuk penembak jitu, kini giliran dia membantu, dia sangat menyesal karena tidak bisa membawa keluarga nya dari tangan Devan, tapi kini dia akan melakukannya dengan baik.
"Persiapan sudah selesai, ayo kita berangkat." aba-aba dari Dhafi yang sudah melihat situasi yang sudah terkendali, semua markas Devan sudah terpasang bom waktu, yang akan meledak setelah waktu habis. Jumlah markas mafia milik Devan berjumlah lima, dan tinggal satu markas lagi yang sedang Karla cari.
"Baiklah kita akan berangkat sekarang." Dafa menitahkan mereka untuk segera berangkat, karena persiapan sudah beres.
Sebelum pergi Arsya ingin sekali menjenguk Dinar, yang masih terbaring lemah di ranjang dengan tubuh yang penuh dengan alat medis.
"Aku berangkat sayang.... cepatlah sadar kembali." ucapnya dan mengecup kening sangat istri, ingin rasanya dia menebus kesalahpahaman nya, ingin rasanya tetap bersama dengan Dinar, jangan sampai rumah tangga mereka rusak hanya karena salah paham.
"Andra jaga bunda ok... daddy mengandalkan mu disini, tetap jaga bundamu bersama Aryan."
"Daddy akan lakukan demi keluarga kita." setelah itu Arsya segera menaiki mobil bersama dengan Karla, merkwa menggunakan pakaian serba hitam, dengan peralatan lengkap, bahkan Arsya kaget jika putrinya akan ikut penyerangan.
"Apa kamu yakin akan ikut sayang?." Arsya sebenarnya tidak mau jika Karla ikut, dia takut terjadi hal buruk pada Karla.
"Ini sudah menjadi pilihan ku, jadi percayalah dad." ucapnya dengan serius, wajahnya tidak menunjukkan ketakutan, bahkan Arsya melihat api keberanian yang sedang membara.
"Baiklah kalau itu pilihanmu, daddy percaya pada putri daddy."
Markas Devan jaraknya lumayan jauh dari markas utama Dafa, mungkin akan memakan waktu sekitar lima belas menit untuk sampai disana. Tapi karena mereka menggunakan mobil dengan kecepatan penuh, maka mungkin sekitar sepuluh menit akan sampai.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian....
Sampailah mereka ke tempat yang sudah Karla siapkan, untuk menyimpan senjata, kendaraan dan untuk keadaan darurat, ternyata Karla sudah merencanakan nya dengan sangat matang, bahkan persiapannya tidak main-main.
"Kita akan mulai bersiap dari sini, dan jangan sampai lengah." Karla sengaja membuat sebuah villa kecil yang jaraknya sekitar satu kilometer, dan yang menakjubkan adalah villa itu tidak di ketahuilah oleh Devan.
Mereka memulai operasi pertama, dan menjalankan tugas sesuai rencana, Arsya bersama dengan Karla, Asfi berada di tempat persembunyian untuk menghabisi lawan dengan menembak, sementara Dhafi dan Dafa di garda depan untuk penyerangan awal, wilayah ini adalah markas utama mafia milik Devan, ini sangatlah menguntungkan.
"Aku tidak akan tinggal diam, akan aku balaskan atas kehancuran keluarga Azhar." gumam Asfi, dia berharap ini adalah akhir dari kehidupan Devan, sudah saatnya bangkit dan melawan.
"Dad fokus saja pada kakek, Hayfa biar aku yang urus, sementara Ferdian biarkan uncle Dafa yang menangkap nya."
"Itu rencana yang bagus, baiklah berhati-hatilah sayang." Arsya menyetujui rencana itu, mereka mulai dengan perlahan agar lawan tidak menyadari kalau mereka sudah terperangkap, jika sudah tinggal menyerang.
Dafa memberikan isyarat agar bawahannya mengerti apa yang harus mereka lakukan. Sekarang markas utama sudah terkepung bersamaan dengan hal itu detik demi detik bom waktu itu akan segera meledakkan markas cabang lainnya, begitu juga markas satu nya yang baru saja Karla temukan, Dafa juga segera mengirimkan ahli pemasang bom untuk segera memasang bom disana, meski dengan jarak waktu yang lumayan lama.
Senyum iblis Karla bangkit, seakan semua sudah dalam perangkapnya, hal ini yang sudah Karla tunggu.
"Tiga... dua... satu..... dan bammm." Karla menghitung mundur, ledakan terjadi di tempat penyimpanan senjata milik mafia Devan, terlebih gudang itu adalah gudang berharga, dan lumayan luas, kini gudang penyimpanan senjata itu sudah hancur.
"Ada penyusup.... cepat laporkan pada leader.... " teriakan yang Karla tunggu, akhirnya menggonggong juga.
"Ahh hal ini yang ku tunggu, teriakan panik teriakan ketakutan hahaha...... " teriak Karla dengan senyum psychopath nya. Hal itu membuat Arsya merinding, baru kali ini dia melihat putrinya seperti kesetanan.
__ADS_1
"Bersiaplah untuk pesta yang aku buat.... "