
Flashback On.....
Beberapa bulan sebelum rencana.....
"Baiklah semua sudah berkumpul.... ini adalah misi rahasia yang akan kita lakukan sebelum semuanya menjadi berantakan." Karla mulai menjelaskan rencana yang sudah dia rancang, dan di diskusikan oleh Dafa dan juga Katrin.
"Ini aku sudah memodifikasi drone capung buatanku, kini drone ini lebih bagus dan berguna." Karla menunjukkan drone capung buatannya yang sudah dia perbarui menjadi lebih canggih dan sangat berguna untuk penyelidikan.
"Wah hebat kakak..... akhirnya aku bisa melihat karya mu yang sangat indah dan juga sangat berguna." Katrin takjub dengan ke kreatifan sang kakak, sebenarnya karya itu sudah Karla pamerkan di ajang perlombaan sekolahnya, dan itu memang sudah berfungsi dengan baik, hingga Karla mendapat kejuaraan di perlombaan pembuatan drone dalam rangka untuk keamanan setiap sekolah, yang di adakan pemerintah sekolah.
"Keponakan ku memang the best.... lalu kamu mau gunakan itu untuk apa manis?." Dafa masih belum paham dengan rencana yang di buat oleh Karla dan juga Katrin.
"Ok aku jelaskan, kalian dengarkan baik-baik." Karla mulai menjelaskan dengan detail rencana baru mereka, karena untuk menghindari salah paham, karena Karla yakin Hayfa pasti di perintah untuk menghancurkan keluarga daddy mereka, yang pasti untuk membuat kesalahpahaman di antara Dinar dan Arsya.
"Uncle Dafa letakan kamera pengawas ini pada Ferdian, simpan di pakaian miliknya dan ingat jangan sampai dia tahu uncle memasang ini." Karla memberikan kamera pengawas dengan ukuran yang mini.
"Ok itu mudah aku lakukan." Karla yakin jika Hayfa pasti akan membebaskan Ferdian, karena dia orang penting atasannya. Karla dan Katrin sudah tahu perihal Dafa yang seorang leader mafia.
"Dan buat markas kosong seakan-akan kita lengah, setelah itu aku akan perhatikan gerak gerik mereka melalui drone capung ini, drone ini aku kembangkan untuk jarak jauh menjadi kilo meter, drone capung ini sudah terhubung dengan kamera pengawas ini, dan juga komputer, jadi kita bisa memantau kemana mereka membawa Ferdian." jelasnya panjang kali lebar, baru kali ini Dafa mendengar celoteh dari keponakan dinginnya.
"Dan Katrin awasi perusahaan daddy, aku tahu ada yang sedang menyabotase pembangunan hotelnya, jadi kamu harus fokus dengan hal itu." Karla sudah memeriksa dan ternyata ada yang sedang bermain licik dengan menggunakan perusahaan Arsya.
"Siap ratu es ku. " Katrin juga bersemangat.
"Mereka cepat tanggap akan masalah sebesar ini... sebenarnya sehebat apa mereka?." Dafa takjub dengan kemampuan berfikir mereka yang efisien dan juga cepat, namun mereka sangat tenang dan berhati-hati.
"Kita akan memulai nya besok, jadi persiapkan diri, dan fokus akan tugas masing-masing, ya sudah pertemuannya kita akhiri sekarang." mereka tinggal menjalankan rencana dengan tanpa kesalahan, maka semuanya akan berjalan mulus.
Flashback Off....
"Dhafi apa kau baik saja?."
"Aku baik... tapi mereka berhasil kabur, ini sudah di rencanakan oleh karenanya mereka sudah memasang peledak di penjuru markas ini." Dhafi yakin rencana ini sudah mereka lakukan jauh-jauh hari.
__ADS_1
"Ya sudah kita bicarakan ini di markas rahasia, ayo pergi." Masih banyak yang ingin Arsya tanyakan perihal markas kepada Dafa, karena keamanan nya tidak seperti biasanya, bahkan malah sangat sepi seperti bangunan kosong.
"Siapa yang Hayfa bebaskan?." tanya Arsya dengan wajah seriusnya, membuat Dafa merinding.
"Seperti nya itu Ferdian kak, karena Lena dan keluarganya sudah aku pindahkan di markas baru." jelasnya membuat Arsya kaget, sejak kapan Dafa membuat markas baru.
"Sejak kapan kau membuat markas utama yang baru? kenapa tidak memberitahuku? dan kenapa Ferdian tidak kau pindahkan?." pertanyaan bertubi-tubi dari seorang yang irit bicara membuat Dafa tidak bisa mengelak.
"Karena mendadak kak, dan sebenarnya tempat Ferdian belum selesai di bangun, jadi dia masih di sekap disini." jelasnya, namun Arsya masih belum yakin.
"Kau masih menyembunyikan sesuatu kan?." Dafa tidak tahu harus mengatakan alasan apalagi pada kakaknya, dan mustahil baginya untuk memberitahu rencana nya pada Arsya.
"Aku tidak menyembunyikan sesuatu kak, dan itu faktanya dan aku juga tidak tahu jika Ferdian adalah komplotan mereka." Dafa berusaha meyakinkan, dan akhirnya Arsya berhenti bertanya, karena raut wajah Dafa yang terlihat meyakinkan.
Tapi entah kenapa sejak tadi perasaan nya tidak enak, bukan karena Ferdian yang berhasil kabur, tapi entahlah ini sulit untuk di jelaskan. Arsya berusaha tenang, namun tetap saja perasaan itu semakin terasa jelas.
"Ada apa Sya? kau sakit?." Dhafi melihat wajah Arsya begitu pucat, dan keringat nya sudah membanjiri wajah tampan nya.
"Aku baik.... lebih baik kau pikirkan keadaanmu sendiri."
Arsya hanya diam, apa yang di katakan sahabat nya itu benar, meski sudah dia sembunyikan tetap saja akan terlihat jika itu Dhafi yang menebaknya.
"Apa karena kakak ipar? aku lihat akhir-akhir ini dia sering melamun, kak Arsya pasti sudah lama tidak memperhatikan nya kan?." pertanyaan telak yang membuat Arsya bungkam.
"Apa itu benar Sya?."
"Kenapa malah jadi seperti ini? apa kau sudah tidak peduli lagi dengan istrimu? apa kau mulai menyukai Hayfa?. " pernyataan itu sontak membuat Arsya marah.
"Jaga ucapanmu, tak sekalipun perasaan ini akan aku berikan pada wanita itu, hanya Dinar lah yang sudah berkuasa di hatiku...!! camkan itu." ucap Arsya penuh penekanan.
"Tapi kau terlihat sangat menikmati rencana ini, bahkan kau selalu beralasan sibuk pada nya, kau tahu kita tidak tahu apa yang Hayfa rencana kan, aku takut itu akan menghancurkan keluarga mu." Arsya semakin emosi, mendengar celotehan Dhafi.
Suasana kian mencengkam di saat tatapan tajam itu mulai mendominasi di dalam mobil, Dafa hanya diam, tapi apa yang di ucapkan Dhafi benar, Dafa setuju akan hal itu, karena Dinar selalu menelpon nya hanya untuk menanyakan kesibukan apa yang sedang suami nya lakukan, dan Dafa sedih mendengar keluh kesah nya.
__ADS_1
"Lebih baik kita hentikan rencana konyol ini sebelum semuanya terlambat Sya, aku tidak mau melihatmu menyesal terlebih sekarang kau sudah berkeluarga, dia wanita baik Sya, jangan kau sia-siakan." Dhafi semakin membuat Arsya marah.
"Diam kau..!!." ucapnya dengan geram dengan tatapan tajamnya.
"Aku akan kembali ke mansion, kita sudahi penyelidikan nya." Dafa hanya menurut dengan perkataan sang kakak.
"Aku akan pulang, turunkan aku disini." Dhafi juga sudah lelah, ngobrol dengan Arsya memang tidak ada artinya. Dafa menghentikan mobilnya, karena Dafa tahu ketika situasi memanas pasti Dhafi yang akan mengalah.
"Jangan lupakan ucapanku." Gumamnya namun terdengar jelas di telinga Arsya, Dhafi pun beranjak turun dari mobil tersebut.
Arsya tidak menanggapi nya dan hanya membisu, perkataan Dhafi masih berputar di kepalanya, dan dia mengingat betapa sibuknya dia, dan selalu beralasan kepada Dinar, hingga Arsya seakan melupakan sejenak kalau dia sudah berkeluarga.
Sampailah mereka di kediaman Arsya, mansion nya sudah sepi, karena sudah larut malam, pikirannya masih berkecamuk, bahkan hatinya masih belum tenang.
"Perkataan Dhafi pasti membebaninya, tapi ini pertama kalinya aku kakak dengan wajah pucat nya, seakan putus asa." Batinnya sejak dulu Dafa tidak pernah melihat Arsya seperti ini.
Arsya memasuki mansion dengan berharap tidak terjadi hal buruk, langkah nya seakan lemas, perasaan nya masih saja sama. Dan di ruang tengah terlihatlah seseorang sedang menantikan kedatangan nya, ya Dinar sedang duduk di sofa ruang keluarga.
"Sayang kamu belum tidur?." tanya Arsya sembari berjalan ke arahnya. Namun belum sampai dia mendekati istrinya, tangan Dinar mencoba memberi isyarat untuk berhenti.
"Kau berbohong padaku dad." sakit sekali di saat itu, ketika mendengar orang yang di cintai menyebutnya dengan 'kau'.
"Ada apa sayang....? kenapa dengan perkataan mu itu." kini perasaan nya campur aduk, Dinar berusaha untuk mempercayai suaminya, tapi kini Arsya membuat Dinar ragu kembali, dan ini begitu menguras batinnya.
"Heh.... sudahlah jangan pura-pura tidak tahu dad, aku tahu semuanya."
Deg....
Arsya masih mencerna ucapan istrinya, wajah lemah lembutnya kini berubah menjadi kecewa, tatapannya seakan memberitahu jika dia sedang terluka, tidak ada senyum indah terukir di bibirnya.
"Aku benar-benar tidak tahu sayang.... sebenarnya ada apa?." Arsya masih berusaha agar tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Dinar melemparkan amplop di meja tersebut, dia sudah tidak tahan lagi menahan gejolak kekecewaan dalam hatinya, sungguh tidak bisa di percaya semuanya akan menjadi seperti ini, perasaan buruknya sudah melebar, dan ternyata inilah penyebabnya, ya keluarganya benar-benar tidak dalam kondisi baik.
__ADS_1
"Lihat saja sendiri, aku kecewa padamu dad." setelah mengatakan hal itu, Dinar beranjak pergi tanpa memperdulikan suaminya.
Mata Arsya melotot sempurna di kala dia membuka amplop tersebut, sekitar tiga lembar kertas membuat jantung dia seakan melompat dari sarangnya. Nafasnya naik turun, dia sudah tidak bisa mengatakan apapun. Arsya telah masuk perangkap mereka, hal ini terjadi karena kecerobohan dirinya. Pada akhirnya ketakutannya menjadi kenyataan, firasat buruk itu akhirnya terjadi.