Putri Kembar Sang Psychopath

Putri Kembar Sang Psychopath
66-Menjalankan Kewajiban (pada akhirnya dia menerima dengan ikhlas)


__ADS_3

Arsya masih terbaring di ranjang nya, Dinar dengan setia menemani dan merawat Arsya dengan baik, hingga tak terasa dia tertidur di samping Arsya dengan posisi terduduk. Sampai fajar telah berada pada tempatnya dengan warna keemasan yang menyilaukan ufuk timur.


Arsya menggerakan tangannya perlahan, matanya mulai terbuka sedikit demi sedikit, dia merasakan rasa hangat di tangannya, dan ternyata tangan Dinar yang sedang dia genggam, Dinar yang merasakan gerakan, dia langsung terperanjat dan bangun dari tidurnya.


"Dad..." panggil Dinar, yang ternyata Arsya sudah bangun, dengan segera dia memeriksa demamnya.


"Syukurlah demamnya sudah turun. " lega Dinar karena keadaan Arsya membaik.


"Aku ingin minum sayang.... " pinta Arsya pada Dinar, entah mengapa tenggorokannya terasa kering, mungkin karena efek dari sakit. Dinar segera mengambilkan minumnya dan membantu untuk meminumkannya.


"Sebenarnya ada apa dad? sampai-sampai kamu tertidur di bathup? apa yang sedang kamu pikirkan?." Dinar bertanya tanpa jeda, karena ini adalah hal aneh yang baru terjadi pada suaminya.


"Aku akan ceritakan nanti, sekarang lihatlah kembar imut sedang menatap kita." Dinar langsung melihat ke tempat yang Arsya lihat, dan ternyata benar Karla dan Katrin sudah berdiri di ambang pintu.


"Daddy.... " panggil Katrin dengan wajah berseri, membuat hati Arsya menjadi lebih tenang, obat penyemangat nya adalah kedua putri kembarnya.


"Apa daddy sudah sembuh bunda? boleh kan aku peluk?." tanya nya, mereka sudah tahu jika daddy mereka sakit.


"Boleh sayang, kemarilah daddy merindukan kalian." Katrin langsung memeluk tubuh daddy nya dengan erat, baru satu hari saja tidak bertemu mereka sudah sangat merindukan daddy mereka. Karla hanya menatap keduanya, hatinya ikut bahagia melihat daddy nya sudah membaik.

__ADS_1


Dengan pelukan dari putrinya sudah menjadi penyemangat dalam hidup nya, dia hanya banyak pikiran dan lupa jika kedua putrinya sudah menunggu nya sembuh, meski dia melihat Karla hanya menatap saja, ya itu memang sudah sifatnya, maka Arsya tidak heran.


"Putri kembar daddy akan berangkat sekarang? belajar lah dengan baik ok.... daddy sudah baik-baik saja.... " ucapnya lemah lembut dengan senyuman manis nya. Katrin mengecup pipi daddy nya dengan kegembiraan mendengar jika daddy nya baik-baik saja, dan sudah kembali sehat meski masih terlihat sedikit pucat.


"Ayo kita berangkat.... " ajak Karla dingin tanpa mau berbasa-basi dengan sang daddy, Arsya hanya menggeleng melihat betapa dinginnya putrinya yang satu ini.


"Daddy bunda kami berangkat ok, daddy harus segera pulih dan jangan sampai sakit lagi.... " nasehat Katrin membuat mereka tak bisa berkata, di umurnya yang masih belia mampu berbicara dengan lancarnya.


"Ok sayang..... " Dinar pun ikut keluar untuk mengantar kedua putrinya, agar nantinya tidak ada barang yang tertinggal untuk kegiatan sekolah. Setelah kepergian keduanya Dinar kembali ke kamar Arsya untuk mengganti pakaian Arsya dan juga membersihkan tubuh Arsya, dia masih sedikit demam, jadi belum bisa melakukan kegiatan seperti biasanya.


"Aku akan mengganti pakaian dan membersihkan tubuhmu dad... " Dinar duduk di samping ranjang dan mulai membuka pakaian Arsya, entah kenapa ada rasa aneh menjalar dalam tubuhnya. Arsya menatap Dinar tanpa berkedip, dia juga sama merasakan hal aneh. Karena mungkin ini saatnya dia meminta hak nya sebagai suami, sudah beberapa jari sejak mereka sah menjadi suami istri, dia sama belum sempat menyentuh Dinar, apalagi setelah banyaknya tragedi yang terjadi.


"Bolehkah aku meminta sekarang? entah kenapa aku menginginkan nya sayang?." bisik Arsya tepat di telinga Dinar, nafas hangat nya menusuk jauh ke dalam, hingga membuat getaran jantungnya memompa begitu hebat, seakan ada sengatan.


"Ah.... tapi... akuu. " ucapnya tergagap seketika pipinya memerah. Sebenarnya dia juga ingin melakukan hal itu pada Arsya, karena itu adalah kewajiban dia sebagai istri, meski memang dia belum sepenuhnya mencintai Arsya, tapi lambat laun pasti dia akan jatuh hati pada suaminya.


Karena sudah terlanjur gugup akhirnya Dinar mengangguk, perlahan Arsya menarik lembut tangan Dinar, sudah lama dia merindukan tubuh Dinar, sejak delapan tahun lamanya. Kini mereka sudah berada di atas ranjang, sebenarnya Dinar tidak tega melihat kondisi Arsya yang kurang sehat.


Tatapan Arsya sudah di penuhi ketidaksabaran dan penuh dengan gairah, Arsya membuka pakaian miliknya yang tadi sempat di buka Dinar, dia mulai mendekatkan wajahnya kehadapan wajahnya Dinar, hingga kini jaraknya sangat dekat.

__ADS_1


"Aku tidak akan melakukannya dengan kasar sayang, maaf karena pernah menyentuh mu tanpa ikatan sah, tapi kali ini kita akan melakukannya dengan penuh cinta." ucap Arsya dan membawa Dinar pada kenikmatan sesungguhnya, mereka telah larut dalam alunan kerinduan yang baru saja terbayar. Arsya tahu jika Dinar belum terlalu membuka hatinya untuk dirinya, tapi dia sangat yakin bahwa sebentar lagi Dinar akan luluh.


Arsya melakukannya dengan kehati-hatian, begitu juga dengan Dinar yang tanpa keterpaksaan, akhirnya dia telah menjalankan kewajiban nya, akhirnya mereka sama-sama melakukan dengan keinginan yang sama.


Dinar menerimanya dengan lapang dada, karena dia yakin bahwa ini adalah yang terbaik, dan dia meyakini bahwa kebahagiaan akan hadir meski penuh dengan air mata. Mereka telah selesai melakukannya, Arsya memeluk erat Dinar begitu juga dengan Dinar.


"Terima kasih karena masih mau menerimaku.... kita akan bangun keindahan bahtera rumah tangga ini dengan baik.... kita akan mengurus anak-anak kita, bersama melalui lika-liku pernikahan ini." Arsya sangat bersyukur di pertemukan dengan Dinar, meski dengan jalan yang sulit. Dinar tidak bisa berkata apapun yang pasti dia sangat bahagia, terlihat karena dia semakin memeluk erat tubuh Arsya.


Akhirnya mereka terlelap tanpa sehelai benang pun, saling memeluk dengan erat, seakan tidak boleh ada yang memisahkan mereka.


💕💖💕💖💕💖💕


Sementara Rifa masih mengurung diri di kamarnya, dia masih memikirkan kematian Alan, dia tahu bukan Arsya yang melakukan hal itu, Rifa mendengar ada suara pistol yang suaranya tidak jauh dari tempat Arsya dan Alan berkelahi.


Dia sangat yakin ada dalang di balik semua ini, dan hal ini harus segera di bicarakan.


"Aku harus segera bicarakan ini... aku khawatir di masa depan akan terjadi kegaduhan yang lebih besar setelah kejadian ini." gumamnya, entah kenapa ada perasaan tidak enak pada hatinya, dia khawatir akan terjadi hal besar nantinya, memang tidak mungkin sekarang, tapi di masa mendatang dia takut akan ada yang lebih menakutkan daripada ini.


Setelah berkecamuk dengan pikirannya, Rifa pun bergegas pergi untuk membicarakan hal ini pada Arsya dan yang lainnya, dan mengatur segala nya.

__ADS_1


__ADS_2