Putri Kembar Sang Psychopath

Putri Kembar Sang Psychopath
72- Hanya di Manfaatkan


__ADS_3

Seminggu kemudian......


"Nia kapan kamu berangkat ke Jepang?."tanya Dinar. Karena sudah lama Dania belum ke Jepang.


"Tumben nih nanya mulu? kenapa kangen ke Jepang kamu?." sebenarnya Dania jarang menemui Dinar, karena pekerjaannya sangatlah sibuk, jadi batu sekarang dia berkunjung lagi, paling mereka hanya bertukar pesan.


"Eh malah nanya balik, udah jawab aja napa, soalnya kan udah lama banget kamu belum balik kerja kesana."


"Aku kasih tahu ya sahabatku, kontrak ku udah habis jadi ya pulang lah, ini kan negara kelahiran ku, jadi ya sekarang aku kerjanya di sini aja biar lebih deket sama keluarga." jelasnya.


"Oh begitu, lalu kapan kamu menikah? sahabatku nggak boleh sendiri terus nggak baik udah berumur." Dinar ingin sekali melihat sahabat dekatnya menikah dengan bahagia.


"Kalau masalah nikah belum siap sekarang, soalnya belum nemu yang cocok, pasti nikah kok aku kalau udah waktunya."


"Iya aku doakan semoga cepet nemu yang bener-bener cocok sama kamu, dan yang baik segalanya."


Mereka mengaminkan bersama, tiba-tiba terdengar suara mobil memasuki pelataran luas milik mansion pribadi Arsya. Dinar segera menemui nya, yang ternyata memang Arsya, dia baru saja menemui ayahnya.


"Aku pulang sayang." Arsya mengecup kening sangat istri lembut, dan memasuki mansion bersama. Dan di susul. Aryan di belakang mereka. Dania melirik kilas lelaki dengan postur tubuh yang lumayan tinggi, mungkin sekitar seratus tujuh puluh limaan, dengan tubuh indah meski tertutup oleh setelan kemeja.


Karena merasa di perhatikan Aryan hanya menatap balik siapa yang melihatnya, dan kembali pada mode cueknya.


"Idih cuek banget tuh cowok." batinnya menatap punggung Aryan yang menjauh dari pandangan nya. Selang beberapa saat Arsya sudah akan pergi lagi, dan di ikuti oleh Aryan.


"Sayang aku ada kepentingan mendadak mungkin akan pulang terlambat." muachhh kecupan lagi yang kini bukan hanya kening, dia juga mengecup sekilas bibir istrinya.


"Iya ya sudah hati-hati dad." Dinar menunggu hingga mobil suaminya keluar halaman mansion.


"Nar tadi yang ngikut sama suami kamu siapa?." tanya nya penasaran, entah kenapa wajah nya tidak asing di penglihatannya.


"Oh dia Aryan, orang kepercayaan suamiku, apa kamu tertarik?." goda Dinar, bisa saja Dania tertarik dengan bawahan suaminya. Wanita mana yang tidak tertarik dengan Aryan, dia tampan, mapan dan kaya, meski bekerja dengan orang lain, tapi Dinar tahu kalau Aryan punya bisnis sendiri.

__ADS_1


"Eh nggak kok, kan tanya aja orang cuek kaya dia gak akan buat aku tertarik." elaknya, sebenarnya Dania sedikit kepo dengan Aryan, pasalnya wajahnya mirip dengan seseorang yang dia kenali.


"Awas ya nanti kepincut kamu."


"Nggak Nar nggak akan."


Arsya menuju villa yang sudah Aryan siapkan, dan benar saja Hayfa datang menemuinya, permainan ini semakin menarik.


"Jangan sampai Dinar tahu, ini adalah rencana kita untuk menjebak musuh."


"Baik tuan."


"ItuΒ Β akibat dari pengkhianatan mu padaku, maaf mungkin sekarang aku akan memanfatkan mu." Sebenarnya Arsya tidak mau melakukannya, tapi karena Hayfa bekerja sama dengan sang dalang, maka Arsya harus memanfaatkan semua itu untuk membuka kedok sang musuh.


Butuh waktu lama membuat Arsya percaya jika itu hanya kebohongan, tapi setelah menyelidiki lebih dalam hal itu adalah benar adanya, dia kecewa, teman masa kecilnya berkhianat padanya, karena telah di butakan oleh cinta terhadapnya, padahal Arsya berulang kali mengingatkan, tapi pada akhirnya Hayfa malah membantu sang dalang untuk menghancurkan keluarga nya.


"Memang kau baru memulainya dengan memanfaatkan Hayfa, tapi aku akan tetap waspada." gumamnya, dan beranjak turun dari mobil memasuki villa.


"Jangan sentuh aku." Arsya sedikit mendorong tubuh Hayfa untuk menjauh darinya.


"Akhirnya kamu mau menerima ku, dan mengizin kan aku tinggal di villa ini." Arsya tidak menyaut, dia berjalan menuju ruang tamu.


"Duduklah."


"Kau boleh tinggal di villa ku, tapi jangan sampai Dinar mengetahuinya, dan dengan syarat penuhi apa yang aku mau."


"Wahh ternyata kamu bersembunyi agar tidak di ketahui istrimu, apakah wanita itu tidak memenuhi semua yang kamu butuhkan?."


"Tutup mulutmu, jangan kau sebut wanitaku seperti itu." geram Arsya, dia tidak rela jika ada yang menghina wanitanya.


"Oh lalu kenapa kamu meminta ku untuk memenuhi apa yang kamu mau? itu berarti istrimu tidak berguna." Hayfa terus mengejek Dinar, dan itu membuat Arsya naik darah. Tapi demi rencana ini berhasil dia harus memendam nya kuat-kuat.

__ADS_1


"Ikuti saja apa yang aku katakan, dan tidak usah banyak bicara!!." ucapnya penuh tekanan, hal itu membuat Hayfa diam.


"Baiklah.... "


Malamnya dengan rencana yang sudah Arsya rancang, dia sudah menaruh kamera tersembunyi untuk melihat keseharian apa saja yang Hayfa lakukan, Arsya juga sudah menyadap tas milik Hayfa, aksesoris dan juga mobil miliknya, Arsya sudah melakuknnya dengan amat sempurna, bahkan pemiliknya tidak menyadari hal itu.


"Tetap pantau dia, jangan sampai lengah." titahnya kepada Dafa.


"Tenang saja aku akan tetap mengwasinya,aku tak menyangka sahabat kecilmu bekerja sama dengan sang dalang." Dafa masih tidak menyangka hal itu, karena Hayfa adalah sahabat Arsya sejak kecil, dan keluarga besar Azhar sudah menganggap dia seperti keluarga mereka sendiri, namun Dinar belum tahu akan hal itu, Arsya belum membritahukannya.


Arsya menyudahi panggilan telponnya, Rifa juga masih tidak percaya, Hayfa di jadikan alat oleh nya, mungkin dengan mengawasinya bisa memperlihatkan kebenaran yang sesungguhnya.


"Apa kamu sudah yakin dengan hal ini Sya? lebih baik kamu ceritakan pada Dinar tentang hal ini, agar tidak terjadi salah faham." Rifa punya firasat buruk tentang rencana baru Arsya.


"Semua akan aman,aku akan beri tahu Dinar nanti, jika semua sudah terselesaikan." Arsya masih tetap kekeh melakukan hal itu tanpa Dinar ketahui, sebenarnya itu agar tidak membuat Dinar khawatir, tapi tetap aja itu membuat Rifa tidak tenang.


"Terserah kau saja, tapi berhati-hatilah aku punya firasat buruk akan rencana barumu ini." peringatnya lagi, karena dia tidak mau hal buruk terjadi pada sahabatnya, cukup satu saja yang meninggalkannya, dan Rifa tidak mau hal seperti itu terulang kembali.


"Aku akan berhati-hati."ucapnya dengn yakin. Rifa sudah tahu karakter Arsya memng sangat keras kepala, bahkan sang berambisi agar semuanya berjalan mulus.


"Aku percaya padamu." Setelah itu Arsya pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.


πŸ’•πŸ’–πŸ’•πŸ’–πŸ’•πŸ’–πŸ’•


"Bagaimana? apa kau sudah bertemu Arsya?."


"Sudah bahkan dia mengizin kan aku tinggal di villa miliknya."


"Bagus...tetaplah disana sampai rencana kita berhasil." Dafa mendengarkan lewat penyadap yang sudah Arsya buat, benar saja Hayfa pasti akan terus menemui sang dalang, tapi mereka masih belum tahu sebenarnya siapa orang itu, sekarang mereka hanya bersikap seolah semuanya baik-baik saja, agar penjahat tidak curiga.


"Ternyata prediksi kakak benar, jika Hayfa pasti akan menemui pelaku sebenarnya untuk beberapa kali." gumamnya, Dafa masih mendengarkan percakapan mereka.

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang mereka rencanakan? dan Hayfa sangat antusias sekali, aku takut hal ini akan merusak segalanya."


__ADS_2