Putri Kembar Sang Psychopath

Putri Kembar Sang Psychopath
77-Mulai Curiga


__ADS_3

Malam ini semakin sunyi dan sepi, hanya ada suara detik jam yang menemani tengah malam. Setelah beberapa bulan terakhir perasaan Dinar semakin tidak tenang, ada sedikit rasa takut dalam hatinya, yang selalu menyelimuti.


Matanya menatap kosong taman luas yang ada di balik bagunan megah tersebut, dia duduk di sofa yang bertempat di balkon kamarnya. Pikirannya kalut dan sangat riuh, bahkan sulit untuk dia jelaskan.


"Sebenarnya ada apa dengan nya akhir-akhir ini... dia jarang ada waktu untukku dan juga keluarga, apa ada yang sedang dia sembunyikan?." gumamnya matanya masih belum bisa terpejam, meski sudah larut malam, dan tanpa adanya Arsya di sisinya.


Bohong jika dia tidak kesepian, bohong jika dia tidak merindukan, Dinar amat merindukan pelukan dari Arsya, sifat lemah lembutnya, bahkan sifat yang sangat dia sukai ada pada suaminya, tapi beberapa bulan terakhir ini Dinar belum merasakan kembali kehangatan itu.


Padahal Dinar sedang mencoba untuk percaya sepenuhnya pada Arsya, tapi hal itu masih belum cukup, bahkan yang di takutkan nya sudah terjadi akhir-akhir ini.


Lamunannya tetap terjaga sampai tak terasa air matanya menetes di pipi mulusnya. Dinar mengusap air mata tersebut, dia tidak mau kesedihannya di ketahui oleh orang lain.


"Ini yang kamu sebut mencintai? bahkan di saat sibuk kamu tidak meluangkan waktu mu.... " Dinar tidak menyangka hanya dalam dua tiga tahun Arsya benar-benar berubah. Benar kata pepatah manusia itu mudah berubah.


Di saat suasana sangat hening Dinar mendengar pintu kamarnya terbuka oleh seseorang, dan yang pasti itu adalah Arsya. Terlihatlah berjalan menghampiri nya, dirinya amat rindu pada istri nya.


"Kamu belum tidur sayang?." tanya nya, tidak biasanya Dinar belum tidur.


"Hanya terbangun saja, aku akan siapkan air mandi dan juga baju gantimu." Dinar langsung pergi, sebelum Arsya mendekat padanya, dia tidak mau terlihat cengeng di hadapan suaminya yang berubah sibuk.


Arsya bingung dengan sikap Dinar yang seperti bukan dirinya, dia pun kembali ke dalam dan menunggu Dinar selesai. Sekitar lima menit air mandi nya sudah siap, Arsya pun segera membersihkan diri, karena badannya sudah lelah.


Selesai membilas tubuhnya terlihat pakaian ganti yang sudah tersedia di ruang ganti, dia melihat Dinar sudah membaringkan tubuhnya di ranjang, dan membelakangi nya, Arsya masih bingung, sebenarnya istrinya kenapa, tapi karena sudah terlalu lelah Arsya pun hanya memandangi punggung istrinya, hingga matanya terlelap dengan sendiri nya.


Dinar berbalik melihat Arsya yang sudah terlelap mengarungi dunia mimpinya.


"Akhir-akhir ini aku merasa ragu padamu dad.... aku merasa sikapmu berubah padaku dan juga anak-anak, kamu tidak seperhatian dulu, sekarang kamu terlalu sibuk." gumamnya, dia menatap wajah suaminya yang sangat tampan ketika sedang tertidur, Dinar benar-benar ragu lagi pada Arsya.


Dinar pun ikut terlelap dengan kesedihan di hati nya yang belum mereda, dia berharap dengan tertidur semuanya akan kembali normal lagi.


Paginya Dinar sudah menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya, karena Karla dan Katrin masih di rumah Dinar tidak boleh memperlihatkan kesedihannya.

__ADS_1


"Ayo nak sarapan sudah siap... waktunya makan." panggil Dinar kepada ketiga anaknya.


Si kembar dan juga Andra sudah turun dan menunggu di meja makan, karena daddy mereka masih belum bangun, Dinar sedang pergi membangunkannya.


"Daddy sangat sibuk ya kak...? padahal Andra ingin main dengan daddy." keluh Andra, dia juga merasakan bahwa daddy mereka amat sibuk.


"Iya sudah satu minggu setelah kita kembali dari asrama, aku belum sarapan bersama daddy." Katrin juga merasakan hal yang sama.


"Sudah nanti saja bahas itu, daddy sudah datang." Karla menghentikan keluhan mereka, karena Arsya sedang berjalan menuju meja makan.


"Selamat pagi sayangku semua..... " sambut Arsya dengan ceria, dan antusias.


"Pagi dad.... " jawab Katrin dan Andra bersamaan, kalau Karla jangan di tanya, dia bahkan sudah menyantap makanan nya sedari awal.


Arsya hanya menghela nafasnya kasar, kelakuan Karla sangat mencerminkan dirinya, dan membuat nya mengingat masa dulu.


Hanya ada keheningan di meja makan, karena sedari tadi Dinar hanya diam, bahkan yang biasanya bertanya pada anak-anaknya kini dia hanya fokus pada makanan nya.


"Iya sayang habiskan ok." Dinar menuangkan kembali susunya ke dalam gelas yang di pakai Andra.


"Oh iya bunda apa aku dan kakak boleh keluar mansion? ada tugas dari sekolah dan kami belum membeli barangnya, jadi aku dan kakak akan membeli hari ini." jelasnya, sebenarnya itu hanya dalih agar mereka bisa keluar, karena ada sesuatu yang harus mereka urus.


"Iya bunda kami minta izin."


"Iya boleh sayang, tapi jangan terlalu lama ya, harus kembali sebelum petang." ucapnya, Dinar memberikan izin dengan di jangka waktu nya. Karla melirik kilas wajah sang bunda, di matanya ada kesedihan mendalam.


"Makasih bunda.... " senang Katrin, akhirnya rencana mereka berhasil.


"Memangnya tugas apa sayang?." tanya Arsya penasaran, sudah lama dia tidak menanyakan keseharian si kembar dan juga Andra, karena kesibukan nya.


"Ohh itu dad kami di suruh membeli alat musik pribadi, karena akan ada praktek seni budaya musik, tapi karena kami belum memilikinya secara pribadi jadi kita akan membelinya." jelasnya lagi, yang memang Karla ataupun Katrin tidak begitu menyukai musik, jadi mereka juga tidak membelinya.

__ADS_1


"Begitu rupanya... kenapa tidak membawa yang di mansion saja?." tanya Arsya, padahal di ruang karaoke milik nya banyak alat musik.


"Itu kan untuk hiburan keluarga, jadi kakak ataupun aku tidak akan memakai itu dad, apalagi kan kita akan membawanya ke sekolah asrama kami." Katrin masih tidak mau kalah.


"Baiklah... baiklah....Bagaimana kalau daddy yang antar?." Arsya sudah tidak bisa berdebat lagi, karena dia tahu kalau Katrin sangat keras kepala seperti Dinar.


"No dad kami tidak mau pulang menggunakan taksi... " tolak nya dengan bibir manyunnya.


"Baiklah kalau kalian menolak." Arsya sudah tidak bisa memaksa mereka berdua, Andra hanya memperhatikan perdebatan mereka, rasanya kerinduan itu sedikit terobati. Andra adalah tipe anak yang pembawaannya tenang dan tidak banyak bicara, tapi dia mudah berbaur dengan orang lain, meski terlihat cuek.


Dinar juga tersenyum tipis, dia penasaran dan curiga dengan suaminya, mungkin Dinar akan mencari tahu sendiri. Memang wanita selalu seperti itu, selalu mencari tahu sesuatu yang membuatnya sakit hati, tapi karena Dinar sudah tidak tahan dengan hal ini, jadi apapun itu akan Dinar lakukan demi rumah tangganya.


Selesai sarapan Karla dan Katrin segera bersiap untuk pergi, mereka di antar oleh supir pribadi menuju tempat tujuan, Arsya juga berpamitan untuk pergi bekerja.


"Aku berangkat dulu sayang..... " pamitnya, tak lupa Arsya mengecup kening Dinar lembut, dan Dinar juga mengecup punggung tangan suaminya.


"Iya hati-hati dad." singkatnya dengan tersenyum seperti biasa, dia tidak mau Arsya tahu kesedihannya.


"Bunda are you ok?." tanya sang putra yang melihat wajah bunda nya bersedih.


"Apa ada masalah dengan daddy...?." Andra masih melontarkan pertanyaan, dia khawatir dengan ibunya.


"No sayang.... bunda baik-baik saja." ucapnya dan berusaha tersenyum.


"Oh syukurlah bunda, jika bunda tidak baik katakan saja padaku ok." Andra sangat perhatian, dia tidak mau jika bundanya bersedih, Andra hanya ingin bunda nya selalu bahagia.


"Iya sayang bunda janji akan mengatakan padamu jika sedang bersedih."


"Janji ya bunda.... " mereka menautkan jari kelingking nya, Dinar senang memiliki anak yang perhatian pada nya, meski terkadang mereka menyulitkan nya, tapi mereka bertiga adalah kebanggaan nya.


"Tentu saja pangeran ku." Dinar menyentuh hidung Andra gemas, dia bisa tersenyum kembali, memang benar apa yang di katakan banyak orang tua, bahwa anak adalah obat sekaligus penyemangat, ketika hati kita sedang berkeluh kesah.

__ADS_1


__ADS_2