
Kenzo sudah bertemu dengan sahabat dekat Dinar, namun dia juga tidak menemukan celah apapun, karena pada saat Dinar pergi Dania sedang Dinas di luar ibu kota. Dania juga tidak habis pikir Dinar pergi tanpa berpamitan padanya, bahkan Dinar langsung lost kontak dengannya.
Dia akan mengatakan hal sejujurnya tentang perasaan dia terhadapnya, namun malah Dinar pergi, bahkan sampai saat ini Dinar masih belum tahu di mana keberadaan nya.
"Sial.... bahkan tidak ada celah sedikitpun, sebenarnya kemana Arsya membawa nya pergi." kesal Kenzo, dia tidak menyangka akan terjadi hal serumit ini.
"Bagaimana Zen.... apa kamu sudah mengetahui keberadaan Dinar?." tanya Kenzo dari sambungan telepon, dia sudah menyuruh Zeni untuk mencari keberadaan Dinar saat ini.
"Sudah tuan, namun ini terlampau jauh dari Jepang, karena target berada di negara lain, tapi saya masih mencari tahu keberadaannya saat ini." jelas Zeni, yang sudah tahu jika Dinar sudah tidak ada di Jepang.
"Baguslah, jika sudah menemukan keberadaan nya langsung hubungi aku." ucap Kenzo dan langsung mematikan sambungan telepon nya.
"Dasar bos kurang ajar....... " kesal Zeni. Setelah menelpon Zeni pun pergi melanjutkan pencarian Dinar.
"Menyusahkan sekali wanita ini, sampai bos menyuruhku mencarinya, apalagi sampai ke negara orang." gerutunya kesal, Zeni sudah berada di indonesia, karena Dinar sudah tidak bisa di lacak, jadi dia terpaksa mencari ke lokasi Dinar yang saat ini ternyata sudah di Indonesia.
Zeni juga membawa beberapa orang untuk membantunya mencari Dinar beserta tempat tinggalnya.
💕💖💕💖💕💖💕
Hari sudah menjelang pagi Arsya sudah di pindahkan ke ruang rawat VIP, karena kondisinya sudah stabil, semua keluarganya sedang menunggu dia sadar. Sementara Dinar sudah menemukan rumah sewa sementara untuk mereka bertiga tinggali.
"Bunda aku ingin tahu bagaimana keadaan daddy.... " ucap Katrin yang sangat ingin tahu keadaan daddynya, namun seperti yang sudah di katakan Dinar semalam mereka hanya bisa berdoa.
"Daddy pasti akan baik-baik saja Katrin, ada dokter yang sudah merawatnya." Jawab Karla agar Katrin berhenti menanyakan daddynya pada Dinar. Karla tahu jika bundanya sedang tidak baik-baik saja.
"Ayo sayang saatnya sarapan." Dinar mengalihkan pembicaraan, mereka pun sarapan bersama dengan pikiran berkecamuk mereka masing-masing.
Setelah selesai sarapan Dinar berpamitan kepada keduanya dia akan mencari pekerjaan.
"Bunda akan pergi dulu mencari pekerjaan, kalian di rumah saja tidak usah bersekolah dulu untuk saat ini, jika sudah ada uang yang cukup, bunda akan memindahkan sekolah kalian." jelas Dinar, dia sudah tidak mau lagi berurusan dengan keluarga Arsya.
"Iya bunda hati-hati di jalan, kami berdua akan tetap di rumah." ucap Karla mengerti begitu juga dengan Katrin. Dinar mengecup kening keduanya bergantian, setelah itu dia berlalu pergi.
Setelah kepergian Dinar, Karla dan Katrin masuk ke dalam rumah, mereka hanya saling diam tanpa bicara.
"Kita harus bisa mengerti perasaan bunda Katrin, bunda sedang tidak baik-baik saja, dan jangan menanyakan soal keadaan daddy, apa kamu mengerti." jelas Karla sebagai seorang kakak, saat ini mereka harus bisa mengerti situasi.
"Iya Kak.... aku paham situasinya, tapi kenapa daddy belum memberitahu kepada semua kekuranganya kalau kita adalah putrinya? jika kejadiannya menjadi seperti ini lebih baik kita tidak usah ikut daddy saja." ucapnya, Karla juga mengerti situasinya, ini adalah situasi sulit, bahkan membuat kedua anak kembar ini sadar. Ingatlah bahwa keduanya adalah anak kembar dengan pemikiran dewasa dan sangat tahu mana yang benar dan salah.
"Sudah semua sudah terjadi, yang bisa kita lakukan sekarang adalah selalu membuat bunda bahagia dan tersenyum lagi, dan satu hal lagi jangan samarinda kita merepotkan bunda." tambah Karla, Katrin mengangguk mengerti.
Dengan mereka bersikap seperti ini mungkin akan mengurangi beban bunda mereka. Sementara Dinar mencari pekerjaan berharap hari ini doa bisa langsung mendapatkan pekerjaan.
"Jika pada akhirnya menjadi seperti ini, lebih baik sejak awal aku menolak untuk ikut kemari, jika pada akhirnya kedua putriku tidak kau perkenalkan pada keluarga mu, aku tidak akan pernah memberi izin padamu membawa mereka kemari, semua yang kau ucap hanyalah kebohongan belaka. " gumam Dinar, jika dia bisa memutar kembali waktu, dia tidak akan pernah mau untuk mengizinkan kedua putrinya untuk ikut dengan Arsya.
__ADS_1
Karena melamun Dinar tidak sengaja menabrak seorang lelaki membuatnya tersadar seketika.
"Aduhh..... " keluhnya dengan suara keras.
"Maaf tuan.... maafkan saya.... " ucap Dinar meminta maaf, karena dia tahu jika lelaki itu merasakan sakit.
"Dinar...... " panggil lelaki itu, ketika dia tahu bahwa yang bertabrakan dengannya adalah wanita yang sedang di carinya. Dinar sontak langsung melihat lelaki tersebut yang tahu namanya.
"Z-zeni.... " Dinar terkejut ternyata lelaki itu adalah Zeni.
"Ternyata kamu ada disini, kukira kamu masih berada di sekitar Jepang." Zeni pura-pura tidak tahu, agar Dinar tidak curiga.
"Sedang apa kamu disini Zen?." tanya Dinar langsung yang tahu jika itu adalah Zeni rekan kerjanya di Jepang.
"Aku sedang ada tugas di Indonesia, jadi aku disini." singkat Zeni tanpa panjang lebar.
"Berarti tuan Kenzo ada di sini?." tanya Dinar lagi.
"Tidak ada aku sendirian, karena di Jepang masih banyak pekerjaan jadi tuan Kenzo yang menyuruhku datang ke negara ini." jelasnya, padahal kenyataan nya tidak, dia datang atas suruhan Kenzo untuk mencari Dinar.
"Kamu mau pergi kemana? dimana putri kembarmu?." tanya Zeni yang melihat penampilan Dinar yang rapih, sementara dia tidak melihat kedua anak Dinar.
"Aku mau mencari pekerjaan, kalau Karla dan Katrin ada di rumah." terangnya. Zeni mengeryitkan dahinya, bukankah Dinar pergi bersama Arsya, dan kenapa sekarang Dinar harus bekerja, pertanyaan itu berputar di kepalanya.
"Bukankah kamu pada waktu itu bersama Arsya pemilik perusahaan terbesar di seluruh negeri? lalu sekarang dimana dia?." tanya Zeni, yang membuat mood Dinar kembali buruk.
"Kamu masih tetap keras kepala rupanya, ya sudah aku juga tidak peduli dengan masalahmu." kesal Zeni, ternyata teman kerjanya belum berubah, apalagi sifat keras kepalanya.
"Bukan urusanmu, ya sudah aku permisi." Dinar pun melangkah pergi, namun belum dia melangkah Zeni lebih dulu menghentikan nya.
"Tunggu.......apa kamu tidak ingin meminta izin pada tuan Kenzo? dia mencarimu, bukankah pada saat kamu resign dia tidak ada, dan aku kena omel karena pada saat itu aku terpaksa mengizinkan." Dinar mencerna perkataan Zeni.
"Aku akan meminta izin jika aku bertemu dengannya, saat ini aku belum bisa menemuinya." elak Dinar, dia tidak sepenuhnya salah, sebenarnya dia juga tidak mau resign karena Kenzo sedang tidak ada.
"Dasar keras kepala..... " gumam Zeni kesal.
"Ya sudah aku permisi.... " dia pun pergi, setelah kepergian Dinar Zeni segera mencari tahu tempat tinggal Dinar, mungkin masih ada di sekitar sini.
💕💖💕💖💕💖💕
Arsya menggerakkan tangannya, dengan perlahan dia membuka kedua matanya, Dafa yang berada di sampingnya menyadari hal itu dan segera menekan tombol untuk memanggil dokter, sementara yang lainnya segera mendekat ke dekat brankar.
Arsya sudah membuka matanya, terlihatlah semuanya terkecuali Dinar dan kedua putri kembarnya. Arsya berusaha duduk namun Dafa melarangnya, Arsya masih harus berbaring sampai dokter selesai memeriksa keadaannya saat ini.
"Tetaplah berbaring nak.....sebentar lagi dokter akan datang." ucap Haya agar Arsya tenang. Dokter pun datang dan langsung memeriksa keadaan Arsya.
__ADS_1
"Keadaan nya sekarang sudah membaik, dan tidak ada yang perlu di khawatirkan, tinggal hanya pemulihan saja." jelas dokter itu, semuanya bernafas lega, akhirnya Arsya selamat dari maut.
"Dhafi dimana mereka?." satu kalimat yang keluar dari mulut Arsya. Dhafi sempat berfikir, dan dia mengingat siapa mereka. Dhafi melupakan sesuatu yaitu Dinar dan juga kedua putrinya, begitu juga dengan Aryan yang baru menyadari jika Dinar dan kedua nona mudanya tidak ada disini.
Dhafi tersadar, dia malah melupakan mereka, ini pasti akan jadi masalah, karena Dhafi juga tidak tahu kemana Dinar, memang tadi dia melihatnya masih ada disini, tapi sekarang mereka tidak tahu ada dimana, entah mereka kembali ke mansion atau pergi. Dan disitu Aryan dan Dhafi mulai gusar. Sementara Dafa juga berfikir karena sedari tadi dia juga tidak melihat mereka.
"Mereka siapa nak?." tanya Haya, sebenarnya sedari tadi Arsya menyebut nama seorang wanita, tapi Haya tidak terlalu menghiraukan apa yang Arsya katakan.
"Anu.... nyonya maaf karena hal penting ini belum tuan Arsya katakan pada anda, yang di maksud mereka itu adalah seorang wanita dengan kedua anak kembar perempuan." ungkap Aryan dengan terbata, membuat Haya dan juga Devan menatap Aryan dengan serius.
"Apa maksudnya ini? wanita dan kedua anak kembar itu siapa?." Haya semakin tidak mengerti apa yang Aryan katakan.
"Tenanglah mah, Arsya baru saja sadar kita tunggu penjelasan nya nanti saja." Devan berusaha menenangkan istrinya, sementara tatapan tajam Arsya terus mengarah pada Dhafi dan Aryan yang berdiri berjajaran.
Devan menyuruh Haya untuk duduk dulu menenangkan diri, dia tahu jika masih banyak pertanyaan yang harus dia lontarkan, apalagi tadi Haya berbicara pada Dinar dan berkenalan dengan kedua anak kembar tersebut.
"Kemana Dinar dan kedua putriku Dhafi? aku tidak melihat mereka ada disini?." tanya Arsya, kenapa disaat seperti ini mereka malah tidak ada di sampingnya. Haya hanya mendengar apa yang baru saja Arsya katakan, kata kedua putriku membuat dia tidak bisa berfikir positif, apa maksud semua itu.
"Tenanglah dulu Arsya.... pulihkan dirimu dulu, mungkin Dinar dan keduanya sudah kembali ke mansion." Dhafi berusaha menenangkan emosi Arsya, dia sadar jika dia teledor hingga melupakan mereka bertiga.
"Bagaimana aku bisa tenang jika mereka tidak disini, cepat hubungi mansion, cari tahu apakah mereka ada disana atau tidak." Arsya sudah tidak bisa tenang lagi sebelum memastikan jika ketiganya masih aman. Dengan cepat Aryan segera menghubungi mansion utama Arsya.
Tangan Aryan bergemetar mendengar jika Dinar dan kedua nona mudanya tidak kembali ke mansion, bahkan mereka tidak melihatnya sejak semalam. Dhafi yang melihat jika Aryan hanya mematung, dia pun mendekat dan bertanya.
"Ada apa Aryan? bagaimana apakah Dinar dan kedua anak kembarnya sudah berada di mansion?." tanya Dhafi yang juga penasaran, karena jika tidak ada pasti dia juga akan kena imbasnya.
"Kita akan kena masalah, mereka tidak kembali ke mansion tuan Arsya." ungkapnya membuat Dhafi melotot, mereka akan benar-benar kena imbas.
"Bagaimana? apakah mereka sudah berada di mansion ku?." tanya Arsya segera memastikan. Mereka berdua tidak berani mengatakan yang sebenarnya pada Arsya.
"Cepat katakan." tekan Arsya dengan wajah dinginnya yang tanpa ekspresi, membuat keduanya semakin tidak berani.
"S-sebenarnya..... maafkan kami tuan, nona Dinar dan kedua nona muda mereka tidak kembali ke mansion." ucap Aryan dengan tertunduk, jantungnya berdebar hebat seakan baru saja mengatakan hal tabu.
"Kalian sungguh tidak berguna.....!!." teriak Arsya dengan keras meluapkan emosinya, Haya dan Devan terkejut mendengar teriakan Arsya, mereka pun mendekat untuk menenangkan Arsya.
"Ada apa ini....? Arsya tenangkan dirimu." ucap Devan yang tidak tahu permasalahan apa yang membuat Arsya begitu marah.
"Cepat cari mereka, jika tidak menemukan aku yang akan pergi sekarang." titahnya sambil memegangi dadanya yang masih terasa sakit.
"Tidak kak kamu tidak boleh pergi, tenanglah mereka pasti akan baik-baik saja." Dafa juga berusaha memadamkan api amarah Arsya, jika dia sudah marah maka akan menjadi malapetaka. Haya dan Devan masih belum mengerti maksud mereka. Aryan dan Dhafi segera pergi mencari Dinar dan juga putri kembarnya.
"Tenang nak..... tenanglah dulu, lukamu masih belum sembuh." Haya juga ikut berusaha meski dia belum paham apa masalahnya, dia tidak mau kondisi putranya memburuk. Arsya hanya menghela nafas, di situasi seperti ini dia hanya ingin melihat orang yang di cintainya dan juga kedua putri kembarnya.
Arsya berbaring kembali, di pikirannya hanya mereka bertiga, dia takut jika Dinar membawa pergi lagi keduanya, Arsya hanya ingin mereka ada di samping nya terus, menjadi keluarga bahagia dan menjalin ikatan yang sempurna.
__ADS_1
"Aku mohon kembalilah Dinar jangan pergi lagi, aku tidak mampu berpisah darimu dan juga kedua putri kita." batinnya teriris perih, dia tidak mau berpisah lagi, apalagi mereka baru saja di pertemukan setelah sekian lama.