
Aryan dan Dhafi masih mencari keberadaan Dinar dan kedua putri kembarnya, mereka harus bisa menemukannya sekarang, jika tidak maka hanya akan ada malapetaka.
"Kemana nona Dinar membawa pergi kedua putrinya, aku bisa mati jika tidak menemukan mereka." keluhan Aryan, kemarin dia sudah lega dengan di temukan dan bersatunya tuan dengan orang yang di cintainya, sekarang mereka sudah tak tahu ada dimana.
Dhafi dan Aryan mencari ke tempat yang berbeda, karena jika mencari bersamaan mereka tidak akan menemukan keberadaan Dinar.
Sementara Haya dan Devan masih menunggu Arsya menjelaskan semuanya. Arsya hanya diam tak berbicara sepatah kata pun, dia yakin pasti mamah dan ayahnya sudah melihat Dinar dan juga kedua putri kembarnya, padahal rencananya adalah setelah dia benar-benar meyakinkan Dinar, dia akan langsung memperkenalkan Dinar dan juga kepada seluruh keluarganya, tapi sepertinya saat ini sudah terlanjur, dan semua rencana itu gagal.
"Nak..... apa yang sebenarnya terjadi? katakan pada kami semua? siapa wanita bernama Dinar itu?." Haya membuka topik pembicaraan, dia menanyakan segalanya, segala yang membuat dia penasaran dengan pembicaraan putranya tadi.
Arsya masih diam bahkan memasang wajah dingin dan datar, Dafa juga ingin segera mendengar semua nya dari mulut kakaknya. Dia memang sudah di beritahu, tapi dia masih belum percaya sepenuhnya, sebelum Arsya sendiri yang menjelaskannya.
"Jawablah Arsya... agar semua ini cepat terselesaikan, agar kami semua tahu apa masalah sebenarnya." Devan ikut berbicara, karena putranya menyembunyikan hal penting dari keluarga nya.
Masih hening, Arsya tidak menjawab apapun meski sang ayah sudah angkat bicara. Masalah ini sudah tidak bisa di sembunyikan lagi, tapi yang lebih bermasalah adalah kemana Dinar membawa kedua putri kembarnya pergi.
"Dia sungguh keras kepala.... kenapa malah pergi seharusnya dia lebih mengerti keadaannya sekarang?." batin Arsya kesal, disaat seperti ini seharusnya Dinar ada di sisinya.
"Aku tidak bisa menjawabnya sekarang mah, yah.... kita tunggu sampai Dinar di temukan." jawabnya dengan berwajah datar. Mendengar Arsya berbicara seperti itu, Devan dan Haya pun tidak bisa memaksa nya untuk berbicara.
💕💖💕💖💕💖💕
Kenzo sudah mendarat di bandara negara Indonesia, setelah Zeni menelpon dia langsung mengurus keberangkatan ke Indonesia. Dia sudah tidak sabar bertemu dengan Dinar dan juga kedua anak kembar Dinar.
Setelah bertemu dengan Dinar dia juga menemukan dimana Dinar tinggal, dia bertanya ke warga sekitar, untunglah Zeni mahir berbahasa Indonesia, jadi dia tidak perlu menerjemah perkataan masyarakat sekitar.
Zeni bertemu dengan Karla dan Katrin dan di persilahkan masuk, mereka tidak mengatakan apapun kepada Zeni, apalagi tentang permasalahan bunda dan daddy mereka.
"Bagaimana kabar kalian berdua?." tanya Zeni kepada keduanya.
"Kami berdua baik paman Zeni." jawab Katrin, dulu pada saat di Jepang mereka sering bertemu dengannya, karena Zeni adalah rekan kerja bunda mereka. Seperti biasa Karla hanya memasang wahh datarnya.
"Syukurlah kalau begitu, paman hanya mampir saja kesini jadi tidak apa-apa kan jika paman bertamu sejenak di sini?."
"Tidak apa paman, tapi maaf kami hanya bisa menjamumu dengan air putih ini." jelas Katrin, karena baru saja pindah jadi mereka belum memiliki persediaan makanan.
"Tidak apa terima kasih." ucap Zeni. Setelah berbincang sebentar Zeni pun pamit pergi, karena beberapa jam lagi Kenzo akan tiba di bandara.
"Aku curiga dia datang ke sini adik, apa kamu tidak curiga?." tanya Karla setelah kepergiaan Zeni, dia merasa jika Zeni memang sengaja datang kesana.
"Iya aku juga merasakan hal yang sama kak, kita harus berhati-hati sekarang."Karla dan Katrin tidak mau memperpanjang hal tersebut, mereka sedang tidak mau berurusan dengan hal yang tidak penting.
"Aku ingin bertemu dengan daddy kak.... apakah kakak tidak rindu pada daddy?."
"Aku merindukannya adik, tapi untuk sekarang kita harus lihat ketulusan daddy pada kita, apa kamu tidak melihat kesedihan di wajah bunda? bahkan setelah kita tinggal seminggu bersamanya, daddy masih belum memperkenalkan kita pada keluarga besarnya." Karla berbicara panjang lebar, mengenai hal tersebut, apapun itu dia akan melihat seberjuang apa daddynya untuk mereka berdua dan juga bunda mereka.
"Kamu benar kak..... baiklah aku mengerti sekarang, ayo kita lihat seberapa besar cinta daddy pada kita dan bunda." kini mereka akan percaya, jika ayah mereka benar-benar membuktikan dengan tindakan.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian......
Kenzo sudah mendarat di bandara Indonesia, Zeni sudah berada disana, Zeni sudah menyiapkan hotel untuk tempat istirahat atasannya. Baru setelah itu mereka akan pergi ke tempat tinggal Dinar dan juga kedua putrinya.
"Bagaimana apakah benar itu tempat tinggal Dinar?."
"Benar tuan, tapi Dinar sedang pergi keluar untuk mencari pekerjaan." Jelasnya, karena Dinar sedang keluar Kenzo memutuskan untuk menunggu Dinar kembali. Mereka pun menuju hotel untuk menyimpan barang dan beristirahat sejenak.
💕💖💕💖💕💖💕
Sementara Dhafi sudah menemukan dimana Dinar berada, begitu juga tempat tinggal yang saat ini mereka bertiga tinggali. Lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah sakit, dan itu memudahkan mereka untuk membawa kembali ketiganya.
"Beres, sekarang tinggal beritahu Arsya." Dhafi pun segera pergi untuk melaporkan pada Arsya.
Sementara Aryan juga sudah sampai di rumah sakit, dia tidak sengaja melihat Dinar sedang berjalan menuju sebuah minimarket, ketika Aryan memperjelas penglihatannya ternyata benar itu adalah Dinar, dia pun segera pergi untuk melapor pada Arsya.
Belum sampai di ruangan rawat Arsya, Dhafi juga sudah sampai disana untuk melapor, akhirnya mereka berdua bersama untuk memberi tahu Arsya. Mereka sudah sampai di ruang rawat Arsya, disana terlihat Arsya sedang diam dalam mode dingin nya, sementara Devan dan Haya masih duduk di sofa yang ada disana.
"Bagaimana? apa kalian sudah menemukan keberadaan Dinar?." tanya Arsya mengintimidasi tanpa menoleh ke arah Dhafi dan Aryan.
"Tenanglah dulu Sya.... aku tahu ini sangat penting bagimu." ucap Dhafi karena kesal dengan kelakuan Arsya saat ini. Arsya hanya menatap sinis sahabatnya itu, membuat Dhafi ikut kesal.
"Sudah cepat katakan sekarang di mana Dinar?." tanya Arsya lagi, jika Dhafi dan Aryan tidak menemukan keberadaan Dinar, maka Arsya akan pergi mencari sendiri.
"Kami sudah menemukannya, mereka tinggal di rumah sewa yang tidak jauh dari rumah sakit, mungkin sekitar satu kilometer jaraknya." jelas Dhafi, Haya dan Devan tidak ikut berbicara, mereka hanya ingin tahu siapa sebenarnya Dinar dan kedua anak kembar itu.
"Kak kamu mau pergi kemana? kakak belum diizinkan untuk keluar dari rumah sakit." cegah Dafa, karena keadaan Arsya baru saja pulih, bahkan dokter pun tidak mengizinkan.
"Iya nak..... jangan keluar dulu, kesehatan mu lebih penting sekarang." ucap Haya yang tidak mau terjadi hal buruk pada Arsya.
"Aku harus pergi sekarang mah, jika tidak dia akan pergi lebih jauh lagi." Arsya tetap memaksa pergi.
"Sudahlah mah biarkan dia, dia akan baik-baik saja." Devan tidak bisa mencegahnya, dia yakin ini adalah hal yang sangat penting baginya, sampai-sampai dia terus memaksa. Haya akhirnya menyerah dan mendengarkan apa yang di katakan suaminya. Tanpa menghiraukan ucapan Dafa dan ibunya Arsya pun pergi bersama dengan Dhafi dan juga Aryan.
💕💖💕💖💕💖💕
Hari sudah menjelang sore Dinar baru saja kembali dari harinya yang berat, dia sudah mendapatkan pekerjaan di minimarket sebagai kasir, dia bersyukur bisa mendapat pekerjaan meski gajinya tidak seberapa, karena itu untuk sementara waktu, nanti dia akan mencari pekerjaan di perkantoran agar Karla dan Katrin bisa melanjutkan sekolah.
Namun baru saja kakinya menginjakkan pintu rumah sewanya, matanya menangkap seorang lelaki tampan yang wajahnya tidak asing di matanya. Dan akhirnya Dinar ingat siapa lelaki itu.
"Tuan Kenzo..... "mata Dinar membelalak, ketika dia tahu ada mantan atasannya di rumahnya.
"Dinar.... "Kenzo berdiri dan mendekat ke arahnya, namun Dinar berusaha menghindar. Kenzo sangat senang bisa bertemu kembali dengan orang yang dia cintai, dan hari ini akan tiba saatnya dia menyatakan perasaan nya.
"Ada perlu apa anda sampai datang kemari tuan Kenzo? sekarang saya tidak ada hubungannya dengan perusahaan anda." Dinar sudah tidak mau bekerja di perusahaan Kenzo, karena mungkin dia tidak akan pernah kembali ke Jepang.
"Jangan salah paham Dinar, kedatanganku kesini memang karena dirimu, dan ada hal penting yang mau aku sampaikan." jelas Kenzo, ini adalah kesempatan bagus untuknya.
__ADS_1
"Baiklah katakan saja sekarang." singkatnya, dia sudah malas dengan hal ini. Zeni jadi kesal melihat Dinar yang tidak sopan pada atasannya.
"Apakah tidak bisa bicara lebih sopan? kenapa kau selalu bersikap seperti ini?." kesal Zeni, karena kelakuan Dinar yang tidak berubah.
"Sudahlah Zen tidak apa, mungkin dia sedang banyak pikiran." Kenzo tidak masalah dengan perlakuan Dinar. Memang benar kata pepatah seseorang yang benar-benar mencintai tidak akan pernah bosan dengan semua sifat orang yang dia cintai. Zeni hanya mendengus kesa, melihat berapa tuannya sangat mencintai Dinar, meski di perlakukan dengan tidak baik.
Tapi itu memang harus dilakukan, Dinar tahu jika Kenzo menyukainya, namun dia tidak bisa membalasnya, dan dengan cara seperti ini mungkin adalah hal yang terbaik, Dinar tidak mau bersikap seakan-akan dia menyukai, karena perilaku tersebut bisa membuat salah satu terluka, dan Dinar tidak mau hal itu terjadi.
"Katakan saja sekarang tuan Kenzo, maaf jika perkataan ku terlalu kasar." Dinar punya firasat tidak baik kali ini, melihat tatapan Kenzo yang berbeda dari biasanya, dan dia berjarak tidak terlalu jauh darinya, dan terus menatapnya penuh harap.
"Aku hanya ingin mengatakan hal ini di hadapanmu, selama ini tanpa kusadari ternyata ada rasa yang tidak bisa ku jelaskan. Banyak hal terjadi dalam kehidupanku, namun setelah kedatanganmu menjadi karyawan di perusahaan ku, aku mulai merasakan hal yang tidak terduga." ucapnya dengan sedikit bergetar, namun penuh dengan ketulusan, Dinar sudah tahu maksud dari perkataan Kenzo yang tertuju pada perasaannya.
"Aku selalu merasa tenang dan nyaman, meski ku tahu sifatmu memang keras kepala, tapi tidak tahu kenapa semakin hari aku mulai merasakan debaran hebat yang selalu terdetak dalam jantungku, dan aku sadar jika ini adalah perasaan cinta, dan kini rasa itu semakin dalam." Kenzo menarik nafas berat, rasanya beban itu sungguh dalam di hatinya, sehingga ketika Kenzo mengatakan hal itu perkataan nya terlihat sangat gugup.
Zeni hanya menatap kasihan pada tuannya, dia tahu jika Dinar tidak menyukainya, mungkin ada alasan lain, tapi yang pasti ini akan menjadi luka bagi Kenzo. Mata Dinar mengatakan jika dia tidak mau membebani Kenzo, apalagi yang di cintainya adalah wanita yang sudah memiliki anak, oleh karenanya Dinar bersikap cuek kepada siapa saja yang menaruh perasaan padanya, karena dia merasa tidak pantas untuk siapapun.
"Dan pada hari ini dengan sepenuh hatiku, aku menyatakan perasaanku terhadapmu, dan aku sungguh mencintaimu, mau kah kamu menjadi pendampingku Dinar?." Akhirnya kata itu terucap, kata yang tidak mau dia dengar akhirnya terlontar juga.
Bersamaan dengan hal itu ternyata Arsya sudah sampai disana, bagaikan di tusuk ribuan tombak, rasanya amat perih ketika ada laki-laki lain yang menyatakan cinta pada orang yang sangat dia cintainya, bahkan dia yang mendengarnya secara langsung. Hatinya merasakan sakit dan sesak, dia tidak pernah merasakan hati yang sesakit ini, namun dia hanya diam dengan wajah yang amat dingin, hatinya sudah terbakar api cemburu.
Tangannya mengepal erat, ingin sekali rasanya dia memukul wajah Kenzo, namun dia harus bisa menahan emosi, karena ada kedua anak kembarnya di dalam. Arsya berusaha mati-matian menahan amarah dan juga cemburu secara bersamaan.
"Brengsek kau Kenzo, untuk apa menyatakan hal itu di hadapan kedua putri kembarku, mereka malah mendengar hal tidak senonoh dari mulutmu itu." Arsya semakin marah, karena Kenzo menyatakan hal itu di hadapan putri kembarnya, perkataan yang seharusnya tidak mereka dengar, namun tanpa berfikir Kenzo malah berkata seperti itu.
Dhafi dan Aryan tahu apa yang sedang di rasakan Arsya, hingga akhirnya dia hanya mengalihkan emosinya karena ucapan Kenzo terdengar oleh putri kembarnya. Padahal di dalam hatinya ingin sekali Arsya mengamuk kepada Kenzo, karena telah berani menyatakan cinta kepada wanitanya.
Kenzo maupun yang berada didalam tidak menyadari adanya Arsya dan yang lainnya. Dengan langkah berat Arsya tidak mau mendengar terlalu jauh jawaban aa yang akan Dinar berikan.
"Kita pergi.... aku tidak sanggup mendengar apa yang akan Dinar jawab, nanti aku akan kesini setelah bajingan itu pergi." ucapnya dengan nada dingin, membuat Dhafi dan Aryan tidak bisa mencegah Arsya untuk tetap menunggu.
Arsya pun pergi meninggalkan tempat itu dengan hati yang masih amat sakit, namun daripada dia harus mendengar hal tidak mengenakan, dan akhirnya dia memilih pergi, nanti dia akan kembali setelah Kenzo pergi. Namun yang dia khawatirkan adalah telinga kedua putri kembarnya yang bersih kini ternoda.
Dinar masih membisu entah apa yang harus dia jawab, dia menatap kedua putrinya yang sedang tertunduk, rasanya sakit melihat keduanya hanya diam membisu, karena Dinar tahu mereka hanya menginginkan daddynya, tapi dia juga sadar jika Arsya belum memberitahu bahwa Karla dan Katrin adalah kedua anaknya kepada keluarganya.
"Tuan Kenzo aku tahu perasaanmu tulus dari hati, tapi aku sadar aku tidak pantas untuk siapapun. Maaf atas perkataan ku hari ini, mungkin akan menyakitkan, tapi inilah yang aku inginkan, tuan masih bisa mendapat yang lebih baik dan sempurna dari saya." ucap Dinar, dia menolak dengan halus, membuat tangan Kenzo berkeringat dingin, jelas ini adalah penolakan yang tidak bisa di ubah.
"Tapi Dinar aku tidak peduli dengan masa lalumu, aku akan menerima semua yang ada padamu, bahkan kedua putrimu, aku akan terus menemani dan menjagamu serta kedua putrimu." pinta Kenzo, namun dia tidak tahu jika Karla dan Katrin hanya menginginkan daddynya yang menikahi bunda mereka, mereka berharap bundanya tidak luluh dengan ucapan Kenzo.
"Terima kasih tuan Kenzo, tapi sekali lagi maafkan saya, lebih baik saya tinggal bertiga dengan kedua putrimu, dan itu sudah lebih dari cukup, terima kasih atas semua bantuan yang pernah anda berikan kepada keluarga kecilku." Dinar tetap dalam pendirian nya. Kenzo hanya bisa pasrah, Dinar sudah berkata seperti itu, dan tidak bisa di ganggu gugat.
"Baiklah.....jika kamu mengatakan itu, aku tidak bisa memaksamu, tapi jika suatu saat kamu membutuhkan aku maka jangan pernah sungkan, aku akan tetap ada untukmu." ucapnya dengan berat hati, apapun itu memang tidak bisa di paksakan. Zeni sedih mendengar penolakan Dinar, tapi itu memang lebih baik daripada harus tetap mengejar yang tidak mau di kejar, dan lebih baik jujur sedari awal agar tidak menimbulkan luka yang dalam.
"Maaf tuan..... "Dinar meminta maaf sekali lagi, dia merasa tidak enak, tapi biarlah daripada dia tidak berkata jujur.
"Tidak apa Dinar, jika memang itu pilihanmu aku tidak bisa memaksa, baiklah aku akan pergi, jaga dirimu dan juga kedua putrimu dengan baik, ayo Zeni kita kembali ke jepang sekarang." ucapnya, Zeni hanya mengangguk.
"Sekali lagi saya mohon maaf." ucap Dinar meminta maaf lagi, Kenzo hanya tersenyum tipis, dan langsung keluar rumah itu dengan hati yang hampa dan menyakitkan, tapi dia juga harus belajar melepaskan dengan ikhlas meski itu sakit.
__ADS_1