
Sementara di aula utama menjadi riuh, banyak tamu yang pergi dari sana karena tidak mau nantinya mendapat bahaya. Segerombolan orang tidak di kenal tiba-tiba datang menghancurkan dekorasi.
Dor... Dor...... Dor....
Suara tembakkan menggema dia aula resepsi, Dafa segera menghubungi bawahannya untuk segera datang, semua tamu berteriak histeris, semuanya panik. Dafa masih bersikap tenang, dia tidak boleh gegabah, karena bisa saja pihak keluarga yang mereka incar. Jika masalah genting seperti ini Dafa lebih banyak berfikir daripada bertindak, karena jika salah maka akan fatal masalahnya.
Karla mendekat ke arah Dafa dengan wajah datarnya seperti biasa. Dafa heran dengan apa yang akan di lakukan Karla, menurutnya keponakannya itu masih misterius di bandingkan dengan Katrin yang ceria. Bahkan dia hanya berbicara padanya beberapa kali.
"Uncle..... " panggilnya membuat Dafa tercengang, suaranya super dingin dan menusuk, jiwa pscycopathnya terlihat kental, sama seperti Arsya.
"Tekanan apa ini, rasanya tidak jauh berbeda dengan kak Arsya jika sedang bangun jiwa membunuhnya." Dafa merasakan hawa membunuh yang lebih kental di banding dengan Arsya.
"Eh iya Karla." ucap nya gelagapan, dia malah terlihat gugup di depan anak kecil.
"Sini uncle Karla bisikin, aku punya ide." ucap gadis kecil itu dan masih dengan wajah datarnya. Dafa menjajarkan tubuhnya agar Karla bisa menggapai telinga Dafa dan membisikan ide yang tadi dia bicarakan. Dia mulai membisikan ide tersebut.
Dafa tercengang mendengar hal itu, bisa di katakan ide yang gila dan hanya bisa di lakukan oleh segerombolan mafia atau pembunuh bayaran.
"Bagaimana? uncle bisa? uncle harus mengeluarkan keluarga lebih dulu, biar aku yang menjadi umpan." jelas nya dengan senyum iblis yang biasa Arsya tunjukkan jika dia senang bermain.
"Tidak bisa sayang, uncle tidak mau kamu yang dalam bahaya... bagaimana jika paman saja yang jadi umpan disini? Karla harus keluar bersama keluarga yang lain, biar paman saja yang disini." Dafa tidak mau jika Karla yang jadi umpan di sini. Karla menatap tajam Dafa, membuat dia tidak bisa berkutik, tatapan itu menyimpan sebuah sinyal ' percaya padaku uncle ' padahal yang paling dia takutkan itu adalah Arsya akan menghajarnya jika melihat putrinya ikut dalam masalah ini.
"Karla biarkan uncle disini, Karla tidak boleh sendiri, biar nanti kakek dan uncle Asfi yang membawa semua keluar." Dafa tetap saja tidak bisa membiarkan Karla sendiri, meski seperti itu tetap saja Karla hanyalah bocah kecil yang harus dia lindungi.
"Kak Asfi, ayah bisakah kalian membawa mereka keluar dari sini? aku dan Karla akan menjadi umpan."Devan melotot dengan yang baru saja Dafa katakan.
"Apa yang kamu katakan Dafa? Karla akan jadi umpan bersamamu? dia masih anak-anak jangan libatkan dia dalam kekerasan."Devan tak habis pikir dengan jalan pikir Dafa. Namun dengan cepat Katrin mengatakan bahwa ini kemauan kakaknya.
"Kek percayalah pada kakak, dia pasti baik-baik saja, sekarang kita ikuti arahan saja." jelas Katrin, karena dia yakin kembarannya itu pasti akan berhasil.
"Baiklah, tapi berjanji pada kami kalian harus selamat dan jangan terluka." Asfi setuju asalkan mereka selamat.
"Iya sayang, nenek tidak mau kamu terluka." Haya juga tidak mau jika Karla terluka.
"Tentu saja." singkat Karla dengan wajah datarnya.
"Kembalilah Karla, nanti aku akan mengajakmu berbicara." Rayhan juga ikut berbicara, dia tidak suka dengan yang namanya baku hantam, sekarang dia harus bersama ibunya karena takut terjadi sesuatu padanya dan juga calon adiknya.
Karla hanya menatap tajam Rayhan, membuatnya tidak berani menatapnya.
"Cemen sekali kak Rayhan..... kamu akan kalah kekuatan dengan kakak."Ejek Katrin, dia melihat jelas wajah ketakutan Rayhan.
"Berisik sekali kamuu..... " decihnya kesal karena di ejek oleh sepupu nya itu.
"Kak kamu harus berhasilll....... " teriak Katrin memberi semangat. Karla hanya mengangguk pelan.
"Duh dingin bet tuhh sepupu guee..... " batin Rayhan yang melihat interaksi Karla yang sangat dingin. Meski Rayhan belum berkenalan dan mengobrol dengan Karla dan Katrin, tapi sudah terlihat jelas sifat mereka yang berbanding terbalik.
__ADS_1
Asfi merangkul Ivy sang istri tercinta karena Ivy sedang mengandung anak kedua nya dan juga menggandeng Rayhan, sementara Devan juga melindungi Haya dan cucunya Katrin, mereka semua keluar perlahan dari taman kediaman keluarga Azhar, bersama dengan para tamu yang lain.
"Ok persiapan selesai." Karla melepas gaunnya, karena dia ternyata double baju dan celana yang serba hitam, dia juga menggunakan sepatu kets warna hitam, sebenarnya dia melakukan itu karena setelah acara pernikahan selesai dia akan langsung melepaskan gaunnya yang panas itu.
Dafa melongo dengan apa yang di lakukan oleh Karla, seperti yang sudah menyiapkan semuanya dengan rapih dan tertata, dan bukan seperti amatiran.
"Ayo uncle jangan melamun." Karla menyadarkan lamunan sang paman, agar jangan lengah, jika tidak dia yang akan kena masalah.
💕💖💕💖💕💖💕
"Dinar..... " pekik Arsya dan berlari ke arah keduanya.
Namun Arsya tidak melihat Dinar tumbang, dan yang terjatuh adalah Abbas mertuanya. Dia terperanjat melihat Abbas yang sudah berlumiran darah dengan pisau yang masih menancap disana.
"Ayah..... " ucap Dinar dengan lemah, bagaimana tidak ayah yang di cintai terluka di hadapan nya, bahkan saudara tirinya lah yang menusuk ayahnya.
Abbas tumbang, namun dengan cepat Dinar memegangi tubuh lemah sang ayah, dan dia memangkunya. Air matanya mengalir di pipi nya ketika dia melihat darah segar yang merembes di pakaian sang ayah.
"Sayang kamu baik-baik saja kan?." tanya Arsya
"Ayahh.... Arsya.... "Dinar gemetar, dia ketakutan, hal yang tidak dia inginkan malah terjadi di depan matanya. Arsya berjongkok untuk memastikan keadaan Abbas.
"Kita harus segera membawanya kerumah sakit." baru saja Arsya akan membantu Abbas, Lena menarik gaun pengantin Dinar hingga dia terjatuh. Arsya tidak akan membiarkan Dinar terluka, dia menyenderkan tubuh lemah Abbas. Dengan bringas Arsya menjambak keras rambut Lena, hingga membuatnya tersungkur ke rumput.
"Jangan kau sentuh istriku....!!." bentak nya dengan suara keras dan tatapan yang amat menusuk.
"Jika kau sentuh lagi akan ku mutilasi seluruh tubuhmu itu...." tambahnya lagi dengan penuh intimidasi yang di dominasi dari tatapan membunuhnya.
"Akan ku pastikan keluargamu tidak bisa hidup tenang." setelah mengucapkan kata terakhir nya, dia membantu Dinar berdiri. Dia menghubungi Aryan untuk segera membantu dan menyiapkan mobil, karena Abbas harus segera dilarikan kerumah sakit secepatnya.
"Aku akan memapah ayah, kamu masih kuatkan sayang. " Dinar hanya mengangguk pelan, membuat Arsya sakit, dia tidak bisa melihat Dinar bersedih. Pandangan Dinar kosong, dia menatap ayahnya yang sudah lemah, dan berjalan perlahan mengikuti Arsya yang sedang memapah ayahnya.
Karla dan Dafa memulai aksinya, siapapun yang pertama kali melihat aksi Karla pasti akan ternganga, dia begitu lihai dan sangat handal, seperti sudah di latih.
Bugh....
Sreeet.....
Trakkk.....
Suara pukulan dan tendangan terdengar jelas di sana, membuat Dafa menelan salivanya, gadis kecil nan imut bisa melakukan hal mengerikan. Para penjahat masih menembakkan pistolnya ke segala arah, tapi untungnya semua tamu sudah berhasil di evakuasi, berkat ide tidak masuk akal Karla membuat semua nya terselamatkan.
"Gila calon psychopath keturunan keluarga Azhar... " takjub Dafa dengan keterampilan Karla yang di luar nalar.
Bersamaan dengan datangnya bawahan Dafa, tinggal tersisa beberapa saja, penjahat yang lumayan kuat yang masih ada di garda depan. Para bawahan Dafa datang membantu, mereka juga takjub dengan apa yang di lakukan oleh nona kecil keluarga besar dari atasannya.
Dorrr......
__ADS_1
Dorrr......
Bugh.....
Bugh.....
"Ini saat terakhir untuk mereka." dengan mengincar satu per satu dari musuh, Karla menodongkan pistol yang dia dapat dari Dafa, yang dia ambil ketika Dafa sibuk berbicara dengan Asfi dan Devan.
Dor.... dor.... dor.... dor.......
Suara tembakan peluru yang pas mengenai dada kiri, yang langsung menembus mengenai jantung mereka, seketika itu mereka terkapar, dan membuat Dafa sekali melongo tidak percaya, bahkan seorang anak kecil bisa memegang pistol dan memainkannya dengan sempurna.
"Beres... " seringainya dengan wajah dingin dan senyum iblisnya, membuat siapa saja yang melihat menjadi begidik ngeri. Karla meniup ujung pistolnya, karena telah berhasil membidik nya.
Sekali lagi Dafa menelan salivanya melihat keponakannya yang sangat hebat memainkan senjata api.
"Darimana kamu mendapatkan itu sayang?." tanya Dafa, dia memang susah tahu jika itu adalah pistol miliknya, karena ada logo milik mafianya.
"Dia meganggur uncle, jadi aku meminjamnya." jawabnya dengan masih memperhatikan pistol indah itu.
"Ini aku kembali kan." Karla menyerahkan pistol itu kepada pemiliknya.
"Seseorang yang handal tidak akan meminta senjata milik orang lain." ucapnya dengan jelas dan menusuk, membuat Dafa melirik senjatanya yang baru saja di kembalikan oleh Karla.
💕💖💕💖💕💖💕
Dinar dan Arsya sudah berada di dalam mobil, mereka tidak bertemu dengan keluarga yang lain karena Asfi dan Devan sudah membawa mereka ke mansion Asfi yang berada di Indonesia, karena Asfi takut terjadi sesuatu pada istri dan calon anak mereka.
"Aryan cepat kita harus segera ke rumah sakit." titah Arsya, dia menatap Dinar yang masih diam seribu bahasa, Arsya tahu apa yang istri nya rasakan.
"Baik tuan." sahutnya cepat.
Harusnya hari ini menjadi hari bahagianya, tapi malah ada noda yang membuat acara suci ini menjadi sebuah kesedihan mendalam bagi orang yang dia cintai. Arsya mengelus lembut Dinar, berharap istrinya mau berbicara.
"Ayah akan baik-baik saja sayang..... percayalah." Arsya berusaha membuat Dinar percaya, jika Abbas akan baik-baik saja, tapi tetap saja Dinar masih diam. Dinar tidak menyangka ayahnya akan menyelamatkan dirinya dan membuatnya ada di ambang kematian.
Hingga di tengah perjalanan menuju rumah sakit, Abbas memberikan ucapan terakir nya untuk putri tercintanya. Abbas tersadar dan menatap putrinya yang penuh air mata.
"Ayahh..... " panggil Dinar dengan suara paraunya menahan tangis.
"Nak..... maafkan ayahmu ini, kejahatan ayah tidak akan termaafkan, mungkin ini cara Tuhan membuat ayah sadar bahwa kamu adalah yang paling berharga putriku, maafkan ayahmu ini..... " ucapnya dengan tersenyum tulus, kata maaf memang tidak bisa menyembuhkan luka yang sudah permanen di hati, tapi setidaknya itu bisa membuat hati lega.
"Cukup ayahh jangan bicara lagii...... aku sudah memaafkanmu sejak lama jadi jangan bicara lagi ayah." Dinar sudah benar-benar memaafkan ayahnya dengan tulus, meski dia tahu ada rasa yang sulit dia ikhlas kan.
Tiba-tiba saja darah keluar dari mulut sang ayah, Dinar semakin tidak kuasa menahan tangis, dia histeris membuat Arsya semakin sakit perasaannya melihat Dinar yang terluka karena melihat ayahnya.
"Ayah bertahan lahh.... ayah gak boleh tinggalin Dinar, gak boleh..... " Dinar menangis sejadi-jadinya, tangan Abbas terkulai lemas, bahkan nafasnya sedikit demi sedikit menghilang, detak jantungnya mulai melemah. tubuh Dinar bergetar hebat, bahkan nafas nya mulai memburu, ternyata sang ayah sudah meninggal kan dia untuk selamanya.
__ADS_1
"Ayah...... "
Penglihatan Dinar sudah buram, bahkan dia sudah tidak sanggup untuk bernafas, seakan oksigen sudah tidak ada lagi.