
"Jangan bercanda kak... ayah tidak mungkin melakukan itu karena dendam... ayah Alan pengkhianat keluarga kita, dan kau masih membelanya?." Asfi telah menceritakan semuanya pada Arsya tentang masa lalu yang tersembunyi. Arsya masih belum percaya dengan apa yang baru saja kakaknya katakan.
Karla dan Katrin masih mencari bukti kuat agar Arsya bisa percaya, jika dalangnya adalah dari keluarga mereka sendiri, Asfi masih belum memberitahu kan jika Devan adalah dalang, dia baru menceritakan masa lalu yang telah terjadi selama ini.
"Aku tidak membelanya Sya, tapi ini adalah kebenaran yang selama ini aku dan mamah sembunyikan darimu, itu di lakukan agar keluarga kita selamat darinya." Asfi meyakinkan Arsya, dia tahu akhirnya pasti akan seperti ini, Arsya tidak akan langsung mempercayai, oleh karenanya rencana Karla adalah dengan membagi tugas, Karla dan Katrin mencari bukti kuat, entah itu untuk kebohongan yang Hayfa lakukan kepada Dinar, dan juga bukti jika Devan adalah dalang.
Sementara Asfi meyakinkan Arsya dan memberitahu rahasia keluarga mereka selama ini, sementara Dafa menyiapkan pasukan untuk berjaga-jaga, karena Karla yakin Devan bisa saja menyerang mendadak. Hal itu sudah di antisipasi oleh Karla, dan Katrin membantu memulihkan perusahan serta mencari informasi mengenai perusahaan Devan, agar nantinya perusahaan tersebut bisa menjadi hak milik Haya, jadi bisa disebut untuk mengamankan saham milik keluarga Azhar, karena Devan pasti akan mengambil perusahaan besar itu untuk kepuasan nafsunya.
"Aku tetap tidak terima, dia adalah ayah kita kak.... sudah lah aku muak mendengar ini, apalagi kau mengatakan nya tanpa adanya bukti kuat mengenai ayah. " Arsya beranjak, namun perkataan Asfi membuatnya terhenti.
"Owhh begitu kau tetap tidak percaya, baiklah padahal aku punya bukti untuk meyakinkan adik iparku bahwa kau tidak punya hubungan spesial dengan Hayfa." langkahnya terhenti, meyakinkan istrinya adalah prioritas utamanya, dengan adanya bukti Dinar pasti memaafkannya.
"Baiklah kita sudahi pertemuan ini, aku tahu kalau ini hanya percuma, meyakinkan kepala batu tidak akan bisa membuat nya percaya." Asfi berdiri dari duduknya, tapi Arsya segera menghentikan nya.
"Tetaplah duduk... aku mau bukti itu." Asfi tersenyum simpul, cara ampuhnya ternyata bekerja pada adiknya.
"Mana bukti nya, kalau kau berbohong padaku siap-siap saja akan aku cincang semua bagian tubuhmu."
"Sabar dulu, semua perlu waktu, dan lebih baik sekarang kau duduk dengan tenang, semua sudah di atur, tinggal menunggu hasilnya saja."
"Cihh.... lambat sekali... " gumamnya kesal mendengar kata sabar yang keluar dari mulut kakaknya. Asfi hanya menggelengkan kepalanya, Arsya memang tidak sabaran.
💖💕💖💕💖💕💖
"Akhirnya buktinya sudah dapat, bunda dan daddy akan segera berbaikan." Karla sudah mendapatkan bukti rencana Hayfa yang sesungguhnya, dan bukti ini bisa mendamaikan perseteruan orang tua mereka.
Karla segera menuju tempat berkumpul dan akan memberikan bukti pada Arsya tentang perbuata Hayfa, file itu berisi jika Hayfa memang dengan sengaja mengambil foto mereka berdua ada saat Arsya tertidur, tanpa sadar ternyata disana ada CCTV tersembunyi, yang memang di pasang oleh Dhafi, itu untuk mengawasi gerak gerik Hayfa.
"Dasar ayah merepotkan, untung saja ada buktinya." Karla berharap bunda dan daddy nya berbaikan, dan tinggal mengurus masalah dalang, dan akhiri semua yang meresahkan ini.
Karla bergegas kesana, karena Asfi sudah menghubungi nya via chat, ayahnya tidak sabar dan ingin segera memberikan bukti itu pada istrinya, dan menjalani kehidupan normal kembali, Arsya hanya ingin kepercayaan nya kembali, dan tidak ada keragua dalam diri Dinar.
Hingga setengah jam kemudian......
__ADS_1
"Kamu kenapa kesini sayang? ada apa? dan mana adikmu? ." kaget Arsya melihat kedatangan putrinya, apalagi tidak dengan kembarannya.
"Ini uncle bukti yang uncle minta kemarin." Karla memberikan file itu oada pamannya, dan tidak menjawab pertanyaan daddy nya.
"Nice manis.... baiklah sekarang kita lihat." Asfi mengambil laptop nya dan memasang flashdisk nya. Membuka file dan mencari videonya.
"Lihatlah baik-baik, setelah ini segera temui istrimu dan jelaskan semuanya." Video itu memutar dengan durasi sekitar dua menit, Arsya muak melihat kelakuan bejat Hayfa, yang diam-diam mengambil foto jika dirinya sedang tertidur.
"Jangan kau sia-siakan istri mu itu, dia adalah wanita baik-baik camkan itu, jika kau perlakukan dia buruk, maka aku tidak akan menganggap mu adikku." ancam Asfi, karena rencana bodohnya membuat semuanya hancur.
"Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, itu adalah janjiku."
"Aku akan melihat seberapa kuat janji itu dad." tatapan dingin menusuk membuat Arsya tidak bisa menjawab lebih banyak lagi. Arsya masih penasaran sebenarnya darimana Karla mendapatkan video itu, tapi karena situasinya sedang tidak mengenakan jadi lebih nanti saja.
"Ya sudah aku akan kembali ke menjelaskan semuanya pada istri ku, ayo sayang kita pulang. " ajak Arsya kepada putrinya.
"Tidak dad, aku tidak mau mengganggu, lebih baik daddy dan bunda selesaikan masalah pribadi kalian, aku disini saja bersama uncle." tolak Karla, karena masih banyak rencana yang harus di atur lebih detail agar tidak ada korban lagi.
Sesampainya di mansion ternyata Dinar tidak ada di disana, hanya ada Andra yang baru saja pulang sekolah. Arsya mencoba menghubungi ponselnya tapi tidak di angkat, akhirnya dia memeriksa GPS milik Dinar.
"Akhirnya ketemu, lokasi nya lumayan jauh dari sini, tapi aku harus segera bertemu istriku." Arsya langsung melajukan mobilnya menuju tempat tujuan. Dia sudah tidak sabar bertemu dengan Dinar, tapi jika Arsya perhatikan GPS itu berpindah tempat dan kini berada di dekat jembatan yang tidak terlalu besar, dan lokasi nya lumayan jauh dari kota.
💖💕💖💕💖💕💖
"Lepaskan dia.... jangan kau apa-apakan sahabat ku... " Dania berusaha melepaskan diri dari seseorang yang tidak di kenalinya, mereka semua menggunakan masker dan topi.
"Heh.... dia akan mati, kau diam saja." seseorang sedang memegangi tubuh Dinar, dan akan melemparnya dari atas jembatan.
Dinar hanya pasrah dan tidak bisa memberontak, karena ancaman dari tiga penjahat itu, Dinar hanya bisa mengikuti kemauan mereka. Yang di pikirannya hanya ada ketiga anaknya, terbayang jika tidak ada dirinya nanti.
"Maafkan bunda sayang..... bunda tidak bisa melihat kalian dewasa." batinnya sedih, semuanya akan berakhir disini. Dia melihat genangan air besar yang ada di bawahnya, tidak ada orang yang lewat, karena memang jembatan itu terpencil, dan tidak terlalu besar, mungkin mereka memasuki pedesaan yang lumayan jauh jaraknya dari kota.
Arsya masih melajukan mobilnya, tapi tiba-tiba sinyal GPS nya mulai loading akibat dari sinyal lemah milik ponsel Dinar, Arsya menjadi bingung sebenarnya kemana Dinar pergi hingga sejauh itu. Tapi Arsya yakin jika lokasinya sudah hampir di temukan.
__ADS_1
Hingga tibalah dia di sebuah desa yang sedikit ramai, dengan rumah-rumah sederhana yang berjajar disana. Arsya pun turun dari mobilnya dia memarkirkan nya di dekat warung makan. Arsya berjalan menuju jalan jembatan yang di beri tahu oleh warga untuk menuju sungai, karena entah kenapa feeling nya menyuruhnya untuk melihat jembatan.
Mulut Dania di bungkam oleh tangan salah satu dari yang memeganginya, dia berusaha melawan agar bisa meminta bantuan warga desa.
Bukkkk......
Dengan keras Dania menginjak kaki salah satu dari mereka, dan menggigit tangan salah satunya membuat nya melepaskan tangan dari mulut Dania.
"Tolong....tolong.... tolong..... " teriak Dania keras, tapi dengan cepat mereka kembali menyergap tubuh Dania, dan kembali menutup mulut nya.
Byuuuuurrrrrr......
Suara seseorang jatuh ke dalam sungai terdengar begitu jelas di pendengaran Dania. Sementara Arsya yang mendengar suara minta tolong segera mencari keberadaan mereka. Tubuh Dinar sudah tidak ada, yang pasti seseorang itu telah menjatuhkan Dinar dari atas jembatan, setelah urusan mereka selesai, mereka langsung meninggalkan tempat dan pergi melarikan diri.
"Dinarrrr...... "Dania berlari ke tepi jembatan untuk memastikan kalau Dinar masih terlihat, karena jarak anatara sungai dan jembatan tidak terlalu jauh, dan saat ini untungnya sungai sedang sedikit surut, tapi tetap saja hal itu tidak bisa membuat seseorang akan selamat dari ketinggian jembatan ini.
Arsya yang mendengar nama Dinar di panggil, membuatnya panik tak karuan, akhirnya dia menemukan jembatan itu, terlihatlah Dania yang masih meronta memanggil nama sahabat nya.
"Dania ada apa? dimana Dinar?. "
"Arsya..... Dinar.... Dinar.... "
"Ada apa dengan Dinar? jawab yang jelas Dania..... " sentaknya karena Dania masih belum memberitahukan yang sebenarnya.
"D-dia di jatuhkan ke sungai..... "
"Apa.....!!." Arsya segera mencari jalan menuju ke sungai, dia mencari tempat turun untuk menuju sungai. Arsya menuruni tanggul yang membatasi antara sungai dan daratan, dia bergegas turun mencari Dinar, Arsya menceburkan dirinya ke air, Dania juga ikut turun karena dia sangat khawatir.
Arsya terus mencari ke tengah sungai, dia masih belum menemukannya, tapi dia tetap mencari keberadaan istrinya, karena Arsya tahu jika Dinar tidak begitu mahir berenang, tapi untungnya akrab ya tidak terlalu dalam, karena sungai dalam keadaan surut.
Kesadaran Dinar sudah mulai menurun, dia mengingat kenangan nya bersama dengan keluarga kecilnya, berharap jika suaminya menolong nya.
"Aku sudah memaafkan mu dad... aku tahu kamu tidak akan melakukan hal itu dengan wanita itu, aku hanya cemburu dad, maafkan aku tidak bisa menemani mu hingga akhir." Dinar melihat ada seseorang yang mendekati tubuh lemahnya, dan mengulurkan tangannya, namun seketika Dinar sudah tidak sadarkan diri.
__ADS_1