
"Aw..... " jerit Lena, akibat dari tamparan keras hingga dia tersungkur di lantai.
Aryan sangat senang melihat wanita lintah itu merintih kesakitan, dia juga berharap jangan hanya di tampar satu kali saja, sekalian cabik-cabik mulut ember nya agar tidak mengatai orang lain. Arsya tersenyum tipis melihat keberanian Dinar yang menampar saudara tirinya.
"Kau..... berani sekali menamparku... dasar wanita tidak tahu diri." umpat Lena kesal sambil memegangi pipinya yang ruam akibat tamparan Dinar.
Ternyata yang menampar adalah Dinar, dia sudah muak dengan perlakuan Lena yang selalu semena-mena padanya, dulu memang dia belum memiliki keberanian untuk melawan mereka semua, tapi kali ini sudah tidak lagi, dia tidak akan diam lagi dan mulai saat ini jika ada yang merendahkannya dia akan melawan dan akan terus melindungi harga dirinya, begitu juga pada kedua putrinya.
"Apa kau tidak mengaca?..... kau yang tidak tahu diri... kaulah wanita rendahan itu Lena, bahkan saat ini aku tidak sudi menganggapmu sebagai saudara tiriku." tegas Dinar dengan lantang, membuat Arsya takjub, Arsya tahu luka yang di alami Dinar akibat dari perlakuan keluarganya, dan itu yang membuat dia berani seperti sekarang, Dinar sudah tidak mau lagi di tindas oleh keluarganya.
Sudah cukup luka yang dia terima, dan saatnya dia membalas perlakuan mereka. Lena berdiri dengan wajah kesalnya, karena ini pertama kalinya Dinar berani melawannya bahkan sampai menampar nya.
"Ohh... jadi sekarang kau sudah berani melawan ku, aku akan balas yang lebih dari ini." Lena akan melayangkan tamparan kepada Dinar, namun dengan cepat Arsya menangkis nya. Arsya mencekal tangan Lena dengan keras, membuat dia meringis kesakitan.
"Satu kali kau menampar Dinar.... maka aku tidak akan segan menghancurkan keluargamu dalam sekejap hari ini juga."ucap Arsya dingun dengan nada menekan.
"Lepaskan tanganku.... Arsya ini meyakitkan." pinta Lena memohon agar Arsya melepaskan tangannya, karena Arsya mencekal nya dengan sangat keras.
Arsya tidak peduli dengan keluhan Lena, dia menarik tangan Lena keras, lalu menyerahkannya kepada Aryan.
"Bawa pergi pengganggu ini dari sini, aku muak melihatnya berkeliaran di perusahaan ku." ucapnya tegas. Lena pun di cekal oleh Aryan, dan mengikuti perintah Arsya.
"Baik tuan."
"Arsya..... Arsya.... kau tega, aku tidak akan keluar dari sini, aku tidak mau...!!. "Lena menolak untuk keluar dari ruangan Arsya. Aryan tidak akan membiarkan Lena tetap di sini, dia terus memaksa Lena agar segera keluar.
"Ini semua karena kau..... aku tidak akan membiarkan kau hidup tenang Dinar..... aku akan membalasmu.... " ancam nya dengan penuh tekanan. Setelah mengatakan hal itu Lena berhasil di bawa keluar oleh Aryan.
Dinar tidak menanggapi hal itu dan tetap tenang, telinganya sudah bosan mendengar gertakan Lena. Lena memang selalu mengatakan hal tersebut jika dia sudah kalah dari Dinar, dulu hingga sekarang pendapat Dinar tentang saudara tirinya adalah dia tidak berubah sama sekali.
Setelah kepergian Lena dan Aryan, kini tinggal mereka berdua yang ada di ruangan tersebut. Suasana tiba-tiba menjadi hening, Arsya masih belum minta maaf karena perkataan nya kemarin kepada Dinar dua hari lalu.
"Ada hubungan apa kamu dengan dia?." tanya Dinar membuyarkan keheningan, membuat Arsya langsung terdiam mendengar pertanyaan Dinar.
Raut wajahnya masih seperti tadi, raut wajah yang menyimpan kemarahan kepada Lena, karena telah merendahkannya. Arsya tidak mau membahas Lena saat ini, yang dia inginkan saat ini adalah jawaban Dinar. Tapi Arsya harus berbicara jujur dan terbuka, karena dia tidak mau membuat Dinar kecewa.
"Kita bicarakan nanti saja ok..... kamu masih marah, aku ingin kita bicara disaat kamu tenang." ucapnya, dia ingin Dinar menenangkan kemarahannya, dan bicara nanti ketika sudah berkepala dingin.
__ADS_1
"Terserah kamu saja, aku pamit.... kita bicarakan di mansion saja, aku akan menjemput Karla dan Katrin." Tanpa menunggu jawaban Arsya, Dinar beranjak pergi, Arsya hanya menghela nafas karena ulah Lena semuanya gagal.
"Aku akan mengantarmu."teriak Arsya, dan berlari untuk menyusul Dinar. Arsya menjadi pusat perhatian saat menuju dimana Dinar berada. Pasalnya Arsya tidak pernah bersikap seperti itu, di kantor Arsya selalu bersikap dingin dan datar. Apalagi pada wanita, dia akan bersikap tidak peduli, tapi saat melihat Arsya begitu perhatian pada Dinar membuat para kaum hawa iri.
Di lift Arsya berhasil mengejar Dinar, Arsya harus ikut menjemput Karla dan Katrin karena ini adalah momen indah yang harus Arsya lakukan.
"Mau apa kamu kemari?." ucap Dinar dengan nada tidak suka.
"Apa kamu masih marah karena kejadian tadi?." tanya Arsya balik, Dinar hanya memutar bola matanya malas.
"Bukanya kamu yang mengatakan untuk tidak membahasnya? sepertinya kamu tertarik dengan yang ku tanyakan tadi di ruanganmu." ucap Dinar, karena saat ini dia malas untuk menanyakan perihal hubungan Lena dan Arsya, toh dia tidak peduli dengan kedekatan mereka berdua.
"Ok... ok aku hanya ingin ikut kamu menjemput kedua putri kita." jawabnya, perkataan Dinar menjadikan dia seperti senjata makan tuan.
Dinar hanya mengangguk tanpa bicara, mood nya sedang tidak bagus, karena bertemu dengan nenek lampir yang bermulut cingcong. Arsya bisa mengerti dengan hal tersebut. Mereka pun berangkat ke sekolah Karla dan Katrin.
Sementara Lena bersungut marah bercampur kesal, terlebih dia di usir dengan paksa oleh Aryan di tempat umum, membuat dia malu. Lena tidak terima dengan apa yang di lakukan Dinar. Lena sudah berada di markas Alan, karena rencananya yang gagal maka tinggal menjalankan rencana selanjutnya.
"Sial...! sekarang dia semakin berkepala besar, aku tidak akan membiarkan dia hidup tenang dan bahagia selama aku masih bernafas." geram Lena, dia tidak akan membiarkan Dinar bahagia, apalagi sekarang Arsya memilih dia sebagai wanitanya.
Alan memang sengaja menggagalkan rencana utama, karena agar Lena semakin membenci Dinar, dan ambisinya semakin besar untuk bisa mendapatkan Arsya, dan itu adalah bagian rencana Alan dan Ferdi yang menjadikan Lena alat.
"Semua berjalan sesuai rencana bos." ucap Ferdi, dia menghubungi Alan setelah selesai berbicara dengan Lena.
"Bagus.... sekarang lakukan rencana berikutnya." Alan sudah tidak sabar, dan ingin segera melihat reaksi Arsya.
"Siap bos." jawabnya dan mengakhiri sambungan.
💕💖💕💖💕💖💕
Dinar dan Arsya sudah sampai di sekolah Karla dan Katrin. Sekolah ternama yang sangat populer, karena Arsya melihat potensi besar yang tersembunyi dalam diri kedua kembar imut.
"Aku yang akan menemui mereka, kamu ingin ikut atau tetap di sini?." tanya Dinar. Arsya melihat sekitar, dia adalah lelaki terkenal dan termasyhur namanya, apalagi nama besar perusahaan serta keluarganya.
Arsya tersenyum mendengar ajakan Dinar, tapi di luar sudah banyak orang tua yang menjemput dan dia tidak mau menjadi pusat perhatian, dia hanya ingin menjadi perhatian Dinar saja, dan wajah tampannya hanya akan di perlihatkan kepada Dinar saja.
"Kamu saja yang menemui mereka, Aryan menelpon ku." ucapnya sambil tersenyum tampan.
__ADS_1
"Baiklah..... " Dinar pun pergi untuk menemui Karla dan Katrin. Di tepi jalan sudah ada yang mengawasi garak-gerik Dinar, dan akan memulai aksinya.
Dinar sudah menjemput keduanya dan menggandeng keduanya bersebelahan. Karla dan Katrin senang karena saat ini keluarga mereka sudah berkumpul, tapi yang kurang adalah mereka belum juga di kenalkan kepada kakek dan nenek mereka.
"Bunda.... apakah daddy ikut menjemput kita berdua?." tanya Katrin, karena dia ingin sekali daddy mereka menjemput.
"Daddy sedang menunggu di mobil, daddy ingin ikut menjemput kalian." ucap Dinar, dia tahu kedua putrinya sangat ingin bisa terus bersama daddy mereka.
"Hore.... akhirnya daddy ikut menjemput." senang Katrin, begitu juga Karla.
Karena Katrin sangat menyukai es krim, dia merengek meminta di belikan yang ada di tepi jalan, sementara Karla tidak mau ikut, dia tidak terlalu menyukai es krim.
"Bunda lihat ada es krim.... aku mau beli." rengek Katrin, Karla hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan gemas adiknya.
"Iya ayo kita beli, Karla apa kamu mau ikut?." tanya Dinar, dia juga tahu jika Karla tidak terlalu suka dengan es krim.
"Tidak bunda.... aku akan ke mobil daddy saja." tolak Karla.
"Baiklah sayang... ya sudah kamu tunggu di sana bersama daddy ok." Karla mengangguk, dan pergi ke mobil Arsya.
Sesampainya di sana Arsya sudah menyambutnya, dia keluar dari dalam mobil dan memeluk putri dinginnya. Karla hanya tersenyum tipis mendapat pelukan dari Arsya, tapi dia sangat menyukainya.
"Kemana bunda dan adikmu hemm?." tanya Arsya karena hanya Karla yang ke sana.
"Mereka membeli es krim dad..... Katrin terus merengek." jelas Karla dengan tanpa ekspresi di wajah manisnya. Arsya mengecup pipi Karla lembut, meski sifat dan karakternya seperti dirinya tapi dia tahu jika Karla memiliki sifat seperti Dinar.
"Ya sudah kita tunggu di sini." Arsya dan Karla menunggu di bangku tempat tunggu orang tua murid, yang masih di sekitaran sekolah.
Beberapa saat kemudian Dinar dan Katrin selesai membeli es krim, ada mobil yang mencurigakan yang berjalan di belakang Dinar Katrin. Arsya sedang lengah, karena dia sedang mengobrol dengan Karla, sehingga Dinar dan Katrin hilang pengawasan. Mobil tadi menyudutkan Dinar dan Katrin ke tepi jalan, dan keluarlah laki-laki menggunakan penutup wajah, dan langsung menyeret Dinar dan Katrin.
"Lepaskan bundaku.... lepaskan, jangan bawa kami." jerit Katrin dengan keras, membuat Arsya berhenti mengobrol dengan Karla.
"Bunda....!! dad, lihat bunda dan Katrin di bawa oleh mobil itu." teriak Karla keras, karena melihat keduanya di bawa oleh mobil.
"Apa?! ayo kita kejar.... " Arsya dan Karla segera masuk ke dalam mobil, dan mengejar mobil tersebut.
"Sial.... aku lengah, mereka hilang dari pengawasan ku, aku harus segera mengejarnya." batin Arsya merutuki kelengahan nya. Sebenarnya Arsya sudah curiga dengan mobil tersebut, karena feeling nya mengatakan akan ada yang tidak beres mengenai mobil tersebut.
__ADS_1