Putri Kembar Sang Psychopath

Putri Kembar Sang Psychopath
79-Jebakan Karla ( selangkah menyaingi permainan)


__ADS_3

Malam harinya.....


Asfi sudah menjelaskan semuanya pada Dinar perihal keberadaan Arsya saat ini, dan benar saja wajah Dinar berubah menjadi kecewa, dia kecewa karena Arsya merahasiakan semuanya dari dia, bahkan kesibukannya saat ini juga padahal yang Dinar inginkan adalah mereka saling support satu sama lain, Asfi juga sebenarnya sudah tahu tentang masalah di perusahaan miliknya, tapi Asfi mengatakan jika sekarang sudah aman, dan perusahaannya kembali membangun hotel tersebut dari awal. Dan tidak ada yang tahu jika perusahaan Katrin lah yang sudah membantu memulihkannya.


Sementara itu baik Karla ataupun Katrin saat ini mereka sedang sibuk di ruang belajar yang sudah di bangun Arsya yang berada di samping kamar mereka dan hanya di batasi dengan kaca, itu juga atas permintaan mereka berdua, dan Arsya juga menyediakan fasilitas untuk mereka belajar dengan lengkap, begitu juga dengan Andra yang juga memiliki ruang belajar seperti kakak kembarnya.


Katrin sedang sibuk memantau hasil saham nya dan juga kemajuan pembangunan hotel milik daddy nya yang kemarin mengalami kegagalan karena adanya sabotase dari seseorang yang tidak di kenal, sementara Karla sedang mengawasi para kelinci yang sudah masuk dalam perangkapnya, menggunakan robot capung pengintai miliknya, yang sudah dia modifikasi agar jarak pantaunya bisa semakin jauh dan akurat.


Sementara di tempat lain Arsya masih sibuk setelah mengurus pembangunan hotel barunya yang sudah berjalan lancar kembali. Dia sedang menuju pulang ke rumahnya, sebenarnya dia tidak enak selalu meninggalkan Dinar di saat acara penting. Melihat wajahnya bersedih saja Arsya tidak bisa.


"Lihatlah hari ini Hayfa ada di sebuah cafe yang berada dekat dengan perusahaanmu kak." ucapnya dari sambungan telpon.


"Mereka ceroboh sekali, pantas saja aku tidak melihat dia berada di villa, jadi mereka merencanakan pertemuan disana ....Tapi lebih baik beri tahu Dhafi tentang ini, dan lihat siapa yang sedang bersamanya."


"Aku akan segera memberitahukan Dhafi." panggilan telpon pun berakhir, dan Dafa segera menelpon Dhafi agar masalah segera terselesikan.


Selang beberapa menit mereka sudah berkumpul di markas rahasia milik Arsya, tempat biasa mereka berunding dan mempersiapkan rencana mereka.


"Sepertinya ada yang sedang mereka rencanakan, dan seharusnya tidak di tempat yang, mencolok seperti itu, ok aku akan awasi mereka dari dekat dan melihat gerak gerik mereka lebih dekat." Dhafi segera pergi untuk memastikan mereka lebih dekat.


Sedangkan Dafa dan Arsya masih memperhatikan komputer yang sudah tersambung dengan GPS yang sudah Dafa pasang di mobil tersebut. Hingga lima belas menit kemudian terlihatlah di komputer jika mobil Hayfa melaju meninggalkan cafe dan menuju jalan yang sepi, karena tertera di komputer tersebut jika hanya ada pepohonan. Dan yang Arsya dan Dafa ketahui itu adalah jalan menuju  markas mafia milik Dafa. Sementara Dhafi masih mengikuti arah mobil mereka, karena Hayfa sedang bersama seseorang di dalam mobil tersebut.


"Sial jalan itu menuju markas, yang tak lain mereka sudah merencanakan akan kesana, tapi kenapa markas mafia? apakah ada hal penting disana? tapi tidak mungkin wanita itu tahu akan rute menuju markas milik Dafa." Hayfa tidak mungkin tahu tentang markas mafia milik Dafa apalagi sampai tahu lokasinya, tapi tetap saja ini pasti ada hal penting yang belum mereka ketahui.


"Dia menuju markasku kak....sebenarnya apa yang terjadi? kenapa Hayfa bisa tahu lokasinya?."


"Kita bergegas menyusul kesana." tanpa basa basi mereka pun langsung meluncur menuju markas, Arsya melesat  dengan kencang, dan pikirannya langsung menuju pada Ferdian yang masih di sekap di markas tersebut, jika Lena dan keluarganya sudah Dafa pindahkan ke markas baru yang sudah selesai di bangun, tapi karena masih dalam tahap pembangunan, dan ruang penyekapan untuk Ferdian belum terselesaikan, jadi dengan terpaksa Ferdi masih harus berada di markas lama.


Dafa memang sengaja membangun markas baru, yang ternyata berdekatan dengan villa milik Karla, yang belum di ketahui oleh siapapun termasuk kembarannya, Dafa juga tidak akan memberitahukan pada siapapun, karena atas permintaan dari Karla, dia sengaja memindahkan markas utama karena rencana yang sudah dia susun bersama dengan Karla, yaitu memindahkan markas mafia utamanya ke daerah yang sudah dalam jangkauan Karla atau wilayah yang sudah dalam keamanan ketat Karla.

__ADS_1


"Benar mereka mengikuti kita, rencana mu bagus juga. Tapi benar kan Ferdi di sekap di markas ini?."


"Benar.....aku sudah melacaknya dengan teliti, dan ternyata keamanannya sangat sederhana." lelaki itu bernama Syam sang hacker andalan Hayfa, sebanarnya pertemuan nya dengan atasannya bulan lalu adalah rencana untuk membebaskan Ferdian dari tangan Arsya, karena dia belum mengetahui jika Ferdian adalah tangan kanan sang dalang.


"Bagus rencana kita berhasil untuk membebaskan Ferdian....apakah kau sudah pasang jebakannya kemarin?." Hayfa berencana untuk meledakan bom di markas itu, karena untuk mengalihkan Arsya dan yang lainnya, Syam memasang bom itu di bangunan utama markas itu, yaitu ruangan leader, tapi mereka terlalu terburu-buru dengan rencana bodoh mereka, yang tidak tahu sebenarnya Ferdian adalah umpan sesungguhnya.


"Hmm bagus ayo masuklah lebih dalam." Katrin tidak biasanya mendengar sang kakak bergumam, apalagi ketika dia sedang fokus dalam kegiatan nya.


"Apanya kak....tumben amat kakak bergumam saat sedang fokus."


"Tak apa....hanya saja ini sangat seru, jadi aku tidak bisa menahan diri." mendengar hal itu Katrin jadi penasaran dengan apa yang sedang Karla lihat. Namun dengan cepat Karla mengubah berandanya menjadi game online yang sedag dia manikan sebelumnya.


"Apa kamu tertarik dengan game ku?."


"Nggak..dasar kakak kukira hal seru apa." kesal Katrin yang tahu kalau itu hanyalah game yang sering di mainkan oleh Karla. Tapi karena teringat sesuatu Katrin pun ikut duduk di kursi sebelah Karla.


"Tentu saja berjalan Katrin, sebentar lagi kita akan mendapatkan kabar dari uncle Dafa, kita sudah memulainya." ucapnya penuh keyakinan.


"Akhirnya sebentar lagi semuanya akan terungkap siapa dalang yang sebenarnya."


"Masih terlalu awal untuk kita merasa tenang Katrin, ingatlah dia juga sangat hebat dalam bermain, jadi kita tidak boleh lengah." Karla tahu jika sang dalang juga amatlah licik dan juga cerdik, sampai-sampai daddy mereka melakukan rencana konyol yang hanya akan merusak keharmonisan keluarga mereka, dan iyu juga termasuk rencana sang dalang, oleh karena mereka harus tetap waspada.


"Benar sekali...kita pasti bisa selesaikan masalah ini."


Hayfa terus melajukan mobilnya hingga memasuki tempat penyekapan Ferdian, sedangkan Dhafi sudah lama menuruni mobilnya, karena ada hal aneh yang terjadi di markas ini, sama sekali tidak ada penjaga disini, dan terlihat seperti bangunan kosong tak berpenghuni. Arsya dan Dafa kini sudah berada di hutan jalan utama memasuki markas mafia milik Dafa.


"Bagus...mereka sudah masuk perangkap Karla, ternyata apa yang di katakan Karla semuanya sesuai dengan perkiraanya, dia sangat berhati-hati dalam membuat rencana tersebut, pantas saja dia seorang hacker dan detektif handal, jika seperti ini kami akan mudah menangkap sang dalang."


Batin Dafa, dia tidak menyangka jika keponakannya sangatlah hebat bahkan melebihi hacher dan detektif pada umumnya, pokoknya dia sangat takjub dengan yang di lakukan si kembar, rencananya begitu mulus dan sangat efektif.

__ADS_1


Mobil Hayfa kini telah terhenti di halaman luas markas besar tersebut, dan mereka memasuki ruangan yang di tuju, Hayfa belum menemukan adanya penjaga dari pertama dia memasuki wilayah ini. Mungkin karena sudah malam jadi keadaannya begitu sunyi dan sepi, karena Hayfa juga tidak tahu suasana seperti apa jika berada di markas mafia, dan ini adalah kali pertama dia memasuki wilayah bawah seperti mafia.


"Dimana Ferdian di sekap?." Hayfa ingin cepat pergi dari tempat mencengkam ini, rasanya hawa nya begitu tidak mengenakan.


"Sebentar lagi kita akan sampai." hingga tibalah mereka di lorong yang amat gelap, hanya ada penerangan dari lampu kuning yang di taruh di ujung lorong.


"Ini ruangan dia di sekap." Syam mencoba membuka pintu, yang ternyata tidak di kunci, itu memang kesengajaan yang di buat Dafa, karena ini memang rencana yang sudah di atur.


Dan benar saja di dalam ruangan tersebut Ferdian di sekap, mereka berdua bergegas membebaskan Ferdian karena waktunya tidak banyak. Ternyata Ferdian sedang tidak sadarkan diri, entah apa yang membuatnya seperti ini, tapi mereka harus segera membawa pergi, setelah talinya terlepas, Syam memapah tubuh Ferdian yang masih belum sadarkan diri, dan segera keluar dari ruangan tersebut.


"Cepat Fa waktunya tidak banyak, kita harus bergegas pergi." Syam memberi pengingat pada Hanya, mereka langsung berlari keluar dari bangunan tersebut.


Dhafi masih saja memantau mereka, dan benar dugaan nya, mereka membebaskan Ferdian.


"Sial..! ternyata benar mereka membebaskan Ferdian? kemana para penjaga? sepi sekali markas ini, tidak biasanya hal ini terjadi, ini bukan seperti markas tapi lebih ke bangunan terbengkalai." Karena melihat keduanya kabur dengan membawa Ferdian, Dhafi pun segera berlari ke mobil untuk mengejar mereka.


Namun belum sampai Dhafi ke mobilnya, tiba-tiba saja dia mendengar suara ledakan di tempat pelatihan dan peristirahatan para bawahan Dafa.


"Ledakan....? apa ini jebakan? ohh sial.... si brengsek itu menanamkan bom."


Tiga..... dua.... satu.....


Suara detik jam yang di tunggu Hanya akhirnya usai sudah dan ledakan besar kini terjadi di ruang penyekapan, setelah beberapa detik meledakan tempat pelatihan dan peristirahatan.


Duarrr........


Dafa dan Arsya terkejut dengan bunyi ledakan yang baru saja terjadi, mereka bergegas kesana, karena khawatir dengan Dhafi yang dekat sekali dengan lokasi.


"Sial di ruangan penyekapan ledakan itu terjadi.... " umpat Dafa, yang tidak tahu jika ternyata mereka sudah menyimpan bom atau semacamnya.

__ADS_1


__ADS_2