Putri Kembar Sang Psychopath

Putri Kembar Sang Psychopath
95-Memulai lembaran baru


__ADS_3

Tangis Haya masih memenuhi pusara milik suaminya, ya Devan telah meninggal, dan nyawanya tidak tertolong. Semua menghadiri pemakaman Devan, meski kejahatan yang dia lakukan tidak termaafkan, tapi mereka tetap mengurus jenazah dengan baik, dan di makamkan dengan layak.


Dinar mengusap lembut mertuanya, dia tahu pasti apa yang dirasakan oleh Haya, kehilangan selamanya tidaklah mudah, banyak yang belum bisa melepas dengan ikhlas setelah kematian seseorang, terlebih dia adalah orang yang sangat disayangi.


"Mah ayo kita pulang...... ikhlaskan kepergian ayah, aku yakin dengan melihat mamah tidak menangis, pasti sudah membuat nya tenang disana." Dinar mencoba membujuk mertuanya. "Aku sudah memaafkan dia nak.... tapi kenapa dia tetap pergi?." Dinar mengelus pundak Haya lembut, dia tersenyum pada mertuanya.


"Semua sudah diatur oleh yang kuasa mah, ini adalah kehendakNya, mungkin inilah yang terbaik untuk kita semua dan juga untuk mamah." Akhirnya Haya mau mendengar Dinar, mereka kembali pulang, meninggalkan pusara Devan. Dinar berjalan sembari merangkul tubuh Haya, Arsya menatap sedih pada ibunya, dia sudah banyak berkorban untuk keluarganya, tapi Haya begitu baik dan memilih memaafkan.


Sesampainya di mansion, semuanya sudah teratasi, masalah sudah selesai, tinggal mengurus beberapa aset penting keluarga Azhar, yang telah di curi oleh Devan, si kembar juga akan kembali ke sekolah asramanya, mereka sudah terlalu lama meminta cuti. Rayhan hanya diam melihat kelakuan si kembar yang mengagumkan, sepupu kembarnya membantu semua masalah yang ada di keluarga besar.


Tapi si kembar memutuskan untuk pindah sekolah, mereka akan sekolah seperti biasa saja, bukan di asrama, hal ini untuk memastikan keadaan keluarga besar mereka. Rayhan juga ikut Karla dan Katrin, membosankan sekali jika bersekolah asrama, jadi ketiga nya memutuskan pindah.


"Jadi kalian bertiga benar-benar akan pindah?." tanya Asfi pada ketiga nya. "Iya ayah aku ingin sekolah seperti biasa saja tidak mau asrama." ini kesempatan Rayhan, dia jadi tidak bebas main dan pergi, dan dia tidak menyukai hal tersebut.


"Iya uncle aku setuju sama kak Ray, lagipula kami juga sudah mandiri, benarkan kak?." Karla mengangguk, sekolah asrama itu sangatlah di batasi, dan ya mereka menyesal karena telah memilih sekolah berbasiskan asrama itu, oleh karenanya mereka memutuskan untuk pindah titik.


"Huft baiklah... baiklah...... kalian ini, tapi setelah ini tidak ada kata pindah ingat ya." Rayhan dan Katrin semakin bersemangat. "Yes... akhirnya pindah juga." Asfi terheran dengan kelakuan keduanya, memang ya anak zaman sekarang selalu seperti itu.

__ADS_1


Lalu Asfi membicarakan ini dengan semua keluarga, dan mereka menyetujui, yang terpenting adalah kenyamanan anak-anak, dan jika mereka memilih seperti itu, ya tidak apa karena itu sudah menjadi keputusan mereka.


"Aryan segera urus kepindahan mereka bertiga, lalu kemasi semua barang yang mereka bawa ke asrama." titah Arsya satset. "Baik tuan kalau begitu saya permisi." Aryan juga segera melaksanakan tugasnya.


"Semuanya sudah teratasi, meski masih dalam tahap proses, kita akan membuka lembaran baru, lupakan masa lalu buruk, jadikan itu sebagai pelajaran." Akhirnya mereka bisa bernafas dengan lega, setelah sekian lama terjerat.


"Baguslah kalau begitu kak." Arsya juga bersyukur dengan ini keluarga nya telah bebas, meski Haya masih bersedih atas ketiadaan suaminya. "Aku akan bicara empat mata dengan istriku, masalah kami belum selesai." Arsya beranjak pergi, pembicaraan ini harus segera selsai, Arsya tidak mau berlama-lama lagi, meski Dinar memaafkannya, tetap saja dia harus menjelaskan semuanya.


"Kita pulang saja yah.... aku rindu rumah." Ivy hanya ingin pulang ke mansion nya. "Ok ayo kita pulang." mereka pun pulang, malam nanti mereka akan datang lagi untuk memastikan keadaan Haya.


"Aku pulang... " singkat Rayhan, setelah mengobrol dengan sepupunya yang super cerewet, ya siapa lagi kalau bukan Katrin, dia sungguh menyebalkan. "Kok mau pulang sih kak Ray, kan belum beres ngobrol nya, apalagi kita harus belanja keperluan sekolah." sungut Katrin, dia tidak mau jika sepupu tampannya pulang.


Karla masih diam dengan pemikiran yang ada di kepalanya, entah kenapa Karla diam saja sejak tadi, hal itu membuat Katrin khawatir, sebenarnya apa yang sedang di pikirkan kembarannya sihh?.


"Kak.... ngelamun terus? sebenarnya ada apa sihhh?." greget Katrin, dia kesal melihat kakaknya yang seperti terbebani, Karla mendekat dan mengusap rambut adiknya lembut. "Aku tidak apa-apa." singkat, padat dan jelas. Katrin memanyunkan bibir kecilnya, kesal rasanya.


Lalu tiba-tiba saja Katrin mendapatkan ide, dia ingin berlibur bersama Karla, sebelum masuk sekolah baru, dan ya ini adalah momen yang di tunggu.

__ADS_1


"Kak kita ke pantai yuk.....? udah lama gak lihat sunset, kakak ingat kan pada saat kita di Jepang, kita melihat itu bersama berharap di pertemukan dengan daddy." Karla seketika ingat, senja menjadi bukti harapan mereka dulu, dan kini harapan mereka telah terwujud, meski harus dengan jalan berliku.


"Boleh saja, baiklah ayo kita berangkat." senyum tipisnya tergambar jelas, akhirnya Karla semangat lagi. "Yoshh ayo berangkat." Keduanya segera meminta persetujuan Dinar dan Arsya, mereka sedang asyik berbicara, ya untuk meluruskan kesalahpahaman kemarin.


Karla dan Katrin diantarkan oleh supir, mereka sudah bersiap dan berangkat menuju pantai yang tidak terlalu jauh dari mansion utama. Dan ya hanya berdua saja, sebenarnya Dinar menolak keras, karena khawatir akan keselamatan keduanya, tapi Arsya membujuk Dinar, dan ya akhirnya mereka berdua diizinkan.


"Kami terlalu memanjakan si kembar dad, lihatlah putra tampan kita terlihat sedih karena tidak di ajak kedua kakaknya." Andra terlihat murung, karena Karla ataupun Katrin tidak mau mengajak nya, Arsya tersenyum. "Sudah kamu itu laki-laki, jadi jangan sering-sering bersama dengan kakak perempuan.... ingat boy, kamu tahu kan perempuan itu sangat sulit ditebak."


"Tapi dad aku juga ingin ikut berlibur, aku bosan di mansion terus." rajuknya, sungguh dia sangat mirip Dinar jika sedang ngambek. "Ok nanti daddy yang akan ajak kamu, gimana? setuju kan?." Andra memandang malas Arsya, dan pergi keluar.


"Sudahlah dad, biarkan saja dulu, nanti juga sembuh merajuk nya." Mereka gemas melihat kelakuan manja putra mereka. "Hmm kamu benar sayang. "


💕💖💕💖💕💖💕


"Hufttt sampai juga di pantai...... sepoi-sepoi anginnya bikin tenang." Karla berjalan menikmati desiran angin, dan deburan ombak yang menyatu, dia memjamkan matanya rasa nyaman ini sungguh membuatnya terbawa suasana. "Tenang sekali hari ini." gumamnya dengan masih menikmati alunan alam.


"Kakak menikmati sekali..... huhh tadi seperti banyak pikiran, ingat kak lebih baik tenangkan pikiran, rileks, tidak usah memikirkan hal berlebihan, kita itu masih remaja." Muncul lagi ceramah sang adik, Karla hanya menggelengkan kepalanya. "Iya tahu...... "

__ADS_1


Senja akan memperlihatkan keindahannya beberapa menit lagi, rasanya rindu dengan hal tersebut, senja memang indah tapi sayangnya keberadaannya hanya sesaat, yang meninggalkan kerinduan bagi para penikmatnya.


Lembaran baru telah terbuka, kini semuanya akan berjalan dengan indah, dan penuh dengan kebahagiaan, itulah harapan si kembar sekarang. Setelah penantian panjang akhirnya mereka telah berhasil menemukan tempat kembali yang sebenarnya.


__ADS_2