Putri Kembar Sang Psychopath

Putri Kembar Sang Psychopath
98-Cinta pandangan pertama


__ADS_3

Satu tahun berlalu...


Pov Katrin


Huft pagi hari indah menuju umur kelima belas ku dan Karla kembaranku, seminggu setelah kelulusan sekolah aku dan kakak kembarku mendaftarkan diri disekolah ternama yaitu SMA Bhimesena, sekolah menengah atas yang sangat unggul dalam segela bidang akademik dan non-akademik.


Hari ini kami akan berbelanja semua keperluan sekolah, keluarga kecil kami akhirnya bisa harmonis kembali, setelah tragedi yang benar-benar tidak terduga di keluarga Azhar, semuanya sudah berlalu, kami menjadikan itu sebagai pelajaran hidup, dan jangan sampai mengulangi nya lagi.


"Kak udah siap belum." teriakku dari lantai bawah, kakakku belum selesai bersiap, biasanya dia malas untuk sekedar keluar dari kamarnya, ya dia memang introvert dan sangat tertutup, bahkan banyak sekali yang penasaran dengan sosok Karla yang misterius.


"Bawel lo...." ucapnya dengan dingin. Karla berjalan menuruni anak tangga, tampilan yang seperti laki-laki, tapi dia sangat cool gue juga naksir kalau dia cowok, beuh vibes nya benar-benar idaman banget tuh kalau dia laki-laki.


Setelan kaos putih dan celana panjang hitam lengkap dengan rompi dengan warna senada dengan celana panjangnya, membuat aura tomboy nya sangat kental, ditambah dengan rambut sebahu miliknya dengan topi yang membuatnya semakin menawan, jangan lupakan jam tangan hitam miliknya ditambah canva shoe di kakinya, wah kakak kembarku sungguh membuatku jatuh hati.


"Udah gak usah bengong..... " sautnya judes abis, emang kalau lagi jutek Karla itu tambah cantik dan makin gemesin, aku jika sudah melihat Karla seperti ini, kayak yang langsung bengong aja, nggak nyangka punya kembaran tomboy yang cantik banget gila sihhh.


"Iya ya ampun putri kulkas ini, yaudah yuk gas kita berangkat." berbalik dengan ku yang berpakaian layaknya remaja perempuan pada umumnya, tapi aku lebih suka berpakaian kalem dan gak terlalu mencolok, hari ini aku memakai black dress yang short dengan daleman shirt putih, paduan sempurna dengan kembaranku, karena rambutku panjang di bawah bokong, jadi aku gerai kan rambutku dengan jepit bunga di bagian belakang, untuk merapihkan rambut milikku.


Kami berangkat berdua saja, karena memang sudah biasa, dan Karla lah yang bagian menyetir, hanya ada keheningan, dan itu memang sudah biasa, terlebih Karla memang irit sekali bicara, memang dulu dia kadang panjang kali lebar jika berbicara denganku, tapi semenjak kelas tiga SMP, dia mulai lebih suka diam dan makin dingin aja sampe sekarang ini.


Padahal bisa saja kami menyuruh pelayan untuk mempersiapkan semuanya, dan Karla tentu saja setuju, karena dia memang seperti itu, tidak mau ribet, tapi karena adik kembarnya yaitu aku ingin sekali pergi bersama kakak kulkas ku, aku berusaha membujuknya mati-matian, benar-benar sulit sekali mengajaknya, tapi akhirnya Karla mau ikut dan ya aku seneng banget.


"Kak besok kan masih ada waktu tiga hari lagi, gini aku mau ngobrol penting banget sama kakak, bisa ya?." sebenarnya aku mau memberitahukan sesuatu yang benar-benar penting padanya, dan itu memang harus diberitahu segera.

__ADS_1


"Hmmm.... ok." wih langsung setuju aja tuh anak, ok gak usah diulang berarti, meski memang jawabannya kaya orang males ngomong aja gitu. Ihh ngeselin pokoknya, kudu sabar sama kakakku ini.


Akhirnya kita sampai di mall yang ternyata mall milik keluarga Azhar yang kini dikelola oleh uncle Dafa, semenjak kematian kakek, uncle Dafa disuruh membantu perusahaan daddy bersama dengan uncle Asfi, memperbaiki semuanya dari awal, dan kepindahan perusahaan menjadi milik daddy sebagai CEO-nya dan uncle Asfi sebagai wakil CEO, serta uncle Dafa sebagai manajer nya. Jadi sebagian besar uncle Dafa yang mengurus dan mengawasi semuanya.


"Sampai juga kitaa...... ayo kak cepet aku udah gak sabar nih..." belum sempat kaki kami masuk ke dalam mall, aku dan Karla mendengar teriakan keras dari sisi kanan mall, dan benar saja ada yang berlari.


Copet..... copet... copettt.....


Ya ampun pagi-pagi begini sudah ada yang membuat onar, terlebih di hadapan kami, sungguh tidak tahu malu. Karla terlihat serius melihat orang ramai mengejar sang copet, pasti Karla akan melakukan sesuatu pada copet itu, ya karena biasanya kakakku sangat geram melihat hal memalukan seperti itu.


Dan benar saja dugaanku kakakku ikut berlari mengejar karena memang jarak Karla lebih dekat daripada yang sedang mengejar, karena copet tersebut berlari kearah jalan raya, dengan gesit Karla melemparkan sepatu miliknya, kukira itu tidak akan berhasil, tapi siapa sangka, hal konyol seperti itu bisa membuat copet tersungkur jatuh.


Karla segera mengunci pergerakan copet tersebut dengan tangannya, karena kembaranku kuat, jadi copet itu hanya bisa pasrah.


"Huft.... syukurlah udah ketangkep kak copetnya." ucap pemilik dari tas tersebut, terlihatlah mereka berdiri sedikit jauh dari keramaian tadi. Aku dan kakak mendekat pada mereka, ternyata seorang anak remaja yang umurnya mungkin dibawaku bersama dengan laki-laki yang terpaut jauh dari kita berdua.


"Ini tas ku kak.... makasih banyak telah membantu menangkap copet itu." gadis itu mendekat dengan mengucapkan rasa senangnya, dan bersyukur tasnya kembali.


"Oh ini tasmu ya, gak papa kok, tapi lain kali lebih berhati-hati, karena sekarang memang sedang rawan pencopetan." jelasku dan memberikan tas tersebut ke gadis tersebut. Tanpa disadari kami, laki-laki itu ternyata memperhatikan kami berdua, tanpa berkedip.


"Eh maaf, iya makasih banyak atas bantuannya aku kurang memperhatikan adikku tadi." dia sangat tampan dengan gigi gingsul miliknya yang tertata rapih dengan gigi lain, kulit putih dengan tubuh tingginya, membuat dia nampak dewasa, jugaan terlihat sekali dari cara berpakaian nya, dia adalah seorang mahasiswa.


"Iya yang terpenting sekarang sudah aman." seperti biasa kakak hanya diam sibuk dengan ponselnya, aku hanya berbasa-basi, ya untuk menghormati orang saja.

__ADS_1


"Gimana kalau saya traktir kalian, ya itung-itung buat ucapan terimakasih saya ke kalian berdua." duhh dia sopan banget sih, terlebih dia juga ramah dan mudah akrab.


"Gak usah kami buru-buru." jleb ucapan dingin milik kakak membuat semua terdiam, lelaki itu memandang kakak dengan tatapan yah sulit dijelaskan, ya tatapan penasaran, karena sedari tadi kakak hanya fokus pada ponsel, tanpa memperdulikan sekitar.


"Eits kak jangan gitu ok, kita ikut aja yaa aku laper soalnya." karena gak enak sama mereka, aku berusaha membujuk kakak yang amat keras kepala, duhh kakak ku yang cantik mau ya. Kakak hanya melirikku kilas, ada tatapan malas yang sangat terlihat, namun tertutup dengan wajah tanpa ekpresi nya, membuat siapa saja akan tertipu dengan tampang menyebalkan nya.


Kakak menghela nafas berat, ya aku paham akak hal tersebut, tapi karena kami menghargai tawaran tersebut, ya lumayan bisa makan gratis wkwk. Akhirnya dengan berat hati kakak mau ikut bersama. Kami berempat menuju cafe dilantai tiga dan memilih mengobrol ringan.


"Oh ya kak boleh kenalan gak?. "


"Boleh kenalin namaku Katrin dan ini kakak kembarku Karla, lalu kalau kamu siapa?." tanyaku, dia sungguh imut aku gemas, boleh lah jadi temen ku.


"Oh nama aku Rumi, dan ini kakakku Isya, seneng bisa kenal kakak." aku dan Rumi saling berkenalan, sementara kakak hanya sibuk sendiri, tapi yang anehnya kak Isya memperhatikan kakak tanpa berkedip sekali pun, aku penasaran sebenarnya apa yang sedang dipikirkan oleh nya.


"Ekhemmmm...... kak Isya masih sekolah atau gimana?." aku tanpa basa-basi, ya karena aku memang suka akrab dengan orang baru. Terlebih kak Isya terlihat menikmati perkenalan ini.


"Oh kalau kakak udah kuliah, baru semester tiga, bener-bener mirip kalian berdua, sampai aku bingung waktu pertama kali liat kalian berdua." kan bener dia langsung akrab aja, dasar si ramah bukan main.


"Tentu saja kak, mudah membedakan kami kok, bisa dilihat dari penampilan dan bisa juga dari rambut kami, ya meski wajah kami sangat mirip."


"Kenapa dia begitu misterius, dia diam sejak tadi, hanya berbicara seperlunya saja, benar-benar menarik, tapi tatapan matanya membuatku terpana." aku tahu jika kak Isya pasti sedang memikirkan kakak, apalagi sifat misterius yang dia punya membuat siapa saja penasaran.


"Ohh begitu, sangat mudah dibedakan ya." Kakak melirik sekilas kearah kak Isya, sedetik kemudian pandangan mereka saling menyapa, tapi kalian tahu kan kalau kakak pasti akan langsung memutuskan kontak matanya. Huh padahal aku fokus ke mereka, seperti lagi merasakan cinta pandangan pertama.

__ADS_1


"Akhh sial..... pandangan dan pikiranku tidak bisa fokus, kenapa malah fokus padanya, benar-benar aura misterius yang sangat membuatku semakin tertarik padanya...... "


__ADS_2