Putri Kembar Sang Psychopath

Putri Kembar Sang Psychopath
36 kembali (Terima kasih untuk segalanya)


__ADS_3

Beberapa jam kemudian, jet pribadi milik Arsya sudah mendarat di bandara, Karla dan Katrin masih tertidur dan Arsya tidak akan membangunkan mereka, sedangkan Dinar membawa tas milik kedua putrinya. Mobil pribadi milik Arsya sudah standby di sana menunggu kedatangan tuan mereka.


Semua pengawal dan juga bawahan Arsya menunduk hormat, Arsya hanya tersenyum tipis dia sedang membawa kedua putri kecilnya di gendongannya. Dinar merasa tak enak di perlakukan seperti itu, dia hanya wanita biasa yang tak pantas berada di samping Arsya, dia hanya berjalan menunduk di belakang Arsya.


Mereka menaiki mobil pribadi milik Arsya, Aryan di depan bersama dengan supir sementara Dinar dan Arsya berada di belakang bersama dengan Karla dan juga Katrin. Mereka masih tertidur pulas di pangkuan Arsya dan juga Dinar. Hanya ada keheningan di sana Dinar sama sekali tak membuka suara, dia tidak tahu setelah apa yang akan terjadi setelah ini.


Arsya tidak suka dengan hal seperti ini, dia ingin berbicara pada Dinar tapi dia tak berani, akhirnya mereka hanya saling mendiamkan. Beberapa menit perjalanan sampailah mereka di mansion pribadi milik Arsya, tampilan megah nang mewah yang kini tergambar di pandangan mata Dinar. Arsya sengaja tak membawa dahulu Dinar untuk di perkenalkan kepada kedua orang tuanya.


"Mulai sekarang kamu dan juga kedua anak kita akan tinggal di sini, kamu boleh menggunakan semua fasilitas di mansion ini semaumu." ucap Arsya mereka pun masuk bersama, seperti biasa Si kembar masih dalam gendongan Arsya, dia tidak tega jika sampai harus membangunkan keduanya.


Dinar menatap sekitar mansion sampai sudutnya, hanya satu jawabannya sangat mewah dan parabot nya juga terlihat mahal dan bermerek. Dinar mengikuti langkah Arsya, mereka akan menuju kamar sementara Karla dan Katrin, karena Arsya baru tahu kalau dia memliki dia orang putri.


"Ini adalah kamar sementara Karla dan Katrin, aku akan segera membuatkan kamar mereka secepatnya, jadi kamu tak perlu khawatir." jelas Arsya, entah sejak kapan Arsya jadi banyak bicara. Arsya meletakan kedua putrinya di bantu oleh Dinar.


"Terima kasih karena kamu masih peduli dan mau mengakui mereka, aku sangat senang karena keinginan mereka terwujud." Dinar sangat berterima kasih karena Arsya dengan senang hati menyayangi keduanya, Dinar sementara berfikir jika ayah dari kedua putrinya tak mau peduli ataupun mengakuinya, tapi dia salah ternyata Arsya sangat menyayangi mereka.


"Kamu tidak perlu berterima kasih, mereka juga anakku dan aku tak akan membiarkan mereka hidup tanpa kasih sayang ayahnya." Arsya tentu akan sangat menyayangi mereka karena mereka adalah darah dagingnya sendiri.


"Ya sudah aku akan mengantarkan dirimu ke kamar, nanti biar pelayan yang akan membereskan barang-barang mereka. " Arsya mengajak Dinar pergi ke kamarnya karena Dinar harus beristirahat.


"Baiklah.... " Dinar pun hanya bisa menurut, entah kenapa hari ini dia sangat menuruti kata-kata Arsya.


Sesampainya di kamar Dinar yang berada di sebelah kamarnya, dia sengaja memberikan kamar itu untuk calon istrinya karena Arsya sudah menetapkan hatinya untuk Dinar, sekarang dia tak mau berjauhan dengan Dinar.

__ADS_1


"Ini kamarmu kamu bisa melakukan apapun disini, jangan pernah sungkan anggap saja ini rumahmu." ucapnya.


"Tidak usah berlebihan ini semua lebih dari cukup, yang terpenting Karla dan Katrin bisa bahagia di sini." Dinar tak membutuhkan kekayaan yang berlebihan, yang terpenting adalah kedua putrinya bisa bahagia.


"Tapi kamu juga berhak bahagia Dinar.... aku akan bertanggung jawab atas semua yang kulakukan terhadapmu." Ucap Arsya dengan serius, kini dia akan menebus semuanya, dan tidak akan membuat Dinar pergi lagi.


"Sekarang giliranku untuk membahagiakan mu dan juga kedua anak kita, aku tidak akan membuat kamu pergi lagi...." Arsya menghentikan ucapannya, dia menghela nafas.


"Dan tak akan kamu mengurus mereka sendirian, karena mereka juga anak-anakku." Arsya memperjelas bahwa bukan hanya Dinar lah orang tuanya tapi dia juga berhak atas Karla dan Katrin.


"Tapi... aku tak bisa tinggal di sini lebih lama... biarkan mereka yang berada di sini." Dinar tak bisa tinggal di mansion ini, dia membiarkan kedua putrinya berada di sini, dan Dinar akan mencari rumah sewa.


"Tidak.... apa maksudmu hah?! mereka membutuhkanmu di sisinya, aku tak akan membiarkan kamu pergi, ingat jika kamu sudah memiliki sesutu yang menghubungkan kita maka jangan berharap kamu bisa lepas." tegas Arsya dia tak bisa membiarkan Dinar lepas dari genggamannya.


Arsya tak habis pikir dengan pemikiran dangal wanitanya, kenapa Dinar bisa berfikir seperti itu padahal banyak yang menginginkan posisinya saat ini, tapi Dinar malah menolaknya.


"Apa kamu bodoh hah?! mereka masih sangat membutuhkan dirimu jadi tolong jangan besarkan egomu itu Dinar..... aku sudah lelah mencarimu selama delapan tahun silam, dan ini bayaran dari semua perjuanganku hah?." Kini Arsya sudah tak bisa menahan emosinya lagi, sikap ego dan keras kepala Dinar membuatnya semakin kesal.


Dinar tak menjawab, dia masih mencerna ucapan Arsya. Dinar memang masih membesarkan egonya, dia masih belum yakin sepenuhnya dengan semua yang di katakan Arsya, Dinar masih belum percaya jika Arsya benar-benar sudah menyumoan namanya dalam hati.


"Kamu tahu..... semua yang kulakukan adalah atas kemauanku, mencarimu adalah tujuanku dan semuanya adalah tentang dirimu apa kau tak bisa mengerti sedikitpun tentang perasaanku?." Suara Arsya sedikit diturunkan, dia memang belum yakin akan perasaan aneh dalam dirinya, tapi dia yakin jika Dinar adalah tujuan dia bisa membangun hidup lebih baik lagi.


Dinar tertunduk bagaimanapun juga perkataan Arsya membuat dia berfikir keras, dia tak bisa mengabaikannya begitu saja, Dinar bisa memberikan kesempatan untuk Arsya membuktikan ucapannya, bahwa tujuan hidupnya adalah ingin bersamanya.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak menjawab...? Dinar jawablah aku.... tolong mengertilah perasaanku, aku tahu kamu belum sepenuhnya percaya dengan semua ocehan ku, tapi percayalah itu semua adalah sebuah kejujuran dari hatiku...... " Arsya berhenti sejenak.


"Bahwa semua perkataan ku adalah tulus dari hatiku..... jika kamu tidak bisa mempercayainya sekarang maka berilah aku waktu untuk membuktikan nya padamu, bahwa semua itu bisa kamu percaya." Ini baru pertama kali dalam hidup Arsya dia memohon agar bisa di percayai wanita, karena sejak dulu dia selalu menutup diri apalagi pada wanita, Arsya adalah lelaki penuh misteri yang tak bisa di tebak oleh pemikiran siapapun.


Dinar berfikir bisakah dia mempercayainya? atau aka tetap mengabaikannya. Dia bernafas berat, keputusan ini bahkan lebih sulit dari semua masalahnya, dia akan mengikat dirinya dengan Arsya, yang belum dia ketahui seluk beluknya, bahkan ini adalah ketiga kalinya dia bertemu, meski yang kedua dia tak terlalu mengenalnya.


"Jawablah Dinar.... " Arsya sedikit berteriak karena Dinar sejak tadi hanya diam sambil menunduk.


"Eee... maaf aku melamun." Dinar tersadar, tapi semuanya harus benar-benar dia pertimbangkan dengan baik, dia juga harus bisa menghargai semua perjuangan Arsya, yang tak berhenti mencarinya meski mereka hanya bertemu beberapa kali, bahkan mereka belum bisa memahami satu sama lain.


"Huft..... baiklah aku akan memberi kesempatan untukmu, untuk mu bisa membuktikan ucapanmu dengan tindakan, tapi jika ternyata kamu hanya berdalih maka aku tak segan pergi bersama kedua putriku." Dinat pun memutuskan agar Arsya membuktikannya dengan tindakan, karena baginya ucapan tidak akan cukup.


"Hei ralat, mereka bukan hanya anakmu tapi anak kita." Arsya memperbaiki perkataan ucapan Dinar yang hanya mengatakan jika mereka hanya putrinya. Dinar memutar bola matanya malas, tingkah Arsya membuatnya ilfil.


"Terserah kamu saja.... sudah tidak ada yang di bicarakan lagi kan.... jadi aku mohon padamu untuk keluar dari sini." usir Dinar, dia tak suka jika Arsya berada di dekatnya terus.


"Ini rumahku jadi bebas aku mau melakukan apapun." Arsya suka jika Dinar sedang kesal, itu membuatnya semakin gemas. Dinar tak merespon dia malah memalingkan wajahnya.


"Baiklah.... aku hanya akan mengatakan hal terakhir sebelum keluar dari sini..... Terima kasih kamu mau kembali kesini demi anak kita, dan terima kasih untuk segalanya." setelah mengatakan hal itu Arsya beranjak pergi, sementara reaksi Dinar tak terduga akan mendengar ucapan lembut itu dari seorang yang dingin seperti Arsya.


Hatinya menghangat ketika mendengar Arsya berterima kasih, namun dengan segera dia tersadar, hanya dengan ucapan lembut Arsya hatinya bisa menghangat, entah perasaan apa yang tiba-tiba membuatnya sedemikian rupa.


"Ishhh.... sadar Dinar jangan terpesona hanya karena ucapan lembut nya." Dinar menepuk-nepuk pipinya agar tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


__ADS_2