Salah Masuk Kamar Pengantin

Salah Masuk Kamar Pengantin
Bab. 10. Memperkenalkan Diri.


__ADS_3

Devan merasa terkejut dengan apa yang Amora katakan, sementara wanita itu santai saja menarik tangannya dan memberikan kunci mobil.


"Cepatlah!"


Devan segera membukakan pintu mobil itu dan mempersilahkan Amora masuk, sementara dia sendiri juga segera duduk di belakang kemudi dan berlalu pergi dari sana.


Sepanjang perjalanan, Devan terus melirik ke arah Amora yang sedang memandangi jalanan. Sungguh dia sangat tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada wanita itu, wanita yang baru beberapa hari dia kenal.


"Nona, apa Nona tetap ingin bertemu dengan mertua saya?"


"Tentu saja! Untuk apa aku ikut denganmu jika tidak bertemu dengan mereka?"


Benar juga, Devan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Baiklah, terserah saja wanita itu mau melakukan apa, asalkan jangan membuat keributan dengan mertuanya.


Tidak berselang lama, mobil mereka sudah sampai dihalaman rumah mininalis bercet biru. Devan segera turun dan membuka pintu untuk Amora.


"Ini, ini rumah saya, Nona!"


Amora memperhatikan rumah yang ada di hadapannya, terbilang kecil tapi tampak sangat hangat dan nyaman.


"Devan!"


Devan dan Amora segera beralih ke arah sumber suara, terlihat seorang lelaki dan wanita paruh baya sedang duduk di samping rumah itu.


"Ayah, Ibu!"


Devan segera menyalim tangan mereka dan memberi pelukan hangat, mereka juga membalas pelukannya sembari bertanya bagaimana kabarnya.


"Aku baik-baik saja, Ibu, Ayah! Maaf sudah membuat kalian menunggu!"


Kedua mertuanya itu mengatakan tidak masalah, kemudian mereka melirik ke arah Amora yang sejak tadi diam di belakang Devan.


Devan yang seolah tau rasa penasaran mereka segera memperkenalkan Amora. "Nona Amora ini adalah bosku!"


Kedua mertuanya itu manggut-manggut. "Jadi Nona ini, pemilik kafe tempat Devan kerja?"


Amora terdiam, dia tidak mengerti apa yang wanita paruh baya itu tanyakan dan beralih melihat ke arah Devan.


"Bu-bukan, Bu! Nona Amora ini ....!" Devan merasa bingung harus mengatakan dia siapa.

__ADS_1


"Saya sebenarnya partner kerja menantu Ibu!"


Wanita paruh baya itu menganggukkan kepalanya dan beralih menyuruh Devan untuk membuka pintu. Kakinya sudah sangat pegal karna sejak tadi menunggu menantunya itu pulang.


Devan masih melihat ke arah Amora dengan heran, untuk pertama kalinya dia mendengar nada bicara Amora yang tidak dingin seperti biasanya.


"Devan!"


Dia lalu tersentak kaget saat Mertuanya kembali memanggil, dengan cepat dia membuka pintu rumahnya dan mempersilahkan mereka semua untuk masuk.


Tidak berselang lama, datanganlah seorang wanita cantik ke rumah Devan dengan menenteng tas mahalnya. Dia terlihat terburu-buru sampai hampir terjatuh tersandung batu.


"Ibu benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang istrimu lakukan!"


Deg, jantung Devan berpacu cepat saat mendengar ucapan mertuanya. Dia menerka-nerka apakah wanita paruh baya itu sudah tau tentang perselingkuhan istrinya.


"Bisa-bisanya dia bekerja sampai larut malam seperti ini, apa dia pikir dia itu masih lajang?"


Devan menghembuskan napas lega dan itu berhasil membuat Amora meliriknya dengan tajam, dia merasa kesal karna Devan malah lega saat perselingkuhan istrinya tidak ketahuan.


"apa Ibu tidak-"


"Ibu, Ayah!"


"Lidya?" guman Devan, dia lalu melihat ke arah Amora. Wanita itu benar-benar hebat karna berhasil membuat istrinya pulang.


Lidya bergegas masuk dengan napas tersengal-sengal, dia segera menyalim tangan kedua orangtuanya dan berlalu duduk di samping Devan.


"Maaf Mas, aku pulang terlambat!"


Lidya segera menyalim tangan Devan membuat lelaki itu terdiam, wajahnya menegang dengan drama yang coba istrinya itu mainkan.


"Kau itu sudah menjadi istri, Lidya! Jadi tidak sepantasnya kau kerja sampai larut malam seperti ini!"


Lidya menganggukkan kepalanya. "Maaf Bu, cuma malam ini saja kok aku kerja sampai larut. Biasanya juga sore sudah pulang, ya kan Mas?"


Lidya merangkul lengan Devan dengan senyum semanis gula, sementara Devan sendiri mengepalkan tangannya yang ada di bawah meja melihat tingkah menjijikkan istrinya.


"Anda hebat, Nona! Walaupun sudah menjadi istri, tapi anda masih bekerja keras!"

__ADS_1


Lidya yang baru sadar dengan keberadaan Amora melihatnya dengan tajam. "Siapa kau?"


"Perkenalkan, saya Amora!"


Amora menyodorkan tangannya, tetapi Lidya malah melihat ke arah Devan seolah-olah sedang bertanya siapa wanita yang ada di rumah mereka.


Amora kembali menarik tangannya dengan tersenyum tipis. "Menarik sekali!"


"Dia adalah Nona Amora, partner kerjaku!"


Devan terpaksa mengikuti ucapan Amora tadi, tidak mungkin jawabannya dan jawaban wanita itu berbeda. Bisa saja mertuanya akan merasa curiga.


"Partner bisnis? Sejak kapan? Kok aku enggak tau?"


Terdengar jelas ketidaksukaan dinada bicara Lidya hingga membuat Devan tersenyum sinis, sungguh istrinya sangat pandai sekali.


"kayak mana kau tau, kalau kau sibuk sendiri sama pekerjaanmu!" seru Ibunya Lidya membuat anaknya langsung diam.


"Kami belum lama bekerja sama, Nona! Jadi maaf kalau saya belum sempat bertemu dengan Nona!"


Lidya melihat Amora dengan tajam, dia memperhatikan penampilan wanita itu dari atas sampai bawah, dan terlihat jelas kalau wanita itu adalah orang kaya.


"Seharusnya anda langsung menemui saya, karna tidak pantas kalau seorang lelaki yang sudah menikah menjalin kerja sama dengan wanita lain tanpa sepengetahuan istrinya!"


Devan ingin sekali menarik mulut Lidya, wanita itu benar-benar tidak berkaca dengan apa yang sudah dia lakukan.


Sementara itu, Amora tersenyum tipis. Dia benar-benar merasa sangat tertarik dengan Lidya, bukan tertarik karna dia jatuh cinta, tetapi karna pintarnya wanita itu memutar balikkan fakta.


"Saya mengerti, Nona! Saya minta maaf karna sudah menyinggung perasaan anda, saya tau kalau anda sangat mencintai suami anda!"


Deg, Lidya merasa tertampar dengan ucapan Amora. Wanita itu seperti sedang menyindirnya bahwa dia sama sekali tidak mencintai suaminya.


"Sebenarnya siapa wanita ini, kenapa dia bisa berhubungan dengan Devan?"




__ADS_1


Tbc.



__ADS_2