Salah Masuk Kamar Pengantin

Salah Masuk Kamar Pengantin
Bab. 46. Kediaman Samy.


__ADS_3

Justin berlari kencang ke arah Amora saat melihat Roberto menodongkan pistolnya ke arah gadis itu, tetapi terlambat.


Dor!


Bruk!


Amora menegang saat mendengar suara tembakan yang berasal dari belakang, dia langsung memutar tubuhnya untuk melihat apa yang sedang terjadi.


"Devan?"


Justin menghembuskan napas lega karna Devan berhasil menembak Roberto lebih dulu, sebelum laki-laki itu menembak Amora.


Amora sendiri terpaku saat melihat semua itu, untuk pertama kalinya dia nyaris mati karna tidak hati-hati.


"Kau, kau tidak apa-apa?"


Devan memegang kedua bahu Amora membuat wanita itu tersentak, belum sempat Amora menjawab pertanyaannya, dia langsung memeluk tubuh gadis itu dengan erat.


"Syukurlah kau tidak apa-apa!"


Deg, deg, deg. Jantung Amora berdetak kencang saat tubuhnya dipeluk erat oleh Devan, tangan yang semula menggantung kini mulai membalas pelukan laki-laki itu.


Untuk beberapa saat mereka diam seperti itu, seolah sama-sama menikmati pelukan hangat yang sedang terjadi.


Justin membuang muka sebal melihat adegan itu, dalam keadaan seperti ini sempat-sempatnya mereka pelukan seperti itu.


Saat berbalik, Justin melihat pergerakan dari Lucas yang sedang menyelinap dengan memegang senjata. Dengan cepat dia berlari ke arah Amora dan Devan, lalu mendorong tubuh keduanya hingga hampir terjungkal ke depan.


Dor!


Untung saja Justin sempat berguling sebelum peluru berhasil menembus tubuhnya, dia lalu melihat Lucas dengan tajam dan membalas serangan laki-laki itu.


Dor


Dor


Amora yang melihatnya tentu tidak tinggal diam, begitu juga dengan Devan yang membantu Justin untuk menyerang lawan mereka.


Deg, mata Lucas dan Amora saling bertatapan. Amora tidak tau kalau yang menyerang mereka adalah Lucas, dan tidak sempat untuk bersembunyi.

__ADS_1


Lucas sendiri tercengang saat melihat Amora, dia tidak menyangka kalau wanita yang baru saja berkenalan dengannya ternyata orang yang sama dibalik penyerangan terhadap Roberto.


Dor!


Suara tembakan seakan menyadarkan mereka berdua akan keadaan sekitar, dan langsung memutus pandangan itu ke arah lain.


"Kita mundur!"


Seketika anak buah Lucas melihat ke arahnya dengan bingung, untuk pertama kalinya bos mereka mundur dalam perang.


Amora dan yang lainnya melihat Lucas dengan bingung, karna mereka melihat laki-laki itu mundur dengan beberapa orang yang masih tersisa.


"apa kita harus mengejar mereka, Nona?"


"Tidak, itu tidak perlu! Amankan tempat ini, jangan sampai tertinggal jejak kita di sini!"


Semuanya menganggukkan kepala mendengar perintah Amora, dia lalu berjalan ke arah mobil dengan diikuti oleh Devan.


"Apa kau baik-baik saja?"


Amora mendongakkan kepalanya, saat ini dia sedang duduk di atas rumput tepat di samping mobilnya berada.


"Duduklah!"


"Aku lelah!"


Untuk pertama kalinya Amora mengeluh pada orang lain selain Justin, biasanya dia akan melakukan hal ini pada laki-laki itu. Namun, sekarang dia malah melakukannya pada Devan.


"Kalau lelah istirahat, tidak ada yang memaksamu untuk terus tersiksa dengan rasa lelah itu!"


Tangan Devan terulur mengusap puncak kepala Amora, dan itu benar-benar membuat gadis itu merasa sangat tenang.


Untuk beberapa saat mereka tetap berada dalam posisi seperti itu, sampai Justin datang dan mengajak mereka untuk pergi dari sana.


Sementara itu, di tempat lain terlihat seorang lelaki sedang berdiri di balkon kamarnya. Terlihat sudah banyak puntung rokok yang tergeletak di samping kakinya, pertanda kalau sejak tadi dia berdiri di tempat itu.


"Tuan, saya sudah tau di mana Nona berada!"


Samy memutar tubuhnya untuk menghadap ke arah lelaki yang memberi laporan padanya. "Katakan!"

__ADS_1


"Nona sedang berada di Kota Y, tepatnya disalah satu klub terbesar di sana! Dan menurut mata-mata kita, Nona sedang bermusuhan dengan pemilik klub itu!"


Samy mengangguk-anggukkan kepalanya, sejak sore dia sudah merasa khawatir saat mendengar kalau Amora pergi bersama anak buahnya.


"siapa pemilik klub itu?" tanyanya kemudian sembari duduk di atas kursi, dia mengambil kopi yang tersaji di atas meja dan meminumnya.


"Namanya Roberto, dia penduduk asli di kota itu!"


Lelaki itu menyerahkan selembar kertas pada Samy, yang berisi semua identitas tentang lelaki yang sedang mereka bicarakan.


"bukannya Amora sedang membangun klub di kota itu?"


"Benar, Tuan! Dan Nona ke sana untuk membalas dendam atas apa yang sudah Roberto lakukan, yaitu penyerangan beberapa hari lalu!"


Samy kembali menganggukkan kepalanya, dia tau tentang penyerangan itu. Namun, dia memilih untuk tetap diam agar Amora tidak semakin jauh darinya, karna semakin dia mencoba untuk dekat, maka semakin jauh pula lah gadis itu.


"Baiklah, pastikan semuanya baik-baik saja! Jangan lupa untuk terus memberi kabar padaku tentang keadaan Amora!"


Laki-laki itu menganggukkan kepala, tetapi dia masih tetap berdiri di tempatnya karna sedang berpikir harus mengatakan apa yang baru saja dia dengar atau tidak.


Samy yang menyadari lelaki itu masih diam melirik sekilas ke arahnya. "Apa ada lagi yang ingin kau katakan?" Biasanya asistennya itu akan langsung pergi jika sudah selesai melapor. Namun, kenapa sekarang dia masih diam di tempat itu?


"Em ... ada satu hal lagi yang ingin saya laporkan, Tuan!" Terdengar jelas keraguan dari suaranya saat ini, tetapi lebih baik dia langsung mengatakaannya sebelum Samy tau dari yang lain.


"katakan saja, kenapa kau ragu-ragu?" tanya Samy.


"Tuan, Tuan Lucas juga ada di sana, dia ada di tempat yang sama dengan Nona!"


Samy langsung berdiri saat mendengar ucapan laki-laki itu. "Maksudmu?"


"Tuan Lucas dan Roberto menjalin hubungan bisnis, dan sepertinya Tuan Lucas sedang mengunjungi Roberto! Dia, dia juga sudah bertemu dengan Nona!"


Deg, jantung Samy berdebar kencang saat mendengarnya. Tidak, dia tidak boleh membiarkan laki-laki itu tau siapa Amora.


"Hubungi laki-laki itu, dan katakan kalau aku ingin bertemu dengannya!"



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2