Salah Masuk Kamar Pengantin

Salah Masuk Kamar Pengantin
Bab. 15. Mencari Masalah Dengan Justin.


__ADS_3

Justin mengerutkan keningnya mendengar perintah Amora, dia tidak bisa membantah tapi tidak juga bisa menolak.


"Baik, Nona!"


Mau tidak mau dia harus melakukan apapun yang Nonanya mau, kemudian mereka berdua pergi dari tempat itu dan segera pergi ke tempat selanjutnya.


Tidak bsrselang lama, Mobil mereka sampai diparkiran sebuah kafe. Ternyata Amora ingin menemui Devan, terlihat suasana kafe itu cukup ramai karna memang sekarang waktunya jam makan siang.


"Selamat datang, Nona, Tuan! Silahkan!"


Seorang wanita menyambut kedatangan mereka dan mempersilahkan mereka untuk duduk, dia lalu meletakkan menu makanan dan minuman ke atas meja.


Mata Amora berkeliling tempat itu untuk mencari keberadaan Devan, dia lalu melihat kesatu titik di mana Devan sedang bicara dengan seorang wanita.


"Siapa dia?"


Justin yang sibuk melihat menu beralih melihat ke arah yang Amora liat, keningnya berkerut saat melihat Devan bersama dengan wanita.


"Apa Nona mau saya memanggilnya?"


Amora menggelengkan kepalanya. "Panggil Devan kemari!"


Dasar Amora, dia tidak mau Justin memanggil Devan, tetapi malah menyuruh pelayan yang ada di hadapannya.


"maaf Nona, Devan?" tanya pelayan tersebut dan dibalas dengan anggukan kepala Amora.


"Devan itu, Kak Devan?"


"Kenapa pertanyaanmu banyak sekali?"


Pelayan itu kaget mendengar suara Justin, dia lalu meminta maaf dan segera memanggil Devan sebelum lelaki itu menelannya hidup-hidup.


"Kak Devan!"


Devan yang masih sibuk berbincang menoleh ke arah sumber suara, terlihat pelayan itu datang menghampirinya.


"Ada apa, Niki? Apa kau membuat ulah lagi?"


Pelayan bernama Niki itu mengibas-ngibaskan tangannya. "Bukan itu! Ada seorang wanita dan lelaki yang mencari Kakak!" Dia lalu menunjuk tepat ke arah Amora dan Justin yang melihat mereka dengan tajam.


Devan langsung membulatkan matanya saat melihat Amora dan Justin ada ditempat itu, dia langsung melompat dari kursi membuat dua orang wanita yang ada di sana terjingkat kaget.


"Astaga, ngagetin aja sih, Kak! Kakak mau atraksi?" Niki memegangi dadanya yang berdebar-debar.


"Niki, cepat siapkan makanan dan minuman terbaik untuk mereka!"

__ADS_1


Devan segera menghampiri mereka yang terus menatapnya dengan tajam, beberapa kali dia menelan salivenya seperti sedang melakukan kesalahan.


"A-anda di sini, Nona?"


Devan menundukkan kepalanya, tidak lupa dia juga menyapa Justin walaupun laki-laki itu sama sekali tidak peduli.


"Siapa dia?"


Devan terdiam, dia tidak paham siapa yang sedang ditanyakan oleh Amora sementara Amora sendiri tidak mengendurkan tatapan tajamnya.


"ma-maksudnya siapa, Nona?"


"Ck!"


Amora merasa kesal, dia yang bertanya tetapi lelaki itu malah kembali bertanya padanya, sementara Devan sedang kebingungan saat ini.


"Siapa wanita yang bersamamu tadi?"


Akhirnya Justin mengeluarkan suaranya, walaupun dia sama sekali tidak ikhlas melakukan itu.


"Wanita yang bicara dengan saya tadi, Nona? Dia adalah Ria, adik saya!"


Amora mengerutkan keningnya dengan wajah masam, sejak kapan pula laki-laki itu punya adik sedangkan Devan cuma sebatang kara.


"kau tidak punya adik!"


Devan terkejut dengan ucapan Amora, dari mana wanita itu tau kalau dia tidak punya adik? pikirnya. Akan tetapi, yang lebih mengejutkan saat ini adalah raut wajah Amora yang terlihat jelas sedang marah.


"Di-dia satu panti asuhan dengan saya, Nona! Jadi saya sudah menganggapnya adik!"


Amora terdiam, entah kenapa tiba-tiba moodnya jadi rusak saat melihat Devan bicara dengan wanita lain. Apalagi mendengar jawaban laki-laki itu, yang mengatakan kalau wanita itu adalah adiknya.


Kedatangan Niki berhasil memecah keheningan yang terjadi, dia lalu meletakkan makanan dan minuman ke atas meja.


"selamat menikmati, Tuan, Nona!"


"Aku tidak suka pasta!"


Baru saja Niki melangkah, dia mendengar suara seseorang yang membuat kakinya mendadak jadi diam. Dia beralih melihat ke arah Justin yang juga sedang melihatnya.


"ma-maaf, Tuan! Saya, saya akan menggantinya!"


Niki yang tidak sadar kalau saat ini kakinya sedang terbuka dan menghadap ke arah lain, berniat untuk mengambil pasta yang ada di atas meja.


Alhasil, tubuhnya hilang keseimbangan dan dia terjatuh tepat dipangkuan Justin, membuat pasta yang dia pegang juga terlempar ke baju lelaki itu.

__ADS_1


Pyar! Suara piring pecah menggema di kafe itu membuat beberapa orang langsung melihat ke arah mereka, sementara Devan hanya tercengang menyaksikan tragedi itu.


Niki yang baru sadar langsung berusaha untuk bangun, tapi lagi-lagi tubuh si*alannya tidak bisa untuk diajak untuk kerja sama.


Tangannya yang mencoba mencari pegangan agar bisa bangun, tidak sengaja mencengkram aset Justin membuat wajah lelaki itu merah padam.


"Ma-maafkan saya, Tuan!"


Justin langsung menarik tangan wanita itu dan menghempaskannya ke atas lantai, dia berusaha menutupi asetnya yang sudah tergak menantang akibat cengkraman wanita itu.


Devan yang melihatnya langsung membantu Niki. "Tolong maafkan adik saya, Tuan! Dia, dia pasti tidak sengaja melakukannya!"


"benar, Tuan! Saya tidak-"


"Diam!"


Seketika seisi kafe itu langsung diam, orang-orang yang tadinya saling berbisik langsung menutup mulut mereka, padahal Justin mengatakan itu untuk wanita yang sudah mencari gara-gara dengannya.


Justin bangun dari duduknya dan melihat ke arah Amora. "Saya permisi sebentar, Nona!" Dia lalu beralih melihat pelayan itu setelah melihat anggukan kepala Amora.


"Ikut aku!"


Glek, Niki langsung memeluk lengan Devan yang ada di sampingnya. Dia merasa takut dengan Justin, apalagi laki-laki itu memintanya untuk mengikuti.


"Apa kau tuli?"


Niki terjingkat kaget dan bergegas bangun, dia segera mengikuti langkah Justin dengan gontai sambil berharap kalau tidak akan terjadi sesuatu padanya.


Devan lalu menyuruh pelayan lain untuk membersihkan lantai yang kotor itu, dia juga meminta maaf pada semua pelanggan atas ketidaknyamanan yang sedang terjadi.


"saya, saya minta maaf untuk semua yang sudah terjadi, Nona! Niki tidak-"


"Dia sudah cukup dewasa untuk minta maaf sendiri!"


Devan langsung terdiam, dia merasa hari ini adalah hari kesi*alannya. Masalah terus datang menyerangnya sejak pagi tadi, hingga dia ingin mengangkat tangan pertanda menyerah pada kamera.


"Maaf Nona, Tuan Justin tidak akan menyakiti Niki kan?" Dia baru ingat kalau hidup Niki sedang berada diujung tanduk.


"Kak Justin tidak pernah membunuh wanita!"


"Apa?"



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2