
Keesokan harinya, seperti biasa Devan bangun lebih awal lalu berniat untuk menyiapkan sarapan. Namun, dia melihat mertuanya sudah ada di dapur dan sedang memasak menu sarapan mereka.
"Kau sudah bangun, Devan?
Devan menganggukkan kepalanya dan mendekati wanita paruh baya itu. "Kenapa Ibu bangun lebih awal?" Dia lalu membantu mertuanya itu untuk menyiapkan sarapan.
"Mau bagaimana lagi? Ibu punya seorang putri yang tidak tau mengurus pekerjaan rumah!"
Wanita paruh baya itu mendessah kesal, entah sudah berapa kali dia memarahi Lidya tetapi anaknya itu tetap saja tidak menuruti ucapannya.
"sudahlah, Bu! Aku tidak mempermasalahkan semua itu!"
"Tapi bagi Ibu itu masalah, Devan! Ibu yakin kalau dia juga tidak pernah melayanimu kan?"
Devan terdiam, namun sesaat kemudian dia menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan mertuanya itu.
"Apa kau mau mencari wanita lain, Devan?"
Devan langsung melihat mertuanya dengan tajam, dia sedang berpikir keras kenapa wanita paruh baya itu tiba-tiba berkata seperti itu.
"Ibu tau kalau hubungan kalian tidak baik-baik saja, Devan! Kalian bahkan tidak tidur sekamar kan?"
Devan menela salivenya dengan kasar, mungkin memang sudah saatnya dia memberitahu semua yang Lidya lakukan, dan menyudahi acara balas dendamnya.
"Benar, Bu! Kami memang sedang ada masalah!"
Mertuanya itu lalu mencuci tangan dan mengajak Devan untuk duduk, dia ingin mendengar masalah apa yang sedang terjadi dalam rumah tangga mereka.
"Sekarang katakan! Apa yang terjadi di antara kalian?"
Devan menarik napas dalam, semoga ini menjadi jalan terbaik bagi semua orang.
"sebenarnya ada-"
"Devan!"
Belum sempat Devan menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Lidya datang dan memotong pembicaraan itu. Terlihat Lidya berjalan cepat ke arahnya dan juga sang mertua.
"Lidya? Tumben kau bangum cepat?" tanya sang Ibu dengan heran.
"Ck, ibu bagaimana sih? Kan Ibu sendiri yang bilang kalau aku harus jadi istri yang baik!"
__ADS_1
Wanita paruh baya itu hanya mencebikkan bibirnya saja, kemudian dia kembali beralih ke arah Devan yang terdiam di kursi.
"Kau tadi mau ngomong apa, Devan?"
Devan tersenyum sinis, tidak mungkin dia langsung mengatakan semuanya tepat di hadapan Lidya. Sudah pasti wanita itu akan mengelak dan membela diri, ujung-ujungnya mereka akan kembali bertengkar.
"Tidak, Bu! Kami hanya salah paham saja, yah namanya juga berumah tangga!"
Wanita paruh baya itu menganggukkan kepalanya, dia lalu kembali mendekati kompor karna ingin melanjutkan acara masak-masaknya.
Setelah mertuanya sedikit menjauh, Devan bangun dan hendak ke kamar. Namun, dia berdiri tepat di samping Lidya yang menatapnya tajam.
"Ini terakhir kalinya aku menutupi kejahatanmu, jika sekali lagi orangtuamu bertanya. Maka jangan salahkan aku kalau berkata jujur!"
Devan berbisik tepat ketelinga Lidya membuat wanita itu mengelkan kedua tangannya, untuk beberapa saat mereka saling pandang sampai Devan kembali melanjutkan langkah kakinya.
"Ini tidak bisa dibiarkan, semakin hari dia semakin berani. Kalau sampai Ayah dan Ibu tau semuanya, mereka pasti tidak mau lagi menganggap aku anak, dan semua warisan mereka. Pasti akan jatuh ke tangan laki-laki itu!"
Itulah yang selama ini Lidya takutkan, hingga dia mengikuti keinginan orangtuanya untuk menikah dengan Devan.
Keluarga Lidya tergolong kaya, kedua orangtuanya punya beratus hektar tanah, serta properti yang nilainya sangat fantastis. Dia juga anak tunggal, yang pastinya akan mendapat semua harta mereka.
Saat ini, Lidya harus menyusun strategi supaya kedua orangtuanya membenci Devan. Bagaimana pun caranya, dia harus membuat hubungan Devan dan keluarganya buruk.
Sementara itu, Devan yang masih berada di dalam kamar mendadak mendapat pesan dari Amora. Dia segera mengambil ponselnya, dan melihat pesan apa yang Amora tulis.
"Bersiaplah, hari ini kau akan ikut aku ke Jepang selama 4 hari!"
Devan hampir saja tersedak lidahnya sendiri saat membaca pesan Amora, dia lalu cepat-cepat bersiap dan memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper.
"Kau mau ke mana, Devan?"
Devan yang sedang menyeret koper menghentikan langkah kakinya. "Hari ini aku ada dinas diluar negeri, Yah! Kemungkinan 4 sampai 5 hari baru pulang!"
"Benarkah?"
Devan menganggukkan kepalanya, tidak berselang lama muncullah Lidya di ruangan itu membuat Devan mengalihkan pandangan ke arah samping.
"dinas ke luar negeri? Kau itu cuma seorang manager, Devan! Bukannya pemimpin perusahaan!"
"Tutup mulutmu, Lidya!"
__ADS_1
Lidya tersenyum sinis, sementara Ayahnya sudah sangat emosi mendengar ucapan yang keluar dari mulutnya.
"Aku bukan lagi seorang manager! Saat ini aku adalah pemilik kafe itu, dan sekarang aku ingin membuat cabang di luar negeri!"
Lidya tercengang mendengar ucapan Devan. "Pemilik katanya? Itu tidak mungkin!" Dia merasa apa yang Devan katakan adalah sebuah kebohongan.
"Waah, kalau gitu selamat untukmu, Nak! Ibu bangga pada keberhasilanmu!"
Devan mengucapkan terima kasih atas pujian dari mertuanya, dia kemudian pamit dan bergegas keluar dari rumah itu.
"Aduh, maafkan aku, Nona! Aku terpaksa berkata seperti itu!"
Devan merasa tidak enak hati karna mengakui milik orang lain sebagai miliknya, walaupun Amora pernah mengatakan kalau kafe itu sudah diberikan padanya.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Amora sedang duduk di ruang kerjanya. Dia merasa senang saat mendengar kabar dari anak buahnya tentang keberadaan Lucas, dan dia harus bertemu langsung dengan laki-laki itu.
"izinkan saya ikut, Nona! Devan belum mengerti tentang semua yang-"
"tenanglah, Kak! Aku hanya ingin melihatnya saja, dan bukan untuk berkelahi dengannya! Jadi, kakak tidak perlu khawatir!"
"Huh!"
Justin menghembuskam napas kasar, bagaimana mungkin dia tidak khawatir saat Amora akan menemui musuh terbesarnya.
Tidak berselang lama, terdengarlah suara ketukan pintu ruangan itu
Justin segera membuka pintunya dan mempersilahkan Devan masuk.
"kau sudah siap?" tanya Amora.
Devan menganggukkan kepalanya. "Siap, Nona!" Dia menjawab siap saja walaupun tidak tau untuk apa pergi keluar negeri.
"Baiklah, kita berangkat sekarang!"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1