Salah Masuk Kamar Pengantin

Salah Masuk Kamar Pengantin
Bab. 20. Saling Serang Kata.


__ADS_3

Lidya dan Melano sedikit terkejut saat mendengar suara seseorang, mata mereka membulat sempurna saat melihat Devan dan Amora sudah berdiri di samping mereka.


"ka-kau?"


"Istriku, kenapa kau sangat terkejut?"


Lidya tercengang mendengar ucapan Devan, sementara orang-orang yang ada disekitar mereka mulai bisik-bisik tetangga karna memang suara musik yang sejak tadi terdengar sedang berhenti.


"gila, itu suaminya? Lalu, kenapa sejak tadi wanita itu sangat mesra dengan laki-laki yang bersamanya?"


"tunggu, apa wanita itu selingkuh?"


"Cih, dasar *******!"


Lidya langsung melepaskan tangannya yang sedang memeluk lengan Melano, dia menatap tajam ke arah orang-orang yang sedang menceritainya itu dengan wajah merah padam.


Dia lalu kembali melihat ke arah Devan yang sedang tersenyum lebar ke arahnya. "Kau? Apa maksudmu berkata seperti itu?" Dia berusaha untuk menahan amarahnya dengan suara tertahan.


"Kenapa? Apa aku tidak boleh bertanya pada istriku sendiri? Lagipula aku tidak tau kalau kau sedang di sini!"


Lidya menggigit bibirnya sendiri karna tidak bisa membalas ucapan Devan, sementara Melano sibuk melihat ke arah Amora yang sedang berdiri di samping Devan.


Perhatian semua orang kini tampak beralih ke arah mereka, orang-orang yang bergosip pun semakin banyak membuat telingat Lidya terasa mau pecah.


"Ya, aku berada di sini bersama atasanku! Tapi kau, kau ke sini bersama selingkuhanmu!"


Suasana bertambah ramai saja saat ucapan Lidya terlontar, wanita itu memang paling pintar jika membolak-balikkan fakta.


Amora yang mendengar ucapan wanita itu tersenyum tipis. "Siapa bilang aku selingkuhannya?"


Semua orang lalu beralih melihat ke arahnya, termasuk Devan yang terkejut saat Amora bersuara.


"Tunggu, jangan bilang kalau dia akan mengatakan kami ini sepasang kekasih?"


Tiba-tiba tubuh Devan panas dingin, hatinya gelisah karna takut Amora mengatakan sesuatu yang pastinya akan membuat mereka malu.


"Kami rekan kerja, dan kami ke sini bukan hanya berdua saja!"


Entah siapa dan datang dari mana, tiba-tiba seorang lelaki berdiri di samping Amora.


"Kami datang bertiga, tapi kau? Apa kau bertugas untuk menemani atasanmu ke pesta?"


Lidya kalah telak, dia tidak bisa membalas ucapan Amora dan hanya mengepalkan kedua tangannya dengan rahang yang mengeras.

__ADS_1


Melano yang melihat kekasihnya dipermalukan hanya diam saja, dia malah tersenyum tipis saat bersitatap mata dengan Amora.


"maaf karna sudah membuat suasana pesta menjadi tidak nyaman, Tuan, Nyonya!" ucap Devan saat pemilik pesta menghampiri mereka.


Wanita paruh baya itu tersenyum. "Tidak apa-apa, malah saya pikir tadi akan ada adegan jambak-jambakan!"


Semua orang tergelak mendengar ocehan wanita paruh baya itu, kecuali Lidya yang langsung pergi dari tempat itu dengan diikuti oleh Melano.


"Saya hanya terkejut saat melihat istri saya ada di sini, dan malah membuat keributan seperti ini!"


Bukannya menyalahkan, semua orang malah simpati dengan drama rumah tangga yang baru saja terjadi. Mereka menyumpahi Lidya karna sudah menyelingkuhi suaminya.


Devan hanya tersenyum tipis saja saat mendengar mereka, dia kemudian mengajak Amora untuk pergi dari pesta itu.


"Apa kau sengaja?"


Langkah Devan terhenti saat mendengar suara Amora, saat ini mereka sudah berada diluar pesta.


"Maaf, Nona! Saya tidak mengatakan semua ini pada anda, tapi sebenarnya saya tidak bermaksud untuk membuat keributan!"


Ya, Devan tau kalau Lidya ada dipesta itu dari salah satu temannya. Dia berniat untuk mengejutkan wanita itu dengan membawa Amora yang jauh lebih cantik dari istrinya, tetapi yang terjadi malah diluar dugaan.


Apalagi Amora ternyata ikut membasmi Lidya, hingga istrinya itu tidak bisa berkutik, dan mereka menjadi bahan tontonan semua orang.


"Tapi Nona, siapa laki-laki yang ada di samping Nona tadi?"


"dia salah satu anak buahku, sejak tadi dia mengikuti kita!"


"Benarkah?"


Devan langsung melihat ke sekeliling tempat, dan tampaklah lelaki tadi sedang berdiri di samping mobil dan menganggukkan kepala padanya.


"jadi, sejak tadi dia mengikuti kita?"


"Kau tidak tau?"


Devan menggeleng dengan polos, ternyata Justin dan Samy tidak melepas Amora begitu saja. Buktinya, mereka menyuruh seseorang untuk mengawasi gadis itu.


"sudah, lupakan-"


"Dasar kau wanita *******!"


Tiba-tiba Lidya datang dan langsung menjambak rambut Amora tanpa bisa dicegah olehnya, tetapi dengan cepat Amora memegang tangan Lidya dan langsung memelintirnya.

__ADS_1


"Aaarrgh!"


Bruk!


Setelah memelintir, Amora langsung mendorong tubuh Lidya sampai tersungkur di atas tanah.


Tentu semua itu membuat Devan terkejut, dia yang belum sempat bereaksi semakin dibuat tercengang dengan aksi Amora.


"Kau lihat selingkuhanmu ini, dia ini monster!"


Lidya bergegas bangun sambil menunjuk ke arah Amora, sementara Devan segera menepis tangan wanita itu dari hadapannya.


Amora mengangkat tangannya untuk menghentikan anak buahnya yang akan mendekat, dia lalu memberi kode agar mereka tetap di sana.


"Jangan menghinanya, atau kau akan melihat kemarahanku!"


Devan menatap Lidya tajam membuat wanita itu menelan salivenya dengan kasar, kemudian dia beralih kerambut Amora yang berantakan.


"biar saya rapikan!"


"Ya, Sayang!"


Deg, jantung Devan berdegup kencang saat mendengar panggilan yang Amora ucapkan padanya. Tangan yang akan memegang rambut wanita itu mendadak jadi kaku saat ini.


"Cih, ternyata kalian benar-benar ada hubungan ya! Dasar munafik!"


Lidya tidak habis-habisnya mencari masalah dengan mereka, padahal dia baru saja dibanting oleh Amora.


"kenapa? Apa cuma kau saja yang bisa mencari laki-laki lain? Lagipula, dia jauh lebih sempurna darimu!"


"Kau-"


Untuk sekali lagi, Lidya tidak bisa membalas ucapan Devan karna apa yang laki-laki itu katakan memang benar adanya.


"aku menarik suamimu dengan hatiku, tapi kau menarik laki-laki lain dengan selangkanganmu!"


"Tutup mulutmu!"




__ADS_1


Tbc.



__ADS_2