
Untuk beberapa saat suasana menjadi hening, Devan dan Lidya masih saling bertatapan sampai Devan memutus tatapannya dan kembali melajukan mobilnya.
Sepanjang perjalanan, tidak ada lagi yang bersuara di dalam mobil. Devan memilih untuk diam karna takut rasa cintanya kembali bangkit, sementara Lidya diam karna memikirkan semua ucapan laki-laki yang ada di sampingnya.
Tiba-tiba ingatan demi ingatan berlarian di kepala Lidya, dia tidak menyangka kalau apa yang Devan katakan akan menjadi kenyataan. Hidupnya hancur, bahkan cintanya juga dihancurkan oleh laki-laki yang sangat dia cintai.
Lidya tidak pernah berpikir kalau selama ini Melano berbohong padanya, laki-laki itu mengatakan kalau sudah membicarakan hubungan mereka pada keluarga besar laki-laki itu. Bahkan Melano mengatakan akan segera menikahinya begitu dia resmi bercerai dari Devan, tapi kenyataannya semua itu tidak ada.
2 hari Melano tidak kembali ke apartemen, dan Lidya menunggu dengan sabar walaupun tidak ada kabar sama sekali. Tepat dihari ketiga, dia sangat terkejut saat orangtua laki-laki itu datang ke apartemen bersama dengan seorang wanita, yang ternyata sudah bertunangan dengan Melano.
Hancur sudah harapannya, dia diusir dan dipermalukan di depan banyak orang. Lalu, di mana Melano? Tentu laki-laki itu juga ada di sana, tapi dia menegaskan kalau tidak ada hubungan apapun dengannya. Bahkan Melano mengatakan kalau dia hanya seorang j*a*l*ang yang selalu menggodanya saat dikantor.
Lidya langsung ditendang begitu saja, dia bahkan dipecat dari pekerjaannya selama ini. Tentu dia tidak terima, dan mengatakan semuanya pada semua orang. Namun, orang-orang tidak percaya dan terus saja menghakiminya dengan kejam.
"Turunlah!"
Suara Devan menyadarkan Lidya dari lamunannya, dia melihat ke sekeliling tempat dan baru sadar kalau dia sudah sampai di halaman rumah Devan.
Devan yang sudah berada di depan pintu rumahnya kembali melihat ke arah Lidya, karna wanita itu malah melamun dan bukannya segera turun.
"Lidya!"
Lidya terkejut saat mendengar panggilan Devan, dia lalu membuka pintu mobil dan mendekati laki-laki itu.
"Masuklah, aku tidak ada waktu untuk selalu mengurusimu!"
Glek, Lidya menelan salivenya. Dia lalu menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkah Devan, hatinya yang hancur terasa semakin pedih saat mendengar ketidak pedulian laki-laki itu.
"Lidya?"
Kedua mertua Devan sangat terkejut saat melihat keberadaan putri mereka, sementara Lidya hanya diam dengan kepala tertunduk.
Tanpa menunggu lama, wanita paruh baya itu langsung menghampiri Lidya dan memeluk tubuh putrinya dengan erat.
__ADS_1
"Kau pulang, Nak? Maafkan Ibu, maafkan Ibu!"
Lidya yang semula tidak berani melihat kedua orangtuanya kini membalas pelukan sang Ibu, tangisan mereka berdua langsung pecah di tempat itu membuat Ayah Pian mendekati mereka.
Akhirnya keluarga kecil itu saling memeluk dan menumpahkan kesedihan mereka, seolah-olah menyesali dan mengubur segala kesalahan dan rasa sakit yang telah terjadi di masa lalu.
Devan yang memperhatikan disudut ruangan memilih untuk ke kamar, dia ingin membersihkan diri sekaligus membersihkan segala perasaan yang masih tersisa untuk Lidya.
Jujur saja, masih ada getaran aneh yang menjalar di dadanya saat bersama dengan Lidya. Apalagi saat melihat tangisan wanita itu, ingin sekali dia merengkuh tubuhnya dan mengatakan kalau semuanya baik-baik saja.
"Hah!"
Devan menghembuskan napas kasar, entah kenapa dia merasa bingung dan gelisah saat ini. Kedua matanya terpejam untuk menikmati sensasi hangat yang menjalar dikulitnya, karna saat ini dia sedang berendam di dalam bathtub.
Tiba-tiba saja wajah Amora melintas dalam pikiran Devan membuat kedua matanya langsung terbuka, dia baru ingat kalau belum mengucapkan terima kasih pada wanita itu.
"Ooh, Amora! Kau benar-benar wanita yang sangat unik dan menggemaskan!"
Devan tergelak saat mengingat wanita itu, apalagi saat momen kebersamaanya dengan Amora yang benar-benar selalu menguji kesabarannya. Sampai akhirnya dia lepas kendali, dan melakukan sesuatu yang menggetarkan hatinya.
Devan memutuskan untuk menyelesaikan ritual mandinya karna terus mengingat Amora, dia ingin segera menghubungi wanita itu sembari bersiap untuk ke kafe.
Brak!
Lidya yang baru saja masuk ke dalam kamar terpaku di depan pintu saat melihat Devan keluar dari kamar mandi, sepertinya laki-laki itu tidak sadar dengan keberadaannya sehingga memakai pakaian dengan santai di hadapannya.
"Devan!"
Tubuh Devan terjingkat kaget saat mendengar suara seseorang, dengan cepat dia kembali mengambil handuknya yang tergeletak dilantai untuk menutupi tubuhnya yang hanya memakai segitiga dan kemeja saja.
"Li-Lidya? Ke-kenapa kau di sini?"
Malu, itulah yang saat ini Devan rasakan. Walaupun status wanita itu adalah istrinya, tapi dia tidak pernah telanja*ng di depan Lidya ataupun sebaliknya.
__ADS_1
"A-aku, aku ingin membicarakan sesuatu padamu!"
Lidya menundukkan kepalanya dengan wajah memerah, dia meremmas tangannya sendiri saat jantungnya berpacu dengan cepat.
"Baiklah, tungguh saja diluar!"
Lidya menganggukkkan kepalanya dan segera keluar dari sana, sementara Devan menghembuskan napas kesal dengan apa yang baru saja dia alami.
Setelah selesai bersiap, Devan segera keluar untuk menemui Lidya. Dia yang awalnya ingin menelpon Amora, jadi lupa karna kejadian memalukan yang menimpanya.
"Devan, kau mau pergi kerja?"
Devan mendekat ke arah Lidya dan kedua orangtuanya. "Iya, Bu!" Dia duduk di samping Ayah Pian yang sedang menikmati secangkir kopi.
"Ibu mengucapkan banyak terima kasih padamu, Nak! Terima kasih karna sudah membawa Lidya kembali, ibu tidak tau apa yang akan terjadi jika kau tidak membawanya!"
Devan tersenyum untuk membalas ucapan mertuanya. "Ibu tidak perlu seperti itu, dia adalah istriku. Sudah pasti aku akan bertanggung jawab padanya!"
Lidya meremmas kedua tangannya, ucapan Devan sangat menampar hatinya yang selama ini sudah mengkhianati pernikahan mereka.
Kedua orangtua Lidya tersenyum senang mendengar jawaban Devan, mereka lalu melirik ke arah Lidya yang tertunduk di tempatnya.
"Jadi, apa, apa kau sudah mengurus perceraikan kalian?"
Lidya sangat kaget dengan apa yang Ibunya katakan, sementara Devan langsung menganggukkan kepalanya.
"Sudah, Bu! Valdo sudah mengurus segalanya, dan dia mengatakan kalau sidang pertama akan segera dilakukan dalam minggu ini!"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.