Salah Masuk Kamar Pengantin

Salah Masuk Kamar Pengantin
Bab. 90. Kau Adalah Kakakku.


__ADS_3

"Aku tau kalau kakak suka padaku."


Apa yang Niki ucapkan jelas membuat Valdo tercengang. Dia tidak mengira kalau gadis itu tau apa yang dia rasakan selama ini, bahkan Niki mengatakannya dengan santai sekali saat ini.


"Apa kakak itu bod*oh?"


Valdo mengernyitkan keningnya saat mendengar ucapan Niki. "Apa maksudmu? Beraninya kau mengatai kakakmu sendiri bodoh." Dia menggeram marah membuat Niki tersenyum penuh arti.


"Siapa pun orang yang melihat Kakak selama ini juga tau kalau Kakak itu menyukaiku, mungkin hanya orang buta saja yang tidak bisa melihat bagaimana selama ini perlakukan Kakak padaku."


Benar juga, selama ini Valdo selalu terang-terangan menunjukkan perasaannya pada Niki. Dia bahkan tidak akan segan untuk menunjukkan rasa cintanya di mana pun dan pada siapa pun juga, seperti yang biasa dia lakukan.


"Dan seperti ucapan Kakak barusan, beraninya Kakak menyukai adik Kakak sendiri seperti ini?"


Deg.


Kalimat terakhir yang Niki ucapkan sontak membuat Valdo menegang, jantungnya serasa sedang di hantam oleh sesuatu yang sangat keras hingga membuatnya berdenyut sakit.


"Kakak tau bagaimana hidupku selama ini. Walaupun aku anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan, tetapi aku tidak pernah kekurangan kasih sayang." Niki menatap Valdo dengan dalam. "Ibu panti memberikan kasih sayang layaknya orang tua padaku, juga ada Kak Devan yang selama ini juga sangat menyayangiku. Lalu, ada Kakak juga yang selama ini selalu memberikan semangat dan juga perhatian padaku. Aku benar-benar hidup dalam kebahagiaan karna semua itu."


Valdo terdiam dan mencoba untuk memahami apa yang Niki ucapkan, walaupun dia tau ke mana arah pembicaraan wanita itu saat ini.


"Kakak adalah salah satu orang yang sangat berharga dalam hidupku, dan aku sangat menyayangimu seperti aku menyayangi Kak Devan. Aku menyayangimu layaknya seorang adik," ucap Niki dengan pelan, bahkan suaranya hampir tercekat di tenggorokan.


"Selama ini aku sangat bahagia mendapatkan perhatian dan cinta dari Kakak, dan aku sangat mensyukurinya. Tapi ...." Niki menarik tangan Valdo lalu menggenggamnya dengan erat membuat laki-laki itu tersenyum tipis. "Tapi aku tidak punya perasaan layaknya seorang pasangan padamu, Kak."


Ah ya, Valdo sudah menduga kalau Niki akan mengatakan hal seperti ini. Namun, dia tidak menyangka kalau rasa sakitnya akan sangat menyesakkan dada.

__ADS_1


"Aku sangat menyayangi dan menghargai Kakak, dan aku tidak akan pernah bisa membalas semua yang telah Kakak lakukan padaku. Tapi, tapi-"


Valdo langsung menarik tangan Niki dan memeluknya dengan erat. "Maaf, maafkan aku yang telah membuatmu berada dalam keadaan seperti ini. Aku bahkan tidak pantas untuk dipanggil kakak sekarang."


Niki langsung menggelengkan kepalanya dengan terisak. "Tidak, aku lah yang seharusnya meminta maaf padamu. Selama ini aku hanya bersikap acuh saja walau mengetahui bagaimana perasaan Kakak padaku. Seharusnya, seharusnya aku menjauh sehingga Kakak tidak merasakan hal seperti ini."


"Kenapa kau harus menjauh dari kakakmu sendiri? Aku lah yang mencintaimu, tapi kenapa kau yang meminta maaf?" Valdo semakin mengeratkan pelukannya. Dia benar-benar merasa menyesal karena membuat Niki berada dalam situasi seperti ini. "Tidak ada yang salah dalam hal ini, Niki. Terutama kau. Kau tidak salah dalam hal apapun, juga perasaan yang aku rasakan ini. Semua adil dalam percintaan Niki, jadi jangan menodai cintaku dengan permintaan maafmu." Valdo melepaskan pelukannya dan meletakkan kedua tangan di bahu Niki.


"Aku juga menyayangimu, Niki. Aku menyayangimu sebagai adik, sebagai teman, juga sebagai pasangan. Lalu, apa yang salah dengan itu?" ucap Valdo, "ya, perasaanku memang tidak salah. Tapi menempatkanmu dalam kesulitan seperti inilah yang salah,"


Niki memandang Valdo dengan air mata yang terus saja mengalir deras. Sungguh dia merasa bersalah sekali karena tidak bisa membalas perasaan laki-laki itu padanya, padahal dia pasti akan hidup bahagia jika saja mencintai Valdo seperti laki-laki itu mencintainya.


"Sudahlah, jangan menangis lagi. Ingusmu keluar ke mana-mana tuh."


Niki langsung mencebikkan bibirnya saat mendengar ucapan Valdo membuat laki-laki itu terkekeh geli.


Niki langsung tersenyum lebar mendengar ucapan Valdo. "Cih, Anda terlalu pd sekali."


"Itu sudah jelas, Niki. Tidak ada yang bisa menolak pesona kakakmu ini,"


"Benar, termasuk Dokter Dea,"


"Hah, tentu sa- apa?" Valdo memekik kaget. "Kau, kau bilang apa?"


"Selama ini Kakak selalu fokus padaku saja, padahal di samping Kakak ada orang yang selama ini benar-benar mencintaimu."


Valdo terdiam. Setelah dipikir-pikir, hubungan pertemanan antara dia dan Dea memang sudah terjalin lama. Bisa saja rasa itu berubah menjadi cinta seiring berjalannya waktu, tetapi, apa itu mungkin?

__ADS_1


"Tentu saja, Kak."


Valdo terlonjak kaget. Dia tidak habis pikir kalau Niki tau apa yang sedang dia pikirkan saat ini. Namun, kenapa dia jadi berdebar? "Dasar gila. Kenapa aku jadi berdebar-debar? Padahal sedetik yang lalu hatiku remuk redam."


"Pikirkanlah apa yang aku katakan, Kak. Jangan sampai kakak terlambat, dan Doktet Dea sudah di tikung oleh laki-laki lain,"


"Itu tidak mungkin." Valdo menggelengkan kepalanya.


"Ooh, jadi Kakak sudah seyakin itu ya?" Niki menaik turunkan alisnya untuk mengoda Valdo. "Apa ini? Kakak baru saja menyatakan cinta padaku loh, tapi kenapa bersemangat sekali saat aku mengatakan tentang Dokter Dea?"


"Si*al. Pintar sekali bocah ini menjebakku."


"Sudah diam. Jangan pedulikan kami dan fokus saja untuk percintaanmu sendiri."


Niki yang masih sibuk tertawa langsung diam mendengar ucapan Valdo. "A-apa maksud Kakak?"


"Haha, lihat wajahmu yang sudah merah seperti tomat busuk itu. Apa kau pikir aku bod*oh, karena tidak tau kalau kau menyukai Justin?"





Tbc.


__ADS_1


__ADS_2