Salah Masuk Kamar Pengantin

Salah Masuk Kamar Pengantin
Bab. 17. Pemandangan Yang menggiurkan.


__ADS_3

Devan tercengang mendengar ucapan Amora, bisa-bisanya wanita itu menyuruhnya untuk menganggap Amora sebagai kekasih yang sesungguhnya, dengan wajah tanpa ekspresi seperti itu.


"Apa, apa Nona yakin?"


Amora memganggukkan kepalanya. "Aku sudah belajar ciuman!"


Devan semakin syok saja saat mendengarnya, sementara orang-orang yang ada disekitar mereka mulai bisik-bisik tetangga saat mendengar ucapan Amora.


"apa kau mau mencobanya?"


"Tidak!"


Refleks mulut Devan langsung menolak ajakan Amora membuat wanita itu langsung terdiam, sementara Devan yang baru sadar dengan apa yang terjadi salah tingkah karna tidak sengaja mengeluarkan suaranya.


"Maaf Nona, saya, saya tidak bermaksud-"


"Aku mengerti!"


Amora berbalik dan langsung berjalan keluar dari kafe itu, entah apa yang terjadi yang pasti dadanya sedikit sesak saat ini.


Devan yang melihat Amora pergi langsung mengusap wajahnya dengan kasar, dia bahkan memukul-mukul mulut biad*abnya yang dengan lancang dan tegas menolak ajakan wanita itu.


"Tapi, apa yang terjadi dengannya sih? Apa dia itu wanita yang baru keluar dari hutan?"


Devan merasa sangat aneh dengan sifat Amora, kenapa wanita itu seperti baru pertama kali berhubungan dengan laki-laki, dan lebih parahnya lagi dia malah harus berurusan dengan wanita seperti itu.


Amora yang sudah berada diluar kafe segera menelpon Justin, dia ingin mengajak lelaki itu pulang saat ini juga.


"ya, Nona?"


"Kita pulang!"


Tut, Amora langsung mematikan panggilannya begitu saja saat sudah mengatakan apa yang ingin dia katakan.


Justin yang masih menunggu pakaian dari anak buahnya, langsung keluar dari ruangan itu saat Amora mengatakan ingin pulang.


Dia berjalan cepat menuruni anak tangga, hingga kakinya mengijak bagian utama dari kafe tersebut di mana semua orang langsung melihat ke arahnya.


Pyar!


Pelayan yang sedang membawa makanan dan minuman sampai menjatuhkan nampannya, saat melihat keberadaan Justin.


Bukan itu saja, bahkan para pengunjung yang lainnya membulatkan mata mereka melihat pemandangan yang laki-laki itu suguhkan.


Bagaimana tidak, saat ini Justin sedang bertelanjang dada. Di mana otot-otot tubuhnya jelas terlihat, dengan perut kotak-kotak super seksi membuat para wanita menelan salive mereka.


Akan tetapi, Justin tidak memperdulikkannya. Dia terus berjalan melewati semua orang sampai keluar dari kafe itu.


"ya Tuhan, dia tampan dan seksi sekali!"

__ADS_1


"nikahi aku!"


"Jadilah suamiku!"


Semua wanita langsung berteriak bak kesetanan saat melihat Justin keluar, mereka bahkan berdesakan dikaca pambatas kafe itu untuk melihat tubuh Justin yang sangat menggoda.


"maafkan saya Nona, saya tidak bermaksud untuk menolak Nona! Hanya saja-"


"Lupakan saja!"


Devan memejamkan mata frustasi, dia lalu berbalik untuk melihat ke arah kafe saat mendengar keributan yang sedang terjadi.


"Nona!"


Devan tercengang saat melihat penampilan Justin, pantas saja semua orang menjadi heboh, mereka pasti ngiler dengan pemandangan yang laki-laki itu suguhkan.


Amora yang baru saja berbalik, dan melihat Justin juga mengerutkan keningnya. Dia bingung kenapa saat ini Justin tidak memakai baju.


"Ayo, Nona!"


Justin segera membuka pintu mobil untuk Amora, sementara Amora masih melihatnya dengan tajam.


"mana baju Kakak?" tanyanya.


"Sedang dibersihkan, Nona! Maaf kalau saya tidak sopan!"


Justin menundukkan kepalanya, ternyata malu juga jika dilihat oleh orang banyak seperti ini.


Amora langsung masuk ke dalam mobil saat sudah memberi pujian pada Justin, sementara Justin hanya diam mendengar pujian yang Nonanya berikan.


"Tuan!"


Justin sedikit terkejut dan langsung melirik ke arah Devan, seperti bertanya apa yang laki-laki itu inginkan darinya.


"Apa Tuan mau memakai baju saya?"


Devan punya beberapa baju yang baru saja dia beli di dalam ruangannya, mungkin saja baju itu bisa dipakai oleh Justin.


"Tidak perlu!"


Justin langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi, sementara Devan berjalan maju dan berdiri di samping mobil tersebut.


"Hati-hati di jalan, Nona!"


Amora hanya melirik sekilas dan kembali melihat ke arah depan, dan semua itu membuat Devan merasa sangat bersalah.


Justin yang akan menjalankan mobilnya, mengurungkan niat saat melihat anak buahnya berlari ke arah mereka sambil membawa paper bag.


"Maaf, Tuan! Saya, saya terlambat!"

__ADS_1


Napas lelaki itu tersengal-sengal, dia merasa sangat lelah karna habis berlari. Dia meninggalkan mobilnya yang terjebak macet.


Justin lalu mengambil paper bag yang diberikan oleh lelaki itu, dan langsung memakai pakaian yang ada di dalamnya.


Setelah selesai, dia lalu menekan pedal gasnya dan melaju ke jalanan. Sekilas Justin melihat ke arah Amora dari spion, sepertinya wanita itu sedang tidak baik-baik saja saat ini.


"Apa Nona baik-baik saja?"


Amora menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Justin, dia lalu memalingkan wajahnya ke samping.


"Apa Nona ada masalah?"


Amora menggeleng, tetapi sesaat kemudian, dia kembali memalingan wajahnya ke depan saat sesuatu melintas dalam kepalanya.


"Apa Kakak mau mengajariku?"


Justin melihat sekilas ke arah Amora. "Tentu saja, Nona! Saya akan selalu mengajari Nona dalam hal apapun!"


"Benarkah?"


Justin menganggukkan kepalanya, tentu saja dia akan mengajari dan melatih Amora agar menjadi wanita yang sangat hebat.


"Kalau gitu, ajarin aku cara berciuman!"


"Nona?"


Justin terkejut mendengar keinginan Amora, bagaimana mungkin dia mengajari cara berciuman pada Nona mudanya sendiri?


"bagaimana?" tanya Amora.


"Nona, berciuman itu bukan sesuatu yang bisa dilakukan dengan sembarang orang!" jelas Justin.


"Bukan untuk sembarang orang, tapi untuk Devan! Dia kekasihku!"


Justin terdiam, dia tidak tau harus bagaimana menyampaikan semua ini pada Nona mudanya itu


"Nona, orang-orang berciuman karna saling mencintai. Bukan hanya berciuman untuk melepaskan segala gairah yang sedang dirasakan!"


Amora terdiam, dia sedang mencerna ucapan dari dari Justin. "Jadi, aku harus mencintai Devan dulu?"


Justin menganggukkan kepalanya, dia lalu kembali fokus melihat ke jalanan yang sedang mereka lewati.


"Baiklah, kalau gitu aku akan jatuh cinta dulu baru berciuman dengan laki-laki itu."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2