
Setelah semuanya dibereskan, Amora dan yang lainnya segera pulang ke rumah. Namun, Devan memilih untuk langsung ke kafe karna sudah beberapa hari dia tidak berada di sana.
"Katakan pada istrimu agar tidak mengacau di kafe!"
Devan yang sudah berbalik kembali melihat ke arah Justin. "Apa maksud Tuan? Apa, apa Lidya membuat keributan di sana?"
"Tanya saja pada istrimu!"
Justin berjalan cepat meninggalkan Devan yang terdiam dengan sejuta pertanyaan, dia lalu masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan tempat itu.
Devan yang awalnya ingin langsung ke kafe terpaksa harus menemui Lidya dulu, dia lalu mengambil ponselnya dan menelpon wanita itu.
"halo?"
"di mana kau?" tanya Devan secara langsung dan tanpa basa-basi.
"Kenapa? Apa kau merindukanku?"
Devan menggertakkan giginya, dia benar-benar sudah bosan melihat wanita itu. "Cepat katakan di mana kau sekarang, Lidya? Aku ingin bertemu denganmu!"
"Aw, manis sekali! Tapi sayangnya saat ini aku sedang di Bawah tubuh kekasihku, aaah Melano!"
Brak!
Devan langsung membanting ponselnya sampai hancur tak bersisa, dia benar-benar sudah kehabisan kesabaran menghadapi wanita itu.
Tidak mau ambil pusing, dia segera melajukan mobilnya ke kafe. Lebih baik dia langsung menanyakan hal itu pada karyawannya, dan dia menyesal sudah menelpon wanita terkutuk itu.
Tidak berselang lama, sampai juga mobilnya di tempat tujuan. Devan tersenyum saat melihat pengunjung kafe yang kian hari kian ramai, membuatnya sangat bersemangat.
"Kak Devan!"
Niki langsung menyambut kedatangan Devan dengan senyum lebar, begitu juga dengan karyawan yang lain.
"terima kasih karna sudah menghandel kafe ini selama aku pergi, dan sebagai hadiahnya, bulan ini kalian akan mendapat gaji 2 x lipat!"
"Yey!"
Semua karyawan Devan bersorak senang mendengar ucapannya, bahkan para pelanggan yang mendengarnya ikut senang padahal bukan mereka yang mendapat gaji.
"tapi kak, seharusnya kakak kasi bonus juga sama Tuan Justin!" seru Niki.
__ADS_1
"Ah, benar! Sebenarnya apa yang terjadi saat aku tidak ada di sini? Apa Lidya membuat keributan?"
Semua karyawan yang berjumlah 9 orang kompak menganggukkan kepala mereka, setelahnya Niki menceritakan yang telah Lidya lakukan di kafe itu.
"Apa Kakak gak kasi Kak Lidya uang? Kenapa dia sering sekali sih, ngambil di sini?"
Devan memegang kepalanya yang berdenyut sakit, dulu Lidya memang selalu datang ke kafe untuk meminta uang. Akan tetapi, wanita itu tidak pernah sampai mengambil uang dari brankas, karna itu bukan uang Devan.
"Sudahlah, lanjutkan pekerjaan kalian!"
Devan memilih untuk ke ruangannya, kepalanya langsung pusing jika mendengar nama Lidya.
Sementara itu, di tempat lain Amora dan Justin mulai menyusup ke dalam perusahaan Lucas melalui cyber. Cukup susah juga untuk menembus pertahanan perusahaan itu, bahkan Amora butuh waktu sampai 3 jam lamanya hanya untuk memeriksa pertahanan perusahaan Lucas.
"Tanganku sampai pegal!"
Justin melirik ke arah Amora yang sedang merenggangkan otot-otot tangannya, dia merasa heran karna biasanya Amora sangat jarang sekali bicara.
"oh ya, jangan lupa untuk mengirim anggur ke pusat penelitian! Kita harus tau bahan-bahan apa saja yang ada dalam anggur itu!"
"Baik, Nona!"
Justin segera menyuruh salah satu anak buahnya untuk mengantar anggur yang Amora bawa ke pusat penelitian, setelah itu dia kembali melanjutkan pekerjaannya.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit, akhirnya dia sampai juga di halaman rumah. Devan bergegas untuk turun dan langsung mengetuk pintu rumah itu.
"Devan? Kau sudah pulang?"
Devan menganggukkan kepalanya dan tersenyum ke arah sang Ibu mertua. "Iya Bu, ku pikir Ibu dan Ayah sudah pulang ke rumah sana!" Dia berjalan masuk dengan diikuti oleh wanita paruh baya itu.
"Belum, kami sengaja nunggu kau pulang!"
Wanita paruh baya itu kemudian berjalan ke arah kamar untuk memanggil Lidya, seharusnya putrinya itu menyambut suami saat pulang kerja.
"Ibu mau ke mana? Bisakah menemaniku sebentar? Ada sesuatu hal yang ingin aku bicarakan!"
Wanita paruh baya itu menghentikan langkah kakinya dan melihat ke arah Devan. "Ibu ingin membangunkan Lidya, Nak!"
"Tidak perlu, Bu!"
Wanita paruh baya itu terpaksa kembalu berjalan ke arah sofa, dan duduk tepat di hadapan Devan.
__ADS_1
"Ada apa, Devan? Apa Lidya membuat ulah lagi?"
Devan tersenyum untuk menanggapi pertanyaan sang Ibu mertua. "Bu, aku berniat untuk bercerai dengan Lidya!"
"Apa?"
Sontak wanita patuh baya itu berdiri saat mendengar ucapan Devan, suaranya juga menggema di ruangan itu membuat sang suami keluar dari kamar.
"Apa, apa Ibu tidak salah dengar, Devan?"
Devan menggelengkan kepala. "Maaf Bu, tapi apa yang ku katakan adalah benar. Sepertinya aku dan Lidya sudah tidak cocok lagi, dan lebih baik kalau kami-"
Devan tidak bisa melanjutkan ucapannya saat melihat Ibu mertuanya langsung berbalik, dan berjalan cepat ke arah kamarnya.
"Lidya, bangun kamu!"
Wanita paruh baya itu menggedor-gedor pintu kamar Lidya membuat suaminya terkejut, dan berusaha untuk menghentikan apa yang dia lakukan.
"hentikan, Bu! Ada apa ini? Kenapa kau teriak-teriak malam-malam gini?"
"bangunkan anakmu itu, Yah! Dia harus tau kalau suaminya akan segera menceraikannya!"
"Apa?"
Ayah Pian langsung melihat ke arah Devan yang masih duduk di atas sofa. "Apa itu benar, Devan?"
Devan hanya bisa menganggukkan kepalanya, lidahnya terasa keluh untuk digerakkan. Begitu juga dengan hatinya, dia sangat tidak tega melihat kedua mertuanya itu.
Lidya yang sedang asik-asiknya tidur merasa terganggu saat mendengar keributan di depan kamarnya, dengan perasaan kesal dia turun dari ranjang dan bergegas untuk melihat apa yang terjadi.
"Ada apa ini? Apa Ibu dan Ayah tidak tau, kalau aku sedang tidur?"
Plak!
Sebuah tangan langsung menyambut kedatangan Lidya, membuatnya langsung terdiam dengan mata memerah.
•
•
•
__ADS_1
Tbc.