
"Hoam!"
Amora menggeliatkan tubuhnya saat matanya terkena sinar matahari, dia yakin kalau sekarang pasti sudah siang.
Dengan perlahan Amora mulai beranjak bangun dan turun dari ranjang, dia melirik ke arah jam yang ada di atas meja, terlihat kalau sekarang sudah pukul 9 pagi.
"Dasar, aku jadi kesiangan sekarang!"
Amora segera masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri, niat hati ingin joging tetapi malah bangun kesiangan.
Setelah selesai, Amora segera memakai pakaian dan berlalu keluar. Terlihat para pelayan sedang berlalu lalang di rumahnya, dan mereka langsung menyapa dengan kepala tertunduk saat melihat keberadaannya.
"di mana Kak Justin?" tanya Amora pada salah satu pelayan.
"Maaf Nona, pagi-pagi sekali Tuan Justin sudah pergi!"
Amora mengernyitkan keningnya, dia kemudian mengusir pelayan itu dan bergegas menelpon Justin.
"halo, Nona?"
"Di mana?" Amora dapat mendengar suara berisik yang berasal dari sebrang telpon.
"maaf Nona, saya harus menemui Ibu saya. Beliau sedang tidak enak badan!"
"Benarkah? Kenapa tidak memberitahuku?"
Amora merasa kesal, bisa-bisanya dia tidak diberitahu kalau saat ini Ibunya Justin sedang sakit.
"Nona sedang istirahat, dan Ibu juga hanya sedikit kelelahan!"
"Jadi, tunggu Bibi mati dulu baru kau memberitahuku?"
Tut, Amora langsung mematikan panggilannya begitu saja. Dia lalu kembali ke kamar untuk mengganti pakaian, karna ingin melihat keadaan orangtua Justin saat ini.
Sementara itu, Justin yang sedang berada di samping mobilnya langsung kebingungan saat panggilan telpon dimatikan begitu saja dengan Amora. Dia yakin kalau sekarang Nonanya itu sedang menuju ke tempatnya berada saat ini.
"Ck, akan terlalu repot kalau Nona datang kemari!"
Justin lalu kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku, dan berniat untuk melanjutkan tujuannya. Saat ini dia sedang berada di pasar, sesuatu yang selalu di lakukan saat Ibunya sedang sakit, yaitu belanja untuk membuat makanan bagi sang Ibu.
__ADS_1
Kenapa harus belanja ke pasar? Ya karna Ibunya tinggal di daerah perbatasan kota, jadi hanya ada pasar saja jika ingin belanja.
Justin memilih bahan-bahan yang akan digunakan untuk memasak, dia ingin menyiapkan sup yang hangat agar tubuh Ibunya kembali segar.
"Kembaliannya, Tuan!"
Justin yang sudah melangkahkan kakinya kembali berhenti. "Untuk Ibu saja!" Kakinya kembali melangkah dan menjauh dari tempat penjual kerang.
"Terima kasih, Tuan!"
Penjual kerang itu sangat senang, rezekinya hari ini sangat lumayan ketimbang biasanya. Apalagi mendapat pembeli seperti Justin, yang tentu saja akan membuat semua pedagang menjadi sejahtera.
Semua bahan masakan sudah Justin dapatkan, sekarang tinggal kembali ke rumah saja dan membawa bahan-bahan itu untuk dimasukkan ke dalam mobil.
Bruk!
Mata Justin langsung melotot saat bahan-bahan masakannya terjatuh di atas tanah, rupanya ada seorang wanita yang berlari dan menabrak tangannya sampai semuanya berserakan.
"Maaf Tuan, saya tidak sengaja!"
Wanita tukang tabrak itu langsung memunguti bahan-bahan yang masih bisa untuk dikonsumsi, sementara Justin hanya diam memperhatikannya karna wanita itu terlihat sangat tidak asing.
"Maaf Tuan, saya pasti akan mengganti-"
"Tu-Tuan Justin?"
Mata Niki hampir meloncat keluar dari kelopak matanya saat melihat Justin, dia kemudian mengucek mata itu untuk memastikan apakah laki-laki itu benar-benar Justin atau tidak.
"Beraninya kau membuat bahan masakanku jatuh!"
Tubuh Niki terlonjak kaget saat mendengar bentakan Justin, kini dia yakin kalau laki-laki itu adalah laki-laki yang sama saat berada di kafe.
"Ma-maaf Tuan, saya, saya tidak sengaja!"
Niki menundukkan kepalanya, kenapa dunia sangat sempit sekali? Dari jutaan manusia, bisa-bisanya dia menabrak makhluk kejam itu.
"aku tidak mau tau, kau harus menggantinya sekarang juga!" ucap Justin dengan tajam.
Susah payah dia memilih semua bahan terbaik, dan dengan setulus hati. Akan tetapi, wanita itu malah merusak segalanya, dan kenapa pula di mana berada dia bisa bertemu dengan gadis itu?
__ADS_1
"Ba-baik, Tuan! Saya pasti akan menggantinya!"
Niki segera berbalik untuk membeli semua bahan-bahan yang sudah dia rusak, tetapi saat ingin melangkahkan kaki. Tiba-tiba suara Justin terdengar membuat kakinya kembali diam.
"Memangnya kau tau semua yang mau kau beli? Kalau sampai salah, aku akan membuat perhitungan denganmu!"
Glek, Niki lalu kembali melihat ke arah Justin. Dia lalu bertanya apa-apa saja yang harus di beli, dan mencatatnya di ponsel.
"Aku akan memberi waktu 10 menit untuk membelinya, pastikan kau membeli bahan-bahan terbaik! Karna jika tidak, awas saja kau!"
Niki mengangguk dengan cepat, dia lalu segera berbalik dan berlari menjauhi tempat itu.
"Si*alan! Bisanya-bisanya aku ketemu sama wanita pembuat onar itu!"
Justin merasa benar-benar kesal, wanita itu sudah seperti hantu yang selalu muncul di manapun dia berada. Anehnya lagi, setiap kemunculannya selalu membawa malapetaka.
Sementara itu, Niki yang sudah berada di dalam pasar langsung berlari ke sana kemari untuk mencari segala bahan-bahan milik Justin. Dia sungguh merasa si*al hari ini, dan kesi*alannya semakin bertambah karna bertemu dengan kulkas 10 pintu itu.
"Cih, nanti aku akan melempar semua bahan ini ke wajahnya! Lagian kenapa juga sih dia ada di sini? Apa di sana itu tidak bisa belanja?"
Niki terus ngomel-ngomel sambil memilih bahan yang katanya harus terbaik, tapi persetan dengan semua itu. Dia cuma perlu membeli bahan makanan yang sama, dan memberikannya pada Justin.
Tepat 10 menit kemudian, Niki tampak berlari menghampiri Justin dengan tergopoh-gopoh. Dadanya kembang-kempis dengan napas tersengal-sengal, karna terus berlari dan berlari hari ini.
"I-ini, Tuan!"
Dia menyerahkan bahan-bahan itu pada Justin, dan langsung diperiksa oleh laki-laki itu.
"Hah, hah, hah! Pengen mati saja rasanya!"
Tanpa sadar Niki bersandar di mobil Justin, dia bahkan naik ke atas mobil itu dan mendudukinya.
"Kau pikir mobiku itu kursi!"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.