
Devan tercengang mendengar ucapan Amora, dadanya terasa sesak dengan rasa sakit yang menjalar diseluruh hati. Tubuhnya terasa kaku untuk digerakkan, bahkan lidahnya juga terasa kelu untuk mengucapkan sesuatu.
Amora sendiri memalingkan wajahnya, dia yang mengucapkan kata-kata itu, tetapi dia jugalah yang merasakan sakitnya. Tanpa menunggu apapun lagi, dia segera berbalik dan keluar dari tempat itu. Urusannya sudah selesai, dan sekarang dia tidak ingin lagi berhubungan dengan laki-laki itu.
Justin yang melihat kepergian Amora langsung mengepalkan kedua tangannya, matanya berkilat penuh amarah dengan gigi yang saling bergesekan.
"Aku sudah mengatakan, kalau aku tidak akan membiarkanmu jika menyakiti Nona!"
Semua orang menjadi panik saat melihat apa yang Justin lakukan, terutama Valdo yang langsung berlari menghampiri mereka sebelum keributan terjadi.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan Devan!"
Valdo berusaha untuk melepaskan cengkaraman Justin dari kerah kemeja Devan, sementara Devan masih berusaha untuk mencerna apa yang baru saja terjadi.
"Aku bisa saja membunuhmu saat ini juga, tapi tidak kulakukan karna sumpahku! Jadi jangan lagi muncul di hadapanku, terutama di hadapan Nona!"
Justin menghempaskan tubuh Devan dengan kasar sampai laki-laki itu menabrak meja yang ada di belakangnya, dia lalu segera pergi dari tempat itu sebelum Amora menunggu terlalu lama.
Bruk!
"Devan!"
Valdo memekik kaget saat tubuh Devan ambruk begitu saja, untung tangannya sigap menahan tubuh laki-laki itu. Jika tidak, sudah pasti tubuh Devan saat ini mencium lantai.
"Apa-apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Amora terlihat marah sekali denganku? Apa aku melakukan kesalahan?"
Hati dan jiwa Devan sangat terguncang dengan semua ini, luka yang masih terbuka lebar terasa seperti disiram oleh air garam. Rasa sakit dan pedih membuat dadanya sesak, hingga akhirnya tubuhnya tidak kuat untuk menahan semua beban dan membuatnya tidak sadarkan diri.
"Astaga, Kak! Apa yang terjadi padamu?"
Niki sangat panik saat melihat Devan pingsan, begitu juga dengan Valdo yang langsung meminta tolong pada yang lainnya untuk membawa laki-laki itu ke ruangan.
Mereka membaringkan tubuh Devan ke atas sofa, setelahnya Valdo segera menelpon temannya yang berprofesi sebagai Dokter untuk segera datang ke tempat itu.
"Kak, ada apa dengan Kak Devan?"
Niki melihat Valdo dengan mata berkaca-kaca, untuk pertama kalinya dia melihat Devan pingsan seperti ini. Bahkan laki-laki itu sangat jarang sekali sakit, itu sebabnya dia sangat syok dengan apa yang terjadi.
"Tenanglah, Niki! Tidak akan terjadi sesuatu pada Devan!"
__ADS_1
Valdo menarik tubuh Niki dalam pelukannya, bukan bermaksud untuk mengambil kesempatan dalam kesempitan. Hanya saja dia ingin menenangkan wanita itu yang kini mulai menangis.
Tidak berselang lama, datanglah seorang wanita ke dalam ruangan Devan yang merupakan teman Valdo.
"Ada apa, Val? Kenapa kau memaksaku ke sini?"
Wanita cantik itu merengut, dia yang sedang kerja terpaksa izin karna desakan dari teman kurang ajarnya itu.
"Dea, tolong periksa Devan!"
Valdo menunjuk ke arah Devan yang terbaring disofa, dan langsung saja wanita bernama Dea mendekati laki-laki itu untuk melakukan pemeriksaan.
Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya Dea selesai melakukan pemeriksaan. Dia kembali menyimpan alat-alat medisnya ke dalam tas.
"Bagaimana? Apa keadaan Devan baik-baik saja?"
Dea menganggukkan kepalanya. "Dia baik, hanya saja tekanan darahnya terlalu tinggi hingga dia tidak dapat menahan rasa sakit yang ada dikepalanya!"
"Cih, kayak gitu kok dibilang baik!"
Plak! "Aaw!"
"Aku sudah menulis resep obat untuknya, lebih baik kau tebus sekarang juga!"
Valdo mengambil resep obat dari Dea dengan kesal, kemudian dia keluar dari ruangan itu untuk menebus obat.
"Dasar laki-laki gila!"
Dea tergelak melihat Valdo yang sudah keluar dari ruangan, ada-ada saja tingkah yang laki-laki itu lakukan padanya.
"Maaf, Dokter! Apa anda menyukai Kak Valdo?"
Dea terjingkat kaget saat mendengar ucapan Niki, dan si*alnya dia baru sadar kalau ada orang lain di dalam ruangan itu selain mereka.
"Ma-maaf ya, saya tidak melihatmu tadi!" Dia merasa malu saat ini.
"Hehehe, tidak apa-apa Dokter! Kadang orang yang jatuh cinta memang tidak peduli pada sekitarnya!"
Blush, wajah Dokter cantik itu seketika memerah saat mendengarnya. "Bu-bukan begitu, kami hanya teman saja!" Dia mengibas-ngibaskan tangannya untuk membantah ucapan Niki.
__ADS_1
Niki hanya tertawa saja saat melihatnya, dia lalu duduk di lantai dan memijat tangan Devan agar laki-laki itu segera bangun.
"Kak, bangunlah! Mau sampai kapan tidurnya?"
Niki terus berusaha untuk membangunkan Devan, walaupun tidak ada reaksi apapun dari laki-laki itu.
"Apa kau yang bernama Niki?"
Niki mendongakkan kepalanya untuk melihat Dea. "Benar, Dokter! Kenapa Dokter tau namaku?"
"Em ... ya, aku mengetahuinya dari Valdo!"
Tentu saja dia tau tentang Niki, wanita yang selalu menjadi topik pembicaraan Valdo. Laki-laki itu selalu menceritakan Niki padanya, terlihat jelas bahwa Valdo sangat mencintai wanita itu.
Niki diam memperhatikan raut wajah Dokter itu yang berubah sendu, tetapi dia mengabaikannya karna tidak ingin terlalu ikut campur.
"Baiklah, Niki! Aku harus pergi, aku harap Kakakmu cepat sembuh!"
Niki menganggukkan kepalanya. "Terima kasih karna sudah datang kemari, Dokter! Lalu, berapa biaya yang harus saya bayar?"
Dea tersenyum melihat kepolosan diwajah Niki. "Bagaimana kalau bayarannya dalam bentuk pertemanan, apa kau mau?"
Niki terdiam, otak kecilnya mencoba untuk berpikir. "Maksudnya?" Ternyata kapasitas otaknya tidak mampu.
"Maksudnya, apa kau mau berteman denganku? Dan itu sudah cukup sebagai bayarannya!"
Akhirnya Niki mengangguk paham. "Tentu saja, Dokter! Mari kita berteman!"
"Gak berpelukan sekalian?"
Tiba-tiba Valdo datang dan mengagetkan mereka, tentu saja Niki dan Dea sama-sama mencebikkan bibir untuk laki-laki itu.
•
•
•
Tbc.
__ADS_1