
Tepat pukul 8 malam, Devan sampai di rumah mewah Amora. Dia segera turun dari mobil dan masuk ke rumah itu, terlihat Justin dan Samy sedang duduk dikursi ruang tamu seperti sedang menunggunya.
Kedua lelaki itu langsung melihat ke arahnya, telinga mereka memang sangat tajam, padahal dia berjalan tanpa mengeluarkan suara.
"Selamat malam, Tuan!"
Justin dan Samy sama-sama mengangguk, lalu Samy menyuruhnya untuk duduk karna Amora masih belum keluar dari kamar.
Glek, Devan menelan salivenya dengan kasar. Dia melirik ke arah penampilannya sendiri, mungkin saja dia terlihat aneh karna sejak tadi Justin dan Samy terus memelototinya.
"Kenapa aku seperti sedang izin untuk membawa Nona Amora pada orangtuanya sih?"
Yah, situasinya memang persis sama dengan apa yang Devan rasakan saat ini. Dia seperti sedang berhadapan dengan orangtua Amora, tapi bedanya, dua lelaki ini punya sifat yang ... entahlah, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Jadi, kenapa kau mengajak adikku pergi?"
Devan langsung tegang, tapi belum sempat dia menjawab, Samy kembali mengeluarkan suaranya.
"tapi sebelum itu, kita belum berkenalan secara resmi, 'kan?"
"Benar, Tuan! Saya adalah Devan, saya-"
Devan tidak tau harus mengenalkan diri seperti apa, apa dia harus mengatakan kalau dia adalah kekasih Amora?
"Aku kakaknya Amora!"
Devan tersenyum canggung, dia yang berniat menyodorkan tangannya terpaksa mengurungkan niat itu saat melihat tatapan tajam Justin.
"kembali ke pertanyaan pertama, untuk apa kau mengajak Amora pergi?" tanya Samy kembali.
"itu, itu karna saya-"
"Itu bukan urusanmu!"
Tiba-tiba Amora datang dan memotong ucapan Devan, membuat semua orang langsung melihat ke arahnya.
Devan yang melihat kedatangan Amora langsung beranjak bangun, matanya tidak berkedip melihat penampilan Amora yang sangat cantik malam ini.
"Amora, apa kau benar-benar akan pergi dengannya? Kenapa?"
Amora menajamkan pandangan membuat Samy mengatupkan bibirnya, dia tidak suka saat laki-laki itu ikut campur dalam hal pribadinya.
"Ayo!"
Amora segera berjalan meninggalkan tempat itu, sementara Devan langsung berpamitan pada mereka berdua dan berlalu mengikuti langkah wanita itu.
__ADS_1
Dengan cepat Devan membuka pintu mobil untuk Amora, tapi siapa sangka kalau wanita itu akan membuka pintu yang lain, dan duduk di samping kursi kemudi.
Devan tercengang, tetapi sesaat kemudian dia sadar dan berlalu masuk ke dalam mobil. Dia melajukan mobil itu, dan meninggalkan kawasan rumah Amora.
"terima kasih karna sudah menemani saya, Nona!" ucap Devan dalam perjalanan.
"kenapa terima kasih, aku kan kekasihmu!"
"H-hah? Benar juga sih, tapi kenapa aku jadi ngerasa kayak gimana gitu?"
Devan ingin sekali menggaruk tengkuknya, tapi entah kenapa tangannya terasa kaku saat ini.
"Te-tentu saja, Nona! Saya hanya sangat berterima kasih karna Nona sudah mau meluangkan waktu untuk saya!"
Amora terdiam, dia hanya menganggukkan kepalanya saja sambil menatap jalanan.
Suasana lalu berubah hening, Devan tidak tau harus melakulan apa untuk mengurangi keheningan yang terjadi. Beberapa kali dia melirik Amora yang hanya diam seperti patung.
Tanpa terasa, mobil mereka sudah sampai di tempat tujuan. Devan segera keluar dan membukakan pintu untuk Amora, lalu menggandeng tangan wanita itu membuat Amora diam ditempat.
Devan yang tidak sadar kalau tangannya sedang menggenggam tangan Amora, melihat gadis itu dengan bingung.
"ada apa, Nona?"
"apa sepasang kekasih pegangan tangan?"
Amora segera menunjuk tangannya melalui sorotan mata, sementara Devan langsung melepaskan genggaman tangannya dengan wajah merah padam.
"Ma-maaf, Nona! Saya, saya tidak sengaja!"
Devan merutuki kebod*ohannya sendiri, kebiasannya menggandeng tangan Lidya membuatnya tidak sadar kalau sedang bersama Amora.
"Tidak papa, aku hanya bertanya saja!"
Amora lalu menarik tangan Devan dan membuat tangan laki-laki itu kembali menggenggam tangannya. "Aku senang kau melakukan ini!"
Untuk beberapa saat mereka saling bertatapan, Devan seolah-olah terhipnotis dengan ucapan yang baru saja keluar dari mulut Amora.
"kau mau menciumku?"
"A-apa?"
Devan langsung memalingkan wajahnya yang merah padam, bagaimana mungkin Amora bisa berkata frontal seperti itu? Pikirnya.
"Difilm, sepasang kekasih langsung berciuman saat saling memandang, dan mereka mengucapkan kata Sayang!"
__ADS_1
Devan benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi, dan untuk menghentikan kegilaan ini, dia harus segera mengajak Amora ke acara pesta.
"Le-lebih baik kita segera masuk, Sayang! Hah? Ma-maksudku, maksud saya, Ayo Nona!"
Devan panik sendiri dan segera menarik tangan Amora untuk masuk ke lokasi pesta, sementara Amora tersenyum tipis melihat wajah Devan yang merah padam seperti itu.
Suasana pesta tampak sangat meriah, saat para tamu naik ke atas panggung untuk menyanyikan lagu kesukaan mereka, sementara tamu yang lain saling mengobrol ria dengan teman-teman mereka.
"Selamat atas pernikahan putri anda, Nyonya, Tuan!"
Devan sedang memberi selamat pada pemilik acara, terlihat raut bahagia diwajah mereka dan mengucapkan terima kasih atas kedatangannya.
"Tapi ngomong-ngomong, siapa wanita yang ada di sampingmu ini? Apa dia kekasihmu?"
Wanita paruh baya itu tersenyum ramah, dia memang tidak tau kalau Devan sudah menikah.
Devan hanya tersenyum malu untuk menanggapi pertanyaan wanita paruh baya itu, sementara Amora hanya diam sambil melihat mereka.
Kemudian Devan pamit untuk kembali ke kursinya dengan tetap menggenggam tangan Amora, tanpa mereka sadari, sejak tadi ada dua pasang mata yang menatap mereka dengan tajam.
"bukannya dia suamimu?" seru Melano, yang saat ini sedang duduk di sudut pesta itu.
"Cih, memang apa urusannya denganku?"
Lidya berdecih, dia hanya terkejut melihat keberadaan Devan dan sedikitpun tidak memikirkan laki-laki itu.
"Tidak ada sih, tapi aku seperti mengenal wanita yang sedang bersamanya!"
Melano semakin menajamkan pandangannya, tetapi Lidya terlihat sangat tidak menyukai apa yang dia lakukan.
"Sudahlah, Sayang! Untuk apa kita memperdulikan orang yang tidak penting!"
Lidya bergelayut manja dilengan Melano, mencoba untuk mengalihkan perhatian laki-laki itu.
Akan tetapi, siapa sangka kalau ternyata Devan dan Amora malah berjalan untuk menghampiri mereka.
"Wah, kau ada di sini juga, Istriku?"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1