Salah Masuk Kamar Pengantin

Salah Masuk Kamar Pengantin
Bab. 60. Kenyataan Yang Memilukan.


__ADS_3

Devan berdiri di ambang pintu dengan tubuh kaku, nyawanya terasa dicabut secara paksa dari tubuhnya saat mendengar semua cerita sang mertua.


"De-Devan?"


Kedua orangtua Lidya langsung pucat saat melihat keberadaan Devan, mereka yakin kalau laki-laki itu mendengar semua yang baru saja mereka bicarakan.


Ayah Pian segera bangun dan menghampiri Devan yang terdiam di sana, tampak jelas keterkejutan diwajahnya saat ini.


"Devan, kau sudah pulang?"


Devan diam dan tidak menjawab pertanyaan laki-laki paruh baya itu, dia hanya menatap nyalang ke arah Ayah Pian yang belum pernah dia lakukan sebelumnya.


"Kalian, baru saja menceritakan tentangku?"


Suara Devan sangat dingin terdengar membuat semua orang menjadi cemas, terutama Lidya yang juga sangat terkejut dengan cerita kedua orangtuanya.


"Jawab aku!"


Semua orang tersentak kaget mendengar teriakan Devan, untuk pertama kalinya mereka melihat kemarahan diwajah laki-laki itu saat ini.


"Kenapa kalian diam? Bukannya sejak tadi kalian terus bicara tentang seseorang?"


Glek, kedua orangtua Lidya menelan salive mereka dengan kasar. Padahal mereka sudah berniat untuk tidak akan menceritakan semua ini pada Devan, tetapi takdir sepertinya tidak berpihak pada mereka.


"Devan, dengarkan Ayah dulu!"


Ayah Pian menepuk bahu Devan, dia mencoba untuk memberi ketenangan pada laki-laki itu sebelum dia menceritakan semuanya.


"Aku mendengarnya, Ayah! Aku sudah mendengarnya!"


Ya, Devan sudah mendengar semua yang mereka bicarakan. Dia sampai di tempat itu, tepat saat Lidya menanyakan sesuatu pada kedua mertuanya. Dia yang berniat masuk langsung menghentikan kakinya saat mendengar ucapan Ibu Mira, yang mengatakan kalau dia adalah anak dari kakak wanita paruh baya itu.


"Apa kalian pikir ini masuk akal? Hah!"


Emosi Devan sudah tidak bisa ditahan lagi, hatinya yang sedang tidak baik-baik saja tentu semakin terguncang karna mengetahui sebuah fakta tentang siapa dia yang sebenarnya.


"Lalu, dari mana kalian tau kalau aku adalah anak dari kakak kalian itu?"


Kedua orangtua Lidya memejamkan mata mereka, mereka tau kalau saat ini Devan pasti sangat terguncang dengan semuanya.

__ADS_1


"Cepat katakan padaku sebelum aku hilang kendali, Ayah, Ibu!"


Ayah Pian melirik ke arah sang istri yang sedang menunduk dengan berurai air mata.


"Baiklah Devan, kalau memang kau ingin tau, maka Ayah akan menceritakannya!"


Setelah Ana meninggal, Ayah Pian dan istrinya terus melakukan pencarian untuk menemukan anak Ana. Mereka menyusuri tempat kecelakaan, dan mendatangi semua orang yang pernah berkomunikasi dengan wanita itu.


Bertahun-tahun berlalu, mereka belum juga bisa menemukan di mana anak itu berada. Sampai akhirnya mereka mengenal Devan, dan sangat terkejut saat wajahnya sangat mirip dengan seseorang.


Pada saat Ana mengandung, dia sempat menunjukkan sebuah potret seorang laki-laki yang sudah menidurinya. Tentu Ibu Mira dan suaminya sangat terkejut, dan akan segera mencari laki-laki itu agar bertanggung jawab.


Namun, Ana melarangnya. Dia mengatakan kalau sudah lama menyimpan rasa cinta untuk laki-laki itu. Apalagi dia sering datang ke klub tempat Ana bekerja, membuat rasa cintanya kian tumbuh.


Lalu, suatu malam ada seorang lelaki yang menemuinya dan memberi penawaran untuk tidur dengan laki-laki yang dia sukai. Awalnya Ana menolak, tapi karna terus didesak dan karna rasa cintanya itu. Akhirnya dia menerima semuanya.


"Saat kami melihatmu, kami langsung menyelidiki semuanya. Dan akhirnya kami tau, kalau saat itu ternyata kau jatuh ke dalam sungai. Terus warga menemukanmu, dan membawamu ke panti asuhan!"


Deg!


Jantung Devan seperti ditusuk oleh ribuan jarum secara bersamaan saat mendengarnya, tubuhnya terasa lemas hingga kedua kakinya tak mampu lagi untuk menopang berat tubuhnya.


Bruk!


Semua orang langsung berlari ke arah laki-laki itu yang sudah terduduk di atas lantai, dengan cepat Lidya mengambil minum untuk diberikan pada Devan.


"Minumlah, Devan!"


Devan tetap diam dengan pandangan kosong, siapa yang tidak terpukul jika mendengar fakta seperti itu? Jiwanya terasa benar-benar terguncang hebat, bahkan air mata saja sampai tidak berani keluar dari kedua matanya.


"Tunjukkan, tunjukkan foto itu padaku!"


Kedua orangtua Lidya terdiam mendengar ucapan Devan. "Kami tidak punya foto itu, Devan! Cuma Ibumulah yang menyimpannya!"


Dengan cepat Devan mengambil ponselnya untuk mencari foto seseorang, dan menunjukkan pada mereka apakah laki-laki itu adalah laki-laki yang sama dengan foto milik Ibunya.


Ayah Pian dan istrinya memperhatikan wajah yang ada diponsel Devan, mereka mencoba untuk mengingat wajah dari laki-laki yang pernah ditunjukkan Ana pada mereka.


"Dia, dia sangat mirip denganmu!"

__ADS_1


Ayah Pian memperhatikan wajah Devan dengan wajah laki-laki yang ada diponsel, persis sama bak pinang dibelah dua.


"Aku tanya apa dia laki-laki yang sama dengan foto itu?"


Untuk sekali lagi Devan mengulangi pertanyaannya, dia berharap kalau semua yang ada dalam pikirannya saat ini adalah salah.


"foto itu sudah sangat lama, jadi kami susah untuk mengingatnya. Tapi, melihat wajah laki-laki ini. Sepertinya dia benar-benar Ayahmu, Nak! Garis wajahnya sama persis denganmu, kalian bahkan seperti-"


"Hentikan!"


Devan berusaha untuk bangun sambil berpegangan pada dinding, sementara yang lain terpaku mendengar suara bentakannya.


"Hentikan semuanya, aku tidak mau lagi mendengar apapun!"


Devan segera berbalik membuat mereka semua sangat khawatir. "Tunggu, Devan! Kau mau ke mana?"


Devan menjauh dari rumah itu karna tidak mau lagi mendengar omong kosong mereka, dia berjalan cepat dan langsung masuk ke dalam mobil.


Brak!


"Apa yang kau lakukan?"


Ternyata Lidya ikut masuk ke dalam mobil membuat Devan sangat terkejut, sementara wanita itu menatap tajam ke arahnya.


"kau mau ke mana, Devan? Dalam keadaan seperti ini, sangat bahaya jika kau-"


"diam! Aku tidak butuh ucapan darimu, sekarang keluar dari mobilku!" teriak Devan, dia sudah tidak bisa lagi menahan semua kegilaan ini.


"tapi Devan, aku-"


"Keluar!"


Lidya menatap Devan dengan sendu, mau tidak mau dia segera keluar dari mobil itu sebelum laki-laki itu semakin murka.


Begitu Lidya keluar, Devan langsung tancap gas meninggalkan tempat itu. "Aaarggh! Tidak, semua ini tidak mungkin terjadi! Aku tidak punya orangtua, mereka bukan orangtuaku!"



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2