
Setelah perceraiannya selesai, Devan merasa benar-benar lega. Saat ini dia seperti terbebas dari sesuatu, seakan beban berat yang ada di pundaknya hilang seketika.
Niki yang baru saja sampai di tempat itu langsung mencari keberadaan Devan, tetapi yang dia lihat malah Amora beserta gengnya.
"Nona!"
Amora yang sedang berjalan cepat ke arah mobil langsung menghentikan langkah kakinya, dia memalingkan wajah dan melihat Niki yang sedang berlari ke arahnya.
"Apa Nona melihat Kak Devan?"
"Aku tidak tau!"
Niki terlonjak kaget saat mendapat jawaban yang sangat ketus dari Amora membuat semua orang menggelengkan kepala mereka.
"Bilang sama kakakmu itu untuk segera menikahiku, atau aku akan menikah dengan laki-laki lain!"
"Hah?" Niki tercengang mendengar ucapan Amora, sementara gadis itu langsung beranjak pergi dari sana.
"Benar-benar deh adikmu itu, Samy. Sepertinya dia udah gak tahan mau-,"
"Papa!" Samy melotot ke arah Papanya yang saat ini sedang tertawa, dia lalu beralih ke arah Niki yang masih diam karena ucapan Amora. "Namamu Niki, kan?"
Niki langsung tersadar dan menghadap ke arah Samy. "Be-benar, Tuan."
"Devan masih bersama dengan mantan istrinya di sana." Dia menunjuk ke arah di mana Devan berada.
Niki mengangguk, dia lalu melirik ke arah Justin yang sejak tadi diam di belakang tubuh Lucas. "Ka-kalau gitu saya-"
"Niki!"
Bruk.
Tubuh Niki sampai terhuyung ke depan karena ditubruk oleh Valdo membuat semua orang menatap heran. "Sayang, ternyata kau datang juga ya."
"Lepaskan aku!" Niki berusaha melepaskan pelukan Valdo tetapi laki-laki itu malah semakin mengeratkan pelukannya.
Justin yang melihat pemandangan mengerikan itu langsung mencengkram kedua tangannya dengan erat, dan semua itu tidak lepas dari penglihatan Lucas.
"Ayo kita pulang, ngapain kau ke sini?" ajak Valdo. Dia benar-benar merindukan Niki karena jarang sekali bisa bertemu dengan gadis itu.
"Enggak mau! Aku mau sama kak Devan aja."
Lucas yang masih ada di tempat itu langsung menempelkan mulutnya ke telinga Justin. "Apa kita sedang melihat adegan mesra sepasang kekasih? Lalu, abis itu apa lagi? Apa ada adegan ciuman juga?"
__ADS_1
Justin langsung melihat Lucas dengan tajam membuat laki-laki paruh baya itu tersenyum lebar. "Kenapa kau menatapku? Apa kau mau ketinggalan momen ciuman me-" Lucas tidak dapat melanjutkan ucapannya karena Justin beranjak pergi ke arah Niki dan juga Valdo.
"Wah, ini baru seru." Lucas bersedekap dada sambil menonton pertunjukan yang akan terjadi selanjutnya.
"Ayolah, Niki. Sudah lama kita tidak-"
"Niki!"
Ucapan Valdo terpaksa terhenti saat mendengar suara panggilan seseorang, terlihat Justin sudah berdiri tepat di samping mereka dengan tangan yang memegang lengan Niki
"Tunggu, apa yang mau dia lakukan?" Samy yang akan menyusul langkah Justin dicekal oleh Lucas.
"Kau mau apa?" tanya Lucas sambil menahan tangan Samy.
"Mau menghentikan Justin, memangnya apa lagi, Pa?" seru Samy dengan kesal.
"Berhenti ikut campur urusan orang lain dan fokus saja pada urusanmu sendiri. Adikmu sudah punya kekasih, bahkan Justin yang kaku kayak gitu juga udah nampak calon masa depannya. Lah kau? Jangankan bentuk, baunya pun belum terasa,"
"Papa ngomong apa sih?" Samy berucap dengan kesal, dia lalu memilih untuk menyusul langkah Amora dari pada memperdulikan papanya yang tidak waras itu membuat Lucas terpaksa mengikutinya.
Sekarang kembali lagi pada Niki dan dua pria yang saat ini sedang saling tatap-tatapan.
"Ada apa, Tuan?" tanya Niki pada Justin.
"Wah, benarkah?"
Niki yang ingin menjawab ucapan Justin kalah cepat dengan suara Valdo, laki-laki itu benar-benar tidak suka dengan Justin.
"Benar, jadi lepaskan tangannya!" ucap Justin dengan penuh penekanan, sepertinya saat ini dia benar-benar sudah gila.
"Kalau aku tidak mau, kau bisa apa?" tantang Valdo.
Niki sedang merasakan gelagat yang tidak baik dari kedua lelaki itu mengingatkannya pada acara pesta waktu itu. "Tu-tunggu." Dia terpaksa angkat suara sebelum pertengkaran terjadi.
"Kau ingin melihatnya?" Justin menyeringai membuat Niki langsung merinding.
"Tuan, lebih baik-"
"Tentu saja, aku tidak akan keberatan."
Sepertinya saat ini Niki tidak tampak di mata kedua laki-laki itu membuat dia benar-benar merasa kesal.
"Baiklah, kau-"
__ADS_1
"Diam!"
Valdo dan Justin terlonjak kaget mendengar teriakan Niki, bahkan orang-orang yang ada di tempat itu juga ikut terkejut karena suara itu.
"Bisakah kalian tidak bertengkar?" seru Niki dengan tangan bertolak pinggang. "Sebenarnya ada apa dengan kalian, kenapa kalian selalu saja menarik tanganku, apa kalian pikir aku tidak kesakitan?"
Valdo dan Justin terdiam mendengar ucapan Niki, membuat gadis itu menatap mereka dengan tajam.
"Kalau nanti tanganku lepas gimana? Apa kalian bisa menyambungnya lagi?" Dia benar-benar sangat kesal saat ini. "Jadi berhenti bertengkar dan jangan menarik tanganku. Sebenarnya kalian ini kenapa? Apa kalian ini suka denganku?"
"Ya!"
"Ya!"
"Apa?" Niki sangat terkejut dengan jawaban dari kedua laki-laki itu, begitu juga dengan Valdo dan Justin yang tidak menyangka kalau akan mengatakan iya pada gadis itu.
"Ka-kalian bilang apa?" Sumpah demi apapun juga, saat ini Niki merasa seperti sedang tersambar petir.
Justin benar-benar merutuki mulut lucknut nya yang telah sembarangan bicara, sementara Valdo sendiri menatap Niki dengan tajam.
Tanpa ingin mengucapkan apapun lagi, Justin langsung saja berbalik dan hendak pergi dari tempat itu karena merasa benar-benar malu.
"Iya, aku menyukaimu, Niki."
Justin yang sudah melangkahkan kakinya langsung terhenti saat mendengar ucapan Valdo, sementara Niki terdiam di tempatnya saat ini.
Justin mengepalkan kedua tangannya dengan erat, dia lalu kembali melangkahkan kakinya untuk pergi dari tempat itu tanpa menghiraukan mereka.
Valdo melirik ke arah Justin yang sudah menjauh dari mereka, dia tidak menyangka kalau laki-laki itu tidak akan bereaksi dengan apa yang dia ucapkan.
"Aku tau,"
"Hah?" Valdo tersentak kaget mendengar ucapan Niki.
"Aku tau kalau kakak suka padaku."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1