Salah Masuk Kamar Pengantin

Salah Masuk Kamar Pengantin
Bab. 69. Perasaan yang Tidak Diakui.


__ADS_3

Setelah ketegangan yang terjadi, Justin segera membawa Devan ke mobil dengan diikuti oleh Amora.


"Nona, saya akan kembali 5 menit lagi!"


Amora menganggukkan kepalanya dan duduk di samping Devan yang sudah tidur di dalam mobil, sementara Justin kembali masuk ke dalam apartemen Valdo.


Tidak berselang lama, laki-laki itu kembali lagi dengan membawa seorang wanita dalam gendongannya.


"Bola-bola?"


Amora memekik kaget saat Justin memasukkan Niki ke dalam mobil, dia memicingkan matanya menatap laki-laki itu.


"maaf Nona, saya rasa kita harus membawanya juga!"


"Kenapa?"


Justin yang sudah akan menutup pintu kembali terdiam saat mendengar pertanyaan Amora.


"Kenapa kita harus membawa bola-bola ini? Biarkan dia di sana!"


Amora tersenyum tipis, dia ingin lihat apa jawaban dari laki-laki itu. Akankah Justin mengakui perasaannya? Walaupun harapan itu hanya kemungkinan terjadi 0,01%.


"Niki sudah seperti adik bagi Devan, kalau terjadi sesuatu padanya. Devan pasti akan sedih, dan Nona pasti tidak suka melihat dia bersedih!"


Amora mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar jawaban Justin, cukup masuk akal juga apa yang laki-laki itu katakan.


Kemudian Justin menutup pintu dan memutari mobil untuk duduk di belakang kemudi.


"Tapi, di sana sudah ada Valdo! Dia pasti bisa menjaga wanita itu!"


Justin yang sudah bersiap untuk menghidupkan mesin mobilnya terpaksa mengurungkan niat itu. "Nona, apapun yang saat ini ada dalam pikiran anda, itu tidak benar! Aku khawatir padanya hanya sebagai sesama manusia!"


Amora langsung tergelak mendengar ucapan Justin, untung saja Niki sudah tidak sadar. Kalau sampai wanita itu mendengarnya, pasti langsung pingsan.

__ADS_1


Justin langsung melajukan mobilnya ke jalan raya karna tidak mau mendengar ocehan Amora lagi, padahal jika dia menyetir pun Amora masih bisa bicara panjang lebar.


Beberapa saat kemudian, mereka semua sudah sampai di halaman rumah Amora. Justin langsung membukakan pintu untuk Nona mudanya, dan membawa Devan masuk ke dalam rumah tersebut.


"Maaf Nona, apa yang anda lakukan?"


Justin terkejut saat Amora membuka pintu mobil yang diduduki Niki, dia lalu semakin bingung saat melihat Amora memapah Niki keluar dari mobil.


"Nona, biar saya saja yang melakukannya!"


Justin hampir saja menjatuhkan tubuh Devan karna ingin menarik Niki, dia tidak mau Nona mudanya melakukan semua itu.


"Tidak apa-apa, aku membantunya sebagai sesama manusia!"


Justin langsung terdiam mendengar sindiran dari Amora, sementara wanita itu sudah membawa Niki masuk ke dalam rumah.


Samy yang saat itu sedang berada dibalkon memperhatikan kepulangan Amora, dia lalu menghela napas kasar saat memikirkan tentang semua masalahnya.


"Tolong bantu aku, Tuhan! Semoga tidak terjadi sesuatu dengan keluargaku, baik Amora dan Papa. Aku tidak berdaya jika harus memilih di antara mereka berdua!"


Amora yang sudah berada di dalam kamar tamu langsung membaringkan tubuh Niki, dia tidak menyangka kalau gadis kecil itu sangat berat.


"Huh, kecil-kecil berat juga ternyata!" Dia menarik selimut untuk menutupi tubuh wanita itu.


Justin yang sudah membaringkan Devan segera keluar dari kamar itu, dan berlalu menemui Amora.


"Apa Nona ingin sesuatu?"


Amora menggelengkan kepalanya. "Aku mau langsung istirahat!" Dia segera melangkahkan kakinya untuk menaiki anak tangga.


Setelah Amora masuk ke dalam kamar, Justin juga segera pergi ke kamarnya. Jiwa dan raganya sangat-sangat lelah saat ini, apa lagi harus berada dalam situasi yang sangat bod*oh menurutnya.


"Si*alan! Kenapa aku seperti ini? Kenapa aku marah saat Niki dekat dengan laki-laki itu, apa urusanku?"

__ADS_1


Justin mengusap wajahnya dengan kasar, dia merutuki semua kegilaan yang telah dia lakukan. Apalagi dia membawa Niki bersamanya, sungguh sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya.


"Dasar gila, apa aku jatuh cinta pada gadis ceroboh itu? Tapi kenapa?"


Untuk memgembalikan kewarasannya, Justin segera masuk ke dalam kamar mandi dan berendam air hangat. Dia berharap kalau besok semua kebod*ohannya sudah berakhir.


Selesai berendam, Justin segera memakai pakaian dan berbaring di atas ranjang. Dia diam sambil menatap langit-langit kamar, pikirannya terbang melayang-layang memikirkan semua yang sudah terjadi dalam hidupnya.


Tiba-tiba lamunan Justin terhenti saat mendengar dering ponselnya, terlihat anak buahnya sedang menelpon.


"halo?"


"maaf sudah mengganggu anda, Tuan! Ada hal penting yang harus saya katakan!" ucap anak buahnya.


"Katakan!" Justin menarik selimut yang ada di bawah kakinya.


"Tuan, saat ini Lucas sudah berada di sini!"


"Apa?" Justin langsung mendudukkan tubuhnya saat mendengar ucapan anak buahnya.


"Iya, Tuan! Kami baru saja selesai menyelidikinya, dan ternyata Lucas sudah beberapa hari berada di kota ini!"


Justin mengepalkan tanngannya dengan erat, dia tidak menyangka kalau Lucas sudah bertindak dengan cepat. "Lanjutkan penyelidikan kalian, dan awasi semua pergerakan laki-laki itu. Aku harus tau apa yang dia lakukan di sini, sebelum laki-laki itu menyerang!"


"Baik, Tuan!"


Tut. Justin langsung mematikan panggilan telpon itu, tangannya mencengkram kuat benda pipih yang sedang berada dalam genggaman tangannya.


"Beraninya kau ke sini, Lucas! Aku tidak akan membiarkanmu begitu saja, aku akan menyerangmu lebih dulu sebelum kau menyerang kami!"



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2