Salah Masuk Kamar Pengantin

Salah Masuk Kamar Pengantin
Bab. 11. Pacaran Itu Ciuman?


__ADS_3

Lidya terus memperhatikan Amora, dia sedang berpikir keras siapa sebenarnya wanita yang saat ini dibawa oleh suaminya sendiri.


"kalau gitu saya permisi dulu!"


"Biar saya antar!"


Devan yang sudah akan bangkit ditahan oleh Lidya, wanita itu menatapnya tajam seakan-akan tidak suka dengan apa yang dia lakukan.


"Lepaskan tanganmu!"


Lidya terpaku saat mendengar suara Devan, walau lelaki itu berbisik tetapi terdengar menusuk dihatinya.


"Kalian hati-hati yah!"


Devan menganggukkan kepala pada mertuanya dan berlalu keluar dengan diikuti Amora, mereka berjalan ke arah mobilnya berada saat ini.


"Kau mau ke mana lagi, Lidya?"


Lidya yang ingin melihat mereka mengurungkan niatnya saat mendengar suara sang Ibu. "Aku, aku cuma mau ke kamar kok!" Dia bangkit dan berjalan ke arah kamarnya.


"Jangan terlalu sibuk dengan duniamu sendiri, Lidya! Ibu tau kalau Devan sangat mencintaimu, tapi bisa saja suatu hari rasa cintanya hilang karna sifatmu, dan kau pasti akan menyesal!"


Lidya terdiam untuk beberapa saat, dia lalu kembali melangkahkan kakinya ke dalam kamar. Dia duduk dipinggir ranjang sembari memikirkan apa yang Ibunya katakan, dan tiba-tiba dia menggelengkan kepalanya beberapa kali.


"Malah bagus kalau dia sudah tidak mencintaiku, itu artinya aku sudah bebas dan bisa menikah dengan Melano!"


Itulah impian Lidya saat ini, karna terlalu sering bersama dengan atasannya. Lidya jadi jatuh hati pada Melano, dan ternyata lelaki itu juga jatuh hati padanya. Semua rasa cinta yang dulunya hanya untuk Devan, langsung sirna tergantikan oleh sosok Melano.


Namun, dia tidak bisa menolak pernikahannya dengan Devan. Kedua orangtuanya sudah tergila-gila dengan lelaki itu, hingga dia pun terpaksa menikah dengannya.


Tidak mau ambil pusing, Lidya segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Asetnya terasa lengket karna sisa-sisa dari percintaannya dan Melano masih tertinggal.


Sementara itu, Devan dan Amora sedang dalam perjalanan pulang. Tidak ada yang bersuara di dalam mobil itu, mereka seperti sedang tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Tidak terasa mobil yang Devan kendarai sudah sampai di depan gerbang rumah mewah Amora, petugas yang berjaga segera membuka gerbang tersebut dan mempersilahkan mereka.


Devan segera mematikan mesin mobilnya dan berlalu keluar, dia sedikit terkejut saat melihat Justin berdiri dipintu rumah itu.


"Apa yang dia lakukan di sana? Tidak mungkinkan, dia menunggu Nona Amora?"


Belum sempat Devan selesai membatin, Justin sudah berjalan mendekati mereka dengan tatapan tajam.

__ADS_1


Amora yang menunggu pintu terbuka merasa tidak sabar, dia lalu membuka pintu mobil itu sendiri dan keluar dari sana.


"anda baik-baik saja kan, Nona?" tanya Justin.


Amora menganggukkan kepalanya, dia lalu beralih melihat Devan yang berdiri di samping mobil.


"Bawa mobil ini bersamamu, mulai sekarang kau harus membawaku ke mana-mana dengan mobil ini!"


Devan mengernyitkan keningnya. "Ke-kenapa, Nona? Bukannya Nona sudah memberi saya mobil?"


Yah, sejak pertama kali Amora menawarkan sesuatu padanya, dia memang mendapat mobil yang khusus digunakan untuk bekerja bersama mereka.


"Itu cuma mobil biasa, kau harus pakai yang ini kalau mau menjadi pacarku!"


Devan terpelongok, begitu juga dengan Justin yang merasa kalau ada masalah dengan isi pikiran Nona mudanya.


"Istrimu berselingkuh dengan lelaki yang lebih kaya, itu sebabnya kau harus berubah jadi kaya untuk membalasnya!"


Amora lalu meninggalkan tempat itu dan berjalan masuk meninggalkan Justin dan Devan, dia harus segera membersihkan diri karna waktu sudah sangat larut.


"Ikut aku!"


"apa yang terjadi pada Nona?" tanya Justin saat mereka sudah berada di taman samping rumah Amora.


"Nona baik-baik saja, Tuan!"


"Aku tau!"


Devan merasa bingung, jelas-jelas lelaki itu bertanya. Namun, setelah dijawab malah berkata menyebalkan seperti itu.


"Apa yang terjadi di rumahmu?"


Akhirnya Justin memperjelas maksud dari pertanyaannya dengan kesal, sementara Devan memilih langsung menceritakannya walaupun dia juga merasa kesal dengan lelaki itu.


"Sepertinya Nona benar-benar ingin berpacaran dengannya, sebenarnya berasal dari mana laki-laki ini? Kenapa dia membuat Nona seperti itu?"


Justin pusing sendiri mendengar cerita Devan, sepertinya dia akan semakin sibuk karna mengurusi lelaki itu dan keluarganya.


"Jangan berani macam-macam pada Nona, atau saya akan membalasnya 1000 kali lipat!"


Devan menganggukkan kepalanya, siapa juga yang berani macam-macam dengan Amora. Apalagi wanita itu hebat dalam perkelahian, itulah yang ada dipikirannya saat ini.

__ADS_1


"mulai besok, kau lah yang akan mengambil alih kafe tempatmu bekerja!" ucap Justin dengan tajam, lihatkan. Belum apa-apa saja, Amora sudah sibuk menyuruhnya mencari tau serta membeli kafe yang merupakan tempat Devan mengais rezeki.


"Ma-maksudnya, Tuan?"


Justin langsung saja menceritakan kalau kafe itu sudah dibeli oleh Amora, dan Devan lah yang harus mengelolanya mulai hari ini.


Devan benar-benar kaget saat mendengarnya, untuk apa Amora repot-repot melakukan semua itu. Dia juga sama sekali tidak paham dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Aku membelinya untuk investasi, dan kau sebagai pacarku harus mengelolanya!"


Devan dan Justin melihat ke arah Amora yang sudah berganti pakaian, saat ini wanita itu sedang memakai piyama tidur bergambar kelinci yang nampak gemas dimata Devan.


Glek. "Nona menggemaskan sekali!" Jantung Devan berdebar-debar saat melihatnya.


Justin yang melihat Devan melamun langsung menyenggol lengannya, membuat Devan tersentak.


"Nona berbicara denganmu!"


"Sa-saya akan melakukannya, Nona!"


Devan mengiyakan saja agar semuanya cepat selesai, walaupun dia masih kebingungan dengan apa yang Amora lakukan.


"jadi, apa pacaran itu nanti akan berciuman?"


"Hah?"


Devan dan Justin melotot ke arah Amora, bagaimana tidak, wanita itu dengan santainya bertanya tentang sesuatu yang dilakukan ketika berpacaran.


"i-itu, itu-"


"Jangan khawatir, aku akan belajar!"





Tbc.


__ADS_1


__ADS_2