Salah Masuk Kamar Pengantin

Salah Masuk Kamar Pengantin
Bab. 51. Apa Yang Terjadi?


__ADS_3

Tepat 1 jam setelah Devan meminta bantuan Amora, lokasi Lidya kini sudah dikirim oleh Justin. Dia merasa senang dan segera menuju lokasi tersebut dengan melaju kencang.


Setelah menempuh perjalanan sekitar 25 menit, akhirnya Devan sampai juga di tempat yang di tujuan.


Dia segera turun dari mobil, dan beranjak mendekati apartemen yang berada tepat di depannya. Namun, belum sempat masuk ke dalam sana. Mata Devan membulat sempurna saat melihat Lidya, apalagi wanita itu sedang dimarahi oleh seorang wanita paruh baya.


"Lidya!"


Lidya dan wanita paruh baya itu langsung melihat ke arah samping, dan betapa terkejutnya mereka saat melihat Devan ada di tempat itu. Terutama Lidya, yang tercengang melihat kedatangan laki-laki itu.


"De-Devan?"


Dengan cepat Devan mendekati Lidya membuat wanita itu terkesiap, sementara wanita paruh baya yang ada di sampingnya menatap Devan dengan tajam.


"apa, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Lidya dengan tajam.


Devan menghembuskan napas kasar. "Tentu saja untuk menjemputmu, tapi ada apa denganmu? Kenapa kau sangat pucat?" Ternyata apa yang Valdo katakan adalah benar.


"aku-"


"Cepat bawa wanita j*a*l*ang ini pergi!"


Devan terkesiap saat mendengar ucapan wanita paruh baya itu, sementara Lidya malah langsung bersimpuh dikaki wanita itu membuat Devan semakin tercengang.


"Tolong jangan pisahkan aku dan Melano, Nyonya! Aku sangat mencintainya, aku tidak bisa hidup tanpanya!"


Plak!


"Diam kau! Kau tidak pantas bersama dengan putraku, kau benar-benar wanita penggoda!"


Wanita paruh baya itu mendorong tubuh Lidya setelah menamparnya, dia lalu beranjak masuk ke dalam apartemen.


"Tidak, Nyonya! Tolong dengarkan aku!"


Lidya yang akan mengejar langkah wanita paruh baya itu mendadak ditahan oleh Devan, dia lalu melihat ke arah lelaki itu dengan tajam.


"Lepaskan tanganku!"

__ADS_1


Bukannya lepas, Devan malah semakin mencengkram lengan Lidya dan menariknya ke mobil.


"Lepaskan aku, dan jangan ikut campur urusanku!"


Lidya menghempaskan tangan Devan dengan kuat, dia tidak peduli dengan apapun dan hanya menginginkan Melano.


"Kau mau ke mana, Lidya? Kau harus ikut pulang bersamaku!"


Devan terus memaksa wanita itu untuk masuk ke dalam mobil, walaupun belum berhasil karna Lidya terus memberontak.


"lepaskan aku, Devan! Kau tidak berhak ikut campur!"


"Tentu saja aku berhak, Lidya! Karna kau masih berstatus istriku, dan sudah menjadi kewajibanku untuk melindungimu!"


Devan sangat emosi, tidak peduli apa yang terjadi pada Lidya, yang pasti dia harus membawa wanita itu pulang saat ini juga.


Waalaupun sudah dipaksa dengan segala cara, tetapi Lidya tetap tidak mau ikut dengannya. Sampai tiba-tiba datanglah sebuah mobil yang langsung berhenti di hadapan mereka.


"Melano!"


Deg, Lidya yang akan langsung memeluk Melano, sangat terkejut saat ada seorang wanita yang keluar dari dalam mobil laki-laki itu. Bahkan tangannya melingkar dilengan Melano, dan laki-laki itu tidak memikirkan perasaan Lidya saat ini.


Melano menatap Lidya dan Devan dengan tajam. "Cepat pergi dari apartemenku!"


"Tidak, Melano! Kau tidak bisa membuangku seperti ini, aku sangat mencintaimu. Kita saling mencintai!"


Devan yang masih berdiri di tempat itu benar-benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi, dia hanya bisa diam dan menonton pertunjukan yang sedang Lidya dan Melano.


"Cukup, Lidya! Aku sudah bilang kalau hubungan kita sudah berakhir, dan jangan lagi menganggu hidupku!"


Lidya terisak dan terus memohon pada Melano, dia benar-benar sangat mencintai laki-laki itu dan tidak mau kehilangannya.


Dengan cepat, Melano mengibaskan kakinya yang sedang dicengkram kuat oleh Lidya. "Jangan terus menguji kesabaranku, Lidya! Aku tidak pernah mencintaimu, dan aku juga akan menikah dengan wanita lain!"


Bruk!


Tubuh Lidya langsung merosot jatuh ke atas tanah membuat Devan berlari mendekatinya, dia mengguncang kedua bahu Lidya agar wanita itu tetap sadar.

__ADS_1


"Lidya, apa yang terjadi padamu?"


Lidya menatap Devan dengan sendu, dan detik berikutnya dia menangis tersedu-sedu dengan memeluk tubuh Devan.


Dulu, Devan pasti akan langsung memeluk tubuh Lidya dengan erat saat seperti ini. Namun, kali ini dia merasa ragu. Bahkan tangannya terus menggantung diudara karna tidak sanggup untuk membalas pelukan wanita itu.


Hancur, itulah satu kata yang menggambarkan Lidya saat ini. Dia terus menangis dan menumpahkan segala rasa sakit yang sedang dia derita, dari seorang lelaki yang sangat dia cintai.


"Lidya, kita harus pergi dari tempat ini!"


Devan terpaksa mengangkat tubuh Lidya karna tidak mendapat respon dari wanita itu, dia meletakkan tubuh Lidya ke dalam mobil dan segara pergi dari sana.


Sepanjang perjalanan, Devan terus melirik ke arah Lidya sementara wanita itu melihat ke arah samping dengan air mata yang terus membanjiri wajahnya yang sangat berantakan.


Devan hanya bisa menghela napas kasar, dia lalu menghentikan mobilnya saat melihat sebuah minimarket.


"Kau tunggu di sini!"


Devan segera turun dari mobil untuk membeli sesuatu, hatinya terasa sesak melihat keadaan Lidya yang sangat menyedihkan seperti saat ini.


Tidak berselang lama, dia kembali kemobil dengan membawa minuman dan makanan ringan. Devan segera memberikan semua itu pada Lidya, tapi tetap saja wanita itu tidak merespon.


"Setidaknya minum air ini, kau bisa sakit kalau terus seperti itu!"


Lidya tetap diam dan enggan untuk melihat ke arah Devan, sementara Devan tetap berusaha untuk sabar menghadapi wanita itu.


"Itu bagus, dan akan lebih baik lagi kalau aku mati!"


Devan mengernyitkan keningnya saat mendengar suara Lidya, dia lalu tersenyum sinis dan kembali melihat ke arah depan.


"Kau lemah sekali, Lidya! Baru seperti itu saja kau sudah ingin mati, bahkan rasa sakitmu itu belum seberapa dibandingkan rasa sakitku karna perbuatanmu!"


Deg, Lidya langsung mengalihkan pandangannya ke arah Devan, begitu juga dengan Devan yang menatapnya dengan sangat tajam.



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2