Salah Masuk Kamar Pengantin

Salah Masuk Kamar Pengantin
Bab. 93. Perasaan yang Tertahan.


__ADS_3

"Apa?"


Tentu saja ucapan Amora sangat mengejutkan semua orang, terutama Justin sendiri yang sampai beranjak bangun dari duduknya.


"Kau serius, Justin?" tanya Samy dengan tidak percaya, sementara Justin hanya bisa diam sambil menatap ke arah Amora.


Ibu Jessy yang merasa terkejut juga langsung menghampiri sang putra. "Apa yang dikatakan nona itu benar, Justin?" Dia memegang kedua bahu Justin dengan mata berbinar-binar.


Semua orang terus bertanya-tanya pada Justin, sementara laki-laki itu sendiri sangat bingung dan mulai terbakar emosi.


"Hentikan." Devan memilih untuk mengambil alih keadaan. Dia yakin kalau saja bukan Amora yang mengatakan hal seperti itu, pasti Justin sudah mengamuk sedari tadi.


"Kenapa kau menghentikannya, Devan? Biarkan saja kak Justin mengatakannya pada kita semua, benarkan, Kak?" Amora melihat ke arah Justin yang juga sedang melihatnya.


Justin menghela napas kasar sambil mencoba untuk menekan amarahnya. Benar yang dikatakan oleh Devan, andai yang mengatakannya bukan Amora. Sudah pasti tamat riwayat orang itu di tangannya, karena saat ini, terlihat jelas kalau Justin sedang menahan amarahnya.


"Maaf, Nona. Saya tidak mengerti dengan apa yang Nona ka-"


"Kakak mencintai wanita itu, 'kan?" potong Amora dengan cepat membuat Justin langsung diam.


Untuk beberapa saat, suasana di tempat itu menjadi hening. Baik Justin dan yang lainnya tidak mengeluarkan suara, hanya derap langkah Amora yang sedang berjalan mendekati Justin sajalah yang terdengar di ruangan itu.


"Kak, aku sangat menyayangimu." Amora menggenggam kedua tangan Justin dengan erat. "Selama ini, kau selalu berada di sampingku. Baik suka maupun duka, baik saat aku tertawa dan juga menangis. Kau selalu melindungiku di manapun berada, dan kau selalu menjadikanku sebagai prioritas utama mu. Aku bahkan jauh lebih dekat denganmu ketimbang kakakku sendiri." Dia melirik ke arah Samy yang tersenyum ke arahnya.


"Kau selalu ingin membuatku bahagia tanpa pernah memikirkan dirimu sendiri, dan kau bahkan tidak pernah menginginkan sesuatu dalam hidupmu selain yang berhubungan denganku. Apa aku benar?" tanya Amora kemudian.


Justin menatap Amora dengan dalam. "Nona, saya sangat menyayangi Anda. Jadi sudah pasti saya akan melakukan apapun untuk membuat Anda bahagia,"

__ADS_1


"Benar, Kau selalu melakukan itu. Tapi, apa kau tau kalau aku juga ingin melakukan hal yang sama untukmu?" Amora menatap Justin dengan mata berkaca-kaca. "Aku juga ingin melihatmu bahagia, aku ingin kau juga bahagia sama sepertiku. Jadi aku mohon, akui perasaanmu dan kejarlah dia. Kejar kebahagiaan dan cintamu, Kak. Aku tau kalau kau mencintai Niki."


Justin tersenyum sambil menarik tubuh Amora ke dalam pelukannya. "Terima kasih karna sudah mengkhawatirkan saya, Nona. Tapi saya baik-baik saja, dan tidak ada perasaan seperti itu. Saya sudah sangat bahagia dengan melihat Nona bahagia, itu saja."


Amora tidak bisa lagi berkata apa-apa saat ini. Dia sudah berusaha untuk mendorong Justin agar mengakui persaannya pada Niki, dan mereka bisa bersatu. Namun, Justin tetap tidak bergeming. Apa mungkin dia yang sudah salah sangka, dan ternyata Justin benar-benar tidak menyukai Niki?


"Sudahlah, terserahmu saja, Kak." Amora akhirnya menyerah, biarlah dia serahkan kepada garis takdir saja. Yang pasti, dia berdo'a agar kebahagiaan selalu menyelimuti hidup laki-laki itu.


Justin mengepalkan kedua tangannya dengan mata terpejam, dadanya terasa sesak dan panas membara. "Tidak. Semua sudah terlambat, nona. Dia sudah menjadi milik laki-laki lain, dan sejak awal memang milik laki-laki itu."


Itulah yang ada dalam hati Justin saat ini.


Setelah semuanya selesai, mereka memutuskan untuk melupakan apa yang terjadi pada Justin, dan fokus saja untuk menyiapkan pernikahan Amora dan Devan.


****


Saat ini, Niki juga terlihat sedang sibuk menyiapkan pesta pernikahan itu. Dia sibuk mengatur anak-anak panti yang akan menghadiri pesta itu juga, bahkan Devan sudah memberikan pakaian seragam untuk mereka semua.


"Ayahnya Devan sangat baik, ya. Dia bukan hanya membangun panti, tapi juga menjadi donatur terbesar untuk panti kita," ucap pengurus panti itu pada Niki.


"Iya, Buk. Tuan Lucas itu orang yang sangat baik, kak Devan benar-benar sangat mirip dengannya,"


"Niki!"


Tiba-tiba terdengar suara panggilan seseorang membuat Niki langsung mengalihkan pandangannya ke arah belakang. "Tu-tuan Justin?" Dia langsung beranjak pergi untuk menghampiri laki-laki itu.


"A-ada apa, Tuan?" tanyanya saat sudah berdiri di hadapan Justin.

__ADS_1


Justin langsung memberikan sebuah paper bag pada Niki. "Ini dari Nona. Beliau ingin kau memakainya pada saat akad."


Niki mengambil paper bag itu dengan senang. "Terima kasih karna sudah mengantarnya, Tuan." Dia akan menelepon Amora setelah ini.


Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Justin langsung berbalik dan beranjak pergi dari tempat itu. Namun, baru beberapa langkah berjalan. Tiba-tiba ada seseorang yang menarik tangannya membuat langkah itu terhenti.


"Maaf, Tuan. Apa saya sudah membuat kesalahan pada Anda?" tanya Niki dengan pelan, dia bahkan sudah hampir terisak sekarang.


Justin mengepalkan kedua tangannya lalu menghempaskan tangan Niki. "Aku sedang tidak ada waktu untuk-"


"Maaf, maafkan aku." Akhirnya air mata Niki tumpah juga. Dia merasa akhir-akhir ini Justin terus menghindar darinya, bahkan saat beberapa kali mereka bertemu di rumah Amora. Laki-laki itu bukan hanya sekedar menghindar, tapi juga terlihat sangat membencinya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Justin dengan suara tertahan. Tangannya mengepal kuat untuk menahan gejolak di dalam hati.


"Maafkan aku jika sudah membuat kesalahan pada Anda. Tolong, tolong jangan benci aku."





Tbc.


Mampir juga ke karya teman aku di bawah ini ya 😍


__ADS_1


__ADS_2