Salah Masuk Kamar Pengantin

Salah Masuk Kamar Pengantin
Bab. 85. Saling Membuka Hati.


__ADS_3

Samy menatap Amora dan Lucas dengan sendu. "Jadi, aku juga ingin meminta maaf pada kalian. Maafkan atas keegoisanku ini, maafkan atas keserakahanku yang ingin memiliki kalian berdua tetapi takut untuk mengatakan kebenaran."


Amora langsung memegang tangan Samy membuat laki-laki itu sedikit kaget. "Seperti yang kau bilang, semua sudah menjadi masa lalu. Dan saat ini, aku sedang berperang dengan diriku sendiri untuk mempercayai apa yang terjadi. Aku hanya butuh bantuanmu, bukan permintaan maaf seperti yang laki-laki itu juga lakukan." Dia melihat ke arah Lucas yang juga sedang melihatnya.


"Kau, kau juga tidak perlu meminta maaf. Jika semua yang kau katakan adalah benar, maka kedua orangtuaku sudah mendapat hukuman atas apa yang mereka lakukan. Begitu juga denganmu, kau pasti sangat menderita karna semua ini." Amora menatap Lucas dengan tajam, dia mencoba untuk mengendalikan kebencian yang ada dalam dirinya saat ini.


"Ja-jadi, bisakah kita mengakhiri semua ini? Aku, aku sangat lelah. Aku ingin merasa tenang dan damai, aku juga ingin menghilangkan segala kebencian ini." Air mata Amora langsung terjun bebas. Dia tidak bisa mengendalikan diri, hingga kata-kata yang dia ucapkan keluar begitu saja.


Tanpa disangka-sangka, Lucas langsung mendekati Amora dan memeluk tubuh wanita itu membuat semua orang terbelalak kaget. Terutama Amora sendiri yang terpaku dalam dekapan laki-laki paruh baya itu.


Rasa sesal dan sakit menjalar ke seluruh tubuh Amora, sungguh dia merasa sangat tidak berdaya dan ingin semuanya cepat berakhir.


"Yang Samy katakan ternyata benar, kau adalah gadis yang sangat hebat, Amora. Aku yakin kedua orangtuamu pasti bangga mempunya anak sepertimu, termasuk aku." Lucas melerai pelukan itu, tetapi tangannya masih memegang kedua bahu Amora.


"Aku tidak akan memaksamu untuk menghilangkan rasa benci dan amarahmu padaku, karena aku sendiri juga merasakannya. Tapi, aku hanya ingin meminta satu hal darimu. Bisakah kau menerima kehadiranku dalam hidupmu?"


Amora tersentak mendengar permintaan Lucas, seketika tubuhnya bergetar dengan rasa sesak yang menyeruak memenuhi dada.


"Biar bagaimana pun, aku adalah ayah dari orang-orang yang kau cintai. Aku tidak akan merebut mereka, tapi aku hanya minta untuk membagi mereka sedikit saja. Tolong kasihanilah laki-laki paruh baya ini."


Suasana sedih yang sedang terjadi langsung ambyar dengan apa yang Lucas lakukan. Bagaimana tidak, saat ini dia sedang memegang kedua tangan Amora dan menangkupkan di depan dada, tepat berada di dalam tangannya sendiri.

__ADS_1


Amora yang awalnya merasa tidak percaya dan juga haru langsung menarik tangannya, apalagi saat melihat raut wajah Lucas yang penuh harap dengan mata berbinar-binar. Sungguh sangat menggelikan sekali.


Samy dan Devan juga tercengang dengan apa yang papa mereka lakukan, begitu juga dengan Justin yang tidak percaya kalau Lucas sanggup bertingkah menggemaskan seperti itu.


"Lihatlah, Devan. Kekasihmu itu tidak mau membagimu sedikit saja dengan papa. Lalu, bagaimana papa bisa hidup?" seru Lucas dengan nada bicara seperti seorang anak kecil yang sedang mengadu pada mamanya.


Sontak ucapannya itu membuat Devan tergelak, begitu juga dengan Amora dan Justin yang tampak sedang menahan senyum.


Hanya Samy lah yang diam membeku di tempat. Otaknya sedang mencoba untuk mencerna apa yang baru saja papanya katakan, dan tentu saja Lucas sadar kalau saat ini dia sedang berpikir keras.


"Jangan terlalu banyak berpikir, Samy." Lucas menepuk bahu Samy, dia lalu meminta Devan untuk mendekat ke arahnya.


"Dia adalah adikmu, anak kandungku,"


Lucas menggelengkan kepalanya. "Kau ceritakan semuanya pada kakakmu ini, Devan. Papa terlalu lelah karna sejak tadi bicara." Dia melangkah kan kaki ke arah sofa dan duduk di sana. "Kau juga boleh duduk, Justin. Jangan berdiri terus."


Justin mengangguk saja untuk menanggapi ucapan Lucas, karena dia tidak mungkin duduk sedangkan sejak tadi Amora tetap berdiri.


Devan kembali menceritakan tentang hubungan antara Ibunya dan juga Lucas pada Samy, terlihat laki-laki itu mendengarkan ceritanya dengan sangat khusyuk.


Hari ini sudah tiga kali Devan menceritakan tentang proses kejadian yang menyebabkan dia lahir ke dunia ini. Mungkin jika harus menceritakan ke empat kalinya, dia akan mengangkat tangan tanda menyerah.

__ADS_1


"Pantas saja kau sangat mirip dengan papa, ternyata kau benar-benar anaknya." Samy langsung memeluk tubuh Devan dengan senang, dia tidak menyangka kalau laki-laki itu adalah adik kandungnya.


Sebenarnya dia sudah menyelidiki tentang Devan, tetapi tidak ada titik terang tentang siapa orang tua laki-laki itu. Dia hanya tau kalau Devan jatuh ke sungai saat terjadi kecelakaan sebuah bus, dan tidak tau yang mana orang tua laki-laki itu.


Tiba-tiba Samy melepas pelukannya saat mengingat tentang Amora, dia lalu beralih melihat ke arah wanita itu.


"Aku sudah tau." Amora yang paham akan tatapan Samy langsung buka suara. "Kalian berdua adalah anak dari laki-laki itu. Aku sampai curiga kalau Kak Justin juga anaknya, karena semua orang yang ada di sekelilingku tiba-tiba menjadi darah dagingnya."


Samy dan Devan langsung melihat ke arah Justin, karena ucapan Amora cukup masuk akal. Sementara Justin sendiri menggelengkan kepalanya, karena Amora masih saja menuduhnya menjadi anak Lucas.


"Apa? Hey, kau tidak boleh memfitnahku seperti itu, Amora." Lucas kembali berdiri dan melihat ke arah Justin, dia lalu memperhatikan laki-laki itu dari atas sampai bawah. "Hem ... aku tidak pernah anu-anu dengan Jessy, tapi tidak ada salahnya kalau kami melakukan tes DNA. Mana tau aku lupa atau hilang ingatan."


"Dasar!"





Tbc.

__ADS_1



__ADS_2