
Devan yang masih termenung tiba-tiba terjingkat kaget saat bahunya ditepuk oleh seseorang, ternyata Ayah Pian lah yang melakukan itu.
"ayah minta maaf atas apa yang telah Lidya lakukan padamu, Ayah tidak tau kenapa dia bisa jadi seperti itu!" lirih Ayah Pian.
"Tentu saja karna dia mencintai laki-laki lain!"
Ingin sekali Devan berteriak mengatakan semua itu, tapi dia masih punya hati nurani pada kedua mertua yang menyayanginya seperti anak kandung sendiri.
"Kenapa Ayah minta maaf? Tidak ada yang salah dalam hal ini, mungkin Lidya sangat lelah karna pekerjaannya. Itu sebabnya dia jadi seperti itu!"
Ayah Pian dan istrinya tersenyum, mereka bersyukur punya menantu yang baik dan pengertian seperti Devan.
Setelah itu, Devan pamit untuk bersiap-siap karna dia harus pergi bekerja. Dia mengetuk pintu kamarnya dan memanggil Lidya agar membuka kamar tersebut.
Begitu pintu terbuka, Devan langsung saja masuk tanpa melihat ke arah Lidya yang menatapnya dengan tajam.
Brak! Lidya kembali menutup pintu kamar itu dan mendekati Devan yang sedang mengambil pakaian.
"Devan, aku ingin membicarakn sesuatu denganmu!"
Devan hanya melirik ke arah Lidya tanpa berniat untuk bicara dengannya, dia lalu membuka bajunya di hadapan wanita itu.
Lidya terpaku, untuk pertama kalinya dia melihat Devan tidak memakai baju. Otot-otot ditubuh Devan benar-benar sangat bagus, padahal lelaki itu tidak pernah berolahraga.
Devan yang tau arah pandang Lidya hanya tersenyum tipis, entah kenapa rasa cintanya saat ini benar-benar hilang dan yang ada hanya kebencian pada wanita yang sudah menjadi istrinya itu.
"Devan!"
Lidya menarik lengan Devan yang hanya diam saja, untuk sesaat pandangan mereka berdua bertemu dan seakan-akan saling terkunci.
"Ada apa?"
Devan segera memutus pandangan mereka dan mengibaskan tangan Lidya, walaupun masih terbilang lembut membuat wanita itu terkesiap.
"Be-begini, aku, aku ingin membicarakan pernikahan kita!"
Devan tersenyum miris, pernikahan? Pernikahan yang mana yang ingin wanita itu bahas, pikirnya.
"Aku, aku ingin bercerai setelah pernikahan kita genap 3 bulan!"
Devan terdiam, hatinya berdenyut sakit saat mendengar ucapan Lidya. Dia lalu menghirup napas dalam dan menghembuskannya, agar tidak terbawa perasaan dan mengemis cinta dari wanita itu.
__ADS_1
"Tidak perlu!"
Devan berbalik dan mengambil tas kerjanya, tetapi Lidya menarik tas itu dan menghempaskannya ke atas ranjang.
"heh, kau masih belum mengerti juga yah? Sudah ku katakan kalau aku-"
"Aku sangat mengerti, Lidya! Aku mengerti kalau kau tidak mencintaiku!"
Suara Devan terdengar getir membuat Lidya terdiam, ada gelenyar aneh yang menjalar dihati wanita itu tetapi dia langsung menepisnya.
"lalu, kenapa kau tidak setuju?" tanya Lidya dengan tajam.
"maksudku, tidak perlu menunggu 3 bulan! Aku akan menceraikanmu bulan depan!"
"A-apa?"
Lidya tercengang mendengar ucapan Devan, dia tidak menyangka kalau lelaki itu akan mengatakan hal seperti itu.
Devan yang sudah tidak tahan berlama-lama di kamar itu segera mengambil tas kerjanya dan berlalu keluar, sementara Lidya masih terdiam karna syok dengan ucapannya.
"Si*alan!"
Devan menghempaskan tubuhnya dengan kasar ke dalam mobil, dadanya naik turun menahan rasa sakit yang mencabik-cabik hatinya saat ini.
"Baiklah, kau sendiri yang memilih jalan ini, Lidya! Jadi jangan salahkan aku jika membalas semua rasa sakit yang kau torehkan!"
Devan lalu menghidupkan mesin mobilnya dan melaju kencang ke jalanan, dia terus menekan pedal gasnya untuk meluapkan semua amarah yang ada dalam dadanya.
Sementara itu, Amora saat ini sedang berada disalah satu klub malam miliknya. Dia memang jarang datang ke perusahaan, karna memang dia tidak terlalu tertarik dalam hal tersebut.
"selamat datang, Nona!" sambut manager dari klub malamnya itu dan disambut dengan anggukan kepala Amora.
"Bagaimana perkembangan klub ini?"
Dengan sigap manager itu memberikan laporan perkembangan klub milik Amora pada Justin, karna memang biasanya Justin lah yang memeriksanya.
"bulan ini, klub kita mengalami peningkatan pengunjung sampai 45%, Tuan! Itu sebabnya saya menambah jumlah pelayan sebanyak 6 orang!"
Justin membaca laporan yang ada ditangannya, ternyata klub mereka disambut baik oleh masyarakat.
"Pekerjaanmu bagus!"
__ADS_1
Manager itu tercengang, untuk pertama kalinya Amora memuji kerja kerasnya membuat dadanya berdegup kencang.
"Te-terima kasih, Nona!"
Amora tersenyum tipis dan itu berhasil membuat manager tersebut salah tingkah, sementara Justin masih sibuk dengan laporan yang sedang dia baca.
"Baik, teruskan pekerjaanmu!"
Manager itu mengangguk dan segera keluar dari ruangan itu, tinggalah Justin dan Amora di dalamnya.
"Apa Kakak sudah mencaritau identitas Devan?"
Justin mengangguk, dia lalu mengambil beberapa lembar kertas di dalam tasnya dan menyerahkannya pada Amora.
Devan Pramadi, seorang lelaki yatim piatu yang besar dipanti asuhan. Dia ditemukan hanyut disungai oleh masyarakat pada saat berumur 2 tahun, karna tidak ada yang mencari, dia lalu dibawa ke panti asuhan dan tinggal di sana.
Devan anak yang ceria dan baik pada semua orang, dia terkenal ramah dan suka membantu. Itu sebabnya banyak orang menyukainya, termasuk kedua orangtua Lidya.
Devan membantu kedua orangtua Lidya yang mengalami kecelakaan, dari situlah dia mengenal Lidya dan dekat dengan keluarga itu.
Devan lalu menjalin hubungan dengan Lidya dan mereka saling mencintai, hubungan itu berlangsung selama dua tahun, sampai Devan diterima bekerja sebagai manager disalah satu kafe kota ini, dan memutuskan untuk menikahi Lidya.
Itulah isi dari laporan yang Justin berikan, dia menulis laporan itu dengan detail agar Nona mudanya mudah untuk memahami.
"Jadi, kenapa wanita itu berselingkuh darinya?"
Justin terdiam, ya mana dia tau kenapa wanita itu sampai selingkuh. Lagipula, kenapa Nonanya menanyakan hal itu padanya?
"Saya tidak tau Nona!"
Amora terdiam, dia sedang berpikir keras alasan kenapa wanita itu menyelingkuhi lelaki seperti Devan, kecuali karna uang.
"Cari tau semua itu!"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1