Salah Masuk Kamar Pengantin

Salah Masuk Kamar Pengantin
Bab. 49. Apa Itu Cinta?


__ADS_3

Amora yang masih terjaga benar-benar tidak bisa memejamkan kedua matanya, jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi, yang artinya hanya tinggal beberapa jam lagi menunggu matahari muncul ke permukaan.


Tiba-tiba tangannya terangkat dan menyentuh bibir saat ingatan beberapa waktu lalu melintas, senyum tipis juga tercetak dibibirnya yang lembab karna wajah Devan tiba-tiba saja terbayang.


Amora lalu beranjak turun dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi, dia memilih untuk berendam karna rasa ngantuk benar-benar tidak menghampirinya.


Selama berendam, Amora terus memikirkan tentang Devan. Ingatan demi ingatan terus berlarian dalam kepalanya sejak pertama kali bertemu dengan laki-laki itu, lelaki bod*oh yang hanya bisa diam melihat perselingkuhan istrinya sendiri.


Lalu, dia datang bak pahlawan yang ingin membalaskan dendam Devan. Dia lalu terkekeh saat mengingat hal itu, cukup lucu juga ternyata jika dia kembali memutar ingatan tentang kejadian masa lalu.


Amora sendiri sampai sekarang juga masih belum paham akan perasaannya, setaunya dia memang sudah sangat menyukai Devan. Akan tetapi, apa rasa sukanya itu bisa disebut cinta?


"Memangnya, cinta itu apa?"


Dia mendessah frustasi, entah bagaimana rasa cinta itu sebenarnya. Banyak orang yang katanya saling mencintai, tapi tiba-tiba bertengkar dan berpisah. Bahkan ada juga yang saling berselingkuh mencari kepuasan masing-masing.


Lalu, bagaimana sebenarnya cinta itu? Kenapa rasa-rasanya lebih banyak penderitaan dari pada kebahagiaan, bukankah cinta adalah sebuah anugrah terindah dari Tuhan?


Amora pusing sendiri memikirkan semuanya, apalagi keluarganya hancur karna yang namanya cinta. Jadi, bukankah cinta itu menyeramkan?


Tidak mau ambil pusing, dia segera beranjak dari bathtub saat airnya mulai dingin. Dia menyambar jubah handuk dan segera keluar dari sana.


Langit masih tampak gelap karna memang hari masih pagi buta, untuk menghabiskan waktu, Amora segera ke ruang latihannya untuk mengasah kemampuan.


Beberapa jam telah berlalu, dan matahari sudah mulai menampakkan diri walau masih terlihat malu-malu. Para pelayan di rumah Amora juga sudah berkaktivitas seperti biasanya, begitu juga dengan Samy dan Justin yang sudah duduk di ruang keluarga.


"Tuan mau ke mana?"


Justin memperhatikan Samy yang sudah terlihat rapi, walaupun laki-laki itu tidak memakai pakaian formal.


"Hem, ada urusan bisnis diluar negeri! Mungkin aku akan pergi selama 2 sampai 3 hari!"


Justin mengangguk-anggukkan kepalanya, dia lalu melirik ke arah lelaki yang baru saja masuk ke dalam rumah.


"Kau sudah sampai?"


Lelaki itu menganggukkan kepalanya untuk menjawab ucapan Samy. "Selamat pagi, Tuan! Selamat pagi, Justin!"


Samy dan Justin sama-sama menganggukkan kepala mereka. "Bagaimana? Apa kita bisa berangkat sekarang?" Samy bangun dan mendekati sang asisten.


"Tentu, Tuan!"

__ADS_1


Samy dan asistennya lalu segera beranjak pergi dari tempat itu, sementara Justin mengantar kepergian mereka sampai ke mobil.


"titip adikku, Justin!"


"Tentu saja, Tuan!"


Samy tersenyum sambil menepuk bahu Justin, dia lalu masuk ke dalam mobil dan mobil itu langsung pergi menjauh dari sana.


Pada saat yang sama, Devan baru saja terbangun saat ponselnya berdering beberapa kali. Dengan cepat dia menyambar benda pipih itu dan mengangkat panggilan dari Valdo.


"ya, Val?"


"Dasar kau bab*i, jam segini masih aja molor!"


Devan sampai menjauhkan ponselnya mendengar suara Valdo yang sangat nyaring, dia lalu melihat sudah jam berapa saat ini.


Matanya membulat sempurna saat melihat sudah jam 9 pagi, dia langsung loncat dari ranjang sampai membuat ponselnya hampir terjatuh.


"halo? Devan?"


"Y-ya? Kenapa kau menelpon?"


"si*al! Bisa-bisanya aku tidur seperti ker*bau!"


"Hey! Apa kau mendengarku?"


Valdo yang ada di sebrang telpon sudah sangat kesal, bisa-bisanya Devan sama sekali tidak mendengkarkannya bicara.


"ya, kau bilang apa?"


"Cepat datang ke kantorku sekarang juga!"


Tut, panggilan itu langsung dimatikan oleh Valdo dengan kesal sementara Devan tidak ambil pusing dan segera membersihkan tubuhnya.


Justin yang sejak tadi menunggu Amora beranjak ke kamar wanita itu, karna tidak biasanya Amora bangun sesiang ini.


"Maaf Tuan, Nona sedang berada di ruang latihan!"


Dia yang akan mengetuk pintu kamar Amora tidak jadi melakukannya saat mendengar ucapan pelayan, dengan cepat dia beranjak dari tempat itu menuju ruang latihan.


"Nona!"

__ADS_1


Amora yang saat itu sedang melamun terperanjat kaget mendengar panggilan Justin, sangking kagetnya dia sampai menjatuhkan ponselnya.


"Maaf jika saya mengagetkan Nona!"


Amora mengibas-ngibaskan tangannya lalu menyuruh Justin untuk duduk di sampingnya. "Apa Devan sudah bangun?"


"Belum, Nona!"


Justin segera duduk di samping Amora, sementara wanita itu menganggukkan-anggukkan kepalanya.


"Ada apa, Nona? Apa telah terjadi sesuatu antara Nona dan dia?"


Amora mencoba untuk menutup mulutnya rapat-rapat, entah kenapa disaat Justin menanyakan sesuatu, mulutnya pasti akan langsung terbuka dan menjawab dengan sendirinya.


"Saya bahagia jika Nona bahagia!"


Amora langsung mengalihkan pandangannya ke arah Justin, matanya membulat sempurna saat melihat senyum menawan lelaki itu.


"Tapi jika Nona terluka, maka saya akan menjadi orang pertama yang akan memghancurkan semuanya!"


Mata Amora berkaca-kaca, Justin memang selalu saja bisa membuat hatinya yang membeku langsung cair seketika.


"apapun yang Nona inginkan, maka saya akan melakukannya. Begitu juga dengan Nona, saya harap Nona bisa melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang hati Nona inginkan!"


"Bagaimana dengan Devan? Aku merasa kalau aku menginginkannya, apa Kakak akan membuatnya agar selalu bersamaku?"


Justin terdiam, tetapi bibirnya tetap membentuk sebuah senyuman. "Tentu saja, asal Nona bahagia. Saya jauh lebih bahagia dari apa yang Nona kira!"


Mendengar jawaban Justin, Amora langsung menghamburkan diri dalam pelukan laki-laki itu. Mereka berpelukan dengan sangat erat, tentu saja dengan diiringi air mata yang membasahi wajah Amora.


Devan, yang ternyata ada di tempat itu memandang mereka berdua dengan tajam. Dia mendengar semua percakapan mereka, dan tentu saja itu membuat hatinya bergetar.


"Amora, apa kau yakin kalau kau benar-benar menginginkanku?"





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2