
Sontak semua orang menjadi kaget saat mendengar apa yang Amora katakan, terutama Justin yang raut wajahnya langsung berubah dari panik menjadi marah.
"Saya akan segera membereskannya, Nona!"
Justin yang sudah akan beranjak pergi dari sana, tidak jadi melangkahkan kakinya saat tangannya ditahan oleh Amora.
"Mau ke mana? Aku tidak habis membunuh, tapi menolong orang kecelakaan!"
Justin tercengang saat mendengar penjelasan Amora, dia yang mengira kalau ada seseorang menyerang Nona mudanya sudah akan membantai mereka semua.
"Benarkah? Untuk apa Nona menolongnya?"
Amora mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan Justin. "Memangnya aku tidak boleh berbuat baik?" Dia merasa sangat kesal sekarang.
"Sudah anakku, jangan dengarkan apa kata bajing*an kecil ini!"
Ibu Justin memilih untuk melerai mereka, dia senang karna tidak terjadi apapun pada Amora.
Sementara itu, Niki hanya diam melihat apa yang mereka katakan. Sebenarnya tadi dia sangat kaget saat Amora mengatakan tentang pembunuhan, seolah-olah wanita itu biasa melakukannya. Dia yang sudah panik dan takut menjadi tenang saat mengetahui kalau ternyata Amora tidak melakukan hal seperti itu.
"tapi ngomong-ngomong, mau sampai kapan kalian membiarkan aku berdiri seperti ini?" tanya Amora dengan tajam membuat Justin dan Ibunya langsung panik.
"Ka-kalau gitu ayo masuk, Nona!"
Justin dan Ibunya langsung mengajak Amora untuk masuk ke dalam rumah, dan mempersilahkan wanita itu untuk duduk di tempat yang sudah disediakan.
"Tapi, kenapa bola-bola ini ada di sini?"
Tiba-tiba Amora kembali bersuara dan menanyakan keberadaan Niki di tempat itu, tapi kenapa dia menyebut wanita itu bola-bola?
"Sa-saya dibawa oleh Tuan Justin ke sini, Nona!"
Niki sigap menjawab walaupun ada rasa takut dalam hatinya, entah kenapa dia merasakan atmosfir yang sangat menyeramkan dari Amora.
"Dan kenapa juga dia menyebut aku bola-bola? Apa karna aku pake baju bola-bola?"
Ya, Amora tidak ingat siapa nama Niki dan menyebutnya sebagai bola-bola karna melihat baju yang wanita itu pakai saat ini.
"Kenapa?"
__ADS_1
Lagi-lagi Amora ingin tau, sesuatu yang sangat repot menurut Justin adalah hal-hal yang selalu ditanyakan seperti ini.
"Dia sudah melakukan kesalahan, Nona! Jadi saya harap Nona tidak memperdulikan keberadaannya di sini!"
Niki menatap Justin dengan tajam, bisa-bisanya laki-laki itu mengatakan hal seperti itu pada Amora. Lantas, apa gunanya dia berada di sana kalau keberadaannya saja tidak dipedulikan?
"Terserah!"
Amora tidak lagi memperdulikannya dan mengalihkan perhatian pada Ibu Justin, terlihat hubungan mereka sangat baik layaknya seorang Ibu dan anak.
Justin lalu memberi kode pada Niki untuk mengikutinya, mereka lalu menjauh dari tempat itu agar tidak mengganggu obrolan Amora dan Ibunya.
"ada apa, Tuan?" tanya Niki setelah mereka sampai di halaman depan rumah.
"kau sudah bisa pergi sekarang!"
"Benarkah?"
Niki merasa bingung, dia yang tadi dipaksa untuk ikut dengan Justin karna lelaki itu ingin mengobati lukanya. Setelah itu, Justin memaksanya untuk tetap tinggal dan membersihkan rumah sebagai hukuman karna sudah mengganggu laki-laki itu hari ini.
"Apa aku harus bicara dua kali denganmu?"
"Aku pasti sudah gila karna wanita itu!"
Niki yang mendengar ucapan Justin langsung angkat kaki dari tempat itu, walaupun awalnya dia terharu karna Justin mengobati lukanya, tetapi dia jauh lebih senang saat tidak lagi bersama laki-laki menyeramkan itu.
Setelah kepergian Niki, Justin kembali masuk dan menemui Ibu serta Amora. Dia tersenyum saat mendengar obrolan dua wanita itu, dan Amora selalu berubah menjadi hangat saat sedang bersama Ibunya.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Devan sedang termenung di ruang kerjanya. Sejak pagi dia terus memikirkan tentang Lidya, dan semua yang wanita itu katakan.
Ada rasa bersalah yang menyusup dalam hatinya karna sudah membuat Lidya menderita seperti itu, tapi di sisi lain dia juga bingung harus melakukan apa saat ini.
Lalu, tiba-tiba Devan teringat dengan apa yang wanita itu inginkan. Mungkin dengan cara mengabulkan keinginan wanita itu, maka rasa bersalah yang ada dihatinya akan menghilang.
Devan lalu beranjak keluar dari ruangannya untuk pergi menemui seseorang, karna dia ingin segera mengurus perceraiannya dengan Lidya.
"Halo, Val! Apa aku bisa menemuimu?"
Devan memilih untuk menelpon orang yang ingin dia temui dulu, karna bisa saja laki-laki itu sedang pergi entah kemana.
__ADS_1
"Kenapa? Apa kau merindukanku?"
Terdengar gelak tawa dari sebrang telpon membuat Devan berdecak kesal, kemudian dia mematikan panggilan telpon itu saat temannya mengatakan untuk datang ke kantor.
Devan segera melajukan mobilnya menuju suatu tempat, dia harus segera mengurus perceraiannya dengan Lidya agar wanita itu bisa hidup bebas bersama dengan laki-laki yang dia pilih.
Setelah sampai di tempat tujuan, Devan langsung berjalan masuk ke dalam kantor temannya dan terus saja menuju ruang kerja laki-laki itu.
"Hay, kau sudah sampai?"
Kedatangannya langsung disambut oleh seorang lelaki bersama Valdo, dan mereka sudah berteman selama bertahun-tahun sejak masih duduk dibangku sekolah.
"bagaimana kabarmu?" tanya Devan yang memang sudah jarang sekali bertemu dengan temannya itu.
"aku baik, dan tetap tampan tentunya!"
"Cih!"
Devan berdecih melihat kenarsisan Valdo yang memang dari dulu tidak pernah berubah, dan bisa-bisanya ada laki-laki sepertinya itu.
"Hahaha sudah lama juga kita tidak bertemu, bagaimana kabar boneka kecilku? Dia pasti baik-baik saja kan?"
Devan semakin manyun melihat ulah temannya itu, bukannya menanyakan kabarnya, tetapi laki-laki itu malah bertanya tentang kabar Niki.
"seharusnya kau menanyakan kabarku, bukannya Niki!" ucap Devan dengan ketus.
"lah, kau kan udah kelihatan segar bugar seperti ini, untuk apa lagi aku menanyakannya?"
"Ya ya ya, terserah kau saja!" Devan merasa tidak peduli sama sekali.
"ah, aku jadi sangat merindukan Niki!"
"TERSERAH!"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.