Salah Masuk Kamar Pengantin

Salah Masuk Kamar Pengantin
Bab. 12. Membuat Keributan di Rumah Sakit.


__ADS_3

Devan dan Justin membulatkan mata dan mulut mereka saat mendengar ucapan yang Amora lontarkan, jantung mereka berdegup kencang seakan-akan sedang lomba lari keliling lapangan.


Amora lalu berbalik dan meninggalkan kedua lelaki itu untuk kembali ke kamarnya, saat ini dia akan mulai belajar tentang apa-apa saja yang biasa dilakukan orang-orang saat sedang berpacaran.


Bruk!


Tubuh Devan menghantam dinding dengan kerah kemeja yang dicengkram kuat oleh Justin, lelaki itu langsung menghempaskan tubuhnya ke dinding saat Amora sudah masuk ke dalam rumah.


"Kalau kau berani menyentuh Nona sedikit saja, maka aku akan mematahkan seluruh tulang-tulangmu!"


Glek, Devan menelan salivenya dengan kasar sambil menganggukkan kepalanya membuat Justin langsung melepaskan cengkraman tangannya dengan kasar.


"Hah!"


Justin mengusap wajahnya dengan kasar, dia tidak tau harus bagaimana menghadapi Nona mudanya yang sepertinya sedang dalam mode kasmaran.


Dia lalu melirik ke arah Devan yang masih terdiam di sampingnya, semalam dia sudah mencari identitas lelaki itu. Justin tau tentang semuanya sejak dia kecil sampai sekarang, dia bahkan tau kalau lelaki itu dulu suka mengompol.


"Pergilah!"


Devan menganggukkan kepalanya dan berlalu pergi dari sana, energi kehidupannya untuk seminggu ke depan sepertinya langsung lenyap malam ini.


Sementara itu, Amora yang sedang berbaring di atas ranjang terus menatap langit-langit kamar. Dia merasa ngantuk, tapi kedua matanya tidak bisa terpejam.


"Kenapa yah, jantungku berdebar-debar saat bersama Devan? Apa laki-laki itu mengidap penyakit dan menularkannya padaku?"


Amora merasa bingung dan takut, bingung akan apa yang dia lakukan dan takut kalau dia terserang penyakitan mematikan.


"Aku besok akan periksa ke Dokter!"


Yah, Amora akan memeriksakan jantungnya. Sudah lama juga dia tidak periksa kesehatan, karna dia tidak boleh sakit apa lagi mati. Sebab, masih banyak sesuatu yang harus dia lakukan.


****


Keesokan harinya, Amora bangun kesiangan dari biasanya. Dia melihat jam yang tergantung di dinding menunjukkan pukul 8 pagi, dia beranjak turun dari ranjang dan segera masuk ke dalam kamar mandi.


Justin yang sudah ada di rumah Amora menunggu di ruang tamu dengan gelisah, tadi malam dia sudah menerima kabar dari Nonanya kalau hari mereka akan pergi ke rumah sakit.


"Apa Amora belum turun?"


Samy yang baru selesai joging mendekati Justin, terlihat lelaki itu mengggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"tapi, hari minggu gini kalian mau ke mana?" tanyanya sembari duduk di depan Justin.


"kami mau ke rumah sakit, Tuan!"


"Rumah sakit? Apa Amora terluka"


Samy merasa sangat khawatir, dia kembali bangun dan beranjak ke kamar Amora tanpa lebih dulu mendengar jawaban dari Justin.


Tok, tok! "Amora, apa kau baik-baik saja?"


Samy terus mengetuk pintu kamar sang adik sembari menanyakan keadaannya, dia merasa sangat cemas karna Amora belum juga membuka pintu.


"Amo-"


Samy tidak bisa melanjutkan ucapannya saat Amora sudah membuka pintu, wanita itu menatap tajam seolah-olah sedang bertanya apa yang dia lakukan.


"Kau, kau tidak apa-apa kan?"


Samy memegang kedua bahu Amora sembari memeriksa apakah ada luka ditubuh adiknya itu. Dia kemudian meletakkan punggung tangannya ke kening Amora membuat wanita itu mengernyitkan keningnya, tetapi dia masih diam dengan apa yang Kakaknya lakukan.


"Apa yang sakit? Katakan pada Kakak?"


Akhirnya Samy memilih untuk bertanya langsung, walaupun dia tau kalau adiknya itu tidak akan menjawab.


"Aku tidak sakit!"


Amora berjalan melewati Samy dan berlalu turun ke lantai satu, sementara Samy sendiri langsung mengikutinya karna masih merasa khawatir.


"kita pergi sekarang!" ajak Amora saat sudah berada di lantai 1, terlihat Justin langsung berdiri saat melihat keberadaannya.


"Maaf Nona, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Nona ingin melakukan pemeriksaan?"


Sama halnya dengan Samy, Justin juga merasa khawatir dan penasaran. Biasanya Amora sangat malas sekali untuk periksa dan harus dipaksa olehnya, tetapi sekarang malah kebalikannya.


Amora diam, dia masih menimbang-nimbang apakah ingin mengatakannya pada mereka atau tidak.


"jantungku bermasalah!"


"Apa?"


Samy dan Justin langsung panik saat mendengar jawaban Amora, mereka langsung mengajaknya untuk periksa ke rumah sakit sebelum terjadi apa-apa.

__ADS_1


Justin menekan pedal gasnya hingga mobil yang dia kendarai melaju kencang membelah jalanan, dia menyalip semua mobil yang ada di depannya seperti orang kesetanan.


Tidak berselang lama, mereka sampai di rumah sakit. Justin segera berteriak memanggil Dokter untuk memeriksa Nona mudanya, membuat keadaan rumah sakit menjadi ribut.


"Cepat periksa Nona!"


Para perawat langsung membaringkan Amora di atas banker, tubuh mereka bergetar karna takut melihat Justin yang sudah seperti orang gila.


Amora langsung diperiksa oleh beberapa Dokter atas perintah Samy, dia tidak mau hanya satu Dokter saja yang memeriksa sang adik agar hasilnya jauh lebih pasti.


Ada 4 orang Dokter yang saat ini sedang memeriksa seluruh tubuh Amora, mereka bahkan sampai melakukan rongsen agar bisa melihat kondisi organ dalam wanita itu.


"Apa Nona ada keluhan?"


Sangking takut dan gugupnya, Dokter-Dokter itu lupa untuk menanyai Amora, begitu juga dengan Amora yang hanya diam memperhatikan mereka.


"Jantungku terus berdebar-debar keras!"


Dokter-Dokter itu lalu fokus ke jantung Amora, mereka terus memeriksanya sampai hal terkecil sekalipun tidak boleh luput dari pemeriksaan mereka.


Setelah melakukan pemeriksaan, semuanya normal. Tidak ada yang aneh atau bermasalah ditubuh Amora, apalagi jantungnya, jantung itu sangat sehat dan berdetak dengan normal.


"seberapa sering jantung Nona berdebar dengan kuat?" tanya salah satu Dokter.


"Tergantung seberapa sering aku bertemu dengannya!"


Semua Dokter menyernyitkan kening mereka dengan bingung. "Apa Nona bisa menjelaskannya?"


"Ck, jantungku berdebar-debar dengan keras saat bersama dengan Devan!"


Semua Dokter saling pandang mendengar jawaban dari pasien mereka. "Jadi, jantung Nona berdebar-debar pada saat bersama dengan seorang lelaki bernama Devan?"


Amora menganggukkan kepalanya. "Benar, sebelumnya tidak pernah!"


Semua Dokter yang memeriksanya langsung jadi batu mendengar kata-kata yang dia ucapkan.




__ADS_1


Tbc.



__ADS_2